NovelToon NovelToon
Dosen LC Itu, Milikku

Dosen LC Itu, Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Dosen / Hamil di luar nikah / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Berondong
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Musoka

Niat hati ingin menghilangkan semua masalah dengan masuk ke gemerlap dunia malam, Azka Elza Argantara justru terjebak di dalam masalah yang semakin bertambah rumit dan membingungkan.

Kehilangan kesadaran membuat dirinya harus terbangun di atas ranjang yang sama dengan dosen favoritnya, Aira Velisha Mahadewi

Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua? Apakah hubungan mereka akan berubah akibat itu semua? Dan apakah mereka akan semakin bertambah dekat atau justru semakin jauh pada nantinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Pintu sebuah ruangan rawat inap VVIP secara perlahan-lahan mulai terbuka, menampilkan sosok Azka sedang melangkahkan kaki masuk ke dalam dengan memasang ekspresi dipenuhi oleh kekhawatiran.

Azka menghentikan langkah kaki tepat di depan ranjang rawat inap milik Aira, melihat dosennya itu yang saat ini sedang dalam keadaan tertidur sambil menaruh kedua tangan di atas perut.

Melihat hal itu, membuat Azka muka menghirup udara segar sebanyak yang dirinya bisa dan mengembuskannya secara perlahan-lahan, sebelum melanjutkan langkah kaki mendekati tempat Aira berada saat ini.

Azka menjatuhkan tubuh di atas kursi yang berada tepat di samping kanan Aira. Ia menatap sendu wajah dosennya itu sambil kembali mengembuskan napas—kali ini lebih panjang daripada sebelumnya.

“Ternyata udah tidur … aku benar-benar khawatir banget waktu dapat chat dari suster yang isinya bilang kalau kamu hari ini lemas banget … tapi waktu lihat kamu tidur nyenyak kayak gini … rasanya tenang banget, Bu,” gumam Azka, sorot matanya mulai berkaca-kaca.

Azka bersandar perlahan ke sandaran kursi, menangkup kedua lututnya dengan kedua tangan—seolah ia sedang berusaha menahan semua emosi yang sejak beberapa jam terakhir menggerogoti ketenangannya. Tatapannya tidak lepas dari wajah Aira yang tampak tenang dalam tidurnya, meski sesekali terlihat sedikit mengerutkan kening karena efek pusing yang masih tersisa.

Azka memiringkan kepala, memperhatikan dengan seksama cara napas Aira naik turun pelan, hingga suara detikan alat monitor di belakangnya terasa seperti irama pengiring yang menenangkan. Namun, ketenangan itu hanya menutupi betapa kacau perasaannya saat ini.

Napasnya tercekat.

“Hari ini aku pikir kamu kenapa-kenapa …,” bisik Azka dengan begitu sangat lirih, nyaris seperti seseorang yang sedang berbicara pada angin, “Aku takut banget … ngerasa kayak … kalau aku telat dikit aja … kamu bisa hilang dari aku.”

Azka menghentikan ucapannya, lantas menarik napas dengan begitu sangat panjang, berusaha menghentikan getaran pada tubuhnya. Ia tidak berani menyentuh Aira, mengingat kembali kata-kata perempuan berparas cantik itu kemarin yang masih jelas terpatri di kepalanya—larangan yang tegas, tetapi tetap disertai permintaan samar untuk tidak pergi.

Cowok itu tersenyum kecil, getir, dan penuh rasa bersalah. “Sial … aku bahkan bisa sesenang ini cuma karena kamu bilang aku boleh tetap ada di sini.”

Azka mengusap wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangan, berusaha mengusir segala kegelisahan. Setelah itu, ia mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat—masih menjaga jarak aman—tetapi cukup untuk berbisik pada seseorang yang tidak bisa mendengarnya.

“Bu … calon anak kita butuh kamu. Aku juga …,” gumam Azka, suaranya terdengar sangat serak dan retak, “Aku ngerti kamu belum bisa maafin aku. Aku ngerti kamu masih sakit. Tapi tolong … jangan anggap aku nggak peduli. Aku cuma … takut buat bikin kamu makin benci aku.”

Azka tersenyum lirih, lantas menggeleng-gelengkan kepala pelan. “Benci juga nggak apa … asal kamu sehat.”

Hening kembali menyelimuti ruangan. Hening yang hanya diisi oleh suara mesin, napas Aira, dan detak jantung Azka yang berdebar terlalu cepat.

Detik demi detik berlalu, tubuh Aira sedikit bergerak. Alisnya mengerut, napasnya tersengal seperti seseorang yang sedang mencoba keluar dari dalam mimpi yang tidak terasa nyaman.

Melihat hal itu, membuat Azka secara refleks menegakkan posisi duduknya, sebelum pada akhirnya mulai membuka suara.

“Bu,” panggil Azka dengan nada paling lembut yang dirinya miliki, “Ibu mimpi buruk?”

Aira menggerakkan kedua kelopak matanya, membuka pandangan secara perlahan-lahan. Dunia masih tampak buram baginya, tetapi suara itu—suara yang ia kenal, suara yang membuat hatinya bergetar tanpa bisa ia kendalikan—segera menembus kesadarannya.

“A … zka?” bisik Aira dengan suaranya terdengar serak dan lemah.

Azka mencondongkan tubuh lebih dekat, tetapi berhenti sebelum jarak yang Aira larang. “Iya, Bu. Aku di sini. Kamu kenapa? Masih pusing?”

Aira menatap Azka dengan pandangan lelah—penuh kekacauan emosi yang tidak bisa ia sembunyikan. Ada kemarahan. Ada ketakutan. Ada rasa nyaman yang ia benci karena justru muncul dari orang yang membuat hidupnya berantakan.

“Saya … mimpi buruk,” gumam Aira, memejamkan mata beberapa detik sebelum membuka lagi. “Saya takut .…”

Kata-kata itu membuat jantung Azka seolah berhenti berdetak untuk beberapa saat. Ia ingin sekali menyentuh tangan Aira, menenangkan dan mengatakan kepala perempuan berparas cantik itu bahwa dirinya akan melindunginya kapan saja, tetapi dirinya ingat batasan dan sesegera mungkin menahan diri.

“Kalau Ibu mau … aku bisa tetap di sini sampai kamu tidur lagi,” ucap Azka pelan, matanya hangat, tetapi tetap penuh rasa bersalah, “Aku nggak akan nyentuh. Aku cuma … nemenin.”

Aira menggigit bibir, mencoba menyangkal rasa lega yang datang begitu cepat. Namun, pada akhirnya, ia hanya berkata lirih—sangat lirih.

“Jangan pergi ….”

Azka tersenyum tipis—senyum yang jatuh perlahan seperti embun di pagi hari.

“Nggak akan,” balas Azka dengan sangat pelan, “Aku tetap di sini. Untuk kamu … dan bayi kita.”

Aira menelan ludah pelan, lalu membenarkan posisi berbaringnya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Kedua tangannya masih bertumpu di atas perut, seolah secara refleks melindungi sesuatu yang jauh lebih rapuh daripada dirinya sendiri.

Azka memperhatikan semua gerakan itu dengan hati yang seperti diremas—perih, hangat, takut, dan bahagia dalam satu waktu.

Ruangan VVIP itu terasa semakin sunyi. Lampu kuning hangat menyoroti wajah Aira yang mulai sedikit lebih tenang, sementara Azka menyesuaikan posisi duduknya agar lebih dekat namun tetap menjaga jarak seperti yang diinginkan perempuan itu.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Hanya ada suara napas Aira yang mulai kembali teratur, dan suara lirih gesekan kain ketika ia sesekali menggeliat pelan untuk mencari posisi yang lebih nyaman.

Azka akhirnya berbisik lagi, suaranya begitu lembut—seolah takut merusak perasaan damai yang baru saja tercipta.

“Ibu boleh tidur lagi. Aku jagain dari sini,” ujar Azka, pandangan tidak pernah lepas dari wajah cantik Aira.

Aira tidak langsung menjawab. Ia berkedip beberapa kali, lalu menghela napas kecil—napas yang terdengar seperti sisa-sisa ketakutan yang masih ingin menetap, tetapi mulai kalah oleh rasa aman yang tidak ingin ia akui.

“Kalau kamu ngantuk … tidur aja …,” gumam Aira, seraya mulai menutup mata indahnya, “Saya nggak apa-apa.”

Azka tersenyum miring. “Aku nggak bakal tidur sebelum Ibu benar-benar tenang.”

Aira diam. Namun, diamnya itu kali ini bukan bentuk penolakan—melainkan sebuah pengakuan samar bahwa hatinya sedikit luluh walau ia tidak mengizinkan.

Perlahan, helaan napas Aira berubah menjadi ritme tenang. Tubuhnya mulai rileks. Kelopak matanya tertutup sepenuhnya, menandakan bahwa ia kembali tertidur—kali ini tanpa mimpi buruk, karena ada seseorang yang ia minta untuk tetap tinggal.

Azka membungkuk sedikit, menatap Aira untuk terakhir kali sebelum ia mengalihkan pandangan ke jendela.

Di luar sana, malam sudah turun, tetapi di dalam ruangan itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Azka merasa sesuatu yang selama ini hilang mulai kembali—harapannya.

“Selama Ibu minta aku jangan pergi,” bisik Azka dengan begitu sangat lirih, “Aku bakal tetap di sini.”

Dan di ruangan sunyi itu, janji itu menjadi sebuah pertanda—janji yang akan mengikat mereka pada hari-hari penuh badai yang kemungkinan besar sudah menunggu di depan sana.

1
Aulia Shafa
waaaaah , selamat Azka 👍👍👍👍👍👍👍🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Sherin Loren
double up
Aulia Shafa
tidak egois , karena Azka jua mau . beda cerita kalau kamu minta dinikahi tapi Azka ga mau , itu baru egois ...
Aulia Shafa
bagus Azka , 👍👍👍👍
Aira , terima dong biar belum cinta usaha jalani sama-sama . cinta akan datang seiring waktu
Aulia Shafa
setuju banget 👍👍👍👍👍👍👍
Aulia Shafa
kenapa ga dinikahin aja sih
Musoka: Kan Aira masih belum cinta
total 1 replies
Sherin Loren
next
Musoka: siap 🤭
total 1 replies
Aulia Shafa
alurnya terlalu lama kak , maaaaaafff🙏
Aulia Shafa
kenapa sosok azka ini terlalu friendly banget sih , apa gak ada rasa tanggung jawab sedikitpun atas semua perbuatanmu itu 🤬🤬🤬🤬🤬
Aulia Shafa
kapan azka sama aira satu cerita lagi👍👍👍👍
Musoka: Nanti, ya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!