NovelToon NovelToon
Pedang Pembasmi Iblis

Pedang Pembasmi Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Balas Dendam
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: FAUZAL LAZI

Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 Kemunculan Teknik Rahasia

“Han Chuan, rasakan energi yang mengalir dalam tubuhmu. Bersihkan hatimu dan pikirkan tujuan yang benar-benar ingin kau capai,” ucap Huang Ji dengan suara tenang namun penuh tekanan.

“Sekarang... rasakan ini. Tebasan Bilah Angin!” serunya keras, sambil mengayunkan tongkatnya ke depan. Dalam sekejap, gelombang angin tajam melesat dari tongkat itu, membelah udara dan menciptakan desingan memekakkan telinga. Wuuussshhh!

“Sekarang, coba kau halangi itu, dan ingat kata-kataku barusan!” lanjut Huang Ji dengan nada tegas, menatap muridnya dengan tajam.

Han Chuan segera melangkah mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak. Ia berdiri tegap, menutup matanya, dan menarik napas panjang. Seluruh energinya mulai berputar di dalam tubuh, bergerak melalui meridian dan mengalir deras ke setiap serat ototnya.

Tubuhnya menjadi tenang, seperti permukaan air yang tak beriak. Pedang di tangannya perlahan terangkat dan mulai bergerak lembut, seperti diayun oleh hembusan angin. Dari bilah pedangnya, cahaya biru kehitaman mulai muncul, bergetar dengan kilatan petir halus di sekitarnya. Daun-daun kering di tanah ikut berputar mengelilinginya, tertarik oleh aliran qi yang kuat.

“Teknik Rahasia... Tebasan Musim Gugur!” teriak Han Chuan dengan suara lantang.

Dalam sekejap, pedangnya bergerak cepat, menghasilkan deru angin yang memecah keheningan. Swish! Swish! Gerakan pedangnya semakin cepat dan halus, lalu cahaya biru pekat memancar terang dari bilahnya.

Satu ayunan keras dilepaskan.Tebasan raksasa berwarna biru kehitaman muncul di udara—padat, besar, dan penuh kekuatan qi. Serangan itu menghantam langsung ke arah teknik milik Huang Ji.

Benturan dua kekuatan itu meledak di udara.Yang mengguncang seluruh halaman latihan, angin kencang berputar liar, menebar debu dan pecahan batu ke segala arah. Gelombang energi biru dan putih bertabrakan, berdesir seperti petir yang menghantam bumi.

Huang Ji menyipitkan mata, jubahnya berkibar kuat tertiup hembusan energi. “Heh... bagus sekali,” gumamnya sambil menancapkan tongkatnya ke tanah agar tak terdorong mundur.

Ketika debu mulai mereda, Han Chuan berdiri di tengah pusaran energi yang perlahan menghilang. Pedangnya masih terangkat tinggi, cahaya biru di bilahnya perlahan meredup, meninggalkan kilatan kecil petir yang melompat-lompat di udara sebelum padam.

Napasnya sedikit terengah, tapi matanya bersinar tajam. Ia menatap ke arah gurunya dengan senyum tipis.

Huang Ji menatapnya balik dengan ekspresi puas. “Akhirnya kau berhasil merasakannya... inti dari teknik rahasiamu.”

Han Chuan menggenggam pedangnya lebih erat, merasakan sisa getaran energi yang masih berdenyut di tangannya. Napasnya teratur, dan senyum puas terukir di wajahnya.

“Akhirnya... aku berhasil membangkitkan teknik rahasiaku. Hahaha! Akhirnya! Sekarang ini adalah teknik milikku sendiri... tapi, sebaiknya aku beri nama apa, ya?” ucapnya sambil menatap bilah pedangnya yang masih berkilau samar.

“Nanti dulu, bocah nakal,” suara Huang Ji terdengar dari belakang, disertai langkah kakinya yang mendekat perlahan. “Aku akan jelaskan sedikit tentang cara kerja teknik rahasia bagi mereka yang sudah berhasil membangkitkannya.”

Han Chuan menoleh dan menatap gurunya dengan penuh rasa ingin tahu.

“Teknik rahasia bisa kau kembangkan sendiri seiring berjalannya waktu dan seiring dengan meningkatnya sumber daya serta kultivasi yang kau miliki,” ucap Huang Ji sambil berdiri tegak di hadapan muridnya. “Intinya, teknik rahasia adalah cerminan dari isi pikiranmu dan hasil dari usahamu sendiri. Semakin kuat hatimu, semakin besar pula potensinya.”

Selesai berbicara, Huang Ji mengambil kantung arak yang terikat di pinggangnya, meneguknya dengan santai, lalu melompat ringan ke atas atap dan duduk di tempatnya semula.

Han Chuan menatapnya sebentar, kemudian ikut tersenyum kecil. Ia juga mengambil botol araknya dan memutuskan untuk bergabung. Dengan satu lompatan ringan, ia duduk di samping gurunya di atas atap, di bawah langit senja yang berwarna jingga.

“Mungkin... dengan menenangkan pikiran, aku bisa menemukan nama yang bagus untuk teknik rahasiaku,” ucap Han Chuan sambil meneguk arak dari botolnya.

Huang Ji tertawa kecil. “Heh, kalau semua murid sekeras kepala kau, mungkin dunia ini akan dipenuhi dewa baru,” katanya santai sambil kembali meminum araknya.

Sementara itu, efek dari pertarungan mereka tadi masih terasa di seluruh kediaman keluarga Han. Getaran halus mengguncang bangunan, dan sebagian pelayan berlari keluar dengan wajah panik. Di ruang utama, seorang nenek tua dengan tatapan tajam duduk di kursinya. Rambutnya putih panjang, wajahnya penuh wibawa, namun auranya memancar kuat seperti dewa.

“Ini... teknik rahasia anak jenius mana yang baru saja membangkitkan teknik rahasia nya?” ucap perempuan tua itu dengan suara dalam dan berwibawa. Ia adalah Han Ming, pemimpin keluarga Han sekaligus satu-satunya perempuan yang telah mencapai tingkat Dewa.

Tak lama setelah itu, Han Ling ayah dari Han Chuan berlari dengan cepat menuju aula keluarga. Napasnya terengah, tapi wajahnya dipenuhi kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.

“Han Ming! Kakak! Anak ku... Han Chuan! Dia berhasil membangkitkan teknik rahasianya!” teriak Han Ling keras-keras sambil membuka pintu aula tanpa permisi.

Ketiga saudaranya yang sedang duduk langsung menoleh kaget. Mereka berdiri serentak dan menghampirinya.

“Apakah itu benar, Han Ling?” tanya salah satu kakaknya dengan nada tak percaya.

“Iya, Kakak kedua! Aku sendiri yang melihatnya! Tekniknya luar biasa hebat... dan juga sangat indah!” jawab Han Ling dengan nada penuh semangat dan mata berbinar.

Han Ming yang sejak tadi hanya diam akhirnya tersenyum kecil, lalu tertawa pelan. “Hahaha... akhirnya keluarga yang kupimpin memiliki penerus sejati untuk menjadi dewa.”

Ia berdiri perlahan, menyandarkan tongkatnya, lalu menatap semua orang di ruangan itu.

“Untuk Han Chuan, berikan dia sumber daya yang lebih banyak. Dukung pertumbuhannya secepat mungkin! Dan pastikan dia mengikuti Konferensi Pemburu Iblis yang akan diadakan tiga hari lagi.”

Semua orang di aula langsung mengangguk setuju. Wajah mereka penuh semangat, menyadari bahwa keluarga Han kini memiliki penerus baru yang luar biasa seorang jenius muda yang baru saja membangkitkan teknik rahasianya sendiri.

Sementara itu, di atas atap, Han Chuan dan Huang Ji masih duduk menikmati arak sambil menatap bukan yang bersinar terang di malam hari serta angin malam yang bertiup lembut, membawa sisa energi spiritual yang bergetar halus di udara.

Han Chuan tersenyum puas. “Tiga hari lagi, ya... sepertinya dunia luar pasti ada kejutan baru,” gumamnya pelan.

Han Ming yang duduk di kursinya perlahan bangkit dan berjalan mendekati adiknya, Han Ling.

“Han Ling, besok rayakan keberhasilan anakmu! Traktir semua orang yang ada di jalan, dan pastikan semua makanan di restoran milik kita gratis untuk satu hari penuh,” ucap Han Ming dengan nada tegas namun penuh kebanggaan. Ia menepuk bahu adiknya dengan senyum tipis yang jarang sekali terlihat di wajahnya.

“Baik, Kakak. Besok aku akan merayakannya dengan besar-besaran,” jawab Han Ling sambil membungkuk sedikit, wajahnya dipenuhi rasa hormat dan kebahagiaan yang sulit disembunyikan.

Tak butuh waktu lama, berita itu menyebar dengan sangat cepat ke seluruh penjuru kota. Dari pasar, rumah makan, hingga kedai arak—semua orang membicarakan hal yang sama: anak jenius keluarga Han telah membangkitkan teknik rahasia di usia 17 tahun.

“Benarkah itu? Seorang anak berumur 17 tahun?” seru salah satu pedagang di pasar dengan mata terbelalak.

“Ya, aku mendengar kabar itu langsung dari pelayan keluarga Han! Katanya, pertarungan antara Han Chuan dan gurunya sampai membuat seluruh halaman keluarga Han bergetar,” timpal yang lain, membuat suasana semakin heboh.

Berita itu bahkan sampai ke Istana Pedang Matahari, tempat para pendekar muda dan penguasa pedang berlatih.

“Guru, aku baru saja menerima kabar dari utusan istana. Katanya, dari keluarga Han muncul seorang anak jenius yang berhasil membangkitkan teknik rahasianya di usia tujuh belas tahun,” ucap Ling Sura dengan nada hormat, sembari menundukkan kepala.

Sang penguasa istana, seorang pria berambut panjang berwarna perak, duduk santai di kursi batu besar. Ia mengangkat cangkir araknya dan menatap ke luar jendela, di mana bulan memantulkan cahaya nya di malam hari

“Keluarga Han memang beruntung,” katanya pelan, kemudian menyesap araknya dalam satu tegukan. “Anak itu berbakat, tapi tidak sehebat dirimu, Ling Sura. Kau berhasil membangkitkan teknik rahasiamu di usia enam belas tahun.”

Ling Sura hanya tersenyum kecil. “Saya tidak seistimewa itu, Guru. Tapi... jika benar kabar tentang Han Chuan ini, maka mungkin generasi muda negeri ini akan menjadi lebih menarik ke depannya.”

Penguasa istana mengerling sekilas, lalu meletakkan cangkir araknya di atas meja batu, menghasilkan bunyi tak! yang bergema di ruangan.

“Menarik, ya... Kita lihat saja nanti, seberapa jauh anak keluarga Han itu bisa melangkah.”

Sementara itu, di seluruh kota, orang-orang masih berbicara tentang nama Han Chuan.

1
Nanik S
Long Shen..untung sdh datang
Nanik S
Ilusi Iblis
Nanik S
Gaaaas Poooool
Nanik S
Han Chuan.... memang lumayan konyol... 🤣🤣🤣
Nanik S
Jatah membunuh Binatang Iblis
Nanik S
Sekte Langit Iblis lagi... Bantai saja semua Han Chuan
Nanik S
Siapa sebenarnya Long Shen
Nanik S
Bsi Ling ditelan Harimau Iblis
Nanik S
Mantap Poooool 💪💪💪
Nanik S
Joooooooooss 👍👍👍
Nanik S
Para Orang Tua juga ikut tegang
Nanik S
God Job
Nanik S
Lha kenapa Han Chuan tidak ada reaksi di balik tentang Inti Iblis
Nanik S
Sekte Langit Iblis
Nanik S
Mengapa mesti ada Kontrak hidup mati
Nanik S
Bsi Ling... Dendam karena kalah dan malu
Nanik S
Apa mereka tdk menyadari adanya kelompok sekte Iblis
Nanik S
Han Chuan... 💪💪💪
FAUZAL aut
kristal?
Nanik S
Han Chuan... jenius krn Anaknya Dewi Bulan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!