Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Menjual kenangan terakhir
Menjual kenangan terakhir ternyata tidak cukup untuk menutupi jejaknya karena kini seluruh negeri sedang mengincar kepalanya demi mendapatkan imbalan harta yang melimpah. Anindira berdiri mematung di depan warung kopi sambil mencengkeram erat bungkusan uang hasil penjualan cincin tadi. Lembaran koran yang beterbangan tertiup angin seolah mengejek nasibnya yang kini menjadi buronan nasional dengan tuduhan yang sangat keji.
Ia melihat beberapa orang di dalam warung kopi mulai memperhatikan dirinya yang sedang berdiri kaku dengan tubuh yang bergetar. Rasa takut yang luar biasa membuat telapak tangannya berkeringat hingga membasahi plastik pembungkus uang di dalam sakunya. Dengan gerakan yang sangat terburu-buru, ia menarik kerudung tuanya lebih rendah untuk menutupi sebagian besar wajahnya yang pucat pasi.
"Lihat wanita itu, bukankah dia terlihat sangat mencurigakan dengan penyamaran seperti itu?" bisik salah satu pengunjung warung kepada temannya.
"Benar, postur tubuhnya sangat mirip dengan gadis yang ada di halaman depan koran pagi ini," sahut pria lainnya sambil mulai berdiri dari kursi bambunya.
Anindira tidak menunggu lebih lama lagi dan segera membalikkan badan untuk berlari menuju kerumunan orang di pasar induk yang semakin padat. Ia menyelinap di antara tumpukan keranjang sayur dan truk-truk pengangkut barang agar tidak mudah terlihat oleh mata-mata yang mungkin mengejarnya. Napasnya terasa sangat sesak seolah oksigen di sekitarnya telah habis tersedot oleh kepanikan yang melanda jiwanya.
Setiap kali ada petugas keamanan pasar yang lewat, ia segera menundukkan kepala dan berpura-pura sedang menawar dagangan ikan yang ada di pinggir jalan. Ia tahu bahwa uang yang ada di sakunya saat ini adalah satu-satunya harapan untuk bisa pergi meninggalkan pulau ini menuju tempat yang lebih terpencil. Namun, rasa bersalah karena telah menjual satu-satunya peninggalan ibunya terus menghujam jantungnya dengan rasa sakit yang sangat dalam.
"Ibu, maafkan aku karena telah melepaskan kenangan terakhir darimu demi keselamatan anak ini," isak Anindira dalam hati sambil mengusap air mata yang mengalir di balik kerudung.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang sangat kuat mencengkeram bahu Anindira dari arah belakang hingga ia hampir saja terjatuh ke atas lantai pasar yang kotor. Ia memekik kaget dan mencoba meronta untuk melepaskan diri dari pegangan orang yang sangat tidak dikenal tersebut. Pikirannya sudah membayangkan bahwa ini adalah akhir dari pelariannya dan ia akan segera diserahkan kepada ayahnya yang murka.
"Jangan berteriak jika Anda masih ingin selamat dan pergi dari tempat ini dengan nyawa yang utuh!" ancam sebuah suara berat yang terdengar sangat tegas di dekat telinganya.
"Siapa Anda? Lepaskan saya sekarang juga atau saya akan berteriak meminta tolong kepada warga!" ancam Anindira dengan suara yang bergetar hebat karena ketakutan.
Pria itu tidak menjawab dan justru menarik Anindira masuk ke dalam sebuah lorong gelap yang berada di antara dua bangunan gudang penyimpanan beras yang sangat besar. Di sana, cahaya matahari tidak mampu menembus ke dalam sehingga suasana terasa sangat suram dan mencekam bagi siapa pun yang masuk. Anindira jatuh terduduk di atas tumpukan palet kayu sambil menatap pria di depannya dengan pandangan yang penuh dengan rasa waspada.
Pria itu membuka topi hitamnya dan memperlihatkan wajah yang penuh dengan bekas luka bakar di bagian pipi sebelah kiri. Ia nampak mengenali Anindira bukan sebagai seorang pencuri, melainkan sebagai seseorang yang memiliki nilai sangat tinggi di pasar gelap. Anindira semakin ketakutan saat melihat pria itu mengeluarkan sebilah pisau kecil yang berkilat tajam di bawah cahaya lampu jalan yang redup.
"Saya tahu siapa Anda sebenarnya, Nona Adiguna yang sangat terhormat dan sangat kaya raya," ujar pria itu sambil memainkan pisau di antara jemarinya yang kasar.
"Saya tidak memiliki uang lagi, semua harta saya sudah diambil oleh keluarga saya sendiri!" teriak Anindira sambil mencoba melindungi perutnya secara refleks.
Pria itu tertawa sinis dan menunjukkan sebuah selebaran yang menyatakan bahwa siapa pun yang membawa Anindira pulang akan mendapatkan hadiah rumah mewah. Ia melangkah mendekat hingga ujung pisaunya menyentuh dagu Anindira yang sedang menggigil hebat karena suhu udara yang mendadak terasa membeku. Anindira memejamkan mata sambil meratapi nasib bayinya yang mungkin tidak akan pernah melihat dunia luar jika ia tertangkap sekarang.
Namun, di saat yang sangat kritis tersebut, terdengar suara langkah kaki banyak orang yang sedang meneriakkan namanya dari ujung lorong gudang. Ternyata warga pasar yang tadi mencurigainya telah memanggil petugas keamanan untuk melakukan penggeledahan secara menyeluruh di area tersebut. Pria berwajah luka itu nampak panik dan segera menyarungkan pisaunya karena tidak ingin berurusan dengan massa yang sedang beringas.
"Sialan, kali ini Anda beruntung karena banyak orang yang mencampuri urusan saya!" maki pria itu sebelum akhirnya melompati pagar besi dan menghilang di balik kegelapan.
Anindira segera berdiri dan berlari ke arah yang berlawanan dengan suara massa agar tidak ikut tertangkap oleh para petugas keamanan pasar. Ia masuk ke dalam sebuah bus angkutan umum yang sedang bersiap untuk berangkat menuju pelabuhan penyeberangan di ujung kota. Di dalam bus yang pengap itu, ia duduk bersandar pada jendela sambil merenungi betapa sempitnya dunia ini bagi seorang pelarian seperti dirinya.
Ia membuka bungkusan uang di sakunya dan menyadari bahwa jumlahnya tidak sebanyak yang ia bayangkan sebelumnya karena pemilik toko emas tadi telah menipunya. Dengan sisa uang yang ada, ia harus mampu menyeberangi lautan dan mencari identitas baru agar tidak mudah ditemukan oleh siapa pun lagi. Kabar pernikahan sang mantan yang tidak sengaja ia dengar dari siaran radio di dalam bus seolah menjadi bumbu pelengkap bagi penderitaannya yang sudah mencapai puncak.