"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."
Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.
Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.
Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dering Ponsel Yang Bisu
Dua minggu Kemudian
Kehidupan Adinda berjalan dengan ritme baru yang menyenangkan. Pagi hari diawali dengan menyeduh kopi hitam dan memanggang roti di dapur minimalis apartemennya. Meski tinggal di The Peak yang mewah, Adinda tetap menjalani hidup sederhana layaknya mahasiswa pada umumnya, hanya saja dengan pemandangan jendela yang jauh lebih bagus dari lantai 30.
Setelah itu, ia akan berjalan kaki menuju stasiun MRT, mendengarkan musik indie lewat earphone. Langkahnya ringan, tidak lagi waspada berlebihan mencari ancaman di setiap sudut jalan.
Siang ini, Adinda sedang duduk di warung kopi dekat kampus bersama Arthur, Siska, dan Reni. Meja mereka penuh dengan kertas sketsa dan gelas es kopi susu.
"Din, lo ngeliatin hape mulu dari tadi. Nungguin kabar dari siapa sih?" tanya Siska curiga, sambil mengunyah gorengan.
Adinda tersentak, buru-buru membalik ponselnya agar layarnya menghadap ke meja.
"Nggak ada. Nungguin... info diskon ojek online," elak Adinda asal.
"Halah, bohong banget," timpal Reni. "Pasti lagi deket sama cowok ya? Siapa? Anak DKV? Atau anak Musik?"
Adinda hanya tersenyum misterius sambil menggeleng. "Rahasia. Masih tahap seleksi alam."
Padahal dalam hati, Adinda sedang gelisah.
Sudah empat hari William tidak membalas pesannya.
Status hubungan mereka memang belum jelas. Belum ada kata "pacaran". Mereka baru makan malam sekali (nasi goreng), dan William baru bilang "mari kita coba". Bagi Adinda, ini masih fase pendekatan alias PDKT.
Karena merasa belum memiliki hak penuh, Adinda menahan diri untuk tidak membombardir William dengan pesan. Ia tidak mau dianggap cewek agresif atau clingy yang mengganggu kesibukan seorang CEO.
Mungkin dia sibuk banget, batin Adinda memaklumi. Sabar, Din. Jangan norak. Orang penting jadwalnya beda sama mahasiswa.
"Woy, gila! Liat TV deh!" seru Arthur tiba-tiba, menunjuk televisi tabung yang tergantung di pojok warkop.
Berita bisnis sore sedang tayang. Headline-nya: Saham Bagaskara Corp Meroket, CEO William Bagaskara Resmikan Pabrik Baru di Cikarang.
Di layar kaca yang buram itu, tampak sosok William.
Pria itu mengenakan helm proyek putih dan rompi oranye, dikelilingi pejabat dan wartawan. Wajahnya terlihat dingin, tegas, dan sangat berwibawa. Aura kekuasaannya menembus layar.
"Gila sih," Arthur menggelengkan kepala kagum. "Itu William Bagaskara kharismanya nggak ada obat. Udah kaya, ganteng, pinter lagi. Beda level banget sama kita ya."
"Iya, kayak pangeran dari dunia lain," tambah Siska sambil menopang dagu. "Beruntung banget cewek yang bisa dapetin dia. Pasti model internasional atau putri kerajaan bisnis."
Adinda mendengarkan komentar teman-temannya sambil menahan senyum geli. Ia menyesap es jeruknya, menyembunyikan rasa bangga yang meletup-letup di dada.
Kalian nggak tau aja, batin Adinda. Pangeran dingin itu kemarin makan nasi goreng pinggir jalan sampai keringetan.
"Din, lo kan pernah nyelamatin dia tuh pas insiden lampu panggung," kata Arthur, menoleh ke Adinda. "Dapet apa lo? Dikasih duit segepok nggak?"
Adinda mengangkat bahu santai, berusaha terlihat tidak peduli. "Nggak dapet apa-apa. Cuma ucapan makasih doang. Udah, itu kan tugas kemanusiaan."
"Yah, sayang banget. Kirain dapet black card," canda Arthur.
Adinda kembali melirik ponselnya. Melihat wajah William di TV membuatnya rindu. Wajah di TV itu terlihat lelah dan keras, berbeda dengan wajah William yang tertawa bersamanya dua minggu lalu.
Mumpung teman-temannya sedang sibuk membahas gosip artis lain, Adinda menyelinap mengetik pesan di bawah meja. Ia mengetik dengan hati-hati, menimbang setiap kata agar tidak terdengar menuntut.
Adinda: Baru liat di berita. Keren helmnya :) Pasti capek ya? Semangat kerjanya, William.
Sent.
Adinda meletakkan ponselnya kembali. Jantungnya berdebar pelan. Ia berharap, sesepele apa pun pesan itu, bisa menjadi penyemangat buat William di tengah kesibukannya. Ia yakin William akan membalasnya nanti, mungkin saat sudah senggang.
Namun, Adinda tidak tahu apa yang terjadi di seberang sana.
Di dalam mobil mewah yang sedang melaju meninggalkan lokasi pabrik, William menatap layar ponselnya. Notifikasi pesan dari Adinda muncul.
William membaca pesan singkat itu. Senyum tulus Adinda terbayang di benaknya. Rasanya ia ingin sekali menelepon, mendengar suara gadis itu, dan bilang kalau dia lelah berpura-pura kuat.
Tapi kemudian, bayangan wajah ayahnya dan ancaman mengerikan itu kembali menghantui. "Tangan seniman itu akan patah."
Tangan William gemetar. Hatinya remuk. Ia sadar, satu balasan pesan darinya bisa menjadi pemicu bahaya bagi Adinda. Mata-mata ayahnya ada di mana-mana.
Dengan berat hati, William tidak membuka pesan itu. Ia membiarkannya, mengabaikannya seolah Adinda tidak penting. Ia harus membuat Adinda merasa bosan, merasa diabaikan, dan akhirnya mundur dengan sendirinya.
William mematikan ponselnya, melemparnya ke jok kulit di sebelahnya, lalu menyandarkan kepala dengan mata terpejam menahan perih.
Kembali ke warkop, Adinda membereskan alat tulisnya dengan riang.
"Yuk, balik. Gue mau mampir supermarket bawah apartemen dulu," ajak Adinda.
"Ciyeee, yang mau masak. Buat siapa tuh?" goda Reni.
"Buat diri sendiri lah, emang buat siapa lagi," jawab Adinda sambil tertawa.
Adinda berjalan pulang menuju stasiun MRT, bersenandung pelan mengikuti lagu di earphone-nya. Dia merasa optimis. Hubungan ini baru mulai, wajar kalau ada tarik ulur. Adinda yakin, kesabaran adalah kunci untuk mendapatkan hati seorang William Bagaskara.
Dia tidak sadar, bahwa keheningan William bukanlah taktik tarik ulur dalam pendekatan, melainkan sebuah tembok perpisahan yang dibangun demi melindunginya.
lanjut thor
lanjuuut