Di sebuah desa yang masih asri dan sejuk juga tak terlalu banyak masyarakat yang tinggal hidup lah dengan damai jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota yang sibuk.
Kegiatan yang wajar seperti berkebun, memancing, ke sawah, juga anak-anak yang belajar di sekolah.
Di sekolah tempat menuntut ilmu banyak yang tak sadar jika terdapat sebuah misteri yang berujung teror sedang menanti masyarakat lugu yang tidak mengetahui apa penyebab nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risma Dwika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Selain suhu di kamar nya dingin, saat tak sengaja Zaki menyentuh tangan Rama Zaki terkejut karena dingin sekali.
Namun Zaki tak sampai terbangun karena saking ngantuknya.
Rasa ngantuk mengalahkan rasa penasaran nya.
Yang Zaki rasakan tangan Rama benar-benar seperti es batu yang baru keluar dari freezer.
...****************...
Keesokan harinya Zaki bangun saat bapak membangunkan nya untuk ibadah.
"Ki, Zaki. Bangun nak, subuh dulu yuk".
Pak Parjo menggoyangkan bahu nya Zaki.
"Iyaa pak. Loh ini Rama kemana pak?". Tanya Zaki yang melihat kasur sebelah nya kosong namun terlihat berantakan seperti habis ada yang tidur di sana.
"Loh, malah bapak kira Rama sudah pamit pulang sama kamu Ki. Kok tumben yaa Rama begitu?".
"Masa sih pak dia pulang? Kan masih gelap juga yaa".
"Mungkin nggak enak bangunin kita, ada hal mendesak kali yaa. Ya sudah Ki, subuh dulu".
Zaki sangat bingung, tidak biasanya Rama begitu.
Tapi semalem benar-benar Rama kok, karena yang lihat bukan hanya dia. Bapak juga lihat.
'Masa sih Rama ada hal mendesak? Se mendesak apa sampai nggak bisa bangunin aku yaa?'.
Akhirnya Rama ke kamar mandi bersih-bersih lanjut melakukan ibadah.
Tapi hati nya sangat gelisah.
Zaki sarapan di teras rumah bersama bapak dan ibu yang sedang menyuapi adik nya yang sudah mulai makan.
Meskipun Bu Munah orang desa, tapi ia tetap mengikuti anjuran bidan yaitu anak mulai makan atau MPASI di usia enam bulan.
Mereka semua sarapan dengan lahap nya sambil menikmati suasana pagi yang tenang.
Namun di kejauhan, bapak melihat ada pak min naik motor mendekat ke arah rumah nya.
Saat selesai makan, bapak cuci tangan kemudian menghampiri pak min yang sudah berhenti di depan rumah.
"Loh, ada apa min? Kok tumben pagi kemari, biasanya saya yang lewat sana. Repot-repot di jemput segala".
"Siapa yang mau jemput maneh (kamu). Saya mau tanya Zaki".
"Ada apa wa?" Zaki buru-buru mencuci tangan nya.
"Nak, apa kamu ada lihat Rama? Rama nggak pulang dan nggak ada kabar dari kemarin. Uwa sudah mencari ke sekolah dan kemana mana". Wajah pak min begitu gelisah dan khawatir.
"Rama semalem datang kemari wa, dia menginap karena sudah malem banget dia datangnya. Zaki juga sempat heran, kok Rama datang kesini malam malam. Tapi pas bangun subuh, Rama sudah nggak ada di kamar saya wa. Saya tanya bapak, bapak juga nggak lihat. Nggak biasa nya kan Rama begini". jelas Zaki.
Raut wajah pak min makin gelisah lagi.
"Kira-kira Rama di sekolah ada masalah sama teman nya nggak?".
Zaki terdiam sebentar
'Apa aku ceritakan saja yaa perihal omongan Rama tempo hari'.
"Nak". Pak min memanggil nya kembali.
"Zaki, kalau ada yang mesti di sampaikan sebaiknya sampaikan saja". Ujar bapak menasihati Zaki.
"Jadi begini wa, Rama cerita ke Zaki kalau dia mau balas dendam ke anak nya lurah desa sebelah karena dia dan teman temannya sering usil sama kami. Tapi Zaki nggak tau kapan Rama temuin mereka, jadi atau nggak nya Rama nggak bilang apa-apa sama Zaki wa".
Zaki malah berusaha menyembunyikan sesuatu yang penting karena hati nya bingung dan takut.
"Yaa Allah, Rama ada ada saja yaa. Sebentar lagi dia tanding. Sekarang malah hilang entah kemana. Gimana ini yaa Jo, apa saya lapor polisi aja yaa? Saya udah ke semua teman nya tapi nggak ada yang tau".
"Bawa tenang dulu, supaya kita nggak salah ambil langkah. Kalau kau mau ku temani laporan ayo saya antar".
"Iyaa jo. Antar saya sekarang saja lah ya".
"Zaki tolong jaga ibu dan adik. Bapak antar uwa min dulu yaa".
"Iyaa pak. Hati-hati yaa pak, uwa".
Parjo dan min pun berangkat ke kota dengan menggunakan motor pak min.
Mereka berharap bertemu Rama di jalan....