laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Kemarahan Yang Membawa Pergi
Setelah berpamitan dengan Nadine untuk pulang lebih dulu, Zaskia keluar dari pabrik dengan perasaan yang ringan. Senyumnya merekah, langkahnya santai, seolah kebahagiaan itu sendiri yang menuntunnya. Ada kepuasan hangat saat memikirkan bahwa gambarnya diterima oleh pelanggan ternama di pabrik Pak Irwan. Bakat menggambar yang dulu sering membawanya juara lomba antar sekolah, kini akhirnya ia tuangkan menjadi sketsa desain sepatu.
Ia tak membutuhkan siapa pun untuk mengapresiasi dirinya. Cukup dirinya sendiri yang memvalidasi perasaan itu.
Begitu melewati pintu pagar pabrik, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Pak Irwan—ucapan terima kasih yang dikirim dengan nada sopan dan tulus. Senyumnya kembali muncul. Hari itu seharusnya berjalan mulus.
Tetapi sekilas kebahagiaan itu runtuh ketika sebuah notifikasi muncul setelah WhatsApp ditutup. Unggahan terbaru dari Rania.
Dengan kening berkerut, ia membuka notifikasi itu, awalnya hanya didorong rasa penasaran kecil. Namun begitu layar menampilkan foto-foto itu, tubuhnya seperti berhenti bergerak.
Dadanya seakan diremas rasa kecewa. Matanya membesar—bukan karena kagum, tetapi karena harapan yang runtuh. Wajahnya meredup pelan. “Rania...” gumamnya lirih. Ia bahkan sempat menutup mata, berharap ia salah lihat.
Namun kenyataannya tetap sama.
Rania berpose dengan seorang laki-laki dalam sesi foto. Bukan brand-nya yang menjadi masalah, tapi caranya: beberapa foto mesra, duduk di pangkuan, saling menatap seperti pasangan. Semua itu bertentangan dengan ajaran Ibu mereka. Padahal Zaskia sudah berkali-kali mengingatkan agar Rania tidak mengambil pekerjaan yang melibatkan model pria.
Tanpa pikir panjang, Zaskia langsung menekan tombol telepon. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Tidak diangkat.
Napasnya mulai memburu, marah dan kecewa bercampur menjadi satu, seperti badai yang mulai tumbuh di dadanya.
Ia segera memesan ojek dan meminta pengemudi melaju cepat ke rumah. Rencananya jelas: ganti pakaian, lalu ke rumah Ratna untuk bicara langsung.
Namun langkahnya terhenti begitu motor berhenti di depan pagar. Di teras rumah, seorang gadis duduk santai sambil menatap ponsel—orang yang justru membuat dadanya terasa panas sejak beberapa menit lalu.
“Rania...!” panggilannya melengking. Lebih menyerupai bentakan. Rania terperanjat, matanya membelalak, wajahnya berubah tegang melihat tatapan Zaskia yang seperti elang siap menerkam.
Zaskia menghampiri dan menarik tangan Rania, sedikit kasar karena emosinya memuncak. Ia membawanya masuk ke rumah hingga keduanya berdiri berhadapan.
“Apa ini?” Zaskia mengangkat ponselnya, menampilkan unggahan itu tepat di depan wajah Rania. “Kamu sudah dewasa. Harusnya kamu sadar kalau ini salah, kan?”
Rania membeku. Melihat layar itu, lalu menunduk. Dalam hatinya, ia tahu ia salah. Ia tahu ia melanggar batas yang dulu ia janjikan pada dirinya sendiri, apalagi pada kakaknya.
“Maaf, Kak...” suaranya kecil, nyaris hilang.
“Kakak tahu, pekerjaan yang tak lepas dari sorotan media itu artinya semua mata memandang kamu. Tapi kamu harus paham batasan. Dan hari ini kamu sudah keluar dari batasan itu, Rania. Beraninya kamu mengizinkan laki-laki asing menyentuh tubuh kamu. Tubuh yang seharusnya kamu jaga untuk suami kamu nantinya.” ucap Zaskia lantang dan tegas. Setelah itu, air matanya menetes perlahan.
Rania belum berani menatap sang kakak. Ia menunduk, memainkan jemarinya, ketakutan. Ini pertama kalinya Zaskia memarahinya sekeras ini.
“Aku cuma profesional, Kak...Di luar kerja aku nggak seperti itu. Aku tetap jaga diri aku. Itu ketentuan dari brand, karena produknya couple, jadi harus dengan model pria.”
“Lihat aku, Rania. Kalau mau jawab, tatap mata aku.” seru Zaskia. Nada suaranya menantang.
Dengan gemetar, Rania menuruti.
“Aku cuma ngelakuin sesuai kontrak. Masih batas wajar kok. Nggak berlebihan.”
Zaskia membelalak, seperti tidak percaya.
“Nggak berlebihan kamu bilang? Ada adegan pangkuan, terus kamu bilang itu wajar?” suaranya bergetar, menahan marah. “Rania, jadi harga dari tubuh kamu ditentukan sama mereka? Tubuh kamu itu milik kamu, hanya kamu yang berhak nentuin siapa yang boleh nyentuh. Bukan orang lain.”
“Namanya Rama, Kak… dia baik kok. Di belakang layar dia biasa aja. Cuma profesional kerja aja.”
Zaskia mengeratkan rahangnya, menggeretukkan gigi.
“Kenapa kamu susah dibilangin, Rania? Laki-laki yang baik nggak akan berani menyentuh perempuan yang bukan miliknya. Andai kamu tahu isi otak laki-laki, kamu nggak bakal membiarkan bahkan sedikit pun kulitmu disentuh.”
Rania terdiam. Dan untuk beberapa detik, rumah itu hanya berisi napas berat dua saudara perempuan yang sedang berusaha mempertahankan dunia mereka masing-masing.
Tiba-tiba sebuah suara memotong ketegangan itu.
“Udah puas marahnya?”
Keduanya menoleh. Di ambang pintu berdiri seorang perempuan bersandar di kusen dengan tangan terlipat—Ratna.
“Kalau mau marah, marah sama saya. Saya mamahnya. Saya yang izinkan Rania ambil kontrak itu,” ucap Ratna. “Kamu masih muda, tapi pikiranmu seperti zaman purba. Selama nggak ada adegan ciuman atau sampai tidur bareng, itu masih wajar. Dia cuma kerja, bukan jual diri.”
Ratna berjalan mendekat, berdiri di samping Rania, melingkarkan tangan di bahu anak tirinya, mencoba menenangkannya.
Zaskia menatap mereka, tapi bola matanya fokus pada Rania.
“Jadi kamu yang nyuruh dia ke sini, Rania?”
Diam.
Rania tidak menjawab, dan dari diamnya itu, Zaskia tahu jawabannya.
“Saya kakaknya. Sekaligus pengganti Ibu. Anda nggak berhak mengubah ajaran Ibu kami,” ucap Zaskia tegas. “Anda cuma ibu tiri yang dipilih Ayah. Bukan pilihan kami.”
Wajah Ratna memerah, rahangnya mengeras.
“Kamu memang anak nggak tahu diuntung! Sudah baik saya mau urus kalian sampai bisa sekolah. Tanpa saya, Rania nggak bakal sukses seperti sekarang!”
“Saya ganti.” Zaskia menegakkan badan, berusaha terlihat kuat meski hatinya gentar. “Saya siap ganti semua uang yang pernah Anda keluarkan. Dan biarkan Rania tinggal sama saya. Saya nggak mau Anda merusak masa depan adik saya.”
Ratna menyeringai.
“Baru juga dapat pelanggan besar, sudah sok kaya kamu. Bahkan uang itu nggak cukup buat ganti apa yang sudah saya keluarin.”
Rania menatap kakaknya, lalu menggeleng pelan.
“Kak...mana mungkin aku tinggal sama kakak. Media tahunya aku tinggal di rumah mama Ratna. Mana mungkin aku tinggal di rumah sempit ini lagi.”
Ratna tersenyum puas.
Zaskia merasakan hatinya seperti ditusuk duri. Semudah itu Rania berubah...semudah itu uang memengaruhi cara adiknya menilai rumah, menilai keluarga, menilai dirinya.
Dalam hatinya, Zaskia kembali bertanya tentang ayahnya.
Kenapa ayah membiarkan Rania sebebas ini?
Ke mana saja ayah selama ini?
“Rania, kamu sadar dengan ucapan kamu? Kamu nggak mikir gimana kecewanya Ibu kalau tahu kamu seperti ini sekarang? Apa yang bisa Kakak bilang nanti sama Ibu?” suara Zaskia bergetar, air mata kembali memenuhi pelupuknya.
“Ibu? Ibu aja nggak mikirin kita, Kak. Kenapa Kakak kira Ibu bakal balik? Aku aja udah lupain Ibu. Kakak cuma bisa marah, tapi hidup Kakak sendiri masih berantakan. Terus Kakak mau aku tinggal di sini? Apa kata orang nanti? Aku sudah terkenal sekarang. Hidup aku harus sesuai pekerjaanku.”
Plakk.
Tamparan itu terjadi sebelum Zaskia sempat menyadarinya. Rania terhuyung sedikit, wajahnya memerah, matanya langsung berkaca-kaca. Tangisnya pecah.
Zaskia menatap telapak tangannya, seolah tidak percaya itu baru saja terjadi. Penyesalan langsung menghantamnya.
Ia mencoba meraih wajah adiknya, namun Rania menepisnya keras.
“Rania...maafin Kakak. Kakak kelepasan. Nggak seharusnya tangan ini mukul kamu,” suara Zaskia parau, gemetar.
“Kak Kia orang pertama yang nampar aku...” Rania tersedu-sedu. “Bukan cuma Ibu yang jahat… Kakak juga jahat.”
Setelah itu ia berlari keluar rumah.
Ratna menatap Zaskia dengan sinis. “Puas kamu? Ayahmu bakal marah besar kalau tahu ini.” Tanpa menunggu jawaban, Ratna menyusul dan langsung masuk ke mobil bersama Rania.
Zaskia masih berdiri terpaku, mengepal tangan yang tadi menampar adiknya. Begitu mobil bergerak menjauh, ia spontan berlari keluar.
“Rania...tunggu! Maafin Kakak, Dek...” suaranya pecah. Ia jatuh berlutut di halaman, menangis, menyesali kesalahannya.
Di sisi lain...
Tanpa mereka sadari, Pak Irwan mendengarkan setiap kata dari perdebatan yang terjadi. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Ada sesuatu di suaranya—marah, kecewa, sekaligus tidak terima melihat kondisi Zaskia seperti itu.
Ia mematikan alat kecil yang sejak tadi ia gunakan untuk memantau kondisi rumah itu.
Bukan untuk mengintai, tapi untuk memastikan Zaskia aman selama ia berhasil mencapai tujuannya.
Tangannya mengepal kuat.
“Aku nggak bisa diam saja,” gumamnya pelan.
Ada dorongan kuat dalam dirinya...sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Tapi jelas, ia tidak suka melihat Zaskia menangis.