NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua

Menjadi Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami / Balas Dendam / Cinta setelah menikah / Selingkuh
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anasta_syia

Menikah adalah hal sakral yang tidak boleh di permainkan. Namun, pernikahan Elena terjadi karena semata-mata ingin menyelamatkan nyawa papanya yang sedang terancam. Dan tanpa diketahui, ternyata dirinya menjadi istri kedua dan bukanlah istri satu-satunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anasta_syia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Hembusan angin membawa dinginnya udara pagi dengan dibersamai sinar mentari yang begitu cerah. Namun di pagi ini jalanan sudah sangat macet dan dipenuhi dengan para pengendara motor penghasil polusi. Suara bel berbunyi bergantian menandakan rasa tak sabar semua orang yang ingin cepat sampai di tujuannya begitupun dengan Elena. Wanita itu terus membunyikan klakson karena kendaraan di depannya tidak bergerak sama sekali. Entah apa yang membuat kemacetan di pagi ini.

"Berhenti membunyikan klaksonnya Elena" ucap Rafael sembari menutup kedua telinganya karena bising yang ditimbulkan akibat ulah Elena.

"Kendaraan di depan gak bergerak kalau aku sampai terlambat bagaimana?" ucap Elena panik. Ia terus terusan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Tinggal 10 menit waktu yang ia punya untuk sampai di sekolahnya sedangkan jalanan tidak menunjukkan sisi lenggangnya sama sekali.

"Lalu?" Elena mendelik saat mendapatkan pertanyaan dengan nada santai itu. "Apanya yang lalu? Lalu aku terlambat ke sekolah dan itu akan merusak citra ku karena selama tiga tahun sekolah tidak pernah sama sekali aku terlambat masuk" ucap Elena kesal.

"Ya sudah itu tidak akan terjadi" ucap Rafael enteng. Elena semakin tak habis pikir dibuatnya. Bagaimana caranya ia tidak terlambat sedangkan 10 menit lagi bel masuk akan dibunyikan dan sekarang jaraknya dengan sekolah masih cukup jauh.

"Kalau dari mansion ku hanya butuh waktu 25 menit untuk sampai ke sekolah" oceh Elena.

"Ya sudah kalau gitu gimana kalau aku beliin kamu rumah yang dekat dengan sekolah? Gampang kan?" ucap Rafael.

"Hmm ide bagus. Tapi kalau dimarahin papa dan mama aku tidak akan mau ikut campur" ucap Elena.

Sebenarnya hanya membeli rumah itu bukanlah suatu masalah besar. Namun masalah besarnya ada pada Elena yang harus pindah dari mansion itu. Bisa-bisa Arthur naik pitam karena ide konyol Rafael itu.

"Ck kalau gitu besok-besok sekolahnya aku antar pakai helikopter aja gimana?" tanya Rafael menawari.

"Terus? Mau landing dimana?" Elena semakin pusing dengan ide-ide tak masuk akal Rafael. Memang itu akan membantunya untuk cepat sampai di sekolah. Jika di mansion ada helipad lalu bagaimana helikopter itu akan landing di sekolahnya? Secara di sekolahnya belum tersedia helipad.

"Sekolah apaan gak punya helipad" cibir Rafael.

"Stop dengan ide-ide konyol itu. Sekarang mending kita pikirin gimana caranya biar aku gak telat" ucap Elena yang sudah frustasi menghadapi Rafael.

"Siapa kamu nyuruh-nyuruh saya?" ucap Rafael dengan wajah datar.

Elena menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kembali dan ia lakukan beberapa kali hingga emosinya mereda. Ia bisa tua jika berinteraksi dengan pria itu lama-lama.

Elena melirik sinis Rafael yang menatap jalanan di depannya. Kendaraan mulai bergerak begitupun dengan mobil Rafael. "Bisa agak cepat sedikit tuan Rafael?" tanya Elena dengan nada rendah dan senyum yang dipaksakan.

"Waktu saya kurang dua menit lagi" ucap Elena dan melirik jam tangannya dimana detik demi detik terus berjalan.

Rafael menginjak pedal gasnya semakin dalam hingga kecepatan penuh. Elena memegang erat sabuk pengamannya karena mobil yang ditumpanginya benar-benar melaju seperti setan. "Ini jantung bisa copot kalau kaya gini lama-lama" batin Elena namun ia sendiri yang meminta Rafael untuk menambah kecepatan agar dirinya bisa sampai di sekolah tepat waktu.

"Yahhh udah telat" ucap Elena dengan memandangi jam tangannya yang menunjukkan pukul 7 lebih 5 menit.

Elena terkejut ketika mobil itu seketika berbelok begitu saja yang hampir membuat jantungnya lepas dari tubuhnya. "Astaga" Jantung wanita itu berpacu sangat cepat. Elena melirik Rafael yang tampak santai dengan cara menyetirnya yang gila dan ugal-ugalan itu.

"Tuan Rafael yang terhormat bisakah anda menyetir dengan normal? Kau menyetir sudah seperti orang gila!!" sungut Elena.

"Kalau tidak bisa menyetir dengan benar biar aku aja yang nyetir" ucap Elena namun tak di gubris oleh Rafael. Pria itu bahkan entah akan kemana membawa dirinya saat ini.

"Mall?" Mulut Elena menganga saat melihat mobil Rafael memasuki basement parkiran salah satu mall besar. "Buat apa kita kesini? Aku udah telat" ucap Elena yang semakin kesal dibuatnya. Ia berkacak pinggang menghadap Rafael namun tak membuat pria itu takut.

"Bukannya kamu gamau telat?" Dahi Elena berkerut. Lalu apa hubungannya dengan ke mall?

"Lalu?"

"Yaudah katamu tadi sudah telat. Jadinya mending kesini gausah sekolah" ucap Rafael santai.

Jika mungkin di hadapannya saat ini ada kursi besi mungkin sudah ia lemparkan ke wajah Rafael yang tampak tenang dan tak merasa bersalah. Sedangkan dirinya begitu tersulut emosi sedari tadi karena berbicara dengannya.

"Ayo masuk" Rafael keluar lebih dulu dari mobil meninggalkan Elena yang masih cemberut karena tingkah Rafael yang di luar nalar.

"Ikut masuk atau aku kunci di dalam mobil?" Rafael mengangkat satu alisnya dan Elena hanya menatapnya datar dari dalam mobil. Ia melepas sabuk pengamannya dan ikut turun. Biarlah. Semuanya sudah terjadi bukan? Kepalang basah lebih baik sekalian renang.

Elena dan Rafael masuk ke dalam mall besar itu yang sudah dikunjungi banyak sekali orang dan mayoritas wanita. "Kenapa mall ini harus buka di jam sepagi ini" umpat Elena kesal. Jika saja mall itu tidak buka maka Rafael tidak akan kepikiran akan membawanya ke mall.

"Kamu mau belanja? Nonton? Atau apa?" tanya Rafael dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh isi mall yang dipenuhi dengan berbagai toko.

"Sekarang aku mau nimpuk kamu pakai batu" ucap Elena kesal. Ia menghentakkan kakinya dan melangkah pergi.

"Kenapa di dunia ini harus ada yang namanya wanita? Benar-benar ngeselin dan menyusahkan apalagi kalau udah marah" Rafael berjalan santai menyusul langkah kaki Elena yang sedang berjalan cepat. Hanya dalam hitungan beberapa langkah, Rafael sudah bisa sejajar dengan langkah Elena. Langkahnya yang lebar membuatnya tak kesulitan mengejar Elena.

"Mending nonton deh kayanya ada film baru. Aku juga lagi butuh hiburan" ucap Rafael santai membuat Elena melotot. "Lo nya hiburan gue nya yang setres" teriak Elena tepat di telinga Rafael membuat gendang telinga pria itu berdengung kencang.

"Astaga mulutnya udah kaya bebek aja yang koar-koar kalau ngejar" cibir Rafael dan terus mengusap telinga kanannya yang terkena amukan Elena.

"Eitss mau kemana" Rafael menarik seragam Elena bagian belakang hingga langkah kaki wanita itu berhenti seketika. "Lepas ga?"

"Gak"

"Lepas gak?"

"Engga"

"Lepas!!"

"Gue nya gamau" Elena menarik tangan Rafael dan melepaskannya dari seragamnya.

"Makanya kalau jalan pelan-pelan. Tungguin gue" Rafael melangkah lebih dulu mendahului Elena. Wanita itu semakin kesal dan ingin melempar Rafael ke kolam yang ada di tengah mall itu.

"Dasar manusia batu" umpat Elena meluapkan seluruh kekesalannya di pagi ini.

"Awali pagimu dengan Rafael maka semuanya akan menjadi buruk"

1
🍁🅐🅝🅖🅔🅛🅐❣️
jgn ngelamun fokuss
🍁🅐🅝🅖🅔🅛🅐❣️
felik cemangat ngedekeyin gebetan 😄😄😄
🍁🅐🅝🅖🅔🅛🅐❣️
nah bener tuhh udah gede jgn males waktu nya belajar untuk mandiri... 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!