“Ivory Esmeralda, apakah kau sedang mencoba untuk menguji kesabaranku sekarang? Bukankah sejak awal kau sudah menyetujui semua perjanjiannya?”
“Apa maksudnya Ivory Esmeralda? Namaku jelas-jelas Ivory Asteria, lalu kenapa … Sial, jangan katakan kalau dugaanku benar-benar menjadi kenyataan. Aku memasuki dunia lain?”
“Ingatlah, pernikahan ini hanya akan berlangsung selama 6 bulan lamanya. Jangan berharap aku akan memperlakukanmu sebagai seorang istri karena kau tahu sendiri bahwa aku telah memiliki seorang kekasih yang sangat aku cintai.”
Kalimat yang sama, ekspresi raut wajah dan nada bicara yang sama seperti yang di gambarkan oleh penulis dari novel yang berjudul ‘Kematian Tragis Permaisuri Raja Vampir’ yang Ivory baca sebagian sebelum dia terjatuh dari tangga begitu mendengar kabar tentang kecelakaan kedua orang tuanya.
“Benarkah aku memasuki dunia novel? Pengangguran menjadi Ratu, apakah mungkin? Bahkan Ratu Vampir, bagaimana jadinya nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Pengorbanan Untuk Melindungi
“Apakah anda akan kembali, Tuan Rend?” tanya Draven melihat Tuannya tampak terlihat kebingungan.
“Ya, sepertinya aku harus kembali lagi untuk memberitahu Ragnar tentang ini sekaligus memastikan sendiri. Apakah informasi ini memang benar atau tidak,” jawab Rend yang memang harus memastikan informasi itu sendiri.
“Kalau begitu, ijinkan saya menemani anda dalam perjalanan kali ini, Tuan!” pinta Draven yang tidak akan membiarkan Tuannya pergi sendirian lagi seperti sebelumnya.
“Baiklah, ayo kita pergi sekarang!” Rend tidak bisa menolaknya, bagaimana pun juga sudah menjadi tugas Draven untuk mengawal dan melindunginya.
Duarrr ….
Suara ledakan di langit sontak mengalihkan perhatian Rend dan Draven untuk sesaat. Hingga Rend menyadari bahwa ledakan itu merupakan sinyal darurat adanya bahaya di dalam istana Raja. Rend yang teringat bahwa Ivory sudah tinggal satu kamar dengan Ragnar di istana Emerald, sontak membuatnya menyimpulkan bahwa para pembunuh itu telah kembali untuk menyingkirkan sang Ratu Vampir dalam buku ramalan.
“Sial!” umpat Rend untuk kesekian kalinya, “Draven, kita harus cepat tiba di sana,” sambungnya.
Rend dan Draven pun segera melesat menuju wilayah bangsa vampire, lebih tepatnya menuju istana Emerald tempat Ivory dan Ragnar berada. Gencarnya pergerakan para pembunuh membuat Rend semakin yakin bahwa ramalan itu memang benar adanya. Sehingga dia tidak boleh terlambat menyelamatkan Ivory dari para pembunuh tersebut atau masa depan semua mahluk tidak ada lagi.
...****************...
Beralih kembali ke Istana Emerald, lebih tepatnya di taman bunga mawar merah yang kini sudah tercemar dengan darah. Denzel dan Elias tampak kesulitan membereskan bagian mereka, begitu juga dengan Ragnar dan Dorian yang terus teralihkan pada musuh dihadapannya. Sampai tidak menyadari bahwa Groven sudah berada tepat dibelakang Ivory yang masih bersembunyi.
“Akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk membunuh Ratu Vampir yang tertulis dalam buku ramalan.”
Perkataan Grover lantas membuat Ivory langsung membalikkan tubuhnya, dia jelas sangat terkejut dengan kemunculan pembunuh lainnya yang siap menghunuskan senjata pembunuh vampire itu kapan saja.
“Matilah kau di tanganku, Yang Mulia Ratu!”
Grover menyeringai penuh kemenangan dan detik berikutnya dia langsung melayangkan senjata pembunuh vampire ditangannya dengan menargetkan jantung Ivory. Jelas Ivory langsung menghindar, dia tidak ingin mati sia-sia begitu saja.
Namun, siapa sangka Grover lebih cepat mengejarnya dan terus menghujami Ivory dengan serangan mematikan yang terus tertuju pada jantungnya. Hingga akhirnya, Ivory terjatuh mengenai tanaman mawar yang berduri dan kesempatan itu digunakan Grover untuk mengakhiri tugasnya. Grover kembali melayangkan senjata pembunuh vampirnya menargetkan jantung Ivory, dimana wanita itu hanya bisa pasrah menghadapi kematian yang selama ini susah payah dia hindari.
“Apakah kali ini benar-benar berakhir? Apakah aku akan tetap mati seperti Ivory Esmeralda yang ada di dalam novel?” batin Ivory memilih memejamkan matanya, berharap kematiannya tidak terlalu menyakitkan.
Tes … Tes … Tes ….
Dapat Ivory rasakan sesuatu menetes mengenai wajahnya, seperti tetesan air yang cukup kental dan berbau anyir. Tunggu? Berbau anyir, apakah itu darah? Itulah yang Ivory pikirkan, hingga membuatnya langsung membuka mata dan melihat pemandangan yang membuatnya semakin tercengang tak percaya.
“Beraninya kau mengarahkan senjata pada Ratumu sendiri?” geram Ragnar sembari menahan senjata pembunuh vampire itu dengan tangannya sendiri.
Ya, tetesan darah yang mengenai wajah Ivory berasal dari darah milik Ragnar yang berusaha menahan dengan tangannya sendiri agar senjata itu tidak mengenai Ivory. Grover tidak terlihat ingin menyerah, dia semakin menambah kekuatannya yang membuat ujung senjata tersebut hampir mengenai kulit Ivory yang memaksa Ragnar menggunakan kekuatannya.
Seketika mata Ragnar berubah menjadi warna merah darah menyala, genggaman tangannya pada senjata pembunuh vampire itu semakin kuat hingga berhasil membuat Grover terkejut bukan main. Tidak hanya itu, Ragnar langsung merampas senjata tersebut, mendorong tubuh Grover kuat hingga menghantam dinding bahkan sampai dinding itu retak. Grover tentu tidak diam saja, dia segera melakukan serangan balasan dan menghindari senjata pembunuh vampire yang dilayangkan Ragnar padanya.
Sebisa mungkin Grover berusaha untuk kabur dari pandangan mata Ragnar, tapi tidak semudah itu Ragnar akan melepaskannya. Apalagi tepat di istana miliknya dan didepan matanya Grover ingin melenyapkan wanita yang saat ini menjadi Ratunya.
Pertarungan begitu sengit, ditambah para prajurit istana sudah mulai berdatangan dan melakukan tugasnya. Melihat situasi yang tidak memungkinkan untuknya melanjutkan misi, Grover pun berusaha mencari cara agar bisa kabur dari pandangan Ragnar sepenuhnya.
Ivory hanya bisa terdiam menatap pertarungan sengit Ragnar dan pembunuh itu. Dia masih tidak percaya bahwa Ragnar akan mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan nyawanya. Bahkan dengan tangan kosong Ragnar menahan senjata itu agar tidak menyentuhnya sama sekali.
Hingga Ivory mulai tersadar dan berkata dalam hatinya, “Sepertinya aku sudah merubah jalan cerita novel itu atau mungkin ada plot twist di dalam novelnya, karena aku tidak bisa membacanya hingga akhir. Hanya saja, entah mengapa aku merasa senang ada seseorang yang mau berkorban untukku. Seperti Papa, Mama dan Kak Elena.”
“Meskipun aku menjadi beban bagi mereka, tapi mereka tidak pernah mengeluh sedikitpun. Mereka tahu dan mengerti bahwa aku kesulitan mendapat pekerjaan karena penampilanku, meski terkadang suka menyindir tapi apapun yang aku inginkan pasti mereka berikan.”
“Seperti yang dilakukan Ragnar, Denzel, Elias dan Dorian saat ini yang berusaha menyelamatkan aku dari para pembunuh itu. Meskipun mereka bisa mengabaikannya dan memilih vampire wanita lainnya untuk menempati posisi Ratu di istana ini. Pada akhirnya, apakah aku benar-benar tidak berguna untuk siapapun?”
Ivory terus larut dalam pikirannya sendiri, dimana dia menyadari bahwa baik dikehidupan sebelumnya maupun dikehidupannya saat ini dia selalu saja bergantung dan merepotkan orang lain. Ratu vampire terhebat apanya? Jika bukan karena bantuan Ragnar dan yang lainnya mungkin dia sudah terbunuh berulang kali.
Seperti sekarang ….
Sebuah senjata pembunuh vampire meluncur tepat ke arahnya, tapi Ivory memilih untuk berdiam diri dan mengakhiri segalanya. Baik dunia novel ataupun dunia nyata, Ivory tidak ingin menjadi beban orang lain lagi. Lebih baik seperti ini, mati dan berakhir di alam baka tempat yang sudah semestinya.
Ssst … Greepp ….
Ragnar langsung meraih lengan Ivory, menariknya hingga jatuh ke dalam pelukannya. Satu tangannya mengarahkan senjata pembunuh vampire itu untuk kembali kepada pelemparnya. Mata Ragnar kembali menyala, kekuatannya mulai menyelimuti senjata tersebut yang kini mengarah pada Grover.
Jleb ….
Senjata tersebut tepat mengenai lengan kanan Grover, bahkan membuat lengan itu tersebut. Teriakan kesakitan Grover terdengar begitu keras, hingga tiba-tiba sosok vampire lain muncul dan membawa Grover menghilang bersamanya.
“Arlon!? Benarkah tadi itu ….” Gumam Ragnar dengan tatapan terkejutnya.
Bersambung ….