Bagaimana jadinya saat tiba - tiba ibumu menanyakan saat ini berapa umurmu dan menawari hadiah ulang tahunmu yang ke 21 dengan hadiah jodoh?.
"Nis, Nisa sekarang umurmu berapa?." Tanya Dewi tiba-tiba saat masuk kamar putrinya. Nisa yang ditanya sang ibu pun langsung menjawab tanpa menaruh kecurigaan sedikitpun karena memang sang ibu terkadang sangat random. " Dua puluh tahun sebelas bulan ".
" Berarti sudah boleh menikah, hadiah ulang tahunnya jodoh mau? "Jawab sang ibu yang membuat Nisa kaget dan langsung tertawa.
Nisa yang sudah hafal betul tentang kerandoman ibunya pun berniat meladeni pembicaraan ini yang dia kira adalah candaan seperti yang sudah sudah.
" Boleh... Asal syarat dan ketentuan berlaku, yang pertama seiman, yang kedu-".Belum selesai Nisa bicara dia mendengar ibunya sudah tertawa lepas yang membuat Nisa juga ikut tertawa dan langsung pergi dari kamar putrinya.
Tanpa Nisa ketahui bahwa yang ia anggap candaan itu adalah sesuatu yang serius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PERMATABERLIAN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.
Sempat menunda kepulangannya dan berkata jika masih ada urusan, hari ini Rita benar-benar pulang karena tidak mungkin baginya untuk terus menunda dan terus berbohong karena pasti akan menimbulkan kecurigaan Yuda.
Dengan memasang wajah yang sangat menyakinkan jika habis dinas keluar kota, sore itu Rita sampai dirumahnya dan sudah disambut dengan sang suami yang seperti sengaja menunggunya.
"Kalo Mas cuma mau ngomongin hal yang ujung-ujungnya kita bertengkar, nanti dulu deh Mas aku capek. "
Belum juga Yuda mengeluarkan satu katapun dari mulutnya tetapi sang istri memang seperti enggan untuk sekedar berbicara dengannya.
"Kamu sukanya suudzon mulu jadi orang." jawab Yuda menanggapi perkataan sang istri.
"Emang biasanya kalo kita bicara emang selalu begitu kan?"bela Rita.
" Itukan memang kamu saja yang selalu mengutamakan emosi."sahut Yuda yang sepertinya tidak mau mengalah kali ini.
"Udah deh Mas jangan mulai, aku capek mau istirahat."
Setelah percakapan singkat diruang tamu itu hingga hari berubah menjadi malam Yuda benar-benar tidak mengganggu sang istri demi memenuhi keinginannya yang mengatakan ingin beristirahat dan barulah saat waktunya akan tidur ia berusaha mengajak sang istri untuk berbicara kembali untuk menyampaikan hal yang sebenarnya ingin ia sampaikan sejak tadi.
"Mas mau ngomong sesuatu." ucap Yuda memulai pembicaraan antara dirinya dan sang istri.
"Ngomong tinggal ngomong kali Mas." Sahut Rita yang sepertinya tidak terlalu tertarik dengan apa yang akan dibicarakan Yuda dengannya dan lebih sibuk dengan apa yang tengah ia lakukan yaitu melakukan rutinitas malamnya sebelum tidur berupa memakai skincare.
"Bagaimana kalo kita ikut program hamil, kita bisa mulai dari cek kesehatan dulu mungkin." ucap Yuda hati-hati yang tidak ingin sampai Rita tersinggung karena ini pembahasan yang terbilang cukup sensitif untuk mereka.
"Kamu duluan aja deh Mas yang cek kesehatan, soalnya aku malah curiga masalahnya itu di kamu deh. "
"Maksud kamu apa bilang begitu? "
"Ya aku curiga aja kalo disini itu kamu yang mandul." ucap Rita yang tak segan-segan mengatakan jika Yuda mandul.
Niat hati ingin mengajak istrinya ikut program hamil tanpa menyakiti perasaannya nyatanya disini Yuda yang malah menelan kekecewaan.
Yuda juga tidak habis pikir dari mana istrinya itu dapat menyimpulkan bahwa dirinya ini mandul sedangkan diluar sana ada seorang wanita yang tengah hamil anaknya yang tentunya tidak diketahui oleh Rita sebab Yuda belum berbicara kepadanya jika ia telah menikah lagi.
"Kamu lihat saja pernikahan Nisa dan Bagas, mereka juga belum punya anak padahal sudah menikah hampir setahun."belum merasa puas kini Rita juga membawa-bawa pernikahan adik iparnya kedalam pembicaraannya.
"Tidak usah membahas tentang pernikahan orang lain, urusi saja pernikahan kita. Bukannya kamu dulu yang ngebet banget pengen punya anak, terus kenapa sekarang seperti tidak berminat ikut program hamil."
"Kan aku ikut apa kata Mas, kalo pernikahan itu bukan cuma tentang anak apalagi aku lagi sibuk akhir-akhir ini."
"Jadi sekarang kamu lebih mentingin karir kamu begitu dari pada hubungan kita?" tanya Yuda yang menangkap arti lain dari ucapan Rita.
"Terserah kamu deh Mas mau menganggap apa aku capek."
"Kamu bilang aku mandul, terus kalo terbukti aku ternyata tidak mandul dan yang bermasalah adalah kamu bagaimana?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Yuda nyatanya Rita hanya mampu diam dan tidak bisa menjawabnya.
Dan setelah mengatakan hal itu Yuda pergi meninggalkan sang istri sendirian sebab merasa jenuh dengan sikapnya. Akhirnya malam itu Yuda memutuskan untuk kembali keluar kamar padahal sebenarnya sudah mengantuk dan memilih untuk tidur dikamar lainnya.
"Apa maksud Mas Yuda coba ngomong begitu, kaya udah berhasil menghamili wanita saja." sungut Rita setelah kepergian sang suami.
*
*
"Sudah siap?" tanya Yuda kepada orang didepannya yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Sudah." jawab Ami singkat.
"Kalo begitu berangkat sekarang saja."
"Sebentar saya ambil tas dulu."
Selagi menunggu Ami mengambil tasnya, Yuda duduk dan menyenderkan punggungnya disofa ruang tamu apartemen sambil mengamati ruangan apartemen itu. Ia sejak tadi setia menunggu Ami bersiap untuk memeriksakan kandungan bersama diakhir pekan ini.
Tidak bohong Yuda sangat penasaran dengan pertumbuhan bibit dari semburan ular pitonnya itu.
"Duduk belakang kita bukan akan ke kantor. " seru Yuda kepada Ami yang sesampainya di parkiran apartemen malah membuka pintu depan samping kemudi padahal dirinya duduk dibelakang.
Mendengar seruan dari sang bos yang merangkap menjadi suami, Ami hanya dapat tersenyum kikuk kepada Dio karena dulunya hal ini tidak pernah terjadi.
Menempuh perjalanan dua puluh menit akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Dio akhirnya sampai juga di sebuah rumah sakit swasta yang menjadi tujuan mereka.
"Saya ikut juga atau tunggu disini saja bos?" tanya Dio setelah ia memarkirkan mobil itu dan sang atasan sudah siap turun.
"Kali ini kamu tidak perlu ikut, tunggu disini saja." jawab Yuda yang memang hanya ingin berdua saja dengan Ami untuk kali ini.
Berjalan beriringan memasuki rumah sakit itu, akhirnya Yuda dan Ami sampai juga didepan ruang pemeriksaan.Ya walaupun mereka sudah membuat janji temu nyatanya mereka juga harus melewati antrian pemeriksaaan yang membuat keduanya mau tidak mau harus menunggu hingga nama mereka dipanggil.
Terlihat ruang tunggu itu diisi oleh pasangan suami istri yang tujuannya sama seperti mereka, bedanya mereka bersikap seperti pasangan suami istri pada umumnya yang sangat antusias menunggu kelahiran buah hatinya sedangkan untuk Yuda dan Ami sendiri hubungan mereka tidak seperti semestinya suami dan istri.
Tapi walaupun sikap Yuda tidak bisa bersikap seperti suami pada umumnya kepada Ami tetapi di dalam lubuk hatinya yang terdalam ia sangat menanti hadirnya buah hatinya itu.
Hal ini terbukti dengan Yuda yang sangat serius mendengarkan penjelasan dokter tentang keadaan janin yang tumbuh di dalam perut Ami dan ia yang lebih banyak bertanya tentang ini dan itu dari pada Ami sendiri karena sudah kalah cepat dengan Yuda.
"Ibu dan janinnya sehat ya Pak Buk, usianya memasuki minggu ke tujuh.Apakah ada keluhan lain yang dirasakan Buk?"
"Sering mual dan muntah dok." jawab Yuda cepat padahal yang ditanya oleh sang dokter adalah Ami.
Mendengar Yuda yang menjawab pertanyaannya sang dokter hanya tersenyum dan mengira bahwa pasiennya ini memiliki suami yang sangat perhatian kepada istrinya dan merupakan suami siap siaga.
"Baik, untuk mual dan muntah itu hal biasa ya Pak untuk wanita hamil dan ini akan saya beri resep obat untuk mengurangi mual yang dirasakan serta vitamin yang wajib diminum selama hamil."
Setelah mengetahui bahwa keadaan ibu dan bayi yang dikandung oleh Ami dalam keadaan baik dan sehat akhirnya Yuda dapat lebih tenang saat ini, sebab setidaknya satu beban pikirannya telah berkurang.
Keluar dari ruang pemeriksaan, Yuda berniat untuk menebus sendiri resep yang diberikan oleh sang dokter kandungan dan Ami yang hanya mengikutinya tanpa banyak bersuara sejak tadi.
Tetapi baru juga Yuda merasa tenang, tiba-tiba saja ia dan Ami dikejutkan dengan seruan yang terdengar sangat familiar di telinga mereka berdua.
"Ami sedang apa kamu disini?"
Bersambung...