"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
"Huh, enak saja mau menyodorkan putrinya ke putraku. Dia pikir, dia siapa? Dasar pelakor," kata Arsy mengedumel pelan.
Zio menahan tawanya, tidak biasanya istrinya seperti itu. Mungkin karena sejak tadi menahan kesal.
"Kalau diikutkan hati, sudah ku gampar mulutnya si Maura itu," katanya lagi.
"Sudahlah Ma, katanya mau ke mall. Buruan, nanti kesorean," kata Dexter.
Arsy menepuk keningnya pelan. Dia sampai lupa tujuan utamanya. Gara-gara kedatangan Basuki dan keluarganya, jadi Arsy ikut kesal.
"Tapi kamu seperti terlihat biasa-biasa saja sayang?" tanya Arsy pada Kiandra.
"Tidak perlu terlalu ditonjolkan, Ma," jawab Kiandra. "Tadinya aku ingin membalasnya secara perlahan-lahan. Tapi suamiku sudah membuat mereka bangkrut," imbuhnya.
Dexter tersenyum tipis mendengar ucapan Kiandra. Menurutnya, itu adalah suatu pujian dari Kiandra.
Arsy akhirnya mengajak Kiandra pergi. Dia meminta Kiandra untuk menyetir mobil. Kini, tinggal Zio dan Dexter saja di ruang tamu.
"Jadi apa rencanamu sekarang?" tanya Zio.
"Maksud Papa?" tanya Dexter balik.
"Tentang klan yang dipimpin oleh Kiandra. Kalau menurut Papa sih, sebaiknya dijadikan satu saja."
"Masalah ini bukan aku yang memutuskan, Pa. Harus ada persetujuan dari tante Regina terlebih dahulu."
Zio manggut-manggut. Dia hanya memberikan pendapat saja. Zio yakin, putranya lebih bijak dalam menanggapi semuanya.
"Aku ke kamar dulu, Pa. Mau istirahat," kata Dexter. Zio hanya mengangguk menanggapinya.
Sementara Kiandra dan Arsy dalam perjalanan menuju mall. Arsy ingin memanjakan menantunya dengan mengajaknya berbelanja.
Tiba di parkiran mall. Kiandra pun memarkirkan mobilnya. Keduanya pun keluar dari mobil.
"Ambil ini, kamu bisa beli apa saja sesuka mu," kata Arsy.
"Tidak usah, Ma. Dexter juga sudah memberikan kartu hitam untukku," tolak Kiandra.
Arsy tersenyum, kemudian dia menggandeng tangan Kiandra memasuki lift. Lift langsung terhubung dari parkiran ke setiap lantai di mall ini.
Kiandra diajak untuk masuk ke toko pakaian, mereka di sambut ramah oleh pegawai toko. Karena pegawai toko mengenali Arsy.
"Silakan nyonya," ucap pegawai toko.
"Terima kasih," ucap Arsy. Sementara Kiandra hanya tersenyum tipis saja.
"Layani yang lain saja, kami tidak perlu diistimewakan," kata Arsy.
"Baik Nyonya," ucap pegawai toko.
Pegawai toko pun melayani pelanggan yang lain. Sementara Arsy dan Kiandra memilih pakaian sendiri yang menurut mereka cocok.
"Kiandra ya?" tanya seorang wanita.
Kiandra dan Arsy menoleh secara bersamaan. Kiandra ingat, jika wanita didepannya ini adalah adik dari ibu tirinya.
"Tante Sisil?"
"Iya benar. Aduh, ternyata kamu sudah besar. Tante dengar, kamu tinggal di desa," kata Sisil.
"Ayo sayang, kita ke tempat lain." Arsy menarik pelan tangan Kiandra. Terlihat jelas jika Arsy tidak menyukai wanita itu.
"Eh tunggu dong. Mumpung aku lagi baik hati, aku traktir kamu satu set pakaian. Orang desa pasti tidak mampu beli pakaian mahal," kata Sisil.
Kiandra memanggil pegawai toko. Pegawai toko pun langsung mendekat dan menanyakan keperluan Kiandra.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya pegawai toko.
"Carikan aku pakaian yang paling mahal di sini. Kemudian berikan kepada wanita ini," kata Kiandra.
"Baik Nona." Pegawai toko langsung mengambilkan pakaian yang mahal.
Sisil tertawa mendengarnya. Dikiranya Kiandra bercanda. Karena Kiandra dari desa, sudah pasti tidak punya uang untuk membayarnya.
Tidak berapa lama pakaian yang Kiandra minta sudah siap dibungkus. Kiandra kemudian menyerahkan kartu khusus yang diberikan oleh Dexter kepadanya.
"Tunggu!" Sisil merampas kartu itu dari tangan pegawai toko. "Kartu ini tidak mungkin asli, kan?" tanyanya meragukan.
"Asli atau tidaknya, bisa di cek," jawab Arsy.
Arsy meminta kepada pegawai toko untuk membawakan mesin EDC. Pegawai toko memanggil rekannya. Dalam sekejap, mesin EDC sudah dibawa oleh pegawai toko yang lain.
Arsy merebut kembali kartu itu. Kemudian menyerahkannya kepada pegawai toko untuk digesek.
(Pembayaran berhasil)
Suara dari mesin EDC pun berbunyi. Sisil tercengang. Kemudian mengambil kembali kartu itu dan melihatnya dengan seksama.
"Darimana kau dapat kartu ini? Kamu pasti mencurinya, kan?" tanya Sisil.
"Lihat baik kartu itu. Dan perhatian baik-baik siapa aku?" ujar Arsy.
"Nyo-nyonya keluarga Henderson?" Sisil kaget. Tadi dia tidak terlalu memperhatikan Arsy.
Sisil yang belum percaya kalau Kiandra memiliki kartu hitam pun tetap menuduh Kiandra mencurinya.
"Panggil petugas keamanan, jangan sampai orang ini membuat onar di mall ini," kata Arsy.
Pegawai toko langsung menghubungi pihak petugas keamanan. Tidak butuh waktu lama, dua orang petugas keamanan pun datang.
"Bawa pergi orang ini. Dia sudah membuat keributan di toko kami," kata pegawai toko.
"Eh, eh, eh. Lepaskan aku. Lepaskan aku." Sisil meronta-ronta minta dilepaskan.
Namun petugas keamanan tetap menyeret nya keluar dari toko itu. Orang-orang di luar toko pun menonton Sisil yang diseret paksa oleh petugas keamanan.
"Mbak, baju ini bisa tidak dikembalikan?" tanya Kiandra.
"Maaf Nona, baju yang sudah di beli tidak bisa dikembalikan," jawab pegawai toko.
"Sudah, biarkan saja. Kalau tidak suka berikan kepada yang membutuhkan," kata Arsy.
Tadinya Kiandra hanya ingin membungkam mulut Sisil. Tapi ternyata, baju itu tidak dibawa oleh Sisil.
"Tapi Ma, baju ini terlalu mahal," kata Kiandra.
Arsy hanya tersenyum. Dia tahu, menantunya ini tidak suka barang-barang mewah. Terlihat jelas dari pakaian yang Kiandra pakai waktu pertama kali datang.
Bagi Kiandra, pakaian harga jutaan dengan pakaian ratusan ribu sama-sama menutupi tubuh. Itu sebabnya Kiandra tidak ingin berpakaian mahal.
"Sekarang kamu istrinya Dexter, ubah penampilan mu agar Dexter semakin cinta," ucap Arsy pelan.
"Mama bisa aja," ucap Kiandra dengan tersipu.
Arsy memilih beberapa pakaian untuk Kiandra. Karena Arsy mau, Kiandra tampil lebih cantik dari sebelumnya.
Kiandra hanya menurut saja. Menolak pun sia-sia. Mertuanya terlalu royal kepada dirinya.
Sebenarnya, bukan kepada Kiandra saja Arsy seperti itu. Kepada Darlena juga sama. Hanya saja sekarang, Darlena tidak bisa terlalu lelah.
"Cukup Ma, di dalam lemari pun banyak yang belum dipakai," kata Kiandra.
Arsy pura-pura tuli. Dia tetap membeli beberapa pakaian untuk Kiandra. Bukan hanya itu saja. Arsy bahkan membeli barang-barang lain untuk Kiandra.
Setelah semua selesai. Arsy dan Kiandra pun pulang. Karena terlalu asyik berbelanja, tidak terasa hari pun sudah malam.
"Ma, sudah malam," kata Kiandra ketika mereka sudah berada di parkiran.
"Iya sayang, tidak terasa ya," ucap Arsy.
"Serahkan uang kalian!" Terdengar suara berat dari belakang mereka.
Arsy dan Kiandra yang hendak masuk ke dalam mobil pun tidak jadi. Arsy dan Kiandra kembali menutup pintu mobil.
"Siapa kalian?" tanya Arsy.
"Itu tidak penting, yang penting serahkan uang kalian."
Empat orang pria masing-masing memegang tongkat baseball. Mereka adalah preman yang biasa dibayar untuk menghajar seseorang.