Satu malam dalam keadaan mabuk berat, Permana merusak hidup seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.
Wanita itu—Aaliyah, putri dari orang terpandang di kota London. Ia merasa bersalah sudah menodai wanita itu, sampai kata - kata yang di ucapkan oleh Aaliyah pada malam itu masih terus terngiang di kepala Praman.
“Bertaubatlah !! Kasihani orang tua mu. Aku tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Sejak saat kejadian itu, Pramana. Merasa bersalah pada Aaliyah. meretakkan cintanya pada sang kekasih, mengguncang keyakinannya, dan menyeretnya pada pertanyaan terbesar:
mampukah ia menebus dosanya selama ini ia lakukan atau justru tenggelam dalam masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Millea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Pramana duduk di ruang kerja di kediamannya. Lampu meja redup, layar laptop terbuka menyorot wajahnya yang kusut. Sejak malam di hotel, tidurnya tak pernah benar-benar lelap.. Bayangan wajah Aaliyah masih menghantui setiap kali ia memejamkan mata. Kata-kata yang terlontar dari bibir wanita itu terus bergaung di kepalanya.
"Bertaubatlah. Kasihanilah orang tuamu. Aku tahu kau seorang pria gay…"
Kalimat itu terdengar seperti doa sekaligus kutukan. Menikam jantungnya, membuat
dadanya sesak setiap kali mengingat.
Pramana mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Ia tahu ia tak bisa bersembunyi selamanya. Ada satu hal yang harus ia lakukan, meski hati kecilnya gentar: mencari tahu siapa sebenarnya wanita itu.
---
[ Pram... kau coba datangi hotel dimana kamu bertemu dengan wanita tersebut, lalu minta rekaman CCTV pada pihak keamanan ]
Sam mengirim sebuah pesan pada Pramana untuk meminta rekaman CCTV kejadian malam itu dari pihak hotel. Supaya dirinya bisa mencari keberadaan wanita yang sedang di cari oleh sang sahabat.
" Baik... besok aku akan datang kesana untuk meminta rekaman CCTV nya. " balas Pramana. Akhirnya ia mendapatkan jalan keluar juga. Ini semua berkat usul Sam.
Kenapa tidak dari kemarin saja ia meminta rekaman itu ? Dasar Pramana bodoh!
Esokan hari Pramana datang ke hotel tersebut dengan alasan pekerjaan. Ia sudah menyusun rencana sejak semalam supaya pihak ke amanan hotel bisa mengizinkan dirinya melihat rekaman malam itu.
Pramana mengenakan kemeja rapi, jas abu-abu, koper kecil di tangan—penampilan seorang profesional bidang keuangan yang sedang melakukan audit. Itu peran yang sudah sering ia mainkan dalam pekerjaannya.
Di resepsionis, ia bicara dengan suara tenang. “Permisi Nona. Apakah saya bisa melihat rekaman CCTV di hotel ini ? "
" Maaf, tuan sebelumnya. Untuk apa anda meminta rekaman CCTV hotel kami ? " resepsionis itu tidak langsung menjawab pertanyaan Pramana. Ia malah kembali melempar pertanyan pada Pramana.
" Sorry. Saya meminta CCTV hotel untuk mengecek hal penting, saya hanya ingin melihat rekaman CCTV pada tanggal 20 November." Ujur Pramana dengan suara lugas tanpa sedikit pun kegugupan dari nada suaranya.
" Saya tanyakan pada pihak keamanan dulu, ya Tuan. " resepsionis itu langsung menghubungi pihak keamanan ruangan CCTV hotel.
Tak lama menunggu resepsionis tersebut menyuruh Pramana untuk langsung menuju ruang CCTV hotel berada, setelah mendapat izin dari pihak keamanan hotel.
Praman berjalan tegak menuju ruangan CCTV. Degup jantungnya berpacu lebih cepat saat ini. Ada perasaan takut dan gugup menyeruap di dada Pramana.
Pintu terbuka seorang pria muda berjalan mendekati Pramana untuk menanyai lebih jelas tentang dirinya meminta sebuah rekaman CCTV hotel pada tanggal itu. Mereka tidak mau asal memperlihat CCTV tanpa alasan yang jelas.
Pramana mencerita tentang dirinya pada malam pesta perusahaan-nya pada petugas ruang kendali tersebut. Tidak detail hanya menceritakan beberapa nya saja. Intinya Pramana ingin meminta rekaman tersebut untuk mencari keberadan wanita tersebut.
Petugas sempat ragu dengan ucapan Pramana barusan. Ketika melihat kartu identitas perusahaan keuangan tempat Pramana bekerja, ditambah gaya bicaranya yang meyakinkan, membuat akses lebih mudah. Tak lama ia sudah duduk di ruang pengawas, menatap layar monitor yang memutar waktu.
Jantungnya berdetak makin cepat ketika ia melihat sosoknya sendiri di rekaman tersebut—dirinya dalam keadaan mabuk, langkah goyah, dan sedikit sempoyongan. Di pertengahan lorong hotel ada sosok Wanita menahan tubuhnya yang akan tersungkur ke lantai. Dari situ lah Pramana menarik paksa gadis tersebut lalu membawanya ke sebuah kamar hotel yang pintunya terbuka setengah. Pramana menelan ludah, matanya panas melihat rekaman tersebut.
Ia memperbesar gambar. Wajah Aaliyah terekam jelas. Begitu nyata, begitu menusuk, di tambah suara teriakan wanita itu membuat dada Pramana merasa tertusuk belati.
Pramana terpaku. Menatap wajah Aaliyah yang ketakutan ketika di bawa paksa oleh Pramana ke dalam sebuah kamar.
---
Malam hari, ia tak sanggup tidur. Bayang - bayang wajah ketakutan Aaliyah menari - nari di pelupuk matanya. Di tambah suara jeritan Aaliyah ketika di paksa masuk ke dalam kamar tersebut. Dada Pramana merasa teremas kuat, betapa Bajingan dan Brengsek nya dia malam itu.
Ting
Sebuah notifikasi masuk dari ponsel Pramana. Dengan cepat Pramana mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.
Sebuah pesan masuk berasal dari Sam. Membuat Pramana langsung membuka pesan tersebut.
[ Pram... tamat riwayat kau !!... ] tulis Sam. Membuat Pramana merasa takut dengan pesan yang di kirim Sam barusan.
" Maksud mu apa, Sam ? Aku tak mengerti. " balas Pramana.
Ting
[ Wanita yang sudah kamu lecehin bukan orang sembarangan, Pram !! Tamat sudah riwayat mu ! ]
Ting
Ting
Sebuah artikel berserta beberapa foto Sam kirimkan di kolom chat mereka. Semua tentang Aaliyah tertulis jelas di artikel yang di kirimkan oleh Sam barusan.
Pramana membuka artikel yang di kirimkan oleh Sam dengan tangan bergetar.
“Aaliyah Metilda Johnson, Desainer Muda Penuh Talenta.” Ada foto Aaliyah tersenyum anggun di sebuah pameran desain internasional. Matanya berbinar, wajahnya dipenuhi percaya diri—berlawanan sekali dengan wajah trauma yang Pramana lihat di hotel.
Semakin ia membaca, semakin perih hatinya. Aaliyah bukan sekadar wanita cantik. Ia berprestasi, dikenal di kalangan profesional.
Tapi yang benar-benar membuat Pramana terhantam adalah saat ia menemukan biodata keluarga.
Aaliyah Metilda Johnson – putri dari seorang, diplomat keturan Indonesia–Turki yang kini bertugas di Kedutaan Besar Indonesia di London. Ayahnya, seorang hakim Inggris terpandang, kini telah meninggal dunia.
Di artikel yang di berikan Sam oleh Pramana. Nama orang tua Aaliyah di samarkan. Karena anak maupun anggota keluarga lainnya dari seorang Diplomat mau pun Hakim tidak bisa terekspose oleh media. Alasan utama pembatasan paparan media adalah masalah keamanan. Mengungkapkan terlalu banyak detail pribadi dapat membuat keluarga diplomat atau Hakim menjadi target potensial bagi kelompok teroris, ekstremis, atau bahkan musuh sekalipun.
Pramana membeku.
Diplomat. Hakim. Nama besar. Darah biru diplomasi dan hukum mengalir di diri wanita itu.
Sungguh Pramana tak bisa berkata apa - apa lagi. Setelah membaca semua artikel yang di berikan Sam. Atas wawancara Aaliyah dengan majalah desain interior ternama tersebut.
---
Ia menghempas tubuhnya ke kursi, menutup wajah dengan kedua tangan. Napasnya tercekat. “Ya Tuhan…” suaranya bergetar.
Ternyata wanita yang ia seret dan nodai malam itu bukan orang biasa. Ia adalah anak dari keluarga terpandang, berpendidikan, dan disegani di kota ini.
Jika kebenaran terbongkar… karier Pramana di Inggris bisa saja hancur. Hidupnya bisa berakhir. Tapi lebih dari itu—hatinya remuk karena ia telah menodai seorang putri dari keluarga terhormat, seorang wanita yang seharusnya ia hormati.
Ia berdiri, mondar-mandir di ruang tamu. Wajah Aaliyah di layar laptop menatapnya seperti penghakiman. Senyum yang penuh
cahaya di foto itu kini membuatnya semakin merasa sesak.
“Bertaubatlah, kasihanilah orang tuamu…”
Kata-kata itu kini terdengar lebih menusuk. Aaliyah tidak hanya membela dirinya sendiri malam itu, tapi juga seolah membuka mata pramana. Ia memperingatkan, menamparnya dengan kenyataan pahit yang tak pernah ia hadapi selama ini.
" Apa ini cara allah menegur ku ? Selama aku hidup di negara orang ini, aku semakin tersesat dan penuh maksiat. " gumam Pramana sambil menggigit pinggiran kulit jari telunjuknyan.
---
Pramana masih setia menatap layar laptop miliknya kembali, ia menatap lama. Foto Aaliyah berdiri di samping seorang pembisnis ternama di kota ini—di belakang mereka terdapat sebuah gambar desain 3D sebuah ruangan yang sudah Aaliyah buat untuk kliennya tersebut.
Sebuah desain interior yang sangat bagus dan juga indah di pandang mata. Sebuah ruangan yang Aaliyah buat khusus untuk para kariyawan perusahan tersebut supaya nyaman saat bersantai di tempat itu.
Dada Pramana terasa berat.
Ia tahu, sejak malam itu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Di tambah dengan kenyataan ini membuat Pramana semakin gelisah.
Bukan hanya rasa bersalah. Ada sesuatu yang lain—sebuah ketakutan sekaligus keinginan untuk menebus kesalahannya. Tapi ia tahu, mungkin Aaliyah takkan pernah memberi kesempatan. Apa lagi wanita itu tahu kalo dirinya seorang pria penyuka sesama jenis.
Pramana menutup laptop, tapi bayangan Aaliyah tak pernah pergi dari pikirannya.
Bersambung.....