Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Langit hari itu tampak muram. Awan menggantung berat di atas gedung sekolah, membuat suasana makin menyesakkan. Biyan berdiri di depan cermin wastafel, menatap pantulan wajahnya sendiri. Pandangan itu dingin, nyaris tak berperasaan, tapi di balik mata gelapnya, ada amarah yang menuntut jawaban.
"Pak A..." gumamnya pelan. Nama itu berputar di kepalanya, memantul-mantul seperti gema di ruangan kosong.
Ia mengambil ponselnya, membuka rekaman suara yang sempat ia ambil diam-diam barusan. Samar, tapi cukup jelas terdengar percakapan siswa tadi ditelpon entah dengan siapa. Suara siswa itu terekam hampir seluruhnya. Bibirnya menegang.
Tanpa pikir panjang, ia keluar dari toilet dan langsung menuju halaman belakang sekolah—tempat yang jarang dilewati siswa lain. Di sana, ia menyalakan ponselnya dan menelpon seseorang.
“Kak Dean, aku butuh bantuannya sekarang.”
“Biyan? Ada apa?” Suara Dean terdengar khawatir di seberang.
“Aku baru saja mendengar percakapan seseorang. Mereka menyebut nama Abhi. Mereka takut kalau Abhi mengingat sesuatu sebelum dia—” Biyan berhenti sejenak, berusaha mengatur napas. “Mereka juga menyebut nama seseorang... Pak A.”
“Pak A?” Dean mengulang. “Kau yakin?”
“Yakin. Aku rekam. Kau harus dengar sendiri nanti.”
"Apa mereka sudah tahu kalau Abhi telah meninggal?" tanya Dean lagi.
"Sepertinya belum. Mereka masih berpikir aku Abhi dan percaya kalau aku hilang ingatan."
Dean terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan. “Baik. Jangan lakukan apa pun dulu, Bi. Aku akan cari tahu siapa saja guru atau staf di sekolahmu yang punya inisial itu. Kita mulai dari situ.”
“Tapi aku—”
“Tidak, Biyan.” Nada suara Dean menajam. “Kali ini dengarkan aku. Kalau dugaanmu benar, orang ini berbahaya. Jangan bertindak sendirian.”
Panggilan berakhir. Tapi Biyan tak bisa diam. Ia tahu Dean hanya berusaha melindunginya, tapi diam tak akan mengubah apa pun.
Ia memasukkan ponsel ke saku dan berjalan pelan menuju gedung administrasi sekolah. Di sana, di papan pengumuman dekat kantor guru, tertera daftar staf dan pengajar. Jemarinya bergerak cepat menelusuri satu per satu nama—sampai pandangannya berhenti pada satu baris kecil di pojok bawah:
Andara, S.Pd — Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.
Huruf “A”.
Biyan menatap nama itu cukup lama. Ia ingat dulu ketika ia masih di Luar Negeri, Abhi sering bercerita bahwa ia dipanggil ke ruang BK oleh guru yang bernama Pak Andara. Katanya, guru itu sering memanggilnya ke ruang BK tanpa alasan jelas. Waktu itu Biyan mengira hanya masalah kedisiplinan. Tapi kalau di pikir kembali, Abhi itu tidak seperti dirinya yang badung. Tapi kenapa sering di panggil? Sekarang, semua terasa lain.
Sebuah pertanyaan merayap di kepalanya: apa hubungan Pak Andara dengan Arga, Bagas, dan kelompok pembully lainnya?
Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, bel tanda pulang berbunyi. Siswa mulai berhamburan keluar. Tapi langkah Biyan justru menuntunnya ke arah ruang BK. Ia menunggu di ujung koridor, memastikan semua guru sudah keluar.
Lampu di dalam ruangan masih menyala. Ia melihat siluet seseorang di dalam—seorang pria berjas biru tua, berdiri membelakangi jendela sambil menelpon.
“Tidak ada yang aneh. Aku terus mengawasi kembaran Abhi dan sejauh ini ia belum melakukan apapun."
Biyan menahan napas dengan kedua mata membelalak syok. Pria itu tahu jika ia bukan Abhi?! Tunggu dulu! Bagaimana bisa?! Yang mengetahui identitas aslinya di sekolah ini hanya Ares dan Ara. Bahkan para guru tidak tahu apapun.
Tapi bagaimana bisa pria itu bahwa dia bukan Abhi?!
Apa ada yang ia lewatkan?!
Atau salah satu dari kedua temannya itu ada yang berkhianat dan bersekongkol juga?!
Tidak! Ares dan Ara tidak mungkin mengkhianatinya.
Apa ... Mungkin?
Pria itu menoleh sedikit, cukup untuk memperlihatkan wajahnya. Mata Biyan turun ke arah papan nama di atas meja di mana tercetak jelas nama "Andara, S.pd."
Jadi, dia yang bernama pak Andara?
Biyan mundur pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Tapi lantai koridor tua itu berdecit pelan di bawah langkahnya. Pria itu langsung menutup telepon dan menatap ke arah pintu.
“Siapa di sana?”
Biyan membeku.
Detik berikutnya, pintu ruang BK terbuka cepat dan suara langkah berat mendekat. Ia berlari, menuruni tangga dengan napas memburu. Pintu gerbang sekolah sudah hampir tertutup, tapi ia berhasil menyelinap keluar.
Jantungnya berdegup keras saat berhenti di depan halte. Udara sore yang lembab membuat napasnya terasa sesak, tapi di matanya kini ada api.
Ia sudah tahu satu hal pasti.
Kematian Abhinara bukan kebetulan. Dan Pak Andara tahu sesuatu. Tidak, lebih tepatnya pria itu juga pasti terlibat karena ia mengetahui rahasianya.
Pertanyaannya hanya satu ... Bagaimana?
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!