NovelToon NovelToon
Don`t Sleep With Dhamphyr!

Don`t Sleep With Dhamphyr!

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Kutukan / Horor / Tumbal / Hantu / Iblis
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.

Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.

Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghapus Ingatan Rowena

“Maksudku … ahhh, lupain. Jokes jelek.”

“Enggak, mungkin kamu benar. Mungkin aku kudu datang ke sini. Siapa itu tadi?” Dia mencolekku.

“Bukan siapa-siapa.”

“Oh, jadi ada satu lagi ‘bukan siapa-siapa’ nya? Sama kayak aku dong?” Nada suaranya ikut berubah. “Dia pasien kamu kan? Kalian kelihatan akrab banget.”

“Aku lebih benci dia daripada pasien-pasien lain.”

“Emang ada berapa pasien sih yang kamu tanganin?”

“Sekarang, aku Dokter Terapi utama di Paragon. Itu kerjaan aku, Rowena. Aku nangani banyak pasien lain selain kamu.”

Wajahnya langsung berubah, seperti dia mau meledak atau menangis tersedu-sedu. Aku enggak yakin mana yang lebih berbahaya.

"Kamu itu pasien spesial buat aku, Rowena. Aku ngerawat kamu dengan dedikasi yang jauh lebih besar dibanding orang-orang lain di sini. Komitmen aku buat kamu tuh huuh … beda level."

“Kenapa?” tanya dia. Aku senyum, mencubit pipinya pelan.

Kenapa dia spesial?

Iya karena dia bakal jadi peliharaan aku.

"Karena aku ngerasa kita mirip. Aku lihat sedikit diri aku di kamu."

“Ya Tuhan,” desisnya. Mukanya langsung merah, jelas dia salah tangkap ucapan aku.

"Jangan mikir jorok."

"Kamu tadi bilang ke Torvald kalau dia boleh nonton kita nge–seks! Gimana otak aku enggak ke mana-mana?"

"Aku bakal ngomong apa pun, asal orang itu enggak ngikutin kamu. Dia orang paling berbahaya di tempat ini."

"Enggak percaya. Orang dia kayaknya happy banget." Tatapannya naik ke aku, mata birunya membesar dan begitu polos.

"Penampilan itu menipu, Rowena!" jawabku sambil nyengir lebar.

Sama kayak aku, Rowena. Dokter Terapi kamu yang sok baik ini punya niat yang jauh lebih jahat.

“Kayaknya iya!” gumamnya. Dia menengok ke aku dari berbalik bahu. “Andai tadi aku bisa lihat dia lebih jelas.”

"Kayaknya itu yang semua orang pingin, deh," jawabku sambil memutar mata.

"Maksudnya?"

"Enggak. Itu artinya kamu harus pulang. Ayo, aku antar."

Aku copot lencana dari seragam, tap ke sensor di pintu. Pintu bergetar, lampu merah berubah hijau, dan aku membuka jalan untuk bawa dia keluar gedung menuju mobil.

Matanya sibuk memperhatikan gedung itu waktu aku membantunya masuk ke kursi penumpang. Aku pun ikut melirik bangunan itu saat berjalan memutari depan mobil. Ada satu jendela yang enggak tertutup. Dan di situ, Torvald berdiri, memperhatikanku.

Aku yakin, besok waktu sesi terapi, dia pasti bikin ribut.

Aku masuk mobil, menyalakan mesin. Rowena masih memperhatikan jendela itu.

“Enggak ada yang ketinggalan?” tanyaku. Dia menengok, menatapku.

“Enggak,” katanya.

Tapi aku enggak yakin itu jujur. Dia aneh. Emosinya mendadak hilang, mukanya kosong.

Dan aku sadar, dia berbohong. Dia datang bersama seseorang.

Kalau enggak, kenapa dia enggak bawa mobil?

"Kita mau ke mana?" tanyanya.

“Ke rumah kamu. Kamu bakal istirahat dan jauh dari masalah,” jawabku sedikit kesal. Dia diam sebentar.

“Hah? Cuma itu? Kamu enggak bakal laporin aku karena masuk tanpa izin, kan? Enggak bakal manggil polisi? Enggak bakal bilangin tante aku?”

"Kayaknya ini mendingan jadi rahasia kita berdua dulu."

“Kenapa?” Suaranya naik. “Aku enggak ngerti. Aku enggak ngerti kamu ... kenapa kamu terus ngelindungin aku?”

Aku menatap jalan di depan, berpikir dalam hati.

Karena aku vampir, dan sekarang ada seseorang di ruang bawah tanahku, badannya sudah aku cincang.

Tapi kamu?

Kamu enggak bakal aku bunuh. Aku bakal minum darah kamu setiap hari sampai akhir hidup kita, saat waktunya tiba. Aku enggak akan memberi tahu siapa pun tentang semua dosa kamu kepadaku, karena kalau mereka tahu, kamu bakal dikurung.

Dan aku maunya kamu tetap di dekatku, di tempat yang enggak akan bisa diselamatkan oleh siapa pun.

“Karena kamu harus tetap dekat sama aku,” jawabku akhirnya. Lebih aman begitu. Toh nanti aku juga bakal hapus ingatannya.

Aku kira dia bakal panik, tapi ternyata enggak. Dia cuma duduk diam sepanjang jalan. Saat aku bersiap menghilangkan ingatannya, aku langsung sergap dia. Dia pun terkejut. Aku pegang kepalanya dengan kedua tangan, menahan dia.

“Lupain Paragon Asylum!” bisikku sambil menancapkan pandangan ke matanya. Dia buka mulut, tarik napas dalam. Beberapa detik dia enggak bicara apa pun, dan aku sempat berpikir ini enggak bakal berhasil.

"Lupain semuanya tentang Paragon. Lupain aku yang bekerja di sana, lupain siapa pun yang kamu lihat. Lupain dia pernah ada."

Rowena mengangguk pelan.

“Malam ini kamu kenapa pergi ke Paragon?"

"Aku enggak tahu. Beruntung aku ada di sana, jadi aku nemuin kamu duluan sebelum sesuatu yang lebih parah terjadi."

“Malam ini kamu cuma ke kantor tempat kita biasanya bertemu, kita ada sesi terapi dan aku nganterin kamu pulang.”

Lebih aman menempelkan cerita ke hal yang masih mirip sama kebiasaan kita, agar memorinya enggak jomplang.

"Kamu nganter aku pulang," jawabnya lemas.

“Kita enggak ngomong apa-apa sepanjang jalan!” Dia mengangguk. Sebelum aku lepaskan, aku sadar aku bisa melakukan lebih.

Aku bisa saja mencumbu dia dan menghapus ingatannya.

“Umur kamu berapa sekarang, Rowena?” tanyaku.

“Delapan belas,” jawabnya datar. Pikirannya acak-acakan, setengah terhipnotis.

“Bagus,” desahku sambil makin mendekat.

Aku punya aturan, dan menyentuh anak di bawah umur jelas haram buat aku.

Aku mengubur hidungku ke rambutnya. Rowena aromanya manis, enak, menggoda. Aturan aku jelas, enggak boleh karena dia masih anak kecil, tapi tetap saja … menghisap Rowena, bahkan mencumbu sedikit pun … enggak benar ... enggak boleh.

Belum waktunya.

Aku punya rencana. Dan aku harus mengikuti rencana itu.

Aku makin dekat, menempelkan hidung di kulit lehernya sambil mendengar detak jantungnya. Kencang. Kuat. Dan makin keras begitu aku dekat. Suaranya memenuhi telingaku.

Mulutku terbuka di lehernya dan aku merayap sepanjang nadinya. Ini sangat menggoda.

Aku enggak boleh mencicipinya.

Otakku mulai bikin seribu alasan untuk membenarkan tindakanku.

Menunggu itu sungguh menyiksa.

Kenapa harus menunggu?

Taringku pun turun, menggaris halus di kulit pucatnya. Satu gerakan kecil saja, aku bisa merobeknya, merasakan semuanya, menelan semuanya.

“Kamu tuh terlalu menggoda,” bisikku di lehernya.

Aku gigit pelan bagian yang paling aku inginkan. Cuma gigit tipis, membuat cekungan kecil di kulitnya dengan taring. Dia menggeliat di pelukanku.

Satu gigitan sungguhan, dan semuanya akan pecah. Rencanaku bakal gagal total semua.

Aku mengumpat dan melihat mata birunya.

“Lupain aja barusan,” desahku sebelum akhirnya melepas dia.

Rowena duduk lagi di kursi mobil. Sesaat dia cuma memperhatikan jalan di depan, terus dia berkedip, tarik napas, dan merapikan dirinya sebelum menengok ke arahku dengan ekspresi penasaran. Bibirnya terbuka, mau bicara tapi tertutup lagi. Lalu dia keluar dari mobil.

Aku mengetukkan jari ke setir, memperhatikan dia masuk rumah. Aromanya masih menempel di mobilku.

Dan aku tahu, ini bukan terakhir kalinya aku harus menghapus ingatannya.

Enggak ada yang bisa lolos dari aku, Rowena.

1
Adellia❤
ampuun deh darcel👻👻
Adellia❤
sikopat itu serius rupanya..
Adellia❤
hiii merinding sebadan" tuh orang bener" sikopat eh bukan orang dink👻
Adellia❤
km di cap pasien gila rowena tapi dokter terapi km dy orang gila yg sebenernya👻👻
Adellia❤
serruu karna gak cuman gairah pingin di tindih tapi juga gairah pingin minun darah👻👻👻
Adellia❤
hhhh rowenaaa🤦‍♀️🤦‍♀️
Adellia❤
hah... menguntit??? berati ilmu dr darcel buat menghapus ingatan itu enggak mempan??? 😱😱
DityaR: kan yg di hapus ingatan hari itu aja kak 🙏
total 1 replies
Adellia❤
sereem tapi seruu sekaligus menegangkan semangaatt thorr tulisanmu bagusss💪💪
Adellia❤
sama" senyum tapi beda arti.. hati" rowena dy vampir berbulu dombaa🤗🤗
Adellia❤
dr darcel bolehkah q bertemu km q ingin menghapus ingatanku sama seseorang😭😭
Adellia❤: boleh gak kasih no wa dr darcel thorr pliiisss🙏🙏
total 2 replies
Adellia❤
Torvald... heyyy emang km punya mental🤣🤣 kalo punya mah km enggak bakal tinggal di paragon ✌
Adellia❤
palingan km bakal di gigit sama darcel ..
Adellia❤: itu apa anu😱
total 4 replies
Adellia❤
astaga.. ngegantung🤔
Adellia❤: ciyuuss???
total 14 replies
Adellia❤
ya ampun pak dokter chat mulu... sugardady 😍
Rainn Dirgantara
Beuhh!
Rainn Dirgantara
Pelit kali 👀
Atelier
hi Rowenaaa
Atelier
🤭 memang mempesona
Adellia❤
karna pak dokter juga sama kayak km rowena 👻👻👻
Adellia❤: itu lho kak rowena sama pak dokter di kasih bodrex ..
total 6 replies
Dewi kunti
kok ngeri siiiiich🙈🙈🙈
Adellia❤: wlee😋😋😋
total 14 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!