Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 6
Rowena mendengus dan melirik sinis. Namun kemudian ia sadar. Pria itu datang, menurunkan tensi kekacauan ini, dan tidak akan melaporkannya. Rowena langsung menatap matanya.
“Hanya itu?”
“Ya, cuma itu,” jawab Darcel sambil tersenyum tipis. “Lain kali beri tahu aku lebih awal. Biar aku bisa datang tepat waktu.”
Seharusnya tidak ada lain kali. Namun Rowena justru bertanya, “Lain kali?” sambil tersenyum.
Entah bagaimana, situasinya terasa seperti sedang saling menggoda, padahal konteksnya percobaan pembunuhan.
Sial.
“Kamu tidak bisa mengubah siapa dirimu,” kata Darcel.
Rowena langsung memalingkan wajah. Mengapa pria itu bisa mengatakan hal-hal seperti itu?
Mengapa Darcel bisa menerimanya segampang ini?
Sial. Rowena menyukainya.
Sangat menyukainya.
“Pulanglah. Makan sesuatu yang masih merah. Mungkin itu bisa menurunkan kadar nafsu membunuhmu,” kata Darcel santai.
“Berhenti,” desis Rowena, wajahnya langsung terasa panas.
Ia membenci cara Darcel membahas fetish darahnya yang absurd seolah itu hal biasa. Pria itu justru tertawa melihat reaksinya.
“Kamu terlihat lucu kalau begitu,” katanya, membuat mata Rowena langsung melebar.
Lucu?
“Tidak,” ujarnya cepat, seolah menyesali ucapannya sendiri. Darcel meringis dan menutup mulut dengan tangan. “Sudahlah, pulang. Kamu sudah melakukan yang terbaik malam ini, Rowena. Aku bangga kamu berani menghubungiku. Karena kamu membiarkanku membantumu.”
Kata-kata itu menyentuhnya.
Darcel berbalik menuju mobilnya yang masih menyala.
Ia datang sejauh itu hanya karena Rowena. Untuk menghentikannya, untuk menolongnya. Ia bahkan tidak peduli pada Audy, hanya berdiri di samping mobil, menunggu sampai Rowena masuk ke mobilnya sendiri.
Rowena pun pergi dan pulang.
Sesampainya di rumah, ia merebahkan diri di kasur, memegangi pergelangan tangan yang sempat disentuh Darcel, dan memutar ulang percakapan mereka berulang kali di kepalanya.
Tidur selalu sulit baginya setiap malam. Namun malam ini terasa berbeda. Ada seseorang yang menemaninya, setidaknya di pikirannya. Ia membayangkan bentuk bibir Darcel, warna matanya. Kata-kata pria itu terus memenuhi benaknya.
Darcel punya banyak kesempatan untuk membuangnya malam ini jika mau. Namun ia tidak melakukannya. Yang ia lakukan justru menyelamatkannya dari masalah, lalu memujinya.
Sial.
Rowena benar-benar menyukainya.
Ia ingin bertemu Darcel lagi. Sekarang juga. Ia penasaran di mana pria itu tinggal, dan hal itu justru membuatnya semakin gila karena ia tidak bisa menemukan apa pun tentangnya.
Sungguh, satu-satunya tempat Rowena pernah melihat nama Darcel hanyalah di dokumen pengadilan. Ia ingin memeriksa barang-barangnya, menemukan sesuatu, apa pun itu, karena pria itu terasa terlalu sempurna.
Rowena biasanya menyukai pria nakal, sedangkan Darcel adalah kebalikannya.
Lalu mengapa harus dia?
Mengapa pria itu tersenyum dan mengatakan ia hebat saat ia berani membuka diri?
Darcel adalah terapis yang ditunjuk pengadilan, tetapi tidak memiliki situs web, tidak ada jejak digital. Bahkan soal Audy pun terasa aneh. Resepsionis itu seolah tidak tahu siapa dirinya. Apa Audy sedang di bawah pengaruh obat atau bagaimana?
Rowena gelisah, berguling-guling di kasur, lalu meraih ponselnya.
Ia kembali mencari nama Darcel.
Nihil.
Ia mencoba lagi dan lagi, berharap menemukan sedikit informasi.
Awalnya hanya rasa penasaran, tetapi perlahan berubah menjadi obsesi.
Obsesi yang buruk.
Akhirnya, Rowena mulai mencari semua klinik psikiatri di daerah itu. Hal pertama yang muncul justru membuatnya terkejut.
Paragon Ravensland.
Ia berusaha tidak berpikir terlalu jauh, tetapi selalu ada firasat aneh bahwa suatu hari ia akan berakhir di sana. Semua orang tertarik pada tempat itu.
Paragon Ravensland sebenarnya bukan rumah sakit jiwa.
Itu penjara.
Tempat bagi orang-orang yang dianggap gila dan memiliki catatan kriminal. Orang-orang bilang tempat itu berhantu. Bahkan ada rumor bahwa para penghuninya saling memakan satu sama lain, kanibal.
Dengan bibir tergigit, Rowena mengetik, “Paragon Ravensland Asylum + Dr. Darcel.”
Dan ia langsung terduduk tegak di kasur, terkejut saat mesin pencari menampilkan satu hasil tepat di urutan teratas.
Astaga.