Melina Lamthana tak pernah merencanakan untuk jatuh cinta ditahun pertamanya kuliah. Ia hanya seorang mahasiswi biasa yang mencoba banyak hal baru dikampus. Mulai mengenali lingkungan kampus yang baru, beradaptasi kepada teman baru dan dosen. Gadis ini berasal dari SMA Chaya jurusan IPA dan Ia memilih jurusan biologi murni sebagai program studi perkuliahannya dikarenakan juga dirinya menyatu dengan alam.
Sosok Melina selalu diperhatikan oleh Erick Frag seorang dosen biologi muda yang dikenal dingin, cerdas, dan nyaris tak tersentuh gosip. Mahasiswi berbondong-bondong ingin mendapatkan hati sang dosen termasuk dosen perempuan muda. Namun, dihati Erick hanya terpikat oleh mahasiswi baru itu. Apakah mereka akan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sore menjelang malam saat Melina masih dikamar mandi, Bunga kembali memasak sup ayam simple untuk makan malam mereka.
Melina membasuh wajahnya dikamar mandi lalu bercermin, menatap wajahnya yang tak lagi sepucat ia awal sakit.
"Ah, kamu sudah selesai, Mel. Duduk dulu, aku akan menyiapkan makan malam kita," ujar Bunga sambil menuang sup hangat ke dalam mangkuk.
Melina tersenyum tipis, masih merasa Lelah. Ia duduk di samping Bunga, menaruh mangkuk sup di meja kecil.
“Terima kasih, Bunga,” katanya lirih.
Bunga menepuk bahu Melina, memberi isyarat agar sahabatnya makan dengan tenang. Malam itu, mereka tidak berbicara banyak. Hanya suara sendok yang terdengar di mangkuk dan uap dari sup yang membuat suasana hangat tapi sunyi.
Bunga sesekali menatap Melina dengan mata penuh perhatian, memastikan sahabatnya bisa makan meski tubuhnya masih lemah.
Setelah makan, Bunga membantu Melina menaruh mangkuk kosong di wastafel.
“Aku taruh obatmu di meja belajar, ya Mel. Minum nanti sebelum tidur,” ujarnya sambil menata obat dan gelas air hangat.
Melina mengangguk, lalu pergi ke kamarnya, Ia meraih ponselnya di samping tempat tidur. Ada pesan dari Devano, menanyakan bagaimana kondisinya. Melina membalas dengan singkat namun sopan, memastikan pesannya tidak menyakiti hati Devano
@Devano12: “Mel, udah gimana perasaan kamu?”
@Melinaa_: “Udah mendingan, Dev. Makasih” balas Melina
Bunga tersenyum tipis, tidak terlalu memperhatikan ponsel Melina. Ia hanya ingin sahabatnya pulih sepenuhnya. Setelah itu, malam mereka ditutup dengan keheningan yang nyaman, hanya suara desiran angin dari jendela yang sedikit terbuka dan bunyi jam di dinding apartemen.
...***...
Dua hari kemudian, cahaya matahari masuk ke kamar apartemen, membangunkan Melina dan Bunga sekaligus suara alarm dari ponsel Bunga.
Melina merasa tubuhnya masih lemas, namun ia tahu hari itu adalah hari UAS. Ia mempersiapkan semua alat tulis dan dokumen ujian, memastikan semua laporan dan tugas sudah lengkap. Bunga duduk di sampingnya, menyerahkan air hangat dan roti panggang ringan, memastikan sahabatnya tidak kekurangan tenaga.
“Mel, kamu masih kuat jalan, kan?” tanya Bunga khawatir
“Masih, Bunga”
Sesampainya di kampus, Melina berjalan pelan. Ia agak lelah sedikit karena berjalan, namun tekadnya lebih kuat. Ia masuk ke kelas dan duduk di bangku yang biasa ia tempati. Tak lama kemudian, Devano masuk. Matanya otomatis mencari Melina, lalu mendekatinya.
“Kamu sehat, Mel?” tanyanya, tapi ada perhatian yang dalam suaranya.
“Sudah lebih baik, Dev,” jawab Melina singkat, mencoba tersenyum tipis. Tubuhnya masih lemah, tapi ia ingin terlihat kuat.
Devano mengangguk, menepuk bahu Melina sebentar, lalu kembali ke bangkunya. Perhatian Devano terasa ringan, profesional, tapi cukup membuat Melina merasa dihargai.
UAS dimulai.
Ruangan terasa hening. Melina menatap lembar soal di mejanya. Pengawas ujian hari itu adalah Pak Erick dan Miss Yolan, dosen muda yang dikenal tegas. Soal ujian kombinasi, lima puluh pilihan ganda dan lima puluh essay, menuntut fokus tinggi.
“Baik, UAS kali ini soalnya campur ya, setiap orang soalnya berbeda. Yang kedapatan toleh kanan, toleh kiri, kertasnya saya ambil lalu nilai UASnya otomatis 0 dan mengulang semester depan. Waktu ujian ditempuh selama 2 jam, pastikan jawaban kalian benar-benar tepat.” ujar Miss Yolan
Melina menghela napas, menyesuaikan posisi duduk, menyiapkan pena, dan mulai mengerjakan soal. Tangannya bergerak pelan, menulis jawaban satu per satu. Ia tidak ingin tergesa-gesa, walau tubuhnya terasa lemah.
Bunga, yang menunggu di bangku paling belakang, mengamati sahabatnya. Ada sedikit rasa cemas melihat Melina menahan lelah, tapi juga rasa bangga karena sahabatnya mampu fokus sepenuhnya.
Erick mengawas ujian dengan profesional, sesekali Ia melihat Melina. Ia bisa merasakan gadis itu masih belum sehat sepenuhnya dan Ia memaksakan diri.
Setelah dua jam, ujian selesai. Melina membaca ulang jawaban yang Ia tulis, menyerahkan lembar jawaban kepada pengawas, dan menghela napas lega. Ia merasa sebagian besar jawaban sudah ia tulis dengan baik.
“Bagaimana rasanya?” tanya Devano setelah ujian selesai, mendekati Melina.
“Masih lemas, tapi cukup lancar,” jawab Melina tipis, mencoba tersenyum.
Devano mengangguk, sedikit menahan senyum. Ia ingin menawarkan diri untuk menemani pulang, tapi tahu batasnya, apartemen putri, privasi Melina, dan Bunga yang ada di samping sahabatnya.
“Mel, sebenarnya aku ingin jenguk kamu tapi-“
“Gak bisa Dev, apartemen putri melarang laki-laki masuk” potong Bunga
“Iya aku tahu, cepat sembuh, Mel” ujar Devano.
Setelah itu, Melina dan Bunga berjalan ke kamar mandi di kampus untuk buang air kecil dan sedikit menenangkan diri.
“Bunga, sebentar ya aku mau ke toilet. Kamu tunggu aku diluar aja” ujar Melina
Setelah lima menit dari kamar mandi, kedua gadis ini memutuskan untuk pulang, mereka lewat dari gedung fakultas dan tak sengaja berpapasan dengan Pak Erick.
Bunga segera menunduk, menyapa sopan,
“Pagi, Pak.”
“Pagi,” balas Pak Erick singkat, profesional.
Melina hanya diam, menatap lurus ke depan. Pak Erick melihat wajah Melina yang lebih segar dibanding dua hari lalu, tapi masih ada jarak di antara mereka. Ia memilih tidak memaksa, hanya tersenyum tipis, profesional.
Bunga menoleh sebentar ke Melina.
“Kenapa kamu gak sapa Pak Erick, Mel?”
Seketika pertanyaan Bunga itu tambah membuat Melina sakit kepala
“Iya, aku kurang fokus tadi kalau Pak Erick berpapasan dengan kita” ujarnya
Ada sesuatu yang berbeda dari sahabatnya. Melina menahan sesuatu, rasa lelah, rasa letih, dan mungkin sedikit ketegangan yang belum hilang. Ada rasa curiga ringan di hati Bunga, tetapi ia menahannya. Ia memilih menunggu, merawat, dan mempercayai sahabatnya tanpa menanyakan terlalu banyak.
Sesampainya di apartemen, mereka langsung pergi ke kamar. Melina merebahkan tubuhnya diranjang kamarnya.
“Mel, malam ini kamu mau makan apa?” tanya Bunga yang duduk ditepi ranjang Melina
“Apa aja boleh” jawabnya
“Kamu gak selera makan, ya? Atau lidah kamu pahit?
“Enggak kok. Aku kecapean jalan tadi”
Melina menatap ponselnya lagi, melihat pesan singkat dari Devano. Ia tersenyum tipis, menaruh ponsel di meja, merasa lega karena perhatian yang diberikan Devano tidak berlebihan.
Bunga hanya melihatnya sekilas, mungkin sempat melihat notifikasi dari Devano, tapi ia tidak terlalu memikirkannya. Ada rasa penasaran kecil, tapi ia menahannya.
Malam itu, mereka menutup hari dengan keheningan yang nyaman. Bunga tetap di apartemen, merawat sahabatnya, sementara rasa penasaran dan curiga kecil itu menunggu waktu yang tepat untuk ditanyakan.
Melina menatap langit-langit kamar, membiarkan pikirannya melayang, mengingat hari ini UAS yang melelahkan, perhatian Devano, dan interaksi singkat dengan Erick di lorong.
Ada rasa lega, tapi juga sedikit ketegangan yang tidak ia ungkapkan. Ia tahu malam itu akan berakhir, tapi banyak pertanyaan kecil yang menunggu jawaban
Meskipun bunga punya niat, "Udang dibalik nasi🤭". Tetep aja niat dia tulus🥰🥰🥰
padahal mereka niat baik.
maaf ya kakak bunga yang manis cantik dan baik hati.
kakak Mel nya lagi darting, tadi abis makan kambing guling🙏🏻🙏🏻