NovelToon NovelToon
Menikah Karena Wasiat Kakek

Menikah Karena Wasiat Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:17.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sarah Mai

Adam yang sejak awal menolak pernikahan, berusaha sekuat tenaga menghindari perjodohan yang telah diwasiatkan sang kakek. Perempuan yang ditentukan itu bernama Hawa Aluna, sosok yang sama sekali tak pernah ia inginkan dalam hidupnya. Demi membatalkan wasiat tersebut, Adam nekat melakukan langkah licik: ia menjodohkan Hawa dengan adiknya sendiri, Harun.
Namun keputusan itu justru menjadi awal petaka. Wasiat sang kakek dilanggar, dan akibatnya berbalik menghantam Adam tanpa ampun. Tak ada lagi jalan untuk lari. Demi menghindari malapetaka yang lebih besar, Adam akhirnya terpaksa menikahi Hawa Aluna.
Sayangnya, pernikahan itu berdiri di atas keterpaksaan dan luka. Adam menikah tanpa cinta, sementara Hawa pun sama sekali tidak menaruh rasa padanya. Dua hati yang kosong dipersatukan dalam satu ikatan suci, menyisakan pertanyaan besar tentang bagaimana nasib rumah tangga mereka ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kemesraan

Rembulan bersinar terang malam itu, menggantung anggun di hamparan langit yang bertabur bintang. Udara terasa sejuk, seolah alam ikut merayakan kisah manis yang hanya diperankan oleh dua sejoli yang baru saja merajut janji suci. Di balik pintu kamar yang terbuka menuju balkon, tawa kecil dan obrolan ringan Adam dan Hawa mengalir lembut, menyatu dengan desir angin malam.

Setelah ngeteh dan ngopi bersama, mereka duduk berdampingan di balkon kamar. Lampu temaram memantulkan bayangan keduanya di lantai, sementara tangan kanan Adam merangkul bahu Hawa dengan penuh kepemilikan yang hangat. Sesekali, Adam mengecup halus kepala istrinya, gerakan sederhana yang sarat makna. Tanpa ia sadari, perasaannya mengalir begitu lembut malam itu, lebih lembut dari wanita manapun, seakan hati Adam menemukan rumahnya di pelukan Hawa.

Hawa bersandar nyaman, matanya fokus pada tablet yang menampilkan daftar tujuan honeymoon dari berbagai penjuru dunia. Jarinya sesekali menggeser layar, matanya berbinar membaca nama-nama kota yang selama ini hanya hadir dalam mimpi.

“Kamu tinggal pilih saja, sayang,” ucap Adam pelan, suaranya berat namun menenangkan. “Paris, Dubai, Jepang, Swiss, atau Australia. Aku punya koneksi yang bisa menyediakan paket honeymoon terbaik di sana.”

“Cantik-cantik ya, Mas,” senyum Hawa mengembang, tulus dan cerah, membuat dada Adam terasa menghangat.

“Ya sudah, pilih saja salah satunya,” lanjut Adam, santai namun penuh keyakinan.

Hawa terdiam sejenak, menimbang-nimbang. “Tapi ini kan mahal,” ujarnya lirih, ada ragu yang terselip di nada suaranya.

Adam hanya tersenyum. Ia mengangkat dagu Hawa perlahan, memaksa mata mereka bertemu. Tatapannya dalam, jujur, dan penuh rasa yang tak perlu kata-kata panjang. “Buat kamu, enggak ada yang mahal,” katanya. Ada Hawa di bola mata Adam dan bara api cinta yang samar mulai memercik hatinya

Hawa meletakkan tablet mini di meja kecil. Ia memeluk Adam manja, menyusupkan wajahnya di dada sang suami. “Gimana kalau besok kita ke Ancol dan Dufan saja?” pintanya, suara rengeknya seperti lagu yang sulit ditolak.

Jantung Adam bergetar. Pelukan Hawa selalu punya cara membuatnya merasa takluk. “Kamu aku tawari tempat yang istimewa, malah pilih yang lain?” godanya, sambil mengusap puncak hidung Hawa perlahan.

“Honeymoon-nya sederhana dan dekat saja,” jawab Hawa lembut. “Soalnya besok Hawa sudah masuk kerja, Mas juga harus balek ke Australia kan”

“Aku bisa telepon...” Adam hendak mengambil ponsel pribadinya.

“Jangan, Mas,” cegah Hawa cepat, lalu mendongak dengan senyum memohon. “Please. Aku pingin ke situ saja dulu”

Adam tertawa kecil, rengekan manja itu membuatnya pasrah sekaligus bahagia. “Ya sudah,” katanya akhirnya. “Aku ikut maunya kamu.”

Nada suaranya lembut namun penuh keyakinan. “Tapi sebelumnya kita lanjut lagi,” tambahnya sambil tersenyum nakal.

Belum sempat Hawa membalas, Adam sudah mengangkat tubuh istrinya itu dengan hati-hati, seolah Hawa adalah sesuatu yang paling berharga di dunia.

Mata Hawa terbelalak kaget, lalu keduanya refleks tertawa kecil, cekikikan manja dengan pipi yang sama-sama merona. Ada rasa canggung yang manis, bercampur bahagia yang sulit disembunyikan. Dalam dekapan itu, Hawa mencengkeram bahu Adam seolah mencari sandaran, sementara jantung mereka berdetak seirama, lebih cepat dari biasanya, berdesir halus namun nyata.

Kaki Hawa meronta kecil, bukan untuk melepaskan diri, melainkan gerakan manja yang tanpa sadar membuat Adam tersenyum lebar. Tatapan mereka saling bertaut, penuh rasa dan janji yang tak perlu diucapkan. Adam mengeratkan pelukannya, seolah tak ingin melepas momen hangat itu, sementara Hawa menyandarkan kepalanya di dada suaminya, merasakan denyut yang sama kuatnya dengan perasaannya.

Malam seakan ikut menyimpan rahasia kebahagiaan mereka. Dalam keheningan yang intim, hanya ada tawa pelan, napas yang saling beradu, dan cinta yang kembali menyala dengan lembut namun penuh gairah.

“Mas…” lirih Hawa, suaranya hampir tenggelam oleh desir napas mereka yang saling berkejaran.

Adam hanya tertawa pelan, menurunkan Hawa perlahan di atas ranjang, lalu menatap wajah istrinya dengan sorot mata penuh cinta. Bagi Adam, malam itu bukan sekadar tentang kedekatan raga, melainkan tentang janji, tentang rasa memiliki, tentang dua hati yang akhirnya berlabuh pada dermaga yang sama.

Malam kian larut, rembulan mengintip malu-malu dari balik tirai jendela, seakan menjadi saksi bisu kisah cinta mereka. Di antara bisikan doa dan kata-kata lembut, Adam dan Hawa kembali larut dalam kehangatan yang hanya dimengerti oleh sepasang hati yang telah dihalalkan.

Tak ada lagi keraguan, tak ada lagi jarak. Yang tersisa hanyalah cinta yang mengalir tenang namun dalam, mengantarkan mereka menuju kebahagiaan surga dunia.

Pagi kembali menyinari dunia dengan cahaya keemasan yang lembut. Tirai kamar bergoyang pelan diterpa angin, seolah ikut menjadi saksi kehangatan yang masih bertahan di antara Adam dan Hawa.

Adam mengecup manis dahi Hawa, lama, penuh rasa syukur. Pasangan pengantin itu masih tenggelam dalam dekapan pelukan hangat, enggan beranjak dari dunia kecil mereka yang terasa begitu damai.

Hawa menyandarkan kepalanya di dada Adam, mendengar detak jantung pria itu yang tenang namun tegas.

“Mas…” ucapnya pelan, seolah tak ingin merusak suasana.

Adam mengusap rambut Hawa dengan lembut. “Kenapa, Sayang?”

“Kemarin Raisa menuntut agar Mas Harun menikahinya,” tutur Hawa hati-hati. “Dia mengancam akan melaporkan kasus ilegal eksportir kayu jati itu ke polisi.”

Sekejap, sorot mata Adam berubah. Rahangnya mengeras.

“Itu hanya gertakan,” jawabnya tegas. “Dia tidak akan berani melangkah sejauh itu.”

Adam menarik napas, lalu menambahkan dengan nada dingin, “Dan soal kapan Harun menikahinya, itu tidak memberinya hak sedikit pun untuk mengusikmu. Kalau dia masih berani, aku sendiri yang akan mengintimidasinya habis-habisan.”

Hawa mendongak, menatap wajah suaminya yang terlihat begitu protektif. Namun alih-alih takut, matanya justru memancarkan ketenangan.

“Mas…” ucapnya lembut, “di keluarga ini, Mas Adam adalah sosok yang paling didengarkan. Tolong paksa Mas Harun untuk menikahi Raisa.”

Adam terdiam.

“Kasihan dia, Mas,” lanjut Hawa lirih. “Dia sudah terlanjur hamil.”

Dahi Adam sempat berkerut, jelas tak menyangka permintaan itu keluar dari mulut istrinya sendiri. Ia menghela napas pendek, lalu mencubit gemas pipi Hawa.

“Kamu ini malaikat atau manusia sih, Sayang? Baik banget,” katanya setengah heran. “Padahal jelas-jelas dia sudah jahat sama kamu.”

Hawa tersenyum kecil.

“Sebenarnya kamu juga jahat,” gumamnya jujur. “Sudah memaksa Harun menikah denganku, padahal dia sudah punya Raisa.”

Dengan gemulai, Hawa naik sedikit ke tubuh Adam dan mencubit mesra hidung pria itu, membuat Adam refleks tersenyum.

“Tanam kebaikan,” lanjut Hawa lembut, “nanti panennya pasti kebaikan.”

Senyum manis itu membuat Adam terkesima. Ada kekuatan dalam kelembutan Hawa yang selalu membuatnya kalah.

“Biarkan saja itu jadi urusan mereka,” ujar Adam akhirnya. “Harun masih ragu. Dia mempertanyakan apakah anak yang dikandung Raisa itu benar-benar miliknya atau bukan. Usia kehamilannya lebih tua dari waktu mereka mulai berhubungan.”

“Apa?” Hawa terkejut. “Maksudnya… Raisa sudah hamil lebih dulu dari pria lain?”

“Huft!” Adam bangkit, mengusap wajahnya dengan kesal. “Anak itu terlalu mudah tertipu, tapi keras kepala setengah mati.”

Ia kembali duduk, lalu menatap Hawa dengan tatapan yang jauh lebih lembut.

“Wanita itu terbagi dua,” ucapnya pelan. “Ada yang menjadi racun, ada pula yang menjadi madu.”

Tangannya mengusap pipi Hawa penuh kasih. “Dan kamu… adalah maduku.”

---

Sementara itu, Karim dan Ningsih akhirnya tiba di rumah. Langkah Karim melambat saat memasuki ruang tengah, wajahnya masih menyimpan kegelisahan yang tak kunjung reda.

“Bu,” tanya Karim lirih, “bagaimana Hawa?”

Ningsih menoleh, tersenyum tipis. “Hawa sudah bahagia dengan Adam, Pak.”

Karim terdiam cukup lama.

“Bapak terus kepikiran,” ucapnya sedih. “Apa Harun itu juga sama seperti Adam? Apa dia juga bisa berubah sebaik itu?”

“Pak,” potong Ningsih lembut namun tegas, “sudah jangan dibahas lagi soal itu. Jangan bilang Bapak ingin memisahkan mereka.”

Karim menghela napas panjang. Jauh di lubuk hatinya, ia masih belum sepenuhnya bisa menerima Hawa menikah dengan Adam, setelah segala perlakuan Harun pada putri kesayangannya. Namun ia sadar, kini semuanya sudah terlambat.

Sebagai ayah, ia hanya bisa memendam luka itu seorang diri… tanpa mampu berbuat lebih.

1
ρυтяσ✨
hah... siapa lelaki Raisa itu??? ayah biologis dalam kandungan'y🤔🤔
Hatinya memang harus di kasih pencerahan kalo Raisa hanya memanfaatkan diri'y saja
☠ᵏᵋᶜᶟGalangᵇᵃʰᵃ❀∂я
halaah2 raisa pinternya

yg jadi korban mahluk kita yo gus, haseeem
🍁𝑴𝒂𝒎 2𝑹ᵇᵃˢᵉ🍁
Adam harus segera bertindak selidiki serius dong Raisa kasih ke si Harun bodoh itu
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ
dh muncul tuh laki" yg ngehamilin Raisa. emang Harun yg paling ogeb keknya. kebiasaan apa" taunya beres. tinggal enaknya. gitu jadinya. otaknya entah kemana. sampai" dikadalin sama perempuan pun dia gk pernah tau. mungkin itu karma juga buat Harun karena sudah mencurangi Hawa dulu. akhirnya gantian dicurangi habis"an. kudu dijauhkan dari Raisa nih si Harun, biar gk kebablasan nyungsepnya. kasih wanita sewaan yg spek Hawa ada gk tuhh, biar gk tantrum mulu 🤣🤣🤣🏃🏃🏃
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦༄⃞⃟⚡OLENG.comKᵝ⃟ᴸ : sepanjang jln kenangan 🤣
total 3 replies
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
benar kn firasat si Adam..
ternyata si Raisa lebih dari pemain 👊👊👊
kasihan Harun laki² bodoh🥺🥺
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
penasaran sama lakinya, ini siapa yaaa
bukan seseorang yg dekat dengan Hawa atau Adam kann...🤔
Ita Widya ᵇᵃˢᵉ
iya kayanya enak ke club wa menghilangkan beban di pundak 🤣🤣
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
itu yg kamu bilamg wanita baik2 Harun...🤦‍♀️
bodoh kamu Runn
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
haruunn harunnn cinta membuatmu buataa 🤦‍♀️
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
halaah diamin aja sih Run, akting doang itu Raisa jangan terpengaruh..
dia tuh ingin mnguasai perusahaan di sumatera kamu harus hati2
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
nih cowok selingkuhan Raisa kayaknya kacung si Raisa juga manut banget 😂
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
saking labilnya dibilang anak ya sama Adam 🤣
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
kompor, ular berbisaa
knpa sih Runn kmu ga jauh2 dari Raisa, gmpang bngt kamu terpengaruh bujuk rayunya
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
cieee yg takut yaaa 🤣🤣
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
mencurigakann nihh..
jangan2 emamg udah dibeli nih dan Bunda Rani jg tau
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
karena Adam punya andil di rumah sakit itu,Wa...klo dia macam2 bisa dilengserkan malah dianya 😂
ͩ☠ᵏᵋᶜᶟ⏤͟͟͞R•Dee💕
rumah sakitnya ga dibeli sama Adam kann🤭🤭
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ
lah makin yakin klo rumah sakit itu milik Adam nih 🤭
🅝🅤🅡🅨ᵇᵃˢᵉ🍻
ayo dam. kirim dong ke harus kalo raisaaa bener3 resek.. dan itu bukan anak harun
🅝🅤🅡🅨ᵇᵃˢᵉ🍻
waah gendeng benerr ini raisaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!