Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kepercayaan yang retak dan hadirnya orang ketiga.
Pria itu adalah Arya, seorang murid pindahan dari sekolah terkemuka yang baru saja masuk. Dia langsung menjadi pusat perhatian karena kecerdasannya. Faisal tidak begitu mengenalnya, tetapi ia pernah mendengar namanya sekilas. Jelas Faisal tak menyukainya.
Menurut Faisal, bagi seorang pria. Arya terlalu rapi, terlalu sopan, dan terlalu sering menatap Aruna dengan sorot mata yang Faisal tau persis artinya. Yang membuat jantung Faisal mencelos hingga ke lambungnya. Bukan karena percakapan mereka, tetapi karena tatapan matanya.
Arya tersenyum, ia mengangkat tangannya, dan perlahan ia menyentuh pipi Aruna. Bagi Faisal, itu bukan sentuhan sederhana seorang teman. Itu adalah sentuhan seorang kekasih. Aruna tak menepisnya, Aruna hanya..... Tersenyum malu malu, pandangannya menunduk. Dalam sekejap, semua ketidaksukaannya tak bisa Faisal tahan lagi, meledak. Pikiran Faisal yang belakangan ini selalu mengedepankan kejernihan, gagal memproses amarah. Yang ada hanyalah amarah murni dan rasa dikhianati yang membakar.
Faisal tak melihat Arya menyerahkan sebuah buku, Faisal tak mendengar ucapan terima kasih dari Aruna. Yang Faisal lihat hanyalah pacarnya yang disentuh oleh pria lain, dan ironisnya. Pacarnya seperti menikmati sentuhannya.
Faisal membalikan badan, berjalan secepat kilat ke arah parkiran, menyalakan motornya, meninggalkan Aruna, meninggalkan gerbang sekolah dengan amarah yang membara, dan meninggalkan semua akal sehatnya.
Malam harinya, mengurung diri dikamarnya yang berantakan, musik rock dengan volume penuh memekakkan telinga. Dia telah mematikan nada deringnya.
pesan pesan dari Aruna terus berdatangan.
Aruna ( 19.15 ), Faisal? Kamu kenapa? Tadi aku nunggu digerbang, tapi kamu udah pergi. aku khawatir.
Aruna ( 20.00 ), kamu marah ya? Apa kamu nunggu terlalu lama? Atau aku ada salah? Plis bales, Sal. Aku mau ngomong.
Aruna ( 21.45 ), Tadi aku minta saran buku yang bagus buat belajar ke Arya. Murid pindahan baru yang menurut aku punya kecerdasan lebih soal pelajaran, kita hanya sebentar di perpustakaan. kamu liat? kalo iya, tolong jangan salah paham.
Pesan terakhir itu seharusnya menjadi penjelasan yang melegakan. Tapi Dimata Faisal, pesan itu hanyalah alibi yang dipersiapkan dengan buruk.
" minta saran? Dengan sentuhan pipi? Dasar pembohong kelas kakap! " Faisal mengejek dalam hati.
Faisal, si trouble maker yang selalu berani menghadapi masalah tiba tiba menjadi pengecut dalam menghadapi perasannya. Dia memilih marah, daripada bertanya dan mendengar kebenaran yang di takutinya.
Dia melempar ponselnya ke ranjang.
" Cukup Aruna, aku udah liat sendiri." bisik nya pahit.
Keesokan harinya, tensi di sekolah terasa mencekik, setidaknya bagi Faisal dan Aruna. Aruna mencari Faisal kemana mana, dari kelasnya hingga ke kantin. Saat sedang mencari, ia menemukannya di sudut, sendirian dengan wajah dingin dan tatapan mata yang tajam, yang menolak bertemu pandang dengan Aruna.
Aruna menghampiri dan duduk disampingnya.
" Kita perlu bicara." Kata Aruna, suaranya tegas tapi sorot matanya memohon.
Faisal hanya menyesap kopinya, wajahnya datar. " Gak ada yang perlu di bicarakan!"
" Faisal! " Aruna menggenggam tangannya. " Soal kemarin....."
"Aku udah bilang, ga ada yang perlu dibicarakan. Apa hak ku melarang kamu Deket sama siapa, atau mau disentuh siapa. Kita ga punya hubungan apa apa! " Potong Faisal tajam, mengeluarkan kata kata yang sangat ia sesali bahkan sebelum selesai diucapkan.
Mata Aruna langsung berkaca kaca. " Kamu bilang ga ada hubungan? Setelah semuanya?"
" Semuanya? Omong kosong! " desis Faisal. " Aku melihatmu diperpustakaan dengan teman kesayanganmu itu. Jangan jadikan aku seperti orang bodoh, Aruna. Dia menyentuh pipimu, dan kamu menikmatinya."
Aruna terdiam, wajahnya berganti dari memohon menjadi marah besar.
" kamu ga nanya, kamu ga ngasih aku waktu buat jelasin semuanya. Kamu, Faisal, si trouble maker yang selalu menuntut kejujuran dari orang lain, bahkan ga bisa jujur sama diri kamu sendiri soal apa yang kamu liat! " Aruna menahan air matanya, berusaha tidak ingin terlihat lemah.
" Itu hanya .... Arya hanya memilihkan aku buku. Dia menyentuh pipiku karena ada sehelai rambut di wajahku. Dan kau dengan amarahmu yang kekanak kanakan memvonis itu sebagai perselingkuhan? kamu langsung ngenilai seolah aku ini......" Aruna terdiam, menarik nafas.
" Seolah aku ini apa? " tantang Faisal, hatinya bergetar, tapi egonya menolak menyerah.
" Seolah aku ini ga setia, seolah aku ini sama murahannya sama orang orang yang pernah bikin kamu sakit hati! Maaf aku gagal ngerubah kamu jadi lebih baik! "
Kata kata itu menampar Faisal, Aruna tau tentang masa lalu Faisal, tentang mantannya yang meninggalkannya. Dia tahu sumber terdalam dari ketidakpercayaan Faisal.
Aruna berdiri, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh.
" Kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan, kamu terlalu mencintai amarahmu. Kalo kamu milih percaya sama kesalahpahaman yang kamu ciptain sendiri, daripada orang yang mencintaimu. Silahkan, aku lelah." Aruna berbalik meninggalkan Faisal yang tengah duduk sendirian dengan secangkir kopi yang kini terasa sedingin es dan penyesalan nya yang baru saja dimulai.
Terserah, Faisal berfikir, tak terlalu butuh Aruna.
Tapi jauh dilubuk hatinya, bara api kemarahan itu mulai meredup, digantikan oleh rasa sakit yang menusuk, dan Faisal mulai bertanya tanya. Apakah dia baru saja menghancurkan satu satunya hal baik didalam hidupnya karena kecemburuan sesaat?!
Aruna berjalan cepat menuju toilet guru, tempat paling sepi disekolah. Begitu pintu tertutup, bahunya merosot dan ia membiarkan Isak tangisnya pecah. Ia mencengkram tepi wastafel. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena sedih, melainkan karena marah. Faisal tak hanya menyakitinya, Faisal juga merendahkannya.
Aruna mengingat kembali adegan diperpustakaan hari itu.
" Arya, terimakasih bukunya, ini buku yang paling aku butuhkan. " Aruna berseru gembira. Arya menatap Aruna serius, lalu ia mengambil sesuatu di pipi Aruna.
Aruna refleks melepaskan tangan Arya. " Maaf! Aku ga nyaman."
Arya tertawa kecil. " Ada rambut dipipi kamu, maaf aku ga bermaksud melecehkan."
Aruna hanya mengangguk dan bergegas pergi menuju parkiran, menemui Faisal yang ia kira sedang menunggunya.
Hanya itu saja, tidak ada cinta terlarang, tidak ada drama berlebihan. Namun, di pikiran Faisal itu adalah adegan perselingkuhan yang merusak.
Kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan, Sal. Dan kamu masih terlalu mencintai amarahmu. Batin Aruna kesal.
Kata kata itu terngiang ngiang. Aruna tahu Faisal mempunyai trauma besar dengan rasa percaya. Ia tahu luka masa lalunya. Tapi Aruna tak pernah menyangka bahwa setelah berjuang banyak melawan kebiasaan buruknya, kepercayaan Faisal padanya rapuh seperti kertas.
Dia bahkan tidak bertanya, ia malah sibuk menuduh. Guman Aruna, menatap bayangannya di cermin.
Aruna bukan tipe gadis yang akan menangis lama, Aruna menyeka air matanya dengan kasar. Aruna tidak akan memohon, jika Faisal masih bersikeras memilih egonya yang terluka dan kesalahpahaman nya yang konyol, maka biarkan saja. Ia pantas ditinggalkan dalam kemarahan nya.
Sore itu, dirumah. Aruna mencoba fokus pada tugas tugasnya, Ia punya mimpi yang besar. Tapi setiap kali ia melihat catatannya, wajah Faisal selalu muncul. Biasanya, Faisal akan mengirimkan pesan pesan konyol atau sekedar mengirim pesan untuk menyuruhnya beristirahat.
Hari ini, hanya ada keheningan yang menyakitkan. Aruna mengambil ponselnya, membuka galeri foto, melihat foto foto mereka.
- Faisal yang tertidur pulas dipangkuannya saat sedang belajar di perpustakaan.
- Faisal yang cemberut saat dipaksa memakai bando bunny saat ulang tahunnya.
- Dan terakhir, foto mereka berdua dengan raut wajah bahagia di markas belakang sekolah.
Aruna ingat janji janji yang diucapkan Faisal. Saat dia berjanji akan fokus pada pelajaran, saat dia berjanji akan meninggalkan dunia kelamnya, dan saat dia berjanji untuk selalu melindungi Aruna.
Aruna hanya tersenyum sinis.
" Janji itu kini hanyalah udara panas. "
Aruna ingin sekali menghubungi nya lagi, merobohkan tembok ego Faisal dengan logika dan kasih sayang. Tetapi Aruna memilih mematikan ponselnya.
" Gak, dia yang ngerusak. Dia yang harus memperbaikinya."
.........
Dua hari berlalu tanpa komunikasi. Faisal bolos sekolah, atau setidaknya tidak terlihat oleh mata Aruna.
Di pagi hari, saat Aruna duduk di mejanya, ia melihat secarik kertas.
Isi kertas tersebut.
- Aruna, aku tahu Faisal sedang cemburu. Dia menyakitimu di sudut sekolah, aku melihat semuanya. Kamu terlalu berharga untuk diperlakukan seperti itu. Jangan buang waktumu untuk orang emosional seperti dia, aku yakin kamu pantas mendapatkan seseorang yang bisa memperlakukanmu dengan penuh rasa hormat.
Aruna meremas surat itu. Ia tahu siapa yang mengirimnya, salah satu penggemar rahasia atau mungkin Arya. walau dia meragukan Arya akan bertindak se frontal ini.
Ini adalah momen sulit, saat orang luar mulai mengomentari retaknya hubungan. Dan menawarkan diri sebagai penyelamat.