Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Interogasi
Casey menegang. Alat CPR sudah terpasang, prosedur telah diikuti. Seharusnya alat itu langsung bekerja. Namun layar monitor tetap sunyi, seolah mati.
Nadi pasien melemah.
Casey memindai alat dengan cepat. Pandangannya berhenti pada sambungan kabel di sisi troli-terlepas.
Ia segera menyambungkannya kembali. Gerakannya cepat, refleks, seolah menutup kesalahan yang bahkan belum sempat dipahami orang lain.
"Vero," panggilnya pendek. "Bantu aku."
Vero berdiri tak jauh dari sana. Sejak tadi ia memperhatikan, tapi tidak bergerak. Tatapannya sekilas jatuh pada kabel yang baru disambung Casey, lalu berpaling, datar.
Tanpa bertanya, tanpa komentar, Vero akhirnya maju. Ia membantu seperlunya, lebih banyak diam daripada bicara.
Beberapa pasang mata di sekitar memperhatikan. Terlalu lama untuk sebuah kesalahan kecil. Terlalu sunyi untuk sebuah kondisi darurat.
Saat alat kembali bekerja, Casey memimpin resusitasi dengan penuh tenaga. Namun hasilnya tetap sama. Monitor kembali datar.
Pukul dua siang, pasien dinyatakan meninggal.
Casey menoleh pada Vero. Menunggu reaksi. Namun Vero lebih dulu menarik diri. Ia menyingkir dari sisi troli, seolah tak ingin terlibat lebih jauh.
Casey tak memanggil, diam dengan benak dipenuhi tanda tanya besar sekarang. Menurutnya, wajar perawat yang tak pernah menangani pasien dengan luka ekstrim ini, pasti akan terkejut. Namun, jelas sekali reaksi Vero ketika alat tak terpasang sempurna patut dipertanyakan.
Selang beberapa jam, kegaduhan di ruangan menghilang. Beberapa wartawan yang sempat meliput di halaman rumah sakit tadi juga sudah pergi.
Dan kini, Casey dipanggil ke ruang Komite Etik dan Disiplin Medis Rumah Sakit untuk dimintai keterangan.
Saat pintu terbuka lebar, Casey langsung disambut dengan tatapan sinis oleh beberapa rekan kerjanya. Hanya Hannah dan Bobby melirik ke arahnya dengan tatapan netral. Semua dokter dan perawat yang terlihat membantu tadi hadir di sini. Kecuali Jayden masih berada di luar rumah sakit, menghadiri pertemuan penting.
"Lama sekali, Dokter Casey," ujar Teresa dengan nada tak ramah. "Kami dari tadi menunggumu."
"Iya, cepat masuk, Dok," sambung Carol. Teresa dan Carol sempat melihat insiden di ruang IGD tadi.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, dengan pelan Casey melangkah masuk. Ruangan terasa mencekam.
Pihak SDM dan beberapa anggota komite duduk di tengah ruangan. Belum sempat Casey duduk, pintu kembali terbuka. Tiba-tiba dari belakang, Dea menerobos masuk dan berjalan, melewati Casey.
"Hai semua maaf ya saya datang terlambat," kata Dea, seraya duduk tepat di samping Vero dan Sari.
Indra berulang kali memberi kode pada Dea untuk duduk di sampingnya, tapi diabaikannya. Indra langsung manyun. Sementara, Vero dan Sari saling bisik-bisik sambil memandang Casey.
"Nggak apa-apa, Bu Dea,” ujar dr.Andreas, Ketua Komite Etik RS, dengan nada dingin. “Kasus ini memang perlu segera diselesaikan. Menyangkut reputasi rumah sakit.”
Dea melempar senyum kecil.
“Betul, Pak. Keluarga pasien sudah menuntut rumah sakit karena dianggap lambat menangani korban. Kita nggak bisa menunda.”
Beberapa anggota komite mengangguk setuju. Pandangan mereka kembali tertuju pada Casey.
"Silakan duduk, Dokter Casey," perintah Andreas tanpa menebar senyum.
Casey mengangguk pelan dan duduk di samping Hannah.
"Baik," lanjut Andreas tegas. "Karena semua sudah hadir, silakan jelaskan apa yang sebenarnya terjadi di IGD tadi siang."
Sebelum menjawab Casey menarik napas panjang sejenak.
"Apa yang terjadi di ruangan tadi, bukan kelalaian saya," kata Casey, mantap. "Saya melakukan tindakan darurat sesuai sumpah dan tanggung jawab saya sebagai dokter. Namun ada indikasi kuat bahwa alat CPR yang saya gunakan tidak dalam kondisi normal."
Seisi ruangan langsung riuh.
"Bagaimana Anda bisa menyimpulkan alat disabotase?" sela salah satu anggota komite. "Dan jika memang itu bukan ranah Anda, mengapa tetap memaksakan diri? Akibat keterlambatan penanganan pasien akhirnya meninggal gara-gara Anda!"
"Karena sambungan kabel CPR nggak terpasang dengan benar," jawab Casey cepat. "Padahal sebelum kejadian, saya sama sekali belum menyentuh alat tersebut."
Bisik-bisik kembali terdengar. Beberapa dokter mulai berspekulasi dengan asumsi mereka masing-masing.
Termasuk Vero dan Sari.
"Ini kerjaan Bu Sari?" tanya Vero, tanpa menatap sang lawan bicara. Posisi kepalanya mengarah ke depan.
Sari melotot.
"Eh, jangan gila kau, walaupun aku nggak suka sama dokter Casey, aku nggak akan melibatkan orang lain, apalagi sampai menghilangkan nyawa seseorang."
Vero terdiam.
"Kalau Anda nggak percaya, saya punya saksi matanya," kata Casey lagi.
"Baiklah, siapa yang saksinya?"
"Perawat Vero."
Ruangan seketika sunyi.
"Baik, bu Vero apa benar yang dikatakan Dokter Casey tadi?" tanya Andreas langsung.
Vero tak langsung menjawab. Tatapannya kosong, napasnya tak beraturan.
Casey mengerutkan dahi. 'Ada apa dengan Vero? Apa aku hanya sendirian di sini?'
"Vero?" panggil Casey. "Katakan apa yang kau lihat."
"Dokter Casey jangan mendesak," sela Teresa. "Lihat saja wajahnya, jelas dia ketakutan."
"Benar," Carol menimpali. "Bisa saja dia diancam."
"Cukup," potong Dea dingin. "Kita perlu bukti, bukan asumsi."
“Saat ini CCTV sedang ditelusuri,” lanjut Dea. "Namun saya heran, kenapa sudut tempat troli diletakkan nggak terjangkau kamera. Dan kenapa troli nggak dijaga."
Teresa dan Carol saling pandang lalu diam.
"Saya setuju sama Bu Dea, harusnya CCTV bisa menjangkau, semoga saja ada rekaman alat disabotase." Bobby menimpali.
Hannah yang duduk di antara Bobby dan Casey, hanya mendengarkan dengan seksama.
"Tapi saya nggak yakin alat disabotase," kata Andreas seketika. Membuat ruangan kembali gaduh.
Casey menatapnya tajam.
"Untuk apa saya berbohong, Pak? Ini menyangkut kode etik kita."
Andreas mendengus.
"Masalahnya, saksi mata Anda bungkam."
Di titik ini, Casey semakin bingung sebab satu-satunya saksi yang bersamanya malah bungkam dan seolah-olah tak berpihak padanya. Dengan cepat Casey menoleh lagi ke arah Vero.
"Vero, tolong jelaskan. Diam seperti ini hanya membuat semua orang salah paham."
Keringat dingin mengalir makin deras di pelipis Vero. Pandangannya berkeliling, lalu tiba-tiba tubuhnya limbung.
Vero jatuh pingsan.
“Vero!” seru Sari terkejut, spontan beranjak dari kursi.
Ruangan makin kacau. Beberapa perawat bergegas membawa Vero keluar. Casey juga tak kalah terkejut. Sebenarnya, apa yang terjadi? Apa Vero memiliki dendam pribadi padanya? Entahlah ....
"Lihat?" ujar Andreas dingin.
"Dokter Casey jelas memberi tekanan berlebihan."
Casey tercengang, saat ini, lidahnya mendadak kelu. Pemecatan tidak hormat ini, bisa merusak reputasi namanya di kemudian hari, hingga dia mungkin saja bisa dia kesulitan mendapatkan perkerjaan di rumah sakit lain.
"Dengan pertimbangan ini, Komite Etik memutuskan memberhentikan–"
"Siapa yang mau diberhentikan?"
Suara berat itu membuat semua orang menoleh.
Jayden berdiri di ambang pintu, napasnya terengah, wajahnya tegang. Saat mendengar berita Casey melakukan kesalahan fatal di ruang IGD. Jayden bergegas pergi ke rumah sakit, walaupun kegiatannya belum selesai.
"Dokter Jayden," Andreas langsung bangkit. “Dokter Casey lalai, dan–"
"Pak Andreas," potong Jayden tajam. "Apa Anda punya bukti konkret atas kelalaian itu?"
Andreas melototkan mata. "Dalam satu dekade baru kali ini di rumah sakit kita, ada dokter yang lalai, ditambah lagi saya dengar dokter ini belum lama juga berker–"
"Jawab dulu pertanyaan saya," sela Jayden dingin. "Tanpa bukti, pemberhentian adalah keputusan sepihak."
Ruangan kembali gaduh. Andreas mengepalkan tangan.
“Jangan mentang-mentang dia sepupu Anda lalu dibela!” seru Teresa seketika.
Jayden menatap ke seluruh ruangan, rahangnya mengeras.
"Sepupu?"
Ia menyeringai sejenak.
"Siapa yang bilang Casey sepupuku?"
Lalu dengan suara tegas yang memecah ruangan.
"Casey istriku!"