🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penipuan yang terbongkar
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Alexa dan Yura berjalan berdampingan menyusuri lorong-lorong sempit di antara deretan rumah tua.
Matahari tepat di atas kepala mereka dengan cahayanya jatuh lurus ke permukaan jalan, tetapi anehnya kawasan itu justru terasa lengang.
Pintu-pintu rumah tertutup rapat, tak tampak anak-anak bermain, bahkan suara kendaraan pun hampir tidak terdengar.
Yura memperlambat langkahnya. Jalan ini ia yakin pernah melewatinya. Setidaknya, ingatannya mengatakan demikian. Namun siang itu terasa berbeda, terlalu sunyi untuk sebuah lingkungan pemukiman.
Alexa berhenti melangkah dan menoleh ke sekeliling.
"Apa kau yakin ini tempatnya?" tanyanya dengan nada suara terdengar jelas menahan kesal, seolah merasa sedang dipermainkan.
Yura mengangguk cepat, meski kecemasan sudah lebih dulu tergambar di wajahnya. "Saya yakin, Pak," jawabnya, lalu menambahkan lirih, "Tapi… kenapa sepi sekali, ya?"
Alexa meliriknya singkat. "Kenapa kau bertanya padaku? Kau yang mencari masalahnya."
Ia melangkah masuk ke sebuah bangunan kecil di pinggir lorong. Ruangan itu tampak seadanya dengan rak kayu berdebu, kain-kain lusuh, serta sisa dupa yang aromanya nyaris tak tercium. Tidak ada kesan sakral, justru lebih menyerupai tempat yang lama ditinggalkan.
Alexa mendecak pelan. "Lebih baik kita bertanya pada orang sekitar. Siapa tahu mereka tahu ke mana orang itu pergi."
Yura mengangguk setuju. Mereka pun kembali keluar dan berpisah arah.
Yura bergerak ke sisi kanan lorong, sementara Alexa melangkah ke kiri.
Beberapa langkah kemudian, Alexa melihat seorang wanita paruh baya berjalan perlahan sambil menenteng tas belanja, tampaknya baru pulang dari pasar.
"Permisi, Nyonya," sapa Alexa.
Wanita itu berhenti dan menatapnya dengan raut penuh tanda tanya.
"Apa Anda mengetahui orang yang tinggal di rumah itu?" tanya Alexa sambil menunjuk bangunan kecil yang tampak seperti gubuk.
Wanita itu mendengus pelan. "Apa kau juga salah satu orang yang tertipu olehnya?"
Alis Alexa berkerut. "Apa maksud Anda?"
Wanita itu menunjuk ke arah rumah tersebut. "Wanita itu sudah menipu banyak orang dengan ramalan palsunya. Tidak satu pun yang terbukti benar. Termasuk saya. Saya berharap anak saya bisa mendapat pekerjaan dengan posisi tinggi."
Alexa terdiam. Dalam pikirannya terlintas bahwa untuk mencapai posisi tinggi, seseorang seharusnya membangun jalannya sendiri. Namun ia memilih diam dan hanya berdeham singkat.
"Jadi, maksud Anda… dukun itu palsu?"
Wanita itu mengangguk tegas. "Ya. Ikhlaskan saja uangmu. Dia sudah pergi. Tidak akan kembali, dan tidak akan mengembalikan uang siapa pun."
Wanita itu pun melanjutkan langkahnya, meninggalkan Alexa yang berdiri dengan rahang sedikit mengeras.
Alexa menoleh ke arah Yura. Gadis itu masih berdiri di ujung lorong, tampak belum menemukan siapa pun untuk ditanyai.
Jika dukun itu hanya penipu, lalu bagaimana dengan keganjilan yang ia rasakan sebelumnya?
Bagaimana dengan ketertarikan yang muncul begitu saja, dengan aroma parfum yang masih teringat jelas, dan dengan bayangan wajah Yura yang terus hadir dalam pikirannya?
Alexa menarik napas dalam-dalam dengan Yura berjalan mendekat begitu saja. Langkahnya sedikit tergesa, raut wajahnya menunjukkan kebingungan yang belum sepenuhnya reda.
"Apa Anda menemukan seseorang?" tanyanya. "Mengapa dari tadi tidak ada orang di sini? Tempat ini seperti kota mati."
Ia menoleh ke sekeliling, matanya menyapu lingkungan yang sunyi. Di kejauhan, Yura menangkap sosok seseorang yang tampak hendak melintas di pemukiman tak jauh dari mereka.
Tanpa menunggu tanggapan Alexa yang masih tenggelam dalam pikirannya Yura segera melangkah cepat.
"Pak… tunggu," panggilnya.
Seorang pria paruh baya berhenti melangkah. Tangannya terangkat menutupi mata dari terik matahari.
Keringat mengalir di pelipisnya, sementara Yura sendiri tampak sudah bermandikan keringat, rambutnya sedikit berantakan.
"Ada apa, Nona?" tanyanya.
"Apa Bapak mengetahui di mana wanita yang tinggal di rumah itu?" tanya Yura sambil menunjuk bangunan kecil di pinggir lorong.
Pria itu memicingkan mata, berusaha memperjelas pandangannya. "Apa kau juga korbannya?"
Yura tersentak. "Korban? Maksud Bapak?"
"Dia dukun palsu," jawab pria itu lugas. "Semua orang di sini tertipu olehnya. Uang puluhan juta sudah ia bawa kabur. Jika kau berharap uangmu kembali, itu tidak mungkin. Dia sudah melarikan diri."
Kata-kata itu menghantam Yura tanpa ampun.
Jadi dukun itu palsu. Dan itu berarti semua ini, Yura mengingat Rose.
Detak jantung Yura meningkat drastis. Ia menoleh ke arah Alexa yang berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan ekspresi biasa saja, seolah tidak terpengaruh apa pun.
Dalam hati, Yura menyimpulkan bahwa pengakuan Alexa tentang aroma parfum itu memang tidak memberi dampak apa pun. Tidak ada yang berubah.
Namun perasaan sedih tetap menyelinap perlahan.
Begitu mudahnya Rose mempermainkannya. Jika memang ada ketakutan atau alasan tertentu, bukankah semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik? Mengapa harus sejauh ini?
"Apa yang kau dapatkan?" suara Alexa memecah lamunannya.
Yura tersentak, lalu menoleh. "Syukur, Pak," jawabnya sambil tersenyum tipis. Senyum yang terasa berat di bibirnya sendiri.
Alexa mengangkat satu alis. "Apa maksudmu?" tanyanya, berpura-pura tidak mengetahui apa pun.
"Dukun itu palsu," lanjut Yura. "Berarti parfum itu juga tidak akan membuat Anda merasakan apa-apa pada saya. Lagipula Anda sendiri mengatakan tidak merasakan apa pun, bukan? Jadi semuanya sudah jelas. Dan-"
Alexa berdehem pelan.
Suara itu cukup membuat Yura menghentikan ucapannya.
"Tetap saja, kau yang menciptakan masalah itu sendiri," ujar Alexa datar. "Beruntung semuanya hanya kepalsuan. Jika tidak—" ia sempat menunjuk Yura tanpa sadar, lalu segera menurunkan tangannya saat menyadari gadis itu sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, "Kau sudah aku serahkan ke kantor polisi."
Yura nyaris kehilangan napas di dadanya. "Syukurlah hal itu tidak terjadi," gumamnya lirih, namun cukup jelas terdengar oleh Alexa.
Alexa tidak menanggapi ucapan Yura. Perhatiannya justru tertuju pada kondisi gadis itu. Ia kemudian menutup hidungnya dengan dua jari, berpura-pura menunjukkan reaksi yang berlebihan.
"Lebih baik kau mandi lagi sebelum kita mendaftarkan pernikahan," ujarnya datar. "Aku tidak ingin dikira memaksa menikahi gadis jalanan."
Ucapan itu membuat Yura refleks menunduk dan mencium bau pakaiannya sendiri. Keningnya langsung berkerut. Ia memang belum berganti pakaian sejak pagi.
"Ini juga karena Anda hanya memikirkan diri sendiri," gumam Yura pelan, namun cukup jelas untuk terdengar.
"Apa yang kau katakan?"
Yura tersenyum kaku. "Tidak apa-apa, Pak. Saya hanya ingin mencari tempat agar bisa sekalian membeli pakaian baru."
Alexa mengangkat alis, seolah memahami maksud Yura sepenuhnya. "Ikut aku."
Ia langsung melangkah lebih dulu.
"Kita mau ke mana, Pak?" tanya Yura sambil mempercepat langkahnya agar sejajar.
"Cukup ikut saja," jawab Alexa singkat. "Terlalu banyak bertanya hanya akan membuang waktu."
Yura mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Tanpa berpikir panjang, ia sontak mengayunkan tinjunya ke arah kepala Alexa dari belakang.
Namun, pukulan itu hanya menghantam udara dan sama sekali tidak mengenai sasaran.
Pada saat yang sama, Alexa menangkap gerakan tersebut melalui pantulan kaca jendela salah satu rumah di sekitarnya.
Alih-alih terganggu, sudut bibirnya justru terangkat tipis, nyaris tak terlihat, membentuk senyuman kecil.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺