Sebuah cerita cinta di kota Paris, antara dua orang yang berbeda latar belakang. Lucy yang seorang wanita yang di jual oleh ayahnya ke bos sebuah bar untuk melunasi hutang judinya dan di selamatkan oleh Andre, seorang laki-laki kaya yang sedang patah hati karena di tolak oleh cinta pertamanya. Dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin suatu hubungan dan janji di bawah menara Eiffel. Walaupun Lucy tau bahwa Andre masih belum bisa keluar dari bayang-bayang masa lalunya. Dapatkah Lucy membuat Andre benar-benar jatuh hati kepadanya dan melupakan cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea El Kyra Riiyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Andre pagi-pagi sekali mendatangi apartemen Lucy, dan mengetuknya dengan keras.
Tok... Tok... Tok...
"Lucy ini aku, cepat buka pintunya." ucap Andre dengan mimik wajah serius.
Tok... Tok.... Tok...
Belum ada sautan dari dalam, mungkin karena ini masih sangat pagi dan Lucy belum bangun dari tidurnya. Terlebih lagi semalam mereka pulang sudah sangat larut.
Andre mencoba menghubungi ponsel Lucy, berharap ia terbangun akan dering ponselnya. Andre mencoba berkali-kali namun belum ada jawaban. Ia mencoba mengetuk sekali lagi dengan sedikit kuat.
Lucy terkejut mendengar gedoran dari luar apartemennya. Ia bangkit dan segera keluar menuju arah bising yang dari tadi membuat gaduh tidurnya. Ia membuka pintu dengan tatapan kesal, dan ternyata sosok Andre yang sudah berdiri di baliknya menatap dingin Lucy yang masih memakai piyama minim.
"Owh... Kamu.... Kenapa pagi-pagi sekali kesini? Ada sesuatu yang terjadi?" tanya Lucy penasaran.
Andre terdiam melihat lekuk tubuh Lucy yang tercetak di piyama seksinya. Tubuh wanita ini tidak terlalu kurus dan lumayan menggoda para kaum Adam yang melihatnya termasuk Andre.
Melihat Andre yang tak berkedip menatapnya, Lucy menyadari sesuatu yang salah. Ia melihat tubuhnya yang masih hanya memakai piyama minim tanpa balutan jaket atau cardigan yang biasa ia kenakan.
"Mesuuuum.... Kamu lihat apaan sih? Masuklah." teriak Lucy memerintah sambil menyilangkan tangannya di dada.
Lucy berlari masuk duluan meninggalkan Andre yang masih terdiam di depan pintu. Ia segera masuk ke kamar dan mengambil cardigan panjang untuk membalut tubuhnya. Andre masuk ke apartemen Lucy dan menggantungkan mantelnya di gantungan belakang pintu. Ia duduk di sofa dan menghidupkan televisi.
"Ada apa pagi-pagi sekali kamu kesini? Ku kira kamu akan sedikit kesiangan, aku bahkan belum membuat sarapan." oceh Lucy sambil membuatkan Andre coklat panas.
Di luar saat ini masih sangat dingin, terlebih lagi semalam ada badai salju menyerang kota. Entah ada alasan apa tiba-tiba Andre mengunjunginya sepagi ini dan tidak ada berbicara dari tadi. Lucy membuatkan coklat panas untuk Andre dan melihat bahan makanan yang dapat ia masak.
Lucy mengantarkan coklat panas ke Andre yang masih duduk diam di sofa sambil menatap televisi. Ia benar-benar terlihat aneh, sampai-sampai Lucy sedikit tidak mengenali pria yang ada di sampingnya kini.
"Hey, apa kamu baik-baik saja? Bicaralah, aku akan mendengarkan mu. Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana jika kamu tidak bicara." ucap Lucy membujuk Andre.
"Apa kau mau ikut dengan ku?" tanya Andre dengan tatapan serius.
"I-ikut? Kemana? Tolonglah bicara yang jelas." ucap Lucy penasaran.
"Aku akan menemui Tiara nanti, dia mengajak ku untuk bertemu saat makan siang nanti." ucap Andre sambil menatap Lucy.
Lucy terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Andre. Ada rasa kesal dan marah di dalam lubuk hatinya, namun ia mencoba mengendalikan itu semua dan menutupinya dari Andre.
"Kenapa tiba-tiba dia ingin mengajak mu bertemu? Bukankah kamu bilang kalau dia sudah memilih laki-laki lain?" selidik Lucy.
"Entahlah, dia tiba-tiba mengirimi ku pesan semalam dan meminta maaf. Setelah itu dia ingin aku bertemu dengannya karena ada sesuatu yang ingin dia bahas." ucap Andre merebahkan tubuhnya ke sandaran sofa.
Lucy menatap lekat wajah Andre yang sedikit cemas dan juga senang. Mungkin karena wanita yang selama ini mengabaikannya tiba-tiba menghubunginya dan mengajaknya makan siang bersama. Hati Lucy mendadak ngilu melihat hal itu.
"Kenapa...? Kenapa tiba-tiba wajah mu seperti itu?" tanya Andre menatap Lucy.
"Ahh, aku masih belum sadar dari tidur ku jadi sedikit melamun. Jadi jam berapa kamu akan pergi nanti?" tanya Lucy mengalihkan pertanyaan Andre.
"Jangan mengalihkan pertanyaan ku, jelas sekali di wajah mu nampak raut kekecewaan dan cemas. Apa kau mencemaskan ku?" tanya Andre langsung.
"Bagaimana tidak, kamu akan menemui wanita yang susah payah ingin kamu lupakan. Dan dia dengan sendirinya mengundang mu untuk makan siang bersama. Bagaimana jika nanti dia meminta mu untuk menjadikannya pacar?" tanya Lucy dengan wajah tertunduk.
Andre terdiam mendengar ucapan Lucy, ia tak menyangka jika Lucy berfikir sejauh itu akan pertemuannya dengan Tiara. Walau pun ia berusaha menyembunyikan rasa cemasnya, ternyata ia sangat berharap hal lain terjadi. Andre mendekatkan tangannya ke wajah Lucy yang mungil dan mengusap lembut pipinya.
"Hey, jangan bodoh. Aku hanya bertemu dengannya karena ada sesuatu yang ingin ia sampaikan dan penting." ucap Andre menenangkan.
"Iya bagaiman jika sesuatu yang penting itu ternyata dia ingin kamu menjadikannya pacar dan ingin selalu bersama?" tanya Lucy lagi.
"Aku akan menolaknya." ucap Andre singkat.
Lucy mengangkat wajahnya dan menatap lekat Andre. Bagaimana mungkin laki-laki ini dapat dengan mudah mengatakan hal itu kepadanya. Mau bagaimana pun, ia adalah wanita yang baru saja Andre temui. Tidak sebanding dengan Tiara yang sudah dari kecil bersama dan menjadi cinta pertama Andre.
"Aku serius Lucy, aku akan menolaknya jika itu yang ia minta. Aku tidak akan meninggalkan mu, aku janji." ucap Andre sambil memeluk Lucy lembut.
Lucy menyambut pelukan Andre dan tiba-tiba bulir-bulir kecil membasahi pelupuk matanya. Ia benar-benar takut untuk kehilangan Andre saat ini, ia benar-benar mencintai Andre dan tidak ingin melepaskannya kepada siapapun.
"Hey berhenti menangis, apa aku sebegitu berharganya sampai kau takut kehilangan ku?" tanya Andre sambil tersenyum.
"Aku tidak akan memberikan mu kepada siapapun walaupun dia cinta pertama mu." ucap Lucy memeluk erat Andre.
"Baiklah-baiklah, aku akan mengingat itu. Sekarang tolong siapkan pacar mu ini sarapan, aku sudah lapar." ucap Andre.
Lucy melepaskan pelukannya dan menatap wajah Andre, benar-benar tampan dan sangat sayang jika di berikan ke orang lain. Tiba-tiba Andre langsung mengecup bibir Lucy yang merekah karena menatap wajahnya. Sontak hal itu membuat Lucy terkejut namun ia juga membalas kecupan mesra di pagi hari bersama kekasihnya itu.
"Aku akan kehabisan napas jika kita tidak menghentikannya." ucap Lucy menolak tubuh Andre menjauh.
Andre benar-benar akan melampaui batasnya jika tidak mendapat pemberhentian dari Lucy tadi. Bagaimana tidak, Lucy masih berbalutkan cardigan yang membungkus tubuhnya.
"Baiklah, ayo ku bantu untuk menyiapkan sarapan." ucap Andre menarik lengan Lucy.
Dengan langkah malas Lucy menuruti ucapan Andre dan mengikutinya. Ahh pagi yang mengesalkan....
Tolong tetap lanjutkan ya sisi
sekali kali cowok kek yg berkorban agama, perasaan Andre ga pernah berjuang apa apa deh untuk lucy, cuma karena andre kaya Trus bisa kasi lucy pekerjaan dan uang, selebihnyaa yg berkorban Lucy terus
Sehingga pembaca storymu tetap stay menanti