Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Langit yang Runtuh
Suara kepakan sayap ribuan elang raksasa menciptakan badai angin yang mengguncang permukaan Danau Cermin Perak. Di atas sana, para penunggang kavaleri udara Kekaisaran—Divisi Badai Langit—mulai menjatuhkan tombak-tombak peledak Qi yang menghujam ke arah tepi danau.
BOOM! BOOM! BOOM!
Pasir perak beterbangan, menciptakan kawah-kawah baru di sekeliling Li Yuan.
"Li Yuan! Mereka terlalu banyak! Kita harus masuk ke hutan!" teriak Dong Dong, tangannya sibuk memutar tongkat untuk menangkis serpihan batu yang beterbangan.
Li Yuan berdiri tegak di tengah ledakan. Di pinggang kirinya tersampir Pedang Hitam Takdir, sementara di punggungnya terpancang Pedang Cahaya Abadi yang memancarkan pendar putih suci. Untuk pertama kalinya, kedua pedang itu bergetar secara bersamaan, menciptakan harmoni frekuensi yang membuat udara di sekitar Li Yuan berdenyut.
"Tidak, Dong Dong. Jika kita lari sekarang, mereka akan terus mengejar seperti lalat," ucap Li Yuan tenang. Matanya yang kini memiliki satu pupil ungu dan satu pupil putih menatap ke langit. "Mari kita beri mereka alasan untuk takut pada kita."
Li Yuan menghunus kedua pedangnya sekaligus. Tangan kanan memegang Pedang Hitam yang mengeluarkan uap hitam kemerahan, tangan kiri memegang Pedang Cahaya yang memancarkan sinar putih menyilaukan.
Teknik Penggabungan: Domain Keseimbangan Takdir!
Seketika, sebuah lingkaran energi raksasa meledak dari tubuh Li Yuan. Setengah wilayah danau menjadi gelap gulita, sementara setengah lainnya menjadi terang benderang. Elang-elang raksasa yang masuk ke dalam domain tersebut mendadak kehilangan arah; mereka yang berada di sisi gelap kehilangan penglihatan, sementara yang di sisi terang buta karena cahaya yang terlalu kuat.
"APA?! Dia bisa memanipulasi domain di ranah Manifestasi Roh?!" teriak Komandan Divisi dari atas elang induknya. "Tembak! Hujani dia dengan panah penghancur jiwa!"
Ribuan anak panah melesat turun. Li Yuan menyilangkan kedua pedangnya di depan dada.
Seni Rahasia Dua Pedang: Yin-Yang Pemutus Langit!
Li Yuan memutar tubuhnya seperti gasing, melompat tinggi ke angkasa menembus kepulan asap. Ia menebaskan kedua pedangnya dalam gerakan menyilang yang masif. Dua gelombang energi raksasa—satu hitam pekat yang menghancurkan materi, satu putih murni yang memurnikan energi—meluncur dan menyatu menjadi sabit energi raksasa.
SRAAAAANNGGG!
Serangan itu membelah formasi kavaleri udara seolah-olah mereka hanya terbuat dari kertas. Puluhan elang raksasa dan penunggangnya lenyap menjadi abu dalam sekejap. Langit yang tadinya tertutup kepakan sayap kini terbuka, menyisakan jejak pelangi hitam-putih yang mengerikan.
Namun, menggunakan dua kekuatan yang bertolak belakang secara bersamaan memberikan beban luar biasa pada tubuh Li Yuan. Pembuluh darah di tangannya mulai pecah, dan ia jatuh mendarat di atas permukaan air danau yang membeku dengan nafas terengah-engah.
"Li Yuan! Kau baik-baik saja?!" Dong Dong berlari menghampiri, namun ia berhenti saat melihat ekspresi Li Yuan.
Li Yuan sedang menatap tangannya. Pedang Hitam seolah mencoba memakan energi dari Pedang Cahaya, dan sebaliknya. Mereka saling tolak-menolak di dalam genggamannya.
"Belum stabil..." bisik Li Yuan. "Jika aku memaksakannya lagi, tubuhku yang akan meledak sebelum musuh."
Tiba-tiba, dari sisa-sisa kabut di seberang danau, muncul seorang wanita yang mengenakan zirah ringan berwarna perak dan emas. Di dahinya terdapat simbol matahari sabit. Ia tidak membawa pedang, melainkan sebuah seruling bambu yang terbuat dari giok putih.
"Kekuatan yang luar biasa, namun sangat ceroboh," suara wanita itu lembut namun dingin, membawa wibawa yang sangat besar. "Pedang Cahaya Abadi bukan untuk menghancurkan, ia untuk melindungi. Kau menggunakannya dengan niat membunuh, dan itulah kenapa pedang itu menolakmu."
Li Yuan mengangkat pedangnya, bersikap waspada. "Siapa kau? Utusan Kekaisaran?"
"Namaku Yue Er, pelindung dari klan yang telah menjaga pedang itu selama ribuan tahun sebelum Kekaisaran mencurinya," wanita itu melangkah di atas air tanpa menimbulkan riak sedikit pun. "Kau memang pembawa takdir, tapi tanpa bimbingan, kau hanya akan menjadi monster yang lebih buruk dari kaisar yang kau benci."
Li Yuan merasakan aura wanita ini berada di ranah Domain kehendak tahap Awal. Jauh lebih kuat dari siapa pun yang pernah ia temui.
"Lalu apa maumu?" tanya Li Yuan.
"Ujian yang baru saja kau lewati hanyalah permulaan. Kekaisaran sedang mengirimkan 'Dua Penegak Langit' ke sini. Jika kau ingin selamat, ikutlah denganku ke Kuil Tersembunyi di bawah dasar danau. Di sana, kau akan belajar arti sebenarnya dari menjadi seorang Pembawa Pedang."
Dong Dong menatap Li Yuan dengan ragu. "Bos, apakah kita bisa percaya pada wanita ini? Dia terlihat seperti tipe orang yang akan menukar kita dengan sekarung kacang."
Li Yuan menatap mata Yue Er. Ia tidak merasakan niat membunuh, melainkan rasa duka yang mendalam. Ia menyarungkan kembali kedua pedangnya.
"Kita tidak punya pilihan lain, Dong Dong. Jika penegak langit itu datang saat aku dalam kondisi begini, kita habis."
Yue Er mengangguk, lalu meniup serulingnya. Permukaan danau terbelah, menyingkap sebuah tangga batu kuno yang menuju ke kedalaman yang gelap. Mereka pun melangkah masuk tepat saat raungan pasukan utama Kekaisaran terdengar di cakrawala.