Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Sekolah dan Provokasi Shinta
Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang biasanya diwarnai dengan pamer kulit yang makin cokelat atau cerita tentang kafe-kafe hits yang dikunjungi. Tapi bagi Ghea, hari ini rasanya seperti sedang memulai misi Mission Impossible tanpa peralatan canggih, cuma modal nyali dan sebungkus permen karet.
Ghea berdiri di depan gerbang sekolah, matanya sibuk memindai setiap mobil yang lewat. Begitu mobil Alphard hitam Arlan muncul, Ghea langsung menarik tudung jaketnya dan pura-pura sibuk membaca pengumuman tentang "Lomba Kebersihan Kamar Mandi" yang tertempel di dinding luar sekolah.
Arlan turun dari mobil dengan setelan yang... ya ampun, kembali ke setelan pabrik. Kemeja putihnya licin banget sampai lalat mungkin bakal terpeleset kalau mencoba hinggap. Wajahnya datar, kaku, dan matanya lurus ke depan.
"Ghe, lo kalau sembunyi gitu malah makin mencolok tahu nggak? Mirip maling jemuran yang lagi galau," bisik Juna yang tiba-tiba muncul di belakang Ghea, sukses bikin Ghea loncat kaget.
"Aduh Juna! Jangan bikin serangan jantung dong! Gue lagi memantau target!" bisik Ghea sewot.
"Target lo itu sekarang dijaga ketat, Ghe. Liat tuh."
Ghea melihat ke arah Arlan. Ternyata Arlan nggak sendirian. Di belakangnya, ada seorang pria berbadan tegap memakai safari hitam—sopir merangkap pengawal yang diutus Papa Arlan buat memastikan anaknya bener-bener "lurus" di sekolah. Dan yang lebih bikin mual, Shinta sudah ada di sana, langsung menyambut Arlan dengan senyum paling manis (dan paling palsu) sedunia.
"Pagi Arlan! Duh, kangen banget ya liburan nggak ketemu kamu," sapa Shinta sambil mencoba meraih lengan Arlan.
Arlan menghindar dengan halus. "Pagi, Shinta. Ayo masuk, rapat OSIS pertama dimulai sepuluh menit lagi."
Ghea yang melihat itu dari jauh cuma bisa menggigit bibirnya. "Duh, si kuncir kuda itu makin hari makin nempel kayak lintah ya."
Suasana di kelas 11-IPA-4 nggak kalah riuh. Juna sibuk bagi-bagi oleh-oleh berupa gantungan kunci "Jagung Bakar Puncak" yang dia beli lusinan. Sementara Ghea cuma duduk melamun, menatap kursi kosong Arlan di depan (Arlan beda kelas tapi sering mampir).
"Ghe, Arlan ngirim pesan lewat 'frekuensi rahasia' nih," Juna mendekat dan menyodorkan selembar kertas kecil yang dilipat jadi bentuk pesawat terbang.
Ghea membukanya pelan-pelan. Isinya singkat:
"Pukul 10.00. Di tempat biasa. Hati-hati sama 'pengawal' gue."
Ghea langsung semangat lagi. "Oke, Juna! Gue butuh bantuan lo buat jadi pengalih perhatian pas jam istirahat nanti."
"Lagi-lagi gue jadi umpan. Nasib jomblo emang gini ya, jadi tumbal cinta orang lain," keluh Juna, tapi dia tetep nyengir.
Jam istirahat tiba. Bel berbunyi seperti suara terompet kemenangan bagi Ghea. Dia segera menyelinap keluar kelas. Di koridor menuju ruang arsip, dia melihat si pengawal Arlan sedang berdiri tegak di depan pintu ruang OSIS.
"Target terkunci, Jun. Laksanakan tugas!" perintah Ghea lewat kode mata.
Juna langsung berlari ke arah pengawal itu sambil pura-pura tersandung dan menabraknya dengan membawa nampan berisi tiga mangkuk bakso penuh kuah (yang sebenarnya cuma air teh biar nggak rugi kalau tumpah).
"ADUHHH! MAS, MAAF MAS! SAYA NGGAK SENGAJA!" teriak Juna sambil akting heboh, menumpahkan kuah ke celana safari si pengawal.
"Hei! Kamu ini gimana sih?!" bentak si pengawal, sibuk mengelap celananya.
Melihat celah itu, Ghea langsung lari secepat kilat melewati mereka, masuk ke lorong sepi dan menghilang ke dalam ruang arsip. Brak! Dia menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Di dalam ruangan yang berdebu itu, Arlan sudah menunggu. Dia duduk di lantai di balik tumpukan kardus tinggi supaya tidak terlihat dari jendela pintu. Begitu melihat Ghea, wajah kakunya langsung lumer.
"Ghea! Lo nggak apa-apa?" tanya Arlan cemas.
Ghea langsung duduk selonjoran di samping Arlan, napasnya masih ngos-ngosan. "Gila, Ar! Gue berasa lagi main film James Bond. Siapa sih itu mas-mas safari? Serem banget mukanya kayak belum gajian setahun."
Arlan terkekeh pelan. "Itu Pak Bagus. Dia diperintah bokap buat ngikutin gue sampai ke depan kelas. Gue bener-bener diawasi, Ghe."
"Terus gimana dong? Kita nggak bisa beresin arsip lagi?" tanya Ghea lesu.
Arlan mengeluarkan sebuah map besar dari balik punggungnya. "Gue udah bawa sebagian dokumen ke sini secara sembunyi-sembunyi. Kita kerjain pelan-pelan. Dan... gue bawa ini buat lo."
Arlan merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebungkus cokelat bar. "Biar otak lo nggak konslet pas mikirin cara ngumpet."
"Waaa! Robot gue emang paling pengertian!" Ghea langsung menyambar cokelat itu. "Ar, lo tahu nggak? Tadi Shinta nyambut lo di gerbang kayak lagi nyambut pahlawan pulang perang. Gue pengen banget nyiram dia pake kuah bakso Juna."
Arlan tersenyum pahit. "Dia ngerasa menang karena bokap gue percaya sama dia. Tapi tenang aja, Ghe. Di sini, di ruang berdebu ini, cuma ada gue sama lo. Nggak ada Shinta, nggak ada bokap gue."
Mereka mulai bekerja. Suasananya jadi tenang, cuma ada suara gesekan kertas dan suara kunyahan cokelat Ghea. Tapi, ketenangan itu nggak bertahan lama. Dari luar pintu, terdengar suara langkah kaki sepatu hak tinggi yang sangat khas. Tuk... tuk... tuk...
Lalu disusul suara berat si pengawal. "Maaf Mbak Shinta, Den Arlan ada di dalam?"
"Saya juga nggak tahu, Pak Bagus. Tapi kayaknya pintunya dikunci dari dalam. Mencurigakan ya?" suara Shinta terdengar penuh selidik.
Ghea dan Arlan membeku. Ghea hampir saja tersedak cokelatnya.
"Den Arlan? Ini Bagus, Den. Den di dalam?" si pengawal mengetuk pintu.
Arlan memberi kode diam ke Ghea dengan menaruh jari di bibirnya. Dia berdiri, merapikan bajunya, lalu membuka kunci pintu dan membukanya sedikit saja.
"Ada apa, Pak Bagus?" tanya Arlan dengan nada sangat datar dan berwibawa.
"Eh, Den Arlan benar di dalam. Kok dikunci Den?" tanya si pengawal bingung.
"Saya sedang mengecek data sensitif sekolah. Sesuai aturan, ruang arsip harus steril saat pengerjaan laporan keuangan OSIS. Ada masalah?" jawab Arlan dingin.
Shinta mencoba melongok ke dalam lewat celah bahu Arlan. "Sendirian aja, Ar? Bukannya asisten kamu yang... 'pinter' itu juga biasanya di sini?"
Arlan menatap Shinta tanpa ekspresi. "Ghea sedang di perpustakaan mengerjakan tugas Fisika. Kenapa? Kamu mau bantu saya ngerapiin kertas tahun 2005 yang berdebu ini?"
Shinta langsung mundur satu langkah, takut bajunya kotor. "Eh, nggak deh. Aku cuma mau pastiin kamu nggak kenapa-kenapa. Yuk Pak Bagus, kita tunggu di kantin aja."
Begitu mereka menjauh, Arlan menutup pintu lagi dan langsung terduduk lemas di lantai. Ghea yang tadi sembunyi di bawah meja merangkak keluar sambil memegang dadanya.
"Hampir aja jantung gue pindah ke jempol kaki, Ar!" bisik Ghea.
"Ghe, Shinta makin curiga. Kita harus lebih hati-hati," ucap Arlan serius. "Dia bakal terus cari celah buat lapor ke bokap gue."
Ghea menatap Arlan. Dia melihat ada guratan lelah di wajah cowok itu. "Ar... kalau emang terlalu berat buat lo, gue nggak apa-apa kok kalau kita beneran menjauh dulu. Gue nggak mau lo dikirim ke luar negeri."
Arlan memegang tangan Ghea pelan. "Enggak, Ghe. Kalau gue nyerah sekarang, berarti gue membiarkan mereka menang. Gue bakal tetep di sini, sama lo. Kita cuma butuh rencana yang lebih gila lagi."
"Rencana apa?"
Arlan tersenyum misterius. "Gue bakal bikin Shinta ngerasa dia udah menang, padahal dia lagi masuk ke jebakan kita sendiri."
Ghea mengerutkan kening. "Wah, Robot gue udah mulai bisa bikin rencana jahat ya? Gue suka gaya lo!"
Malam itu, Ghea pulang dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi dia takut, tapi di sisi lain dia merasa hubungan mereka makin kuat karena "perlawanan" ini. Namun, di rumah Shinta, cewek itu sedang melihat sebuah foto yang diambil oleh Pak Bagus secara diam-diam lewat celah jendela tadi: foto ujung sepatu Ghea yang mengintip dari bawah meja Arlan.
"Kena kalian," gumam Shinta dengan senyum licik.