罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26 - Uragiri part I
...**...
...影なき刃...
...-Kage naki Yaiba-...
...'Pisau Tanpa Bayangan'...
...⛩️🏮⛩️...
..."Terkhianati manusia. Terjawab oleh naga."...
...⛩️🏮⛩️...
Malam itu.
Gudang nomor 17, distrik pelabuhan selatan. Suasana malam menusuk tulang, meskipun Noa sudah terbiasa dengan dingin. Tidak ada briefing. Tidak ada pengawal. Hanya perintah langsung dari Oyabun yang menyuruhnya menuntaskan misi sabotase senyap. Seorang kurir pengkhianat dari cabang Nagasaki akan melakukan kontak dengan pihak luar.
Tapi yang tidak disebutkan Oyabun atau mungkin ditutupi dengan sengaja oleh seseorang dalam klan adalah... bahwa Noa akan datang sendirian ke dalam sarang berlapis jebakan.
Noa berjalan menyusuri gang-gang sempit distrik Takatori. Rambutnya dikuncir rendah, wajahnya bersih dari emosi. Ia tidak membawa lambang klan. Tidak ada yang tahu siapa dia.
Dari atap toko tua yang lapuk, sepasang mata mengamati—Hane. Ia tidak mendapat perintah untuk ikut campur, tapi ia diperintah hanya memantau. Di titik tinggi lainnya, Kuroda bersandar sambil mengunyah sebatang permen kayu manis, berlagak malas tapi matanya awas. Tak jauh dari sana, Akiro berdiri di bawah bayangan lampion, tangan di balik jubah, tidak menoleh, tapi memusatkan seluruh indranya ke arah Noa.
Dan di sebuah rumah kecil bertingkat dua, Kaede berdiri sendiri, melihat dari jendela yang nyaris tertutup tirai. Tidak ikut. Tidak turun. Tapi tahu betul apa yang akan terjadi.
...⛩️🏮⛩️...
Sementara itu jauh dari lokasi, Jin berdiri di kuil kecil dekat pemakaman keluarga Yamaguchi, memegang manik-manik kayu di tangan kanannya. Diam dengan tatapan netral.
Oyabun sendiri duduk di ruang meditasi. Di depannya, naskah tua bertulisan tangan disusun rapi. Di tengahnya... gulungan mantra segel.
...⛩️🏮⛩️...
Noa bergerak diam, menyisir ruangan. Tangan kanannya menyentuh gagang pisau pendek di balik ikat pinggang. Ia menyadari sejak langkah keempat bahwa ini mungkin saja bukan penyergapan kecil. Ada keheningan yang ia pelajari. Ada napas yang tertahan.
Kakinya melangkah dengan ringan. Pintu gudang mengerang saat disentuh. Matanya menyapu sekeliling. Situasinya terlalu senyap.
Tidak ada satu pun transaksi yang dijanjikan muncul. Sebaliknya, ada rasa getir di udara—aroma baja, darah lama, dan keringat orang-orang yang seolah sedang menunggu.
Noa mencium bau jebakan. Ia menimbang. Jika berbalik saat ini, mungkin ia masih bisa keluar hidup-hidup. Bahkan ia sudah sempat mundur satu langkah, bersiap mencari jalur keluar untuk kabur.
Namun suara itu datang lebih dulu.
Langkah kaki. Berat, ritmis, dari berbagai arah. Bukan satu, bukan dua. Belasan.
Noa berhenti.
Lalu sebuah suara muncul dari kegelapan.
"Kon’ya, omae wa kuru beki ja nakatta."
(Malam ini, kau seharusnya tidak datang.)
Satu suara pria. Lalu tiga. Delapan. Dua belas. Dua puluh.
Langkah keluar dari bayangan. Bukan anggota klan. Mereka bertato, tapi bukan gaya Yamaguchi. Lebih tajam, lebih ekspresif. Mata mereka kosong, seperti yang sudah terbiasa mencabut nyawa lebih dari satu kali sehari.
Noa sempat menarik napas. Bukan karena gugup, tapi karena marah. Ia tahu ini jebakan. Dan ia tahu siapa yang mungkin mengatur semua ini—Kaede.
Musuh membentuk lingkaran.
Noa melangkah mundur tapi tidak lari, hanya menarik jarak. Insting bertahan hidupnya menyala, tapi ia belum tahu arah untuk kabur.
"Lihat siapa yang dikirim Yamaguchi untuk mati malam ini," kata salah seorang pria. Nafasnya bau darah.
Dan mereka menyerang.
Pria pertama menerjang dari kanan. Noa menekuk tubuh dan menghantam perutnya dengan lutut. Begitu pria itu jatuh, dua lagi datang dari belakang.
Ia berputar, menghindari pukulan, lalu menusuk leher salah satu dengan pisau kecil yang terselip di pinggang. Darah menyembur hangat di tangannya. Tanpa membuang waktu, Noa mencabut pisaunya dan melemparkannya ke arah penyerang lain—menancapkan di bahu, cukup untuk memperlambat gerakannya.
Namun musuh tidak berhenti. Delapan orang mengepungnya rapat. Dua memutar rantai berduri, satu mengacungkan senapan kejut, sisanya dengan tinju dan tendangan yang terukur. Koordinasi mereka bukan main-main. Ini bukan geng jalanan. Mereka terlatih, disiplin, seperti unit khusus.
...⛩️🏮⛩️...
Noa menahan serangan, tubuhnya bergerak liar, lebih mengandalkan insting daripada teknik. Bahunya dihantam keras, tulangnya berderak. Rasa sakit menghantam, tapi ia terus bergerak. Pelipisnya robek, darah menetes dan mengaburkan pandangan.
Ia melompat ke atas tumpukan kontainer, tubuhnya melayang singkat sebelum menghantam dada lawan dengan tendangan. Lawan itu terhempas, terbentur keras dan tidak bangun lagi. Noa jatuh berlutut, napasnya memburu. Tubuhnya seperti binatang yang terpojok, menggeliat hanya untuk bertahan.
Tiga musuh menyerbu bersamaan. Satu mengayun rantai, satu lagi menusuk dengan pisau lipat, dan yang ketiga menembakkan senapan kejut. Noa merunduk, rantai itu melesat di atas kepalanya. Pisau musuh ditepis dengan lengan—menyobek kulitnya dalam-dalam. Sakit menusuk, tapi ia menahannya, menendang lutut musuh sampai patah.
Sekejap kemudian, sengatan listrik menghantam punggungnya. Otot-ototnya menegang, tubuhnya nyaris ambruk. Dengan gigi terkatup rapat, ia memaksa dirinya berbalik, meraih pergelangan si penyerang, lalu menghantamkan kepala ke wajahnya. Tulang hidung musuh hancur.
Namun mereka tak ada habisnya. Seseorang menjerat lehernya dari belakang dengan rantai. Napasnya tercekik, matanya berkunang. Noa menghantam kepala ke belakang, membentur wajah pria itu—darah dan gigi beterbangan. Tapi rantai tetap mencekik, semakin kencang.
Noa melengkungkan tubuh, melakukan backflip mendadak—berbalik dan melonggarkan jeratan logam di lehernya. Rantai terlepas, ia menarik napas lega, hanya sebentar. Serangan lain sudah datang dari sisi kanan. Ia bergeser sepersekian detik lebih cepat. Tapi pisau tetap menyayat sisi kanan tubuhnya. Panas. Basah. Darah mengucur deras di pinggangnya. Sedikit saja ia terlambat, mungkin isi perutnya sudah terburai.
Noa meraung, separuh karena sakit, separuh karena amarah. Dengan tenaga terakhir, ia menarik tubuh si penusuk lebih dekat, menusukkan kembali pisaunya ke rusuk lawan, menembus sampai gagang.
Di sekitarnya, masih tersisa enam belas pria—dua diantaranya sempoyongan—masih berdiri. Napasnya berat, penglihatannya kabur, tapi tangannya masih mengepal. Noa tahu satu hal: ia tidak akan berhenti. Entah sampai mereka semua jatuh... atau ia yang roboh lebih dulu.
Nafas Noa memburu, tersengal. Darah dari sisi tubuhnya—lengan dan pinggang—menetes deras, membuat lantai kontainer licin di bawah kakinya. Tangannya gemetar tapi tetap terangkat, siap menerima serangan berikut.
Tiga pria maju sekaligus. Noa memaksa dirinya bergerak—siku kanan menghantam dagu salah satu musuh, kaki kirinya menyambar rusuk yang lain. Tapi tinju keras dari musuh ketiga menghantam wajahnya, membuat pandangannya bergetar ganda.
Ia mundur, tersandung, tapi masih menusukkan pisau pendek yang tersisa ke paha lawan. Jeritan pecah, tubuh pria itu ambruk.
Namun lingkaran musuh menutup lagi. Rantai melilit pergelangan tangan kirinya, menariknya kasar. Noa mencoba melawan—merenggut rantai itu, tapi tendangan keras menghantam dadanya. Ia seketika terhempas ke dinding baja kontainer. Tangannya reflek terpuntir karena tarikan rantai yang menahan separuh badannya.
Hembusan nafasnya kini semakin berat, matanya berkunang-kunang.
Lingkaran itu menutup lebih rapat, dan Noa kini benar-benar terpojokkan.
Namun justru di ambang itu, sesuatu berdenyut di dalam dirinya.
Dingin. Bukan dingin dunia, tapi dingin dari sesuatu yang purba—lahir dari kabut gunung dan arus sungai. Seperti aliran es menelusuri tulang belakangnya, lalu meledak ke seluruh tubuh.
Noa terhuyung, hampir jatuh... tapi tak jadi.
Tubuhnya gemetar. Pandangannya kabur. Ia merasakan dunia mulai mengabur, seperti kabut menyelimuti ujung matanya. Napasnya menjadi sulit.
Sesuatu membakar kulitnya dari dalam. Di bawah lapisan luka dan segel naga—simbol berwarna merah berliku yang tertanam sejak irezumi di punggungnya—mulai bercahaya.
Urat-urat di leher dan lengannya menegang. Suara menggelegar yang hanya bisa ia dengar dalam benaknya mulai muncul. Geraman samar. Dendam yang terkubur. Nafas air. Nafas naga.
...'Cukup, bocah... Diam dan perhatikan.'...
Kuraokami... bangkit.
...—つづく—...