Rea Adelia, gadis sebatang kara yang lugu dan ceroboh, merantau ke kota besar demi mencari kerja. Namun, malam pertamanya di kota itu berubah menjadi mimpi buruk sekaligus awal takdir baru. Di sebuah gang sempit menuju kosannya, ia menemukan Galen Alonso—seorang pemimpin mafia kejam yang terluka parah akibat pengkhianatan.
Niat baik Rea membawanya menolong Galen ke dalam kamar kosnya yang sempit. Tanpa Rea sadari, menolong Galen berarti menyeret nyawa polosnya ke dalam dunia gelap yang penuh darah. Di antara sekat dinding kos yang rapuh, si gadis manis yang ceroboh harus hidup bersama sang mafia tampan yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
seharian bermain kucing
"Mas, kucingnya kotor banget... Rea mandiin ya?" ucap Rea sambil menatap anak kucing di pelukannya dengan penuh rasa iba.
Galen yang melihat istrinya begitu antusias hanya bisa mengulas senyum tipis. "Boleh, Bunny. Kita bawa ke bathtub kamar kamu saja ya," jawab Galen lembut.
"Oke, Mas!" Rea pun segera menggendong kucing itu dengan riang, sementara Galen berjalan santai di belakangnya, mengawasi setiap langkah kecil istrinya yang terlihat sangat bersemangat.
Sesampainya di kamar Rea, mereka pun langsung masuk ke kamar mandi. Rea menyalakan kran air hangat hingga busa sabun yang melimpah memenuhi bathtub. Dengan sangat telaten, Rea mulai membasahi bulu si kucing, sementara Galen ikut berjongkok di sampingnya untuk membantu memegangi tubuh kecil hewan yang mulai meronta itu.
"Duh, jangan nakal ya manis, biar bersih!" gumam Rea polos. Namun, si kucing yang lincah tiba-tiba mengibaskan ekornya yang basah, membuat air sabun terciprat tepat ke wajah Rea.
"Aduh! Mas Galen, lihat! Kucingnya nakal!" adu Rea sambil tertawa. Karena gemas, Rea secara tidak sengaja menekan tuas shower dan menyemprotkan air tepat ke arah kemeja Galen.
Syuuuut!
Air menyemprot ke arah Galen, membuat kemejanya basah. Rea tertawa kecil melihat ekspresi terkejut Galen.
"Maaf, Mas! Kucingnya tadi nakal!" ujar Rea sambil mencoba mengeringkan wajahnya dari cipratan air sabun.
Galen hanya tersenyum melihat tingkah Rea. Ia mengambil handuk kecil dan dengan lembut mengusap wajah Rea. "Tidak apa-apa, Bunny. Ayo kita selesaikan memandikan kucing ini dulu."
Bersama-sama, mereka melanjutkan memandikan kucing kecil itu dengan hati-hati. Kucing itu kini terlihat lebih tenang, menikmati air hangat dan usapan lembut dari Rea dan Galen. Setelah selesai, mereka membilasnya hingga bersih dari sisa sabun.
Bagaimana kelanjutannya?
Mau lanjut ke adegan mereka mengeringkan kucingnya atau ada ide lain?
Respons AI mungkin berisi kesalahan. Pelajari lebih lanjut
Rea yang mulai merasa nakal, dengan sengaja mengarahkan shower dan menyemprotkan air tepat ke arah Galen.
"Kena Mas Galen! Hahaha!" tawa Rea pecah, ia merasa menang karena berhasil menjahili suaminya.
"Bunny..." Galen bergumam rendah. Ia segera melepaskan kucing itu ke lantai kamar mandi, lalu dengan gerakan kilat, kedua tangannya meraih pinggang Rea.
Galen mengambil alih shower dari tangan Rea yang kecil. Ia memutar arah air dan menyemprotkannya kembali kepada Rea.
"Mas Galennnn! Dingin!" pekik Rea sambil berusaha menghindar, namun pelukan Galen di pinggangnya terlalu kuat untuk ia lepaskan.
"Tadi siapa yang mulai duluan, hm?" bisik Galen tepat di depan wajah Rea.
Rea terdiam, napasnya sedikit terengah karena tertawa. Air dari shower terus mengalir membasahi mereka berdua di dalam bathtub.
"Mas Galen curang, kan Rea cuma bercanda," cicit Rea.
Galen mematikan shower itu, lalu meletakkannya kembali ke tempatnya. Ia tidak melepaskan Rea, justru semakin merapatkan tubuh mereka. Galen menyisipkan helai rambut basah Rea ke belakang telinga.
"Di kamus Mas Galen, tidak ada kata bercanda kalau sudah menyangkut dirimu, Bunny," ucap Galen dengan suara serak.
Di bawah temaram lampu kamar mandi, suasana yang tadinya ceria berubah menjadi intens. Rea hanya bisa terdiam, terpaku dalam pesona suaminya yang sangat dominan namun selalu memberikan kenyamanan yang luar biasa baginya.
Lanjut ke Bab Selanjutnya?
Apakah Galen akan segera membungkus Rea dengan handuk hangat agar tidak sakit?
Respons AI mungkin berisi kesalahan. Pelajari lebih lanjut
"Lepaskan pakaianmu, Sayang. Mas ambilkan handuk dulu," ucap Galen dengan lembut. Ia tidak ingin istrinya kedinginan.
Galen pun keluar sebentar untuk mengambil handuk yang bersih dan hangat.
Dari dalam kamar mandi, suara Rea terdengar, "Mas, jangan mengintip ya!"
Galen tersenyum mendengar permintaan itu. Ia kembali ke depan pintu kamar mandi dan membuka sedikit celah, cukup untuk menyerahkan handuk.
"Tentu tidak, Sayang," jawab Galen sambil memberikan handuk.
"Masss Galennn!" seru Rea sambil meraih handuk itu.
Galen tertawa kecil. "Cepat keringkan badanmu ya. Mas tunggu di luar."
Rea segera mengeringkan badannya dan bersiap keluar.
Setelah mandi, Rea keluar dengan rambut yang masih agak lembap. Galen sudah menunggu di luar dan tersenyum melihatnya.
"Sini, Mas bantu keringkan rambutmu," tawar Galen.
Rea tersenyum dan duduk di hadapan Galen, membiarkan suaminya mengeringkan rambutnya dengan handuk perlahan. Mereka mengobrol ringan sambil menikmati momen sederhana itu.
Mau lanjut adegan mereka menghabiskan waktu bersama? Anda bisa membayangkan kelanjutannya!
Respons AI mungkin berisi kesalahan. Pelajari lebih lanjut
"Sekarang giliran Mas yang ganti baju," ucap Rea sambil memberikan jalan bagi suaminya. Galen hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis yang masih tersisa, menatap istrinya yang tampak kelelahan setelah "perang air" tadi.
Setelah selesai mengganti kemejanya yang basah dengan pakaian kering, Galen melangkah keluar dari kamar mandi. Ia mendapati Rea sudah terlelap di atas ranjangnya sendiri—kamar yang sekarang jarang ia tempati sejak insiden ketakutan pada hantu waktu itu.
Galen tersenyum tipis. Ia tahu, meskipun Rea tertidur di sini, tengah malam nanti pasti gadis itu akan terbangun dan mencari keberadaannya karena takut sendirian. Tanpa menunggu itu terjadi, Galen langsung membungkuk dan mengangkat tubuh ringan Rea ke dalam gendongannya.
"Eungh..." Rea sedikit melenguh, kepalanya secara otomatis mencari posisi nyaman di dada bidang Galen.
"Tidurlah, Bunny. Kita pindah ke kamar Mas," bisik Galen serak.
Galen membawa Rea kembali ke kamar utama—tempat yang selama beberapa minggu terakhir ini sudah menjadi "zona aman" bagi Rea. Ia merebahkan tubuh mungil itu di atas kasur king size yang luas, lalu ia sendiri ikut berbaring di sampingnya.
Galen menarik Rea ke dalam dekapannya, membiarkan Rea meringkuk seperti kelinci kecil di pelukannya. Rea yang merasakan kehangatan Galen langsung memeluk pinggang suaminya dengan erat, meski matanya masih terpejam rapat.
Keesokan paginya, Rea terbangun dan mendapati wajah Galen yang sangat dekat dengan wajahnya. Ia sempat terdiam sejenak, mengumpulkan nyawanya.
"Mas Galen..." panggil Rea lirih dengan suara serak khas bangun tidur.
Galen membuka matanya, menatap Rea dengan pandangan yang begitu dalam. "Pagi, Bunny. Sudah nyenyak tidurnya?"
Rea mengangguk pelan, lalu tiba-tiba teringat sesuatu yang sangat penting baginya. "Mas... mana adiknya? Katanya hari ini libur, mau ajak main adiknya Mas Galen lagi!" ucap Rea dengan mata berbinar polos, merujuk pada anak kucing yang kemarin mereka mandikan.
Galen tersenyum melihat antusiasme Rea. "Adiknya masih tidur di bawah, Bunny. Nanti setelah sarapan kita ajak main lagi, ya."
Rea mengangguk senang. "Oke, Mas!"