"Aku pergi, Xander. Kuharap kamu akan baik-baik saja." ~ Tania Maharani
"Pergilah! Jangan pernah menampakkan dirimu lagi di hadapanku! Aku sangat membencimu! ~ Alexander Vincent Pramono
Rumah tangga harmonis yang diharapkan langgeng hingga maut memisahkan rupanya hanya angan belaka. Tania harus pergi meninggalkan suami tercinta dalam keadaan hamil.
Lantas, bagaimana kehidupan Tania setelah resmi berpisah dari Xander? Akankah Arsenio menerima Xander sebagai ayahnya setelah mengetahui pria itu akan menikah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja_90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dark Devil
"Tuan, sepertinya data perusahaan kembali diserang seseorang." Suara lembut Laura mengalihkan perhatian Jonathan dari tumpukan berkas di depannya. Ia terperanjat dari kursinya saat ini setelah mendengar perkataan sang asisten.
"Bagaimana bisa? Bukankah hacker Little B kini menjadi sekutu kita, lalu kenapa dia kembali menyerang perusahaan?" ujar Jonathan sambil menatap tajam ke arah Laura.
Kepala Laura bergerak cepat. "Bukan hacker Little B, Tuan, melainkan hacker Dark Devil. Di dunia IT, dia menjadi satu-satunya hacker yang sangat ditakuti oleh seluruh perusahaan yang ada di dunia ini sebab tak segan-segan meminta imbalan cukup besar jika tidak ingin data perusahaan bocor keluar."
Kedua tangan Jonathan mengepal sempurna. "Sial!" umpatnya kasar. "Kalau sampai kali ini data perusahaan bocor lagi, bisa-bisa perusahaan mengalami kerugian yang sangat besar atau bahkan bisa saja bangkrut."
Jonathan memijat pelipisnya yang terasa nyeri. "Segera minta seluruh tim IT berkumpul di ruang meeting. Setelah itu kamu cari tahu nomor telepon Arsenio, minta bocah kecil itu datang ke sini. Kita butuh bantuannya untuk segera memasang antivirus agar terhindar dari serangan Dark Devil."
"Baik, Tuan!"
Jonathan menarik napas panjang dan mengembuskan secara perlahan. Sudah lama ia tidak terjun langsung mengurusi perusahaan, tapi di saat dirinya mengambil alih tongkat estafel yang pernah diberikan kepada Xander, ujian kembali datang menghadang dan itu membuat tensi darahnya semakin tinggi.
"Bagaimana, Dil, apa yang diinginkan oleh Dark Devil?" tanya Jonathan setelah ia masuk ke dalam ruang meeting. Di dalam sana seluruh tim IT telah berkumpul, duduk manis di hadapan layar monitor masing-masing.
"Dark Devil meminta imbalan sebesar 2 Milyar dolar, Tuan," jawab Fadil.
"Gila! Bagaimana bisa dia meminta imbalan sebesar itu?" pekik Jonathan. Makin peninglah kepala mantan mertua Tania mendengar jawaban Fadil.
Farhan, saudara kembar Fadil ikut menimpali. "Tuan, biasanya Dark Devil akan menyerang sistem hingga lumpuh sampai kita tidak bisa masuk ke boot-nya. Setelah itu mereka akan mengunci, kemudian mem-back up-nya sebanyak mungkin sebelum akhirnya menghapus data di data base perusahaan."
"Belajar dari pengalaman beberapa lalu, meskipun menggenakan pertahanan berlapis, rasanya mustahil jika kita bisa menghalau Dark Devil. Jalan satu-satunya hanya meminta Little B segera memasang antivirus yang dia janjikan kepada kita, Tuan. Saya yakin, antivirus itu lebih ampuh dibanding dengan antivirus yang pernah kita beli di pasaran," sambung Farhan. Kali ini pria muda yang dipercaya menjadi ketua tim tak sesumbar kemari. Ketidakmampuannya menghentikan amukan virus I hate you, Dad, membuat dia tersadar bahwa di atas langit masih ada langit.
"Laura, apa kamu sudah dapat menemukan nomor telepon Little B?" tanya Jonathan kepada sang sekretaris.
Laura menelan saliva susah payah, mencoba membasahi tenggorokan yang terasa kering secara tiba-tiba. Telapak tangan wanita itu saling meremas satu sama lain. "Maaf, Tuan, saya tak menemukan nomor telepon Hacker Littel B. Tampaknya dia sengaja tak meninggalkan jejak apa pun karena tidak ingin diketahui keberadaannya di mana saat ini."
Lemas sudah tubuh Jonathan. Pria jangkung bermata biru terduduk lemas di kursi khusus bagi sang CEO. "Bagaimana meminta bantuan bocah itu jika seandainya kita tak mempunyai nomor teleponnya."
***
"Mbak Surti, aku mau ke perusahaan Kakek Jonathan. Seperti biasa, jangan bilang Mama kalau aku tidak langsung pulang ke apartemen."
Ingin rasanya Surti melarang Arsenio, dan meminta bocah kecil berusia enam tahun agar segera pulang ke apartemen. Ia telah banyak berbohong pada Tania, dan takut kalau sampai rahasia yang disimpan selama ini tercium oleh sang majikan. Namun, setiap kali melihat bola mata hazel indah nan jernih serta wajah imut bocah kecil itu membuat ia luluh dan terpaksa menuruti permintaan Arsenio.
"Baik, Den Arsen. Tapi ingat, jangan terlalu lama! Mbak tahut kalau sampai ketahuan Ibu."
Ibu jari Arsenio terangkat keatas. "Siip!"
Hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga puluh menit, akhirnya Arsenio tiba di gedung pencakar langit milik sang kakek. Berjalan santai memasuki gedung megah layaknya sebuah hotel bintang lima.
"Tante, aku mau ketemu Kakek Jonathan," kata Arsenio pada salah satu petugas resepsionis di depan sana. Ia menunjukan kartu akses yang diberikan Jonathan agar sewaktu-waktu ingin menemuinya, bocah kecil itu bisa langsung masuk tanpa berdebat dengan petugas resepsionis.
Tinggi badan Arsenio yang hanya sebatas setengah meja, membuat salah satu dari mereka harus menundukan kepala. Kedua alis wanita itu mengerut. Wajah Arsenio tidaklah asing bagi wanita berseragam batik sebab mereka pernah terlibat perdebatan beberapa waktu lalu.
Bola mata wanita itu melebar saat kepingan kejadian beberapa waktu lalu kembali hadir dalam benaknya. Bibir hendak berucap, namun saat netranya melihat benda persegi bertuliskan VIP dengan logo perusahaan V Pramono, membuat suaranya tercekat detik itu juga.
Kartu akses itu merupakan benda begitu penting di perusahaan, tak sembarangan orang mempunyainya. Maka wanita itu tak dapat menghalangi Arsenio bertemu Jonathan. "Adek kecil bisa langsung masuk lewat lift sebelah sana. Untuk lantai dan ruangannya, Adek kecil pasti masih ingat, 'kan?"
Arsenio mengangguk cepat. "Tentu saja! Baiklah, kalau begitu aku masuk sekarang. Terima kasih, Tante cantik."
Arsenio berjalan ditemani Surti menuju ruangan CEO. Senandung lirih terdengar mengiringi langkah si bocah genius.
"Loh, Paman 'kan asistennya Kakek Jonathan. Sedang apa Paman di sini?" tegur Arsenio ketika tanpa sengaja melihat asisten Xander yang kini menjabat sebagai asisten Jonathan sedang berlari kecil menyusuri lorong perkantoran.
Asisten pribadi Xander menghentikan langkah, lalu membalikan badan dan mendapati bocah kecil yang sedari tadi membuatnya kelimpungan setengah mati. "Bocah kecil, ikut Paman sekarang! Perusahaan sedang diserang hacker Dark Devil. Ia sudah mulai menyerang sistem V Pramono dengan brutal."
Merasa perusahaan milik sang kakek terancam bangkrut, hatinya tergerak untuk membantu Jonathan. "Antarkan aku menemui Kakek, Paman. Aku akan membantu kalian membasmi hacker itu."
Asisten Xander menunjukan arah di mana Jonathan serta seluruh tim IT berada saat ini. Meskipun ia amat membenci Xander karena perbuatan lelaki itu di masa lalu, tapi bocah kecil berusia enam tahun tak bisa membiarkan Jonathan mengalami kesusahan. Pria berdarah Amerika bersikap baik kepadanya dan naluri anak itu mengatakan jika sang kakek bukanlah orang jahat.
Tangan sang asisten terulur ke depan, memutar handle pintu dan mempersilakan Arsenio masuk ke dalam ruangan. "Kakek?" panggil Arsenio sembari berhambur mendekati Jonathan.
Suara imut nan menggemaskan membuat perhatian semua orang di ruangan itu teralihkan dari layar monitor di hadapan mereka. Pun begitu dengan Jonathan. Tangannya yang sedari tadi memijat pelipis berhenti begitu saja kala mendengar suara anak kecil.
"Arsenio?" ucap Jonathan dengan wajah sumringah.
.
.
.
Halo semua, sambil nunggu update-an karya ini, yuk mampir dulu ke karya punya teman author. Untuk judul dan nama pena ada di bawah sini. 👇