NovelToon NovelToon
Diam-diam Hamil Anak Mantan

Diam-diam Hamil Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Mantan / Romansa / Cintapertama
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.

Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.

Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.

Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

"Sonya, aku sudah memikirkan bagaimana kalau kita kembali bersama?" Suara Yudha terdengar lembut namun tegas, memecah keheningan di dalam mobil.

Sonya menoleh cepat, tatapannya langsung bertemu mata Yudha. Ia mencari kesungguhan di sana, mencoba memahami maksud di balik pertanyaan itu. Rasanya terlalu mendadak. Baru kemarin Yudha bersikap dingin, dan sekarang... ini?

"Yudha, apa kamu salah minum obat?" tanyanya, mencoba menyamarkan kebingungannya dengan nada bercanda.

Yudha tersenyum kecil, sebuah senyum yang jarang sekali muncul di wajahnya. "Kenapa kamu mencurigaiku? Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau aku masih menginginkan kamu?"

Sonya terdiam, dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang berbeda dari Yudha hari ini. Suaranya, tatapannya, semuanya terasa lebih hangat, lebih... manusiawi. Namun, justru itulah yang membuatnya gelisah.

"Aku nggak mau memaksamu, Sonya," lanjut Yudha dengan nada serius. "Kalau kamu butuh waktu, aku bisa menunggu."

Sonya menunduk, menggigit bibir bawahnya. Rasanya seperti sedang bermimpi. Untuk memastikan, ia mencubit lengannya sendiri. Rasa nyeri yang muncul membuatnya sadar bahwa ini nyata.

Yudha melihat gerakan kecil itu dan tertawa pelan. Tangannya terulur, mengusap lembut lengan Sonya di tempat ia mencubit dirinya. "Kamu nggak berubah, ya? Masih suka melakukan hal-hal aneh seperti ini."

Sonya mengerjap, menatap Yudha dengan ragu. "A-aku cuma... nggak nyangka. Kemarin kamu masih dingin, dan sekarang tiba-tiba..." Kalimatnya menggantung di udara.

Yudha menoleh ke Bayu, yang sedang fokus menyetir. "Bayu, dengar, kan? Dia nggak percaya kalau aku serius."

Bayu, tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, menjawab santai, "Sonya, mungkin Yudha udah sadar sama perasaannya. Itu sebabnya dia ingin kembali sama kamu."

Sonya mengalihkan pandangan ke luar jendela, mencoba menenangkan dirinya. Tapi bayangan wajah Serly tiba-tiba muncul di benaknya. Ia tahu ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.

"Yudha," akhirnya Sonya angkat bicara, suaranya nyaris berbisik. "Bukannya kamu dan Serly akan segera bertunangan?"

Ucapan itu membuat keheningan yang aneh menyelimuti mobil. Yudha tersenyum, tapi senyumnya berbeda. Ada sinisme di sana, seperti luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.

"Kenapa baru sekarang kamu memikirkan itu, Sonya?" tanyanya, suaranya merendah namun tajam. "Waktu kamu terus menggodaku, apa kamu nggak sadar situasi ini?"

Sonya tertegun, dadanya serasa dihantam palu. Kata-kata Yudha menyakitinya, bukan karena ia tidak tahu, tetapi karena ia mengabaikannya. Selama ini ia hanya memikirkan caranya untuk kembali kepada Yudha tanpa peduli pada Serly.

Namun, ia tak bisa menyerah sekarang. Bukan karena dirinya, tetapi karena Sasa. Ini semua demi putrinya.

Sonya menarik napas panjang, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya. Ia harus kuat, meskipun di dalam dirinya rasa bersalah mulai merayap. "Baiklah," kata Sonya pada akhirnya, suaranya terdengar lebih tegar dari yang ia rasakan. "Tapi aku ingin hubungan ini tidak dipublikasikan."

Yudha tersenyum sinis, seolah sudah memperkirakan semuanya. Tadi, sebelum Yudha menghampiri Sonya di halte, ia sudah membicarakan semua rencananya pada Bayu. Selain ingin mendapatkan informasi tentang anaknya, ia juga berniat memanfaatkan Sonya untuk mengobati penyakitnya. Setelah semua itu tercapai, ia akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Sonya lima tahun yang lalu mencampakkannya.

Yudha tersenyum, tetapi senyumnya datar, nyaris tanpa emosi. "Baiklah," ujarnya. "Aku menyetujui apa yang kamu inginkan... demi hubungan kita kembali seperti semula."

Sonya mencoba mencari ketulusan di wajah Yudha, tetapi yang ia temukan hanyalah kekosongan. Namun, ia tak punya pilihan lain. Sasa adalah prioritasku sekarang, pikirnya. Jika ini satu-satunya cara, ia akan melakukannya.

Di dalam mobil yang melaju perlahan, keheningan terasa begitu berat. Dua jiwa duduk bersama, saling terhubung oleh masa lalu, tapi kini berjalan di jalan yang berbeda, dengan niat dan tujuan yang saling bertentangan. Jalanan yang mulai padat menandai mereka hampir tiba di gedung perusahaan Yandex Corp.

"Aku turun di sini saja," suara Sonya memecah keheningan, lembut tapi tegas.

Yudha mengerutkan kening, menoleh padanya. "Kenapa di sini? Kita hampir sampai."

Sonya menghela napas kecil sebelum menjawab. "Kita kan sudah sepakat kalau hubungan ini dirahasiakan." Ia menundukkan pandangan, menyembunyikan rasa tak nyaman yang berusaha ia tekan. "Aku nggak mau bikin masalah lagi. Namaku sudah cukup buruk waktu kamu pertama kali memilih aku. Kalau orang-orang tahu aku satu mobil denganmu sekarang, mereka pasti berpikir aku sengaja mendekati bos untuk naik jabatan."

Mobil berhenti di tepi jalan. Yudha tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Sonya yang sibuk mengatur tasnya, bersiap turun. Tapi sebelum pintu benar-benar terbuka, Sonya menoleh lagi. Ada ragu di matanya. "Mau aku masakin apa untuk makan siang nanti?"

Yudha menghela napas, sedikit tersenyum samar. "Apa saja. Kamu paling tahu makanan apa yang aku suka."

"Oke," jawab Sonya singkat, sebelum akhirnya keluar dari mobil. Pintu tertutup pelan, dan langkahnya menjauh tanpa menoleh ke belakang.

Bayu, yang sejak tadi diam di kursi pengemudi, mulai menjalankan mobil menuju parkiran perusahaan. Keheningan sesaat terisi dengan deru mesin, sebelum ia akhirnya berbicara. "Apa kamu yakin dengan semua ini? Lihat dia, Yud. Dia seperti benar-benar menaruh harapan besar padamu."

Yudha menghela napas pendek, matanya lurus menatap jalan di depannya. "Bukankah semakin besar harapannya, semakin mudah bagiku untuk menghancurkannya?" Suaranya dingin, nyaris tanpa emosi.

Bayu melirik Yudha sejenak, lalu kembali fokus ke kemudi. "Aku cuma mau mengingatkan kamu, Yud. Jangan sampai kamu terjebak dalam permainanmu sendiri. Orang yang bermain dengan api pasti akan ikut terbakar."

Yudha tersenyum tipis, tapi tidak ada kehangatan di sana. "Kamu tenang saja. Aku tahu apa yang kulakukan."

Bayu mendesah pelan, lalu berkata lagi, kali ini dengan nada lebih serius. "Ingat juga Serly. Jangan sampai ini jadi berantakan."

Nama itu menggantung di udara seperti beban yang berat, memenuhi ruang kecil di dalam mobil. Yudha hanya mengangguk kecil, tak berkata apa-apa. Wajahnya kembali dingin, seperti menutup rapat apapun yang mungkin bergejolak di dalam hatinya. Ketika mobil akhirnya terparkir di basement gedung, ia segera membuka pintu dan melangkah keluar, tubuhnya tegap, seolah meninggalkan setiap keraguan di balik punggungnya.

"Kita bicara bisnis," ucapnya singkat, nada suaranya berubah menjadi tegas, tajam. Ia kini sepenuhnya masuk ke dalam peran seorang pemimpin yang tak tergoyahkan.

Bayu mengikuti dari belakang, membawa sebuah map di tangannya. Saat mereka memasuki lift, Bayu mulai melaporkan, "Pak Reza sudah menginvestasikan lebih dari lima puluh persen dalam proyek pembuatan satu set perhiasan permata biru. Tapi desainnya bermasalah pada hak cipta. Ada potensi tuntutan hukum jika kita lanjutkan."

Yudha terdiam sejenak, memandang pantulan wajahnya di pintu lift yang terbuat dari logam mengilap. Tatapannya tajam, seperti mencoba mencari sesuatu di balik refleksi itu, mungkin sisa hati nuraninya, atau mungkin hanya memastikan tidak ada kelemahan yang terlihat. Ketika pintu lift terbuka, senyum sinis perlahan muncul di wajahnya.

"Bagus," kata Yudha, langkahnya mantap keluar dari lift. "Percepat semuanya. Segera buat acara peluncuran besar-besaran. Buat proyek ini jadi perhatian semua orang hingga pencipta desain itu tak punya pilihan selain menggugat."

Bayu menghentikan langkahnya sejenak, menatap Yudha dengan keraguan. "Yud, kamu yakin? Kalau ini sampai meledak, dampaknya bisa besar, bahkan untuk kita sendiri."

Yudha menoleh, tatapannya dingin dan tajam. "Justru itu tujuannya, Bayu. Aku ingin semua mata tertuju pada Reza saat semuanya runtuh di depan wajahnya. Dia pikir dia bisa bermain bersih, tapi aku akan tunjukkan caranya bermain kotor."

Senyumnya semakin lebar, tapi kali ini senyum itu tidak membawa kehangatan, melainkan bayangan kehancuran. Bayu hanya bisa menghela napas, melanjutkan langkahnya tanpa berkata apa-apa lagi. Di dalam hatinya, ia tahu Yudha telah mengambil keputusan, dan tidak ada yang bisa mengubahnya.

Sementara itu, Yudha terus berjalan menuju ruang kerjanya, pikirannya dipenuhi oleh rencana yang telah ia susun. Setiap langkahnya adalah bagian dari permainan yang ia ciptakan sendiri, dan ia bertekad untuk menang, apapun harga yang harus ia bayar. "Sonya aku ingin setelah kamu hancur, tidak ada lagi tempatmu berlindung."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!