Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema
Langit ikut menangis, merasakan kesedihan diantara keduanya. Bagas dan Nadia.
Nadia, masih di sana. Di kamar, dengan posisi pintu terkunci dari luar.
Dia tak lagi menangis. Bukan karena sedih, tapi karena lelah ataupun air matanya yang sudah habis.
Satu pesan terakhir dari Bagas, cukup menyiksa batinnya.
Bukan batin, melainkan jiwa dan raganya. Bahkan, rasanya Nadia ingin mengakhiri hidupnya.
Beruntung, logikanya masih berjalan. Sehingga pikiran itu dengan cepat berlalu.
"Kita nikah lari," Nadia mengirim pesan beberapa saat yang lalu.
"Itu bukan sebuah cara untuk menyelesaikan masalah. Kamu anak satu-satunya, dan rumah orang tuamu, akan jadi tempat terindah, untuk kamu pulang," balas Bagas cepat.
"Kamu mau meninggalkan aku? Kamu udah gak mencintai ku lagi?"
"Kamu tahu jawabannya dik,"
Nadia memilih tak membalasnya lagi. Namun beberapa saat kemudian, ponselnya kembali bergetar. Tanda sebuah pesan kembali masuk.
"Melihat luka di mata kedua orang tuaku, cukup untuk membuat ku menyerah dik. Bukan karena tak cinta, melainkan, aku harus menjaga perasaan mereka, agar tidak selalu dihina,"
✨✨✨
Keesokan harinya, ketika penjual ikan tiba. Hesti langsung mendekatinya.
Tujuan utamanya memang bukan untuk membeli ikan. Melainkan untuk membawa gosip terhangat dan terbaru.
"Kenapa gak di restui aja si bu Hesti, lagipula Bagas bukan orang miskin loh," ungkap seorang ibu-ibu yang sedang memilah mencari ikan tuna, segar.
"Miskin atau pun kaya, dia itu tetap, petani. Dan aku gak mau itu. Karena sudah pasti, anak ku akan diseret, untuk ikut ke sawah bersamanya," ujar Hesti cetus, dia bahkan sempat memutar mata malas. Jengah pada perempuan yang tidak berdiri di pihaknya.
"Lagipula anakku cantik, masa bersanding dengan Bagas, yang bahkan warna kulit aja, jauh berbeda dengan anakku," hina Hesti.
Beberapa orang lain hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, enggan menanggapi ocehan Hesti.
Mau jadi penjilat, mereka juga tidak mendapatkan manfaatnya. Dan jalan satu-satunya yang aman ialah, dengan diam tanpa mengikuti alur yang sedang di susun oleh Hesti.
Ternyata, tak hanya Hesti yang menceritakan hal itu pada orang kampung. Anwar juga sama.
Di warung kopi, sembari sarapan nasi uduk. Anwar kembali menceritakan jika keluarga Yusuf kembali datang. Untuk meminta Nadia anaknya.
Beberapa orang memang menyuruhnya untuk merestui saja. Toh, semua itu demi kebahagiaan Nadia.
"Bahagia anakku, hanya aku yang tahu. Aku begini juga karena gak mau anakku menderita. Coba lihat saja Bagas. Dia setiap hari menghabiskan waktu di sawah sana. Bahkan, bukan saat musim turun sawah saja. Kalo gak bajak sawah, ya cari rumput untuk lembu-lembunya. Dan lihatlah, betapa hitam kulitnya itu," kekeh Anwar, masih pada pendirian yang sama.
"Tapi Nadia pengangguran kan? Bukan seorang bidan, yang harus di bangga-banggakan," ucap lelaki yang masih kerabat dekat, dari Yusuf.
Anwar mendelik. Tak terima anaknya di hina. "Dia itu gak kerja bukan karena gak ada kerja ya. Tapi aku dan istriku gak tega. Gak tega dia harus bakti, dan gajinya gak sesuai dengan keringat yang di keluarkannya."
Kerabat Yusuf memilih diam. Tak ingin lagi memperpanjang masalah. Tapi, setidaknya, dia sudah mengeluarkan sedikit bantahannya yang menganjal di hatinya.
"Walaupun anakku gak kerja. Setidaknya dia punya titel di belakang namanya. Sekolahnya tinggi. Gak kayak keponakanmu, yang hanya tamat SMA," lanjut Anwar.
Jengah, kerabat Yusuf memilih membayar minumanya. Dan bergegas keluar dari warung.
✨✨✨
Di hari yang sama, di tempat yang berbeda.
Bagas sedang duduk di bawah rumah panggung bersama kedua orang tuanya.
Ponselnya memperlihatkan, ke tiga kakak-kakaknya yang berada jauh disana.
Iya, mereka sedang melakukan video call.
"Lupakan aja Nadia. Nanti, biar mbak Sulis carikan pengantinya," ujar Sulis anak pertama Yusuf dan Hayati.
"Susah mbak, banyak janji yang aku ucapkan padanya. Banyak harapan yang telah kami rajut bersama. Banyak keinginan yang ingin kami capai berdua," sahut Bagas lirih. Bahkan suaranya bergetar.
"Iya kami paham. Tapi, bukankah, kamu sudah berusaha? Tiga kali loh. Kamu udah melamarnya tiga kali. Dan ketiganya di tolak dengan alasan, kamu seorang petani kan?" kakak kedua mulai memberi nasehat.
"Susah mbak, kak. Nasehatin orang patah hati sama orrang jatuh cinta, sama aja kita bicara sama orang ketiga," sambung kakak ketiga dari Bagas.
Bagas diam. Namun, kembali melukai hati kedua orang tuanya, tentu saja dia gak akan tega.
Mungkin, ketiga kakaknya benar. Jika ia harus melupakan Nadia.
Tapi, itu sangat sulit. Bahkan, Bagas merasa jika ia tak akan sanggup.
Beberapa saat, setelah panggilan video call dari kakaknya berakhir. Bagas, memilih masuk ke kamar. Dia kembali merenung, meratapi nasib tragis yang menimpa kisah cintanya.
"Nak, bolehkan ibu masuk?" suara lirih terdengar di balik pintu sana.
Bagas, bangkit. Membuka pintu, mempersilakan ibunya masuk.
Tanpa aba-aba, Hayati memeluk ibunya. Dan itu, berhasil membuat Bagas terisak.
"Menangis lah, nak ... Menangis lah. Puaskan hatimu," Hayati, menepuk-nepuk punggung Bagas.
Terhitung, lebih setengah jam, Bagas dan Hayati bertahan di kamar.
"Jadi, bagaimana? Apa perasaanmu lebih baik?" tanya Hayati, membawa tangan Bagas, ke pangkuannya.
"Aku akan bicara sama Nadia bu, berikan aku waktu seminggu," pinta Bagas penuh keyakinan.
Hayati mengangguk, memberi waktu seperti permintaan anaknya.
✨✨✨
Dan disini lah, keduanya berada.
Bagas dan Nadia, berada di balai sawah. Tempat janjian paling tenang yang di tambah semilir angin.
Bagas, menatap wajah Nadia lama. Menikmatinya, untuk terakhir kalinya.
Mungkin.
Angin bertiup, membiarkan rambut hitam Nadia menutupi wajahnya.
"Aku gak bisa, gak bisa menjalaninya tanpa mu, bang ,,," Nadia membuka suara.
Bagas menghela napas, seraya menatap sawah yang mulai menguning. Pertanda tak lama lagi, akan tiba masa panen.
"Hubungan kita, gak ada ujungnya dik. Aku gak bisa menjadi, suami yang baik untukmu. Setidaknya, itulah, yang orang tuamu katakan," ujar Bagas setelah beberapa saat terdiam.
"Jadi, kamu mau melepaskan ku, bang? Kamu melupakan cinta yang telah lama kita rajut?" Nadia, menarik kerah baju yang di pakai Bagas.
Bagas terdiam. Tangis Nadia, membuat Bagas melemah.
"Aku ingin kita bersama. Apapun caranya!" seru Nadia, mendekatkan wajahnya ke Bagas.
Nadia, bsrencana mencium Bagas. Namun, lelaki itu menghindar.
"Lakukan, aku serahkan tubuhku untukmu. Lakukan! Karena dengan begini takkan ada lelaki lain yang mau dengan ku," ujar Nadia, menatap dalam manik mata Bagas.
"Sadar lah, Nadia. Selain itu dosa. Itu juga akan merugikan mu," bentak Bagas, dengan suara bergetar. Tak lupa dia menguncang tubuh Nadia.
"Mungkin, itu dosa terindah yang takkan pernah aku sesali. Jika itu bersamamu," lirih Nadia, dengan air mata yang sudah mengalir sejak tadi.
"Maaf ..." lirih Bagas, melepaskan tangannya dari tubuh Nadia.
kebiasaan ih