NovelToon NovelToon
DI SUDUT HATI AMARA

DI SUDUT HATI AMARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:126
Nilai: 5
Nama Author: Pena Arafa

Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

selalu memberi kekuatan

Sementara itu di kediaman bapak Rusdianto, seorang Amara sedang termenung sendirian di kamarnya. Dia teringat pertemuan tadi siang dengan keluarga Adit yang menegangkan. Di sana dia bisa melihat kalau mamanya Adit kurang suka padanya. Ia merada begitu di rendahkan. Awalnya dia kira semua akan baik baik saja karena mamanya Adit juga sepertinya baik, tapi ketika hanya ada mereka berdua, sikapnya berubah total. Dia begitu merendahkan mengatakan bahwa Amara tidak pantas untuk Adit. Memangnya dia sehina itu?emangnya Adit sempurna itu ? Memangnya si Maria itu begitu sempurna? Ah.. jadi penasaran dengan yang namanya Maria ini.... Waktu dulu dia ketemu, dia nggak malu sama sekali menggandeng tanga Adit dengan manjanya di depan orang banyak, padahal Adit jelas terlihat kurang suka. Mungkin benar yang di katakan papanya Adit kalau cewek ini memang terlalu manja. Tapi, Adit sendiri bagaimana ya? Jangan jangan Dia juga lama lama suka ada yang manja sama dia... Duh jadi tak tenang rasanya. Ada tantangan untuk membuktikan diri, tapi juga ada ketakutan kalau nantinya dia akan kehilangan Adit. Semua jadi membuatku bimbang.

Tiba tiba, pintu kamar di ketuk dari luar membuat Amara tersadar dari lamunan nya. Amara pun gegas membukakan pintu. Ternyata ayahnya telah bersifat tegah di balik pintu. Menatap putri sulungnya dengan penuh pertanyaan di kepalanya.

" Ayah boleh masuk nak? ". pinta sang ayah hati hati.

" Boleh dong yah... Mari masuk! ". Amara tersenyum tipis dan mempersilahkan ayahnya untuk duduk. .

" Ayo yah.. duduk sini ".

Amara duduk di tepi ranjang dan di ikuti oleh sang ayah.

" Kamu kenapa nak? kok tidak biasanya di kamar aja, nggak keluar keluar? Ada sesuatu kah? ". Pak Rusdi terlihat khawatir.

" Tidak apa apa yah. Amara cuma lagi pengen di kamar aja". Meskipun mencoba tetap tersenyum, tapi pak Rusdi tetap bisa melihat ada sesuatu di mata sang anak.

" Beneran? nggak mau cerita sama ayah? ayah siap dengerin lho... ".

Amara hanya diam. Menimbang rasa yang ada di hatinya. Dia memang butuh pendengar untuk masalah yang sedang dia hadapi. Apalagi biasanya ayah selalu punya jalan keluar yang di butuhkan.

" Apa ada hubungannya dengan pertemuan mu dan keluarga Adit siang tadi".

Amara hanya bisa mengangguk kan kepalanya. Meskipun samar tapi tetap terlihat jelas di mata ayahnya.

" Apa mereka menyakitimu?atau menghina mu? ".

" Tidak yah. Tapi..... "

" Katakan sejujurnya, ayah tidak rela kalau ada yang menyakiti anak ayah\*.

Ayah memang selalau berada di garda terdepan untuk anak anaknya. Dia tak kan membiarkan siapapun menyakiti anaknya. Makanya dulu waktu kejadian sama Arsaka Amara tak bercerita apapun pada ayahnya. Sampai sekarang tak ada seorangpun yang tahu. Tapi tentang Adit memang Amara menceritakan semua. Dia hanya ingin berbagi rasa dengan keluarganya. Karena mungkin dia tak sanggup jika memendam semuanya sendiri lagi. Yang pasti dia sangat membutuhkan dukungan dari orang lain untuk bisa bangkit.

"Awalnya semua berjalan lancar yah. Orang tua Adit seperti merespon baik sama kedatangan Amara. Apa lagi papanya sepertinya baik dan ramah sama Amara, berbeda dengan ibunya yang agak judes. Aku pikir itu nggak masalah, tapi saat aku sedang berdua saja dengan mamanya, dia bilang kalau aku nggak pantas buat Adit, nggak selevel kayanya. ".

" Dia bilang begitu? Memangnya yang pantas buat Adit yang seperti apa? Dia juga tidak sebaik itu kok".

" Dia begitu membanggakan wanita yang sudah dia siapkan untuk di jodohkan sama Adit. Katanya dia modis, cantik, dan yang penting dia anak orang kaya. Sama seperti Adit, jadi mereka cocok".

" Dasar orang sombong.... " Ayah terlihat begitu geram.

" Memang Aku nggak cantik ya yah? memang aku nggak modis si.... tapi aku suka dan nyaman dengan penampilan seperti ini".

" Kamu cantik tentu. Biar sederhana tapi tetap anggun. Tapi di mata orang yang hanya memandang harta dan tahta, mereka hanya melihat penampilan dan isi dompet. Tidak akan mereka merasakan ketulusan. Karena mereka hanya menggunakan matanya dan tak memakai hatinya". Ayah menggenggam tanganku mencoba menenangkan. " Lalu kamu bagaimana? setelah ini apa yang mau kamu lakukan? "

Aku menatap wajah ayah, mencoba mencari kekuatan.

" Entahlah yah... Mamanya Adit bilang kalau aku mau sama Adit, aku harus bisa buktikan diri kalau aku pantas buat dia. Tapi aku bingung harus bagaimana".

Ayah menghembuskan nafasnya berat dan tersenyum padaku.

" Apa yang ingin di buktikan? Anak ayah ini sudah hebat. Apapun yang kamu lakukan mungkin tak kan membuat dia merasa kalau kamu pantas. Jadi menurut ayah, biarlah dia dengan pemikirannya. Sementara kamu tetaplah jadi diri kamu. Hanya saja, tunjukan karya terbaikmu di setiap kesempatan yana ada. Buktikan kalau yang di rendahkan nya itu bisa membuatmu sukses".

Aku mencerna setiap kata kata ayah. Menyimpannya dalam memori. Menunjukan kalau aku juga bisa sukses. Ya... Itulah yang akan ku lakukan. Dia bilang aku tak pantas karena bukan dari golongan orang berada. Jadi aku akan menjadikan diriku pantas dengan sukses dulu. Biarlah nanti dia akan bagaimana. Entah aku bisa sama Adit atau tidak aku akan terima. Yang pasti aku akan tunjukan kalau aku tidak serendah yang dia kira.

"Iya yah... Aku ngerti". Aku tersenyum penuh arti. " Akan ku tunjukan kalau aku tidak serendah itu. kalaupun akhirnya nanti aku akan kehilangan Adit, aku tidak masalah. Yang pasti aku akan kembalikan harga diriku ".

Aku benar benar merasa kembali bersemangat setelah aku memeluk ayahku. Seakan ada energi yang di salurkannya melalui pelukan itu.

" Makasih banget yah.... Ayah memang terbaik"

" Tentu saja... Apa sih yang tak bisa ayah lakukan untuk mu? Lu itu harus selalu bahagia, Agar rumah ini selalu hidup ".

" Iya yah... ".

" Ya sudah.,. kita keluar yuk... gabung sama ibu sama Lala. Atau mau di sini saja? merenungi nasib? ".

" ihhh ayah... Tak ada yang perlu di renungkan lagi. Aku sudah siap berperang".

" Hahaha.. Ya sudah yuk..! ".

kami pun keluar kamar menuju ruang tengah di mana ibu dan Lala berada. Mereka sedang mengobrol dengan sesekali mengomentari acara televisi yang mereka tonton Saking asyiknya mereka tak menyadari kedatangan kami.

" Asyik bener sampai nggak noleh aku panggil panggil".

Aku menyenggol tangan Lala yang tak mendengarkan panggilan ku.

" Idih kakak apaan sih.. Yang dari tadi asyik merenung itu siapa? Sampai lupa makan"

Dia malah menyindir ku.

" Hehehe... kamu kok bilang gitu sih... ".

" Emang bener... kakak nggak makan kan tadi? tapi sekarang kayaknya udah nggak pusing mikirin cowok lagi deh. Udah kelihatan agak tenang".

" Terserah deh mau ngomong apa".

Ayah hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kami. Sementara ibu, terlihat lega juga walaupun sepertinya dia penasaran apa yang terjadi.

" Keluarga Adit gimana kak? baik nggak? ramah nggak? ".

" Kepo... udah ah nggak usah bahas nanti mood ku ilang lagi".

" Berarti tadi kesannya kurang baik ini pasti. Kakak di apain? ".

" Nggak di apa apain kok. Udah deh ah... ".

Meskipun masih penasaran tapi Lala memilih untuk diam agar tak mengusik hati kakaknya yang sudah kembali ceria.

" Eh iya dek... kamu katanya mau gaun? Mau yang kaya apa? ntar aku bikinin"

" kakak udah nggak sibuk nih? ".

" Ya kalau sibuk ya pasti sibuk terus, kan masih kerja sama orang. Tapi ntar kakak buatin dulu mumpung kerjaan juga lagi nggak banyak banyak banget".

" Ok, aku mau yang sederhana aja tapi tetap canti. Nggak ribet tapi tetep elegan. Yang pasti nggak terlalu menor buat acara ultah doang".

" Siap.,. ntar kakak tunjukan design nya biar kamu punya pandangan".

" Ok.. kakak ku yang baik.. pasti kakak bisa buat seperti yang ku mau. Seperti biasanya".

" Buat kamu apa sih yang nggak ".

Kami tertawa bersama memecah kesunyian malam. Memang bersama keluarga selalu membuatku lebih hidup. Ternyata memang di sini lah hatiku merasa damai. Tak peduli apa pun masalahnya, mereka selalu ada untuk menemaniku. Selalu ada di sampingku. Semoga Allah selalu menganugerahkan kebahagiaan dan kesehatan kepada keluarga ini. Semoga kami tetap selalu tertawa dan menangis bersama. Sampai kapan pun.

1
Jun
ceritanya bagus, tapi tanda bacanya di revisi lagi kak masih berantakan. semangat ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!