Kata pepatah 'mulutmu adalah harimaumu' mungkin itu yang terjadi pada sebuah keluarga yang merasa dirinya tinggi maka bisa merendahkan orang lain.
Hal itu terjadi pada Yusuf dan keluarganya. Kesombongan mereka membuat mereka hidup tak tenang karena ada yang sakit hati pada mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irawan Hadi Mm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 28
Wati menoleh, mendapati pria yang ia kenal berdiri di belakangnya. Membuat hatinya yang muram bergantikan dengan senyum merekah.
“Abang dateng lagi? Abang dari tadi kemana aja? Kenapa tadi maen pergi gak kasih tau Wati?” cecar Wati, bangkit dari posisinya yang semula bersimpuh di depan Sifa.
Grap.
Wati menyambut tangan Samsul yang terulur di hadapannya. Sosok Samsul itu membantu wanitanya beranjak.
“Ko tangan abang dingin bangat?” beo Wati lagi tanpa saringan.
Wanita muda itu langsung melepaskan tangan Samsul, menatap tangan Samsul yang pucat, seolah tanpa dialiri darah sedikit pun.
“Tangan abang emang dingin, neng!” beo sosok Samsul dengan datar.
“Masa si? Kok tangan Wati anget ya!” seru Wati, dengan hidung yang kembang kempis.
Deg.
Wati menelan salivanya sulit, berdiri dengan jarak dekat dengan Samsul. Membuat indra penciumannya seakan tajam. Wanita muda itu menghirup wangi kembang tujuh rupa.
Dari sosok pria yang ada di hadapannya yang menyerupai Samsul. Persis seperti makam, yang baru di taburi kembang lalu disiram dengan bunga mawar.
‘Waduh, aya kaga salah nih! Bang Samsul ngapa wangi kuburan baru ya? Mana tumben amat tatapannya kosong gitu! Ada apaan ya ini! Apa iya ini bukan bang Samsul?’ pikir Wati, menatap penuh selidik sosok yang ia kenal sebagai Samsul.
Wati menggeleng, mati matian menyangkal apa yang sekilas melintas di pikirannya, ‘Gak mungkin demit yang ada di depan aya kan? Masa siang bolong kaya begini demit udah berkeliaran.’
Namun sayangnya tidak dengan debaran jantung Wati yang kian berdetak kencang.
“Nyak kamu kenapa tidur di luar? Bosen tidur di kasur yang empuk? Pengen nyoba tidur beralaskan tanah merah? Beratapkan papan?” cecar sosok Samsul dengan nada dingin, menatap Sifa yang masih belum sadar.
“Ko beratapkan papan, bang?”
“Orang mati emang harus beratapkan papan atau bambu kan, Ti? Kenapa sama nyak kamu?” tanya sosok Samsul sekali lagi.
Wati mengerucutkan bibirnya kesal, “Nyak masih idup, bang! Bukan orang mati! Nyak pingsan.”
“Pingsan kenapa?”
Wati menghembuskan nafasnya kasar, pikirannya kini terfokus pada Sifa.
“Kayanya nyak ngeliat demit dah, bang! Tapi masa iya demit ada tengari bentet kaya gini! Kan ora masuk di akal bangat, bang! Nyak kecapean apa kurang tidur kali ya bang? Jadi pandangannya ngaur gitu!” cerocos Wati, dengan menjawab pertanyaan nya sendiri.
“Kamu gak percaya ada demit di siang hari sekali pun? Manusia, jin maupun setan itu cuma beda dimensi. Tapi kita hidup saling berdampingan dengan alam lain, Ti!”
“Ya pokonya Wati kaga percya ada setan siang hari kaya gini, bang! A- abang mao bantuin Wati kaga?” pinta Wati dengan ragu.
Sosok Samsul menatap wajah Wati, dengan tatapan mengintimidasi, “Apa pun itu, asal kamu yang minta. Abang lakuin, Wati!”
Wati mengenggeleng, mengucek kedua matanya dengan tangannya sampai beberapa kali, sekedar memastikan apa yang ada di pandangannya.
‘Buset dah lu, aya kaga salah liat! Ngapa itu banyak amat pocong di mata bang Samsul? Aya kaga salah liat apa mata aya yang siwer ya?’ pikir Wati.
Grap.
“Kamu mau abang ngelakuin apa buat kamu, Wati?” tanya sosok Samsul, dengan tangan mencengkam bahu Wati.
Nafas Wati yang semula normal kini kembali memburu kencang, dengan rasa takut yang kian menyebar di pikirannya, ‘Cengkraman ini persis kaya cengkraman si pocong, pocong yang ada dalam mimpi aya itu! Iya benar! Pocong yang udah tega bawa aya terbang, buat kaki aya luka. I- ini gak mungkin dia!’
“Apa kamu berpikir abang ini pocong, Wati?” tanya sosok Samsul, seakan bisa membaca pikiran Wati.
Wati terkekeh dengan gugup, mati matian menyangkal pertanyaan sosok Samsul, meski ia ingin berpikir sosok yang ada di hadapannya bukan lah pocong.
“Ahahahaha a- abang bi- biasa aja. Ma- mana mungkin a- abang po- pocong kan? Ma- masa abang gak pake kain kafan! A- abang malah kaya sama aya. Pa- pake baju!” kilah Wati dengan peluh membanjiri keningnya.
“Benar, neng gak mikir abang ini pocong?”
“Uugghhh sa- sakit, bang!”
Antara takut dan ingin menangis, tum pah dalam satu kubangan. Wati mencoba melepaskan tangan sosok Samsul dari bahunya.
Sosok Samsul yang ada di hadapan Wati, langsung menarik tangannya dari bahu wanita yang kini menatapnya takut.
“Kamu gak perlu takut sama abang, Wati! Kamu mau abang gimana?” tanya sosok Samsul datar.
Wati menelan salivanya sulit, masih dengan gugup dan nafas yang sulit ia atur.
‘Cuma ada bang Samsul, masa iya aya mau nyeret nyak buat masuk ke dalam rumah! Kapan kaga mungkin aya tega kaya gitu ke nyak! Bismilah bukan setan apa lagi pocong yang ada di gadapan aya! Ini bang Samsul!’ Wati mengepalkan tangannya erat.
“To- tolong bawa nyak ke dalam ya bang! Wa- Wati ora kuat gendong nyak ke dalam rumah!”
“Cuma itu?”
Wati mengangguk.
Grap.
Wusshhhh.
Bak kaset kusut yang dipercepat, seakan mimpi tapi nyata yang tengah diperlihatkan sosok Samsul di depan Wati.
Wati menganga gak percaya, kedua kakinya seakan gak bertulang.
Mau menyangkal, tapi Wati melihatnya sendiri. Melihat bagaimana soaok Samsul menggendong lalu membawa Sifa masuk ke dalam rumah. Lalu pria itu kembali di hadapan Wati dengan seringai di bibirnya.
Brugh.
Wati bersimpuh di tempatnya, dengan tatapan gak percaya, “A- apa i- i- ini beneran abang? Aya gak salah lihat kan?”
“Kamu kenapa Wati? Mau bilang abang kaya setan lagi?” tanya sosok Samsul, memperlihatkan wujud aslinya.
Dada Wati naik turun, dengan mata mengembun, takut yang teramat kini ia rasakan. Melihat bagaimana sepasang kaki berbalut kain putih usang, dengan menyisakan noda dari tanah merah terikat di pergelangan kaki.
“Su- sumpah, Wa- Wati gak ma- mau pe- pe- ca- ya!” gumam Wati dengan gugup, tangannya mengepal semakin erat.
“Percaya apa Wati?” tanya sosok pocong dengan nada meledek.
“Wa- Wa- Ti ta- ta- kut beeeeeeeeh!” jerit Wati, gak berani melirik lebih tinggi lagi pandangan nya. Mentok pada ke dua lutut besar yang terikat.
Jreng.
Sosok rupawan Samsul di mata Wati, kini berubah. Usai di perlihatkan sepasang kaki berbalut kain putih. Kini ia kembali di paksa melihat wajah menyeramkan, saat sosok itu dengan sengaja membungkuk. Memperlihatkan wajah seram nya pada Wati dengan tertawa senang.
“Kok takut neng? Ahahahahahaha ini abang neng!” tawa sosok pocong.
“Akkkkkkkkhhhhhhhhhhh!”
Wati menjerit sekencang kencangnya, sepasang mata merah menyala, dengan wajah hitam gak kalah menyeramkan ada di hadapannya tanpa jarak.
Brugh.
***
Bersambung…