Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Limbah Hitam di Laut Biru
Langit Muara Biru belum sepenuhnya terang ketika Arum sudah berada di atas perahu cadik milik Jaka. Di bawah kakinya, terdapat kotak kedap air berisi peralatan sensor dari Navasari yang baru saja tiba melalui kurir kapal cepat subuh tadi.
"Arus sedang tenang, Bu Arum. Ini waktu terbaik untuk melihat 'nadi hitam' mereka," bisik Jaka sambil mendayung pelan, menghindari suara mesin agar tidak memancing patroli dermaga.
Arum mengaktifkan pemindai sonar portabel. Di layar tabletnya, topografi bawah laut Muara Biru mulai terbentuk. Di antara keindahan terumbu karang yang tersisa, terlihat sebuah garis lurus yang tidak alami—sebuah pipa raksasa berdiameter dua meter yang menjulur dari daratan menuju palung laut sedalam 50 meter.
"Berhenti di sini, Jaka," perintah Arum.
Ia menurunkan sensor deteksi logam berat yang terhubung dengan kabel serat optik. Detik demi detik berlalu, grafik di layar tablet Arum melonjak drastis. Warna hijau berubah menjadi merah pekat.
"Merkuri, Timbal, dan Kadmium... kadarnya seribu kali lipat dari ambang batas normal," Arum menggeleng ngeri. "Mereka tidak hanya membuang limbah, mereka sedang meracuni seluruh rantai makanan di selat ini. Inilah alasan kenapa ikan-ikan kalian mati dan anak-anak desa mulai sering sakit kulit."
Arum segera mengambil sampel air menggunakan tabung vakum. Namun, saat ia hendak menarik kembali sensornya, sebuah cahaya lampu sorot yang sangat kuat menghantam perahu mereka dari arah dermaga.
VROOOOM!
Sebuah kapal patroli cepat bertuliskan Security Arka Coast melesat ke arah mereka, membelah ombak dengan kasar.
"Jaka, putar balik! Sekarang!" teriak Arum sambil berusaha mengamankan peralatan.
"Sudah terlambat, Bu! Mereka memotong jalur kita!" Jaka mencoba menghidupkan mesin motor perahunya, namun kapal patroli itu sudah berada dalam jarak sepuluh meter, menciptakan gelombang besar yang nyaris membalikkan cadik mereka.
Dua pria berseragam hitam dengan senjata laras panjang berdiri di haluan kapal patroli. Salah satunya adalah pria yang semalam mendatangi kantor desa.
"Pencuri kerang yang sangat gigih," ejek pria itu. "Serahkan alat-alat itu dan sampel airnya, atau kami akan melaporkan kalian atas tuduhan spionase industri dan sabotase aset strategis nasional."
Arum berdiri tegak di atas perahu yang bergoyang. Ia mengangkat tabletnya tinggi-tinggi. "Kalian bicara soal hukum? Mari kita bicara soal UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Apa yang kalian lakukan di bawah sana adalah kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Dan coba tebak? Data sensor ini baru saja terunggah ke server Satgas Pemberantasan Mafia Tambang."
Pria itu tertawa sinis. "Satgas itu diisi oleh orang-orang yang gajinya dibayar oleh perusahaan kami, Arum. Jangan naif. Di laut ini, tidak ada sinyal, tidak ada saksi, dan tidak ada hukum selain hukum kami."
Kapal patroli itu mulai mendekat untuk melakukan tabrakan sengaja. Jaka sudah bersiap melompat ke air, namun Arum tetap tenang. Ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebuah flare gun (pistol suar) yang sudah dimodifikasi.
"Kalian benar, di sini tidak ada saksi," ujar Arum. "Tapi di atas sana, ada mata yang tidak pernah tidur."
Arum menembakkan suar itu ke langit. Cahaya merah terang meluncur tinggi, memecah fajar. Namun, suar itu bukan sekadar cahaya. Begitu mencapai ketinggian tertentu, suar itu meledak dan melepaskan ribuan partikel aluminium mikro (chaff) yang dirancang khusus untuk mengganggu radar kapal-kapal besar.
Seketika, radar kapal patroli itu menjadi buta. Di saat yang sama, dari arah cakrawala, deru mesin yang lebih berat terdengar. Bukan helikopter, melainkan tiga buah drone pengawas milik Kementerian Kelautan yang kebetulan sedang berpatroli karena "laporan anonim" yang dikirim Arum melalui Baskara tiga jam lalu.
"Itu drone pemantau ilegal fishing!" teriak salah satu awak kapal patroli dengan panik.
"Mundur! Mundur sekarang!" perintah pimpinan keamanan itu. Mereka tahu, jika terekam oleh drone pemerintah dalam posisi mengintimidasi warga sipil di luar zona tambang, skandalnya akan sulit diredam.
Kapal patroli itu berbalik arah dengan terburu-buru, meninggalkan perahu Jaka yang terombang-ambing. Arum menarik napas panjang, ia melihat ke arah drone yang kini berputar di atas pipa limbah tersebut.
"Kita punya buktinya, Jaka," bisik Arum.
Kembali ke daratan, Arum tidak menunggu lama. Ia meminta seluruh warga Muara Biru berkumpul di dermaga rakyat. Ia menggelar proyektor di atas tumpukan jaring ikan.
"Ini adalah apa yang mereka lakukan pada laut kalian," Arum menunjukkan rekaman sonar dan data logam berat tersebut. "Selama ini mereka bilang ikan hilang karena musim. Itu bohong. Ikan hilang karena mereka dibunuh oleh racun ini."
Kemarahan warga memuncak. Jaka berdiri di depan. "Kita harus menutup pipa itu! Sekarang juga!"
"Jangan dengan kekerasan," Arum menenangkan mereka. "Kita akan menutupnya dengan Audit Penutupan Paksa. Pak Kades, saya butuh tanda tangan Bapak untuk surat pembekuan izin lingkungan sementara atas dasar keadaan darurat ekologis. Saya sudah menyiapkan dokumennya."
Saat Arum menyerahkan pena kepada Kades, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dari nomor rahasia Sekar.
"Hati-hati, Arum. Mereka tidak hanya mengirim preman. Mereka baru saja menyewa pengacara 'hitam' paling licin di Jakarta untuk menuntutmu balik atas pencemaran nama baik sebesar 1 triliun rupiah. Mereka akan memiskinkanmu agar kau berhenti."
Arum tersenyum tipis. Ia menoleh ke arah Baskara melalui panggilan video. "Mas, siapkan tim audit forensik kita. Kita akan melakukan serangan balik. Jika mereka menuntut 1 triliun, kita akan buktikan kerugian ekologi Muara Biru bernilai 10 triliun. Mari kita lihat siapa yang akan bangkrut duluan."
Suasana di dermaga Muara Biru berubah menjadi pusat komando dadakan. Di tengah bau amis ikan dan deru ombak, Arum membentangkan peta batimetri yang baru saja ia cetak dari hasil pindaian sonarnya. Warga berkerumun, wajah-wajah yang biasanya pasrah kini menyala oleh amarah yang terukur.
"Kita tidak akan menyerang dermaga mereka dengan batu atau api," Arum memulai, suaranya tenang namun memiliki otoritas yang mengunci perhatian semua orang. "Itu yang mereka harapkan agar mereka bisa memanggil aparat dengan alasan keamanan objek vital nasional. Kita akan menyerang mereka di tempat yang paling menyakitkan bagi pemilik modal: Neraca Keuangan."
Arum menunjukkan layar tabletnya yang menampilkan grafik perhitungan "Kerugian Ekosistem Tersembunyi".
"Lihat ini. Mereka hanya menghitung nilai nikel yang mereka ambil. Tapi dalam audit ekologi, kita menghitung nilai terumbu karang yang hancur, hilangnya mata pencaharian nelayan selama 20 tahun ke depan, dan biaya pemulihan air laut," jelas Arum. "Angka 10 triliun itu bukan gertakan. Itu adalah valuasi nyata berdasarkan standar internasional."
Jaka, yang berdiri di samping Arum, mengepalkan tangan. "Tapi Bu Arum, mereka punya pengacara-pengacara mahal dari Jakarta. Bagaimana kita bisa menang di pengadilan?"
"Karena kita punya sesuatu yang tidak mereka miliki," Arum tersenyum tipis. "Kita punya Bukti Fisik yang Tidak Bisa Berbohong. Mas Baskara, apakah tim laboratorium dari Navasari sudah sampai?"
Baskara muncul di layar panggilan video, ia berada di dalam sebuah mobil laboratorium keliling yang sedang melaju kencang. "Sudah masuk wilayah pesisir, Rum. Kami membawa mikroskop elektron portabel dan alat uji spektroskopi. Kita akan membuktikan bahwa partikel logam berat di dalam jaringan tubuh ikan-ikan ini identik dengan limbah yang keluar dari pipa mereka. Itu adalah sidik jari kimiawi yang tak terbantahkan."
Namun, di tengah persiapan itu, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di ujung jalan desa yang becek. Seorang pria turun dengan tas koper kulit yang mahal. Namanya adalah Elias Tan, pengacara yang disebut Sekar dalam pesannya.
Elias berjalan mendekati Arum dengan langkah yang sangat percaya diri, seolah lumpur desa itu tidak berhak menyentuh sepatunya.
"Nyonya Arum, saya membawa surat perintah penghentian aktivitas ilegal dari pengadilan negeri setempat," Elias menyodorkan selembar dokumen resmi. "Aktivitas Anda mengumpulkan warga dan melakukan survei tanpa izin di wilayah konsesi klien kami dianggap sebagai tindakan provokasi dan spionase industri. Jika Anda tidak meninggalkan Muara Biru dalam satu jam, Anda akan dijemput paksa."
Arum mengambil dokumen itu, membacanya sekilas dengan kecepatan seorang auditor senior, lalu tertawa kecil.
"Tuan Elias, surat ini cacat hukum," Arum mengembalikan dokumen itu dengan santai. "Surat ini merujuk pada izin konsesi tahun 2022. Namun, berdasarkan audit data satelit yang saya lakukan semalam, klien Anda telah memperluas wilayah tambang mereka sejauh 500 meter ke luar koordinat izin awal. Itu artinya, lokasi pipa limbah ini berada di Wilayah Laut Publik, bukan wilayah konsesi Anda. Anda tidak punya yurisdiksi di sini."
Elias tertegun. Senyum sombongnya sedikit luntur. Ia tidak menyangka seorang istri kades di pelosok tahu tentang tumpang tindih koordinat tambang secepat itu.
"Dan satu lagi," Arum mendekat, suaranya kini hanya bisa didengar oleh Elias. "Saya tahu siapa yang membayar tagihan Anda. Katakan pada mereka, jika mereka tetap memaksakan gugatan 1 triliun itu, saya akan merilis data tentang penggelapan royalti nikel mereka ke bursa saham Sydney minggu depan. Mari kita lihat apakah investor mereka masih mau menanam modal di perusahaan yang terancam bangkrut karena sanksi lingkungan internasional."
Elias mundur selangkah. Ia menatap Arum dengan tatapan baru tatapan ketakutan. Ia baru sadar bahwa lawan yang ia hadapi bukan sekadar aktivis desa, melainkan seorang predator data yang mampu menghancurkan korporasi besar lewat satu folder dokumen.
Tiba-tiba, dari arah laut, terdengar suara sirene yang berbeda. Bukan kapal patroli perusahaan, melainkan kapal patroli dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang datang dengan personel lengkap.
"Bu Arum! Drone kita berhasil menangkap bukti visual pipa pembuangan saat air surut!" teriak Jaka kegirangan sambil menunjuk ke arah laut.
Arum menoleh pada Elias yang kini sibuk dengan ponselnya, mencoba menghubungi atasannya. "Sepertinya waktu Anda habis, Tuan Elias. Audit lapangan baru saja dimulai, dan kali ini, pemerintah yang memimpinnya atas permintaan warga."
Namun, di balik kemenangan kecil itu, Arum melihat sebuah bayangan di atas bukit yang mengawasi dengan teropong. Sosok itu tidak menggunakan seragam perusahaan. Ia mengenakan pakaian sipil, namun postur tubuhnya sangat kaku. Arum menyadari bahwa "setan" di Muara Biru bukan hanya pemilik modal, tapi juga kekuatan lama yang belum rela Navasari kedua tercipta.
menegangkan ..
lanjut thor..