Roxy pria yang nyaris sempurna. Tampan, berkarisma, berbadan atletis dan kaya raya. Semua ada dalam genggaman nya. Tak ada satupun wanita yang bisa menolak pesona seorang Roxy.
Hanya satu hal yang tidak ia punya, ketertarikan pada wanita. Selebriti, model, pemain bahkan seluruh wanita sudah pernah ia coba, namun tak kunjung membuatnya tertarik. Lebih tepatnya membuat juniornya berdiri.
Dan suatu ketika, segalanya berubah. Roxy terpikat pada sosok wanita berjilbab yang ia temui saat sang sopir menjalankan kewajibannya di masjid Jamal.
Wanita yang membuat debaran di dada Roxy meningkat tajam,membuat tubuhnya tak mampu bergerak sesuai kehendaknya. Membuat akalnya tak bekerja.
Namun, kenyataan memukul keras wajahnya. Wanita itu sudah bersuami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Ayla duduk di hadapan seorang wanita yang cukup muda. Mungkin seusia dengannya.
"Jadi kamu yang bernama Ayla Syakilla Khairunnisa ya?" Tanya wanita itu "Perkenalkan namaku Selia di bagian rekrutmen."
Ayla mengangguk saja walau tak mengerti. Ia pikir menjadi art akan langsung bertemu dengan sang majikan, ternyata masih harus bertemu dulu dengan bagian rekrutmen.
"Dari data yang aku dapat, kamu cukup memenuhi syarat."
Ayla tampak sangat lega mendengarnya.
"Sebelum itu, aku mau menjelaskan. Kita pakai sistim kontrak, jadi kamu harus bekerja selama satu atau dua tahun. Jika kami cocok dengan pekerjaan kamu, kami bisa perpanjang masa kontraknya." Jelas wanita bernama Selia itu.
"Baiklah,"
"MMM.. satu lagi, agar kita sama-sama nyaman, apa Kamu punya syarat atau sesuatu yang ingin kamu sampaikan sebelum bekerja?"
Ayla mengernyit aneh, kenapa calon majikan justru menanyakan syarat padanya yang hanya calon pembantu?
"MMM.. sebenarnya tidak, saya hanya pencari kerja, saya butuh tempat tinggal dan saya bisa membawa anak saya serta." Ucap Ayla jujur.
"Baiklah, itu tidak masalah."
"Dan saya seorang muslim. Saya pasti akan menyita waktu beberapa menit untuk malaksanakan kewajiban saya." Lanjut Ayla lagi.
"Itu tidak masalah, pekerja kami juga ada beberapa yang muslim."
"UMM.. apa majikan saya seorang non?" Bertnya dengan hati-hati dan ragu.
"Iya."
Ada sedikit rasa kecewa di hati Ayla. Dan itu dapat dilihat oleh Selia.
"Tapi, kamu nggak usah khawatir, tuan kamu sangat baik..."
"Aaa.... Iya, saya mengerti..."
"Jadi, apa kamu mau menandatangani surat perjanjiannya?"
Ayla tampak sangat ragu, memiliki majikan yang tak seiman, Ayla sangat takut jika nantinya justru akan di persulit ketika ibadah.
"Apa yang membuatmu ragu? Apa karena dia bukan muslim? Kamu jangan khawatir, dia tidak akan mempersulit mu nanti. Aku jamin, dan dia sangat baik. Percaya padaku."
Ayla tersenyum aneh. Kenapa rasanya dia seperti sedang di paksa untuk menyanggupi.
"Bukankah dia sudah sangat berbaik hati dengan mengijinkan mu membawa anak? Kebanyakan tidak mau repot dengan itu."
Ayla tersenyum kecut. Itu memang benar, rata-rata para pencari karyawan selalu menolaknya karena alasan anak. Hanya bos Avan yang baik, dan tidak mempersulitnya. Bahkan dia cukup dekat dengan Uwais.
Ayla masuk kembali ke dalam mobil sedan yang menunggunya.
"Gimana?"
"Aku masih bingung."
"Kenapa bingung?"
"Teman mas Avan itu, apa mbak Selia?"
"Bukan, majikannya."
"Ooohh..."
"Dia nggak muslim ya mas."
"Enggak, tapi dia baik loh. Aku aja sering nggak enakan karena dia terlalu. Jadi pas dia minta tolong padaku untuk mencari art di rumah, aku langsung inget kamu, Ay." Jelas Avan sangat yakin. Ayla terdiam dengan pikirannya.
"Jangan hanya karena dia beda keyakinan dengan kita, kamu jadi melepaskan kesempatan ini. Coba di pikir, rata-rata art memang nginap ya. Jadi, itu nggak usah di bahas. Dia nggak masalah meski kamu bawa Uwais. Itu poin pentingnya. Majikan mana yang mengijinkan art-nya bawa anak? Kamu belum ketemu kan?"
Ayla mengangguk.
"Nah, dia nawarin kamu gaji berapa?"
"Tujuh juta."
"Nah, itu... Art paling kenceng gajinya tiga juta, ya tiga setengah lah kalau rumah nya agak besar. Dia berani kasih kamu gaji lima juta. Itu banyak Ayla."jelas Avan lagi, "sama aku aja kamu cuma dapat gaji satu setengah, kalau ada bonus penjualan paling dua juta dua ratus. Itu tujuh juta Ay, tujuh juta."
"Tapi, dia pelihara anjing.... Aku sedikit takut, dan bagaimana kalau..."
Avan mengibas tangannya di udara.
"Alah, masalah anjing mah, anjing juga nggak masuk rumah. Kan di kandangin."
Ayla masih bergeming, terdiam dalam pikirannya.
"Memang sayang kalau di lepas mas."
"Benar, kan?"
"Tapi, Ayla pingin coba yang lain dulu. Apa aku benar-benar nggak bisa ke stan mas Avan aja? Yang di pinggir jalan gitu."
"Ya ampun ay. Masalahnya, di kantor itu masih baru, belum juga ada sebulan. Masa udah mau ganti orang?" Kelit Avan, "mau ya?"
***
Roxy memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Menyemderkan punggung pada kursi dan menatap langit-langit ruang kerjanya dengan mata yang menerawang.
"Ayla... Ayla... Se-spesial apa sih kamu? Sampai membuatku dilema seperti ini?" Gumam Roxy lalu memejamkan matanya.
Setelah cukup lama tenggelam dalam pikirannya. Roxy melangkah keluar dari ruangannya.
"Veloz!"
***
Roxy membawa Lambo ke mansion kedua yang di tinggali oleh Raize. Sepupunya itu merasa heran Roxy membawa Lambo sampai ke mansionnya.
"Hei, ada apa ini? Kenapa membawa Lambo kemari?" Tanya Raize pada saudaranya itu.
"Aku titip dia di sini."
"Apa?" Raize tampak sangat terkejut bola mata nya membulat sempurna. Terlebih, ia sangat tau seberapa sayang Roxy pada Lambo. Tapi pria itu malah menitipkan hewan berbulu itu ke mansion nya.
Roxy berjongkok dan mengusap bulu-bulu halus Lambo, sesekali menggaruk nya gemas. Senyum kecut terulas di wajahnya.
"Kau tau aku sangat menyayangimu, bukan?"
Lambo menyalak sebagai jawaban. Roxy tersenyum getir. Rasanya sangat sedih harus berpisah dengan peliharaannya yang sudah menemani selama beberapa tahun terakhir.
"Aku tidak membuangmu, aku juga masih menyayangi mu, Lambo. Hanya, kita hanya berpisah dengan jarak beberapa meter saja. Aku akan mengunjungimu, lebih sering. Hummm?"
Rasanya sangat berat, berpisah dengan Lambo. Tapi, Roxy sudah membuat pilihan. Dan pilihannya jatuh pada Ayla. Ia akan melakukan apapun untuk tetap menjaga wanita itu di sisinya.
Gurat wajah sendu itu dapat Raize baca. Ia tau jika Ayla dan mereka berbeda.
"Apa dia sudah setuju untuk tinggal di sana?" Tanya Raize yang berdiri tak jauh dari Roxy dengan menyimpan tangannya di saku celana.
"Dia akan tinggal di sana..."
"Jadi kamu mengungsikan Lambo kemari?"
Roxy tersenyum getir. Lalu menatap Raize dari bawah karena dia masih berjongkok di depan Lambo.
"Apa aku berlebihan?"
"Tidak ada hal yang berlebihan dalam hal cinta. Itu... Tergantung dari sudut mana orang melihatnya." Jawab Raize berpendapat.
Roxy berganti memandang Lambo.
"Aku mencintai mu, tapi aku juga mencintai wanita ku. Aku belum ingin menyerah padanya, sobat. Aku tidak menyerah padamu, aku masih mencintaimu, kita hanya tinggal di tempat yang berbeda. Apa kamu mengerti?"
Roxy lagi-lagi tersenyum kecut pada Lambo yang kadang menyalak padanya. Menggerakkan tubuhnya ke sana ke mari dan mengibaskan ekornya, seolah mengerti apa yang tuannya katakan.
"Aku akan lebih sering berkunjung di sini. Dan kamu akan mengerti jika sudah memiliki pasangan nanti. Huumm?"
Raize terkekeh kecil.
"Ya ampun, kau ini, seperti sedang bicara pada anakmu saja."
Roxy tertawa getir. Lalu beranjak berdiri.
"Aku titip dia."
Raize mengangkat jempolnya.
Roxy melangkah meninggalkan Lambo di depan rumah barunya, tak mau menoleh lagi karena itu hal terberat yang dia hadapi saat ini. Meski Lambo terus menyalak seolah sedang memanggilnya.
Roxy mengambil hpnya lalu menekan sambungan cepat.
"Veloz! Buat Ayla tidak di terima bekerja di manapun. Dan pastikan dia menandatangani kontrak kerjanya malam ini."
Bersambung ...
lanjut aah