NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Kebenaran di Balik Tabir Kasih

Suara kicau burung tropis yang asing menyambut pagi di Isla de Sombra, namun ketenangan itu tidak mencapai kamar Kayra. Ia terbangun dengan sentakan jantung yang berpacu.

Nama "Aris" bergema di kepalanya seperti lonceng kematian. Selama dua tahun ia meratapi nasib di Elara, Kayra selalu menganggap Direktur Aris sebagai satu-satunya orang suci di tengah serigala rumah sakit pusat.

Jika pria itu yang mengkhianatinya, maka tidak ada lagi tempat yang aman di dunia ini.

Kayra segera bangkit, mengenakan jubah sutra putihnya, dan bergegas menuju sayap medis. Ia tidak perlu bertanya di mana Harry berada, pria itu pasti sedang menjaga Profesor Elena, persis seperti yang ia janjikan.

Saat pintu ruang pemulihan berdesis terbuka, pemandangan di dalamnya membuat langkah Kayra melambat. Harry duduk di kursi samping tempat tidur Elena. Ia tidak lagi mengenakan kemeja hitam formalnya, melainkan kaus polos yang pas di tubuh, memperlihatkan pundaknya yang tegap. Pria itu sedang membaca sebuah laporan di tablet digital, namun tangan kirinya menggenggam jemari pucat Profesor Elena yang mulai bergerak-gerak kecil.

Harry menoleh saat merasakan kehadiran Kayra. Intensitas di matanya melembut seketika. "Kau bangun lebih cepat dari yang kuduga, Kayra."

"Bagaimana keadaannya?" bisik Kayra, mendekati ranjang.

"Saraf motoriknya mulai merespons rangsangan. Dia sempat membuka mata sepuluh menit lalu, tapi tertidur lagi karena pengaruh sedatif," jawab Harry. Ia bangkit berdiri, memberikan ruang bagi Kayra untuk memeriksa tanda-tanda vital sang profesor.

Kayra memeriksa pupil mata Elena dan mencatat grafik di monitor. Semuanya sempurna. "Ini keajaiban. Dia benar-benar kembali."

Tiba-tiba, sebuah erangan halus keluar dari bibir Profesor Elena. Kelopak matanya bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka perlahan. Pupilnya butuh beberapa detik untuk fokus, hingga akhirnya terpaku pada wajah Kayra.

"Kay ... ra ...?" suara itu sangat serak, hampir seperti gesekan kertas pasir, namun bagi Kayra itu adalah musik terindah.

"Iya, Profesor. Ini aku. Kau aman sekarang," Kayra menggenggam tangan Elena, air mata haru mulai menggenang di pelupisnya.

Elena mencoba bicara lagi, namun matanya beralih ke arah Harry yang berdiri di belakang Kayra. Ketakutan sesaat melintas di wajah wanita tua itu, namun Harry mengangguk pelan, seolah memberikan kode rahasia. Elena kembali menatap Kayra dengan tatapan yang sangat sedih.

"Jangan ... percaya ... Aris," bisik Elena dengan susah payah. "Dia ... yang menjual ... datamu ... dan risetku ... pada Luca."

Dunia Kayra seolah runtuh untuk kedua kalinya. Mendengar itu langsung dari mulut Elena terasa jauh lebih menyakitkan daripada sekadar dugaan Harry. "Kenapa, Profesor? Kenapa dia melakukan itu padaku?"

"Keserakahan," desis Elena, air mata jatuh dari sudut matanya. "Dia butuh dana ... untuk ambisi politiknya. Dia mengorbankanmu ... agar Luca bisa memegang kendali ... medis di kota."

Kayra terisak, menutup wajahnya dengan tangannya yang gemetar. Pria yang ia anggap ayah ternyata adalah arsitek dari penderitaannya. Di tengah kehancuran itu, ia merasakan lengan yang kuat melingkar di bahunya. Harry menariknya ke dalam dekapan, membiarkan Kayra menangis di dadanya.

"Sudah cukup," suara Harry terdengar seperti guntur yang tenang. "Elena, istirahatlah. Biarkan stafku merawatmu. Aku akan membawa Kayra keluar sebentar."

Harry menuntun Kayra keluar dari ruang medis, melintasi koridor kaca yang memperlihatkan pemandangan tebing bawah laut. Ia tidak membawa Kayra kembali ke kamarnya, melainkan ke balkon luas yang menghadap langsung ke samudera biru yang tak berujung. Angin laut yang asin membelai wajah Kayra yang sembab.

Kayra melepaskan diri dari dekapan Harry dan bersandar di pagar balkon, menatap ombak yang menghantam karang. "Dua tahun, Harry. Dua tahun aku hidup seperti mayat di Elara, menganggap diriku gagal dan tidak berguna. Dan ternyata, orang yang kucintai yang melakukannya padaku."

Harry berdiri di sampingnya, tidak menatap laut, melainkan menatap profil wajah Kayra. "Dunia ini tidak adil bagi orang-orang seperti kau, Kayra. Terlalu banyak cahaya di matamu, sehingga orang-orang gelap ingin memadamkannya."

Kayra menoleh, menatap Harry dengan mata yang masih basah. "Dan kau? Kau termasuk orang gelap itu?"

Harry tersenyum tipis, sebuah senyum yang kali ini terasa sangat manusiawi. Ia melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Kayra bisa mencium aroma cendana yang menenangkan. Pria itu mengangkat tangannya, jemarinya yang panjang mengusap sisa air mata di pipi Kayra dengan kelembutan yang kontras dengan reputasinya sebagai monster.

"Aku adalah kegelapan yang akan melahap orang-orang yang mencoba memadamkan cahayamu," gumam Harry. "Aris berpikir dia sudah menang karena dia menghancurkan kariermu. Dia tidak tahu bahwa dia justru mengirimmu padaku."

Harry merunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Kayra. Jantung Kayra berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena getaran aneh yang menjalar ke seluruh sarafnya.

"Kayra, aku bukan pria yang baik. Tanganku berlumuran darah, dan duniaku penuh dengan musuh. Tapi aku bersumpah, Aris akan merangkak di kakimu untuk meminta maaf sebelum aku mengakhirinya."

"Aku tidak ingin dia mati begitu saja," bisik Kayra, kemarahan mulai menggantikan kesedihannya. "Aku ingin dia melihatku kembali ke dunia medis dengan nama yang tidak bisa dia sentuh."

"Dan kau akan melakukannya," jawab Harry. Ia menyentuh dagu Kayra, mengangkat wajah wanita itu agar menatapnya tepat di mata. "Sebagai Kayra Valeska. Kau akan menjadi lebih besar dari apa pun yang pernah ia bayangkan."

Harry merunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Kayra. Jantung Kayra berdegup kencang, sebuah reaksi fisiologis yang tidak bisa ia kendalikan. Aroma cendana dan maskulinitas Harry mengunci indranya. Untuk sesaat, Kayra terpaku pada bibir pria itu, merasakan tarikan gravitasi yang begitu kuat.

Namun, tepat saat napas mereka bertemu, Kayra meletakkan telapak tangannya di dada Harry, tepat di atas bekas luka jahitan yang ia buat. Ia mendorongnya pelan, memberikan jarak yang tegas.

"Jangan, Harry," bisik Kayra, suaranya parau namun stabil. "Jangan gunakan kerapuhanku untuk membuatku tunduk padamu."

Harry terhenti. Matanya yang hitam pekat menatap Kayra dengan intensitas yang sulit dibaca. Ia tidak menjauh, namun ia tidak lagi mencondongkan tubuh. "Kau pikir aku sedang mengambil kesempatan, Dokter?"

"Kau adalah pria yang hidup dari strategi," balas Kayra, menatap Harry tepat di mata. "Kau memberiku identitas baru, kau menyelamatkan mentorku, dan sekarang kau memberiku kepala orang yang mengkhianatiku. Kau sedang membuatku merasa berhutang budi padamu sehingga aku tidak punya pilihan selain tetap di sisimu. Ciuman itu ... hanya akan menjadi segel untuk kesepakatan ini, bukan?"

Harry terdiam sejenak, lalu sebuah kekehan rendah dan kering keluar dari tenggorokannya. Ia melepaskan dagu Kayra, namun tangannya tetap berada di pagar balkon, mengurung wanita itu.

"Kau lebih cerdas dari yang kuduga, Kayra Valeska," gumam Harry. "Banyak wanita akan menyerah pada momen seperti ini hanya untuk merasa aman. Tapi kau ... kau justru menganalisisnya sebagai langkah taktis."

"Aku seorang ahli bedah, Harry. Aku dilatih untuk melihat apa yang ada di balik permukaan," Kayra menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya sendiri yang sebenarnya sangat menginginkan sentuhan itu.

"Aku akan membantumu menghancurkan Luca. Aku akan menggunakan identitas baru ini untuk menjatuhkan Aris. Tapi aku melakukannya karena itu adalah keadilanku, bukan karena aku menjadi milikmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!