NovelToon NovelToon
Adek Gue BAD

Adek Gue BAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Contest / Keluarga / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Dendam Kesumat / Pihak Ketiga
Popularitas:80.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Biru

Terlahir dengan nama Ulyana Zahra Fitriangsih, orang tuanya berharap anak mereka tumbuh elok seperti namanya.

Namun, itu semua hanyalah angan semata. Masa lalu mengantarkannya untuk menapaki dunia hitam yang tak seharusnya ia jamah. Bahkan, ia yang memegang kendali atas semuanya.

Satu nama yang tersamarkan di publik, nama yang memuat banyak rahasia. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik punggungnya, tapi ketidaktahuan itu lebih baik dari pada membawa petaka.

Darel Ario Kusuma, seorang kakak yang sangat menyayangi Zahra. Gadis itu segalanya, hidupnya.

Lantas, bagaimana cara Rio menjaga Zahra tanpa kehadiran kedua orangtuanya?

****

Simak terus cerita ini, jangan lupa dukungannya dengan vote, like dan komen.
Terimakasih 🌹

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Eksekusi

...Tertawalah sepuasnya! Jika waktunya membalas, kalian bukan apa-apa....

.......

.......

.......

Zahra menatap kesal pada data perusahaan yang telah mencoba menggelapkan sahamnya. Setelah membuat bangkrut perusahaan tersebut, ia pasti akan membuat perusahaan itu terjerat hukum.

"Hmmm, perusahaan kecil aja belagu? Mau curang rupanya ... lihat yang gue lakuin ke perusahaan lo!" Zahra menyeringai.

Zahra mulai meretas semua data-data mereka, lalu mengganti data mereka dengan data palsu yang akan merugikan perusahaan tersebut. Lama ia mengutak-atik komputer hingga dering telepon mengacau acara bermainnya.

"Halo, Xav?" sapa Zahra di telepon.

"Selamat malam nona, maaf mengganggu. Kami telah menemukan data orang yang mencoba melukai nona di mall."

"Bawa dia ke tempat eksekusi besok!"

"Sesuai perintah, Nona."

Zahra kembali mengetikkan sesuatu di komputernya, sebelum sebuah suara menginterupsi kegiatannya.

"Siapa yang dieksekusi?"

Zahra terkejut. Dia berbalik badan, di samping ranjang tidurnya, kakaknya—Rizki berdiri sedang menatap tajam ke arahnya.

Gadis itu tersenyum riang, menghampiri Rizki dengan santai. Tangannya bergerak mempersilakan Rizki untuk duduk.

"Ada apa, Kak?" Tidak ada ketakutan dan keraguan di mata dan suaranya, Zahra benar-benar menguasai dirinya.

"Jangan mengalihkan pembicaraan. Siapa yang akan di eksekusi, Ulyana Zahra?" Rizki menatap tajam adiknya. Ia diberitahu Rio, jika ingin menyudutkan Zahra, coba dengan memanggil nama panjangnya.

Zahra memejamkan matanya sesaat, ia tidak boleh lengah dengan tatapan dan panggilan yang dilontarkan Rizki. "Bukan siapa-siapa, Kak. Gue cuma bercanda sama teman," jawabnya dengan senyum tipis.

"Bercanda, ya? Tapi kok kakak menangkap keseriusan di pita suara kamu?" tanya Rizki dengan memicing.

Skakmat. Kalau Rizki sudah memakai aku-kamu, tandanya pria yang di depannya saat ini tengah berbicara serius. Gadis itu menggeleng sekilas tanpa menghilangkan senyumnya.

"Apaan, sih? Kan biar kek beneran gitu, jadi harus serius dong. Biar kek aktris yang jago ekting, wkwk." Zahra terkekeh dengan perkataannya sendiri, meski ia tahu tidak ada yang lucu dikalimatnya.

Rizki memilih menghela napas dari pada melanjutkan interogasinya. Sedikit tahu, adiknya ini tidak akan mengungkap sesuatu dengan mudah. Ia menyerah dari pada capek sendiri, mungkin lain kali bisa melanjutkan kembali.

"Gue sekarang abang lo, lo bisa berbagi apa pun ke gue. Abang lo ga cuma satu, kita bisa kapan pun dengerin keluh kesah lo, kalau ada apa-apa usahakan cerita. Jangan di pendam sendiri, lo punya kita."

Gadis itu menipiskan bibir, ia menunduk untuk menutupi matanya yang berkaca-kaca. Memang salah. Apa yang diperbuatnya selama ini adalah kesalahan. Tapi, ia tidak bisa mundur. Ia harus turut serta dalam permainan ayahnya.

Rizki mengusap pucuk kepala adiknya sebelum akhirnya menatap Zahra serius. Jarinya memang bergerak mengangkat kembali dagu Zahra.

"Dengar, Ra. Gue cuma mau lo jaga diri aja. Niat gue ke sini tadi cuma mau ngobrol ringan, taunya gue denger lo lagi ngobrol serius. Sekarang matiin komputernya, dilanjutin besok aja. Kakak tunggu keterbukaan kamu sama kita, oke?" Rizki kembali mencium kepala Zahra, lalu mengacak rambutnya sebentar. "Dah bobo, udah malem!" Rizki mencium pipi Zahra, setelah itu berjalan keluar.

"Night, Ka!" teriak Zahra.

...****...

Zahra ditelpon oleh Xavier jika mereka telah membawa target ke ruang eksekusi. Zahra menggunakan outfit kaus putih dengan angka 99 lalu dilapisi jaket kulit hitam, serta menggunakan legging hitam. Ia memakai sepatu cats dan rambutanya di gerai. Kaca lensa hitam serta topi koboi mengiringi langkahnya pagi ini.

Baru saja menuruni tangga, ia sudah disambut oleh salah satu kakaknya. “Mau kemana? Ga kuliah?” tanya Rio heran, saat melihat adiknya berpakaian seperti bukan mau ke kampus. Memang style Zahra setiap pergi kuliah seperti itu, tapi ini terlihat berbeda dari biasanya.

“Enggak. Lagian dosennya bosenin, males masuk kelas jadinya. Monoton kalau diajar Pak Gana mah, gitu-gitu mulu.” Zahra meringis ketika mendapati tatapan tajam Rio.

“Bagaimanapun orang sama mapelnya, lo tetap harus kuliah. Gue udah bebasin lo, ya! Tapi, kalau ngelanggar lo tetep dapat punishment dari gue. Kuliah itu juga buat masa depan lo, Dek. Terserah kamu mau ikutin kakak apa engga, tapi yang jelas firasat kakak buruk kalau lo bolos pagi ini. Gue emang ga tau tujuan lo, mau ke mana? Berbuat apa? Tapi, apa ga sebaiknya kamu kuliah dulu?" Tatapan Rio melembut.

Zahra tersenyum. “Nanti coba gue pikirin lagi pas di jalan. Gue jalan dulu, Kak.”

Rio mengangguk. “Hati-hati!”

Zahra melangkah keluar, di sana ada Rizki yang sedang memanasi mobil. Gadis itu berjalan menuju garasi, mengeluarkan motor sport berwarna hitam yang cukup bersih. Ia harus berterimakasih pada bibi karena sudah membersihkan motornya, mengingat kendaraan itu jarang ia pakai.

Zahra berhenti mendorong, menjagangnya di samping mobil Rizki. Saudaranya itu telah selesai memanaskan mobil dan kini menatap ke arahnya.

"Gue kira itu motor udah ga kepakai. Jadi gue pikir, mau ngusulin buat dijual. Menuhin garasi, sih!" ujar Rizki tenang, memandang adiknya yang menaiki motornya lalu memanasinya.

Gadis itu hanya memandang Rizki, setelah selesai ia mematikan mesin motornya. "Gue makai ini kalau mau senang-senang aja. Lagian gue lebih suka makai mobil, ada AC-nya—ga kepanasan dan kehujanan," jawabnya masuk akal. Meskipun ia tahu memakai mobil itu akan mengulur waktunya, tapi sedari kecil ia memang lebih suka menaiki mobil.

Rizki terkekeh. "Ga berubah dari dulu, suka ngelakuin hal yang membuat diri nyaman, meskipun ekstrem."

"Gue mencoba untuk engga menghilangkan sifat murni gue, lagi pula membuat diri sendiri nyaman memang sebuah hak, kan? Gue hanya memanfaatkan fasilitas yang ada."

Rizki mengangguk, menatapnya dengan serius. “Udah dapat restu?"

Gadis itu mengiyakan dan tersenyum tipis. “Disuruh ngampus dulu, tapi kalau perginya setelah masuk kelas diizinin kok," jawab Zahra.

“Bagus kalau gitu. Jujur, gue juga ada firasat ga enak kalau lo nekat pergi. Entah apa yang lo maksud dengan bersenang-senang."

Zahra melunturkan senyumnya, mungkin ia harus lebih berhati-hati pada Rizki. Tapi ia juga senang karena Rizki tak menuntut penjelasan lebih banyak darinya.

Gadis itu menoleh ke arah Rizki dengan senyum yang kembali mengembang. Tangan kanannya bergerak untuk kembali menyalakan motor tersebut. “Ya udah, gue berangkat dulu. Kebetulan kelas gue mulai jam 7 seperempat,” pamitnya.

“Iya, hati-hati!”

...****...

Motor yang dikendarai seorang gadis telah sampai di area parkir Merpati Putih. Zahra segera berjalan menuju kelasnya, karena pak Gana sebentar lagi mau masuk.

Sebelumnya Zahra sudah mengabari Xavier kalau kedatangannya akan diundur hingga dua sampai tiga jam.

Tepat jam sembilan Zahra menyelesaikan kelasnya. Ia menuju kantin sebentar bersama duo cogan yang selalu mengikutinya, mereka berjalan dengan mengapit Zahra. Ia ke kantin untuk membeli camilan saat eksekusi nanti.

Gadis ini sedikit berbeda, jika biasanya orang mengintrogasi, mereka akan serius. Zahra tentu akan mengintrogasi musuhnya terlebih dahulu sebelum membunuhnya. Dia akan mengintrogasi dengan santai, dengan memakan camilan yang dibelinya.

Setelah dapet apa yang di mau, Zahra segera pamitan pada temen-temennya untuk pulang.

Kalau kalian berpikir tempat eksekusinya ada di markas BD, maka kalian salah. Malahan tempatnya jauh dari lokasi BD, tepatnya di tengah hutan. Di situ ada gubuk berukuran 4×4 meter. Ditempat itulah eksekusi biasa dilakukan, karena kalau eksekusinya dilakukan di markas BD, maka resiko privasi untuk tak terlihat di public semakin besar. Kalau pihak yang dieksekusi sudah tidak bisa ditanya baik-baik di tempat ini, maka dia akan dibawa ke eksekusi utama yang ada di markas BD. Tapi, setelah itu langsung dihabisi hingga tak berjejak.

Sebelum pergi, Zahra terlebih dahulu mengenakan masker. Identitasnya juga privasi, bukan sembarang orang bisa mengetauhi identitas aslinya. Di tengah perjalanan Zahra sadar jika ada yang mencoba mengikutinya, ia bisa tebak kalau itu bodyguard yang dikirim Rio untuk mengawasinya. Mereka kurang lebih ada tujuh orang. Zahra merogoh handphone yang ada di saku jaketnya, lalu menelepon salah satu anak buahnya untuk mengecoh mereka.

Tepat pukul sembilan lewat dua puluh menit, Zahra sampai di lokasi. Di sana, ia sudah disambut oleh Xavier dan anggota lain. Zahra terkejut melihat Elvin juga ada di sana, gadis itu menghampiri mereka.

“Loh, El … lo kok di sini? Kantor gimana?” Jadi, Elvin itu sekretaris Zahra yang menggantikan Rani.

“Sorry, Ra. Bang Van ada firasat ga enak, makanya dia nyuruh gue ikut kesini. Di sana masih ada Sky, kok,” jelas Elvin.

Sekedar informasi, Sky itu asistennya Elvin. Pria itu tentu kewalahan dengan tugasnya sebagai sekretaris bos, yang orangnya hanya mau keluar pada saat tertentu saja.

Lalu untuk asisten pribadi Zahra sendiri, ada Xavier dan Bona—yang menyamar menjadi salah satu bodyguard Rio.

Zahra mengangguk, kemudian menoleh pada Xavier. “Dia sudah di dalam?”

“Sudah, Nona,” jawab Xavier.

Zahra memicingkan mata, lalu menyuruh Xavier mendekat. “Awasi sekitar, saya rasa ada yang tidak beres,” bisiknya.

Xavier menjauh dan mengangguk. Zahra melangkahkan kaki ke ruangan yang akan dipakai untuk eksekusi.

“Tetap siaga, apa pun bisa terjadi,” pesannya kepada dua bodyguard, yang berdiri di samping pintu masuk ruang tersebut.

Zahra masuk dan mendapati seorang pria yang tengah duduk di kursi dengan keadaan terikat. “Good morning Mr. ... Ronald, right?” sapanya pada pria paruh baya, yang mungkin seumuran dengan Deron. Jika saja papinya di sini, gadis itu menghela napas. Zahra berharap seperti itu, Deron hanya akan datang saat dirinya dalam keadaan terjepit.

Semalam Xavier telah mengirimkan data Ronald pada Zahra. Pria itu menatap Zahra tajam. Jarak mereka hanya dibatasi meja seukuran meja sekolah.

Zahra duduk di depan pria itu, ia mengeluarkan camilan yang tadi dibelinya. “Mr. mau? Saya suapi jika Anda mau." Terdengar bunyi kriuk-kriuk dari kripik sukun yang dimakan Zahra. Terdengar renyak dan nikmat, bahkan Ronald pun sebenarnya juga ingin mencicipinya, tapi gengsi kalau mau minta.

Zahra segera menelan kripik yang dikunyahnya, gadis itu berdehem singkat. “Mr. masih ingat dengan percobaan penusukan di mall pukul 11.45. Tepatnya di mall RiRa? Saya ingin Mr. mengatakaan yang sebenarnya dihadapan saya!”

“Saya tidak tau apa-apa. Jangan menatap saya seperti itu, saya bukan pelaku sebenarnya,” elak pria itu.

“Jangan coba membohongi saya. Saya mempunyai bukti bahwa Mr. tengah melakukan percobaan penusukan pada seorang gadis yang sedang mengantri.”

“Saya tidak kemana-mana siang itu, sama menemani anak istri saya di rumah.”

Zahra memicingkan mata. “Kalau Mr masih mencoba membela diri, saya akan tunjukkan pada Mr. tentang kejahatan yang Mr. lalukan.”

Ronald mulai gelisah, apalagi saat Zahra memutarkan sebuah rekaman CCTV yang didalamnya, dia sebagai tersangka. Gadis itu mematikan HP-nya, matanya menatap Ronald tajam dan sangat mengintimidasi.

“Benarkah Mr menemani anak dan istri di rumah? Kalau begitu … siapa yang ada di video ini? Apa ini kembaran Mr? Saya bisa melaporkan ke pihak yang berwajib—"

“Tidak, jangan. Iya, itu memang saya, tapi saya melakukannya karena terpaksa. Anak kami menderita usus buntu dan harus segera dioperasi. Saat itu ekonomi keluarga kami sedang sulit, dan bapak-bapak seumuran dengan saya menawari saya pekerjaan dengan bayaran nominal tinggi. Tentu saya tergiur, karena memang saat itu saya sangat membutuhkan uang. Asalkan saya bisa membunuh gadis itu, dia akan memberi saya uang 10 milyar. Dia telah memberi saya setengahnya. Sampai saat ini, saya masih harus menemukan dan menghabisi gadis itu untuk menerima 5 milyar selanjutnya yang telah ia janjikan,” paparnya.

“Siapa yang menawari Mr. pekerjaan laknat tersebut?”

Sebelum Ronald sempat membuka mulut, suara tembakan berbunyi saling menyahut. Zahra mendapat pesan dari Xavier bahwa keadaan di luar sangat menghawatirkan. Zahra melihat sekilas Ronald yang terlihat ketakutan, dia tidak bisa diam di sini begitu saja. Di sini juga tidak aman dan pasti orang-orangnya juga membutuhkannya.

Zahra menyuruh anak buahnya untuk mengamankan Ronald terlebih dahulu, karena ia pun belum mendapatkan apa yang ingin diketauhinya. Zahra mengambil topeng yang ia sembunyikan di balik jaketnya, sebelum itu Ronald telah dibawa pergi oleh bodyguardnya melewati ruang bawah tanah.

Zahra terkejut, setelah di luar ia langsung dihadapkan oleh tiga orang pria. Yang dua ia tahu, mereka leader Black Diamond dan Black Fire yang meinginkan kedudukannya di dunia bawah. Sedangkan satunya, ia tidak tahu, sebab pria itu memunggunginya. Tapi, begitu pria itu berbalik, tubuhnya mendadak kaku.

“O-om Di-Dion ....”

****

Spam komen kuyyy....

See you in next chapter ❤️

1
Zalma Fauzia
karya ini sangat sangat sangat bagus ☺️☺️
💞 Lily Biru 💞: terimakasih kak zalma uda baca Uda mampir... untuk up masih aku usahakan ya kaka... makasih bnyak sehat selalu ❤️😭
total 1 replies
Zalma Fauzia
lanjut terus KK ke BAB selanjutnya KK😉
Ir Syanda
Mereka seakan berkata, "Abang2 juga harus ikut!"
Ir Syanda
Simple sih, mereka hanya terlalu sayang sama kamu, Zahra ...
Ir Syanda
Hati2 over dosis weh ...
Ir Syanda
Zahra kenapa?
Ir Syanda
Kembali ke rutinitas, ye kean ...
Ir Syanda
Biasalah ...😌
Ir Syanda
Janinmu tak salah apa2 loh, janganlah sampe diaborsi ...
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
sip lah
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
good 👍😎
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
wow
Radiah Ayarin
Zahra perduli dan tak ingin terulang kesalahan yang kedua
Zaenab Usman 💓
luar biasa 🌹
..
gk baik buruk sangka hrs ttp baek sangka
..
lah adeke nangis lais kowe 🚶🚶
..
wkwkwkwk kutukan cinta
ᖴαуѕнα
kan si Putra malah usaha deketin Una padahal dia masih jadi pacar Zahra, emang gk bener si Putra ini🙄
ᖴαуѕнα
astaga Ra, napa gk sama Devan aja sih daripada sama Putra yg badboy itu
ᖴαуѕнα
Zahra sama Putra kayaknya sering bolos ya🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!