Bianca, adalah wanita berusia dua puluh empat tahun yang terpaksa menerima calon adik iparnya sebagai mempelai pria di pernikahannya demi menyelamatkan harga diri dan bayi dalam kandungannya.
Meski berasal dari keluarga kaya dan terpandang, rupanya tidak membuat Bianca beruntung dalam hal percintaan. Ia dihianati oleh kekasih dan sahabatnya.
Menikah dengan bocah laki-laki yang masih berusia sembilan belas tahun adalah hal yang cukup membuat hati Bianca ketar-ketir. Akankah pernikahan mereka berjalan dengan mulus? Atau Bianca memilih untuk melepas suami bocahnya demi masa depan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
Daniel hanya bisa diam dan meratapi kesedihannya. Di sampingnya, Bianca merangkul pundak sang suami dan berusaha menguatkannya.
"Semua akan baik-baik saja. Mama akan kembali sehat," ucap Bianca. Ia, Daniel, dan Bramantyo sedang menunggu Sintia sadar setelah mendapatkan perawatan.
Keluarga Bramantyo adalah keluarga yang terbilang kaya Mereka memiliki lima restoran yang cukup terkenal. Hanya ada dua anak di keluarga itu dan keduanya memiliki kesempatan besar untuk menjadi pewaris segala usaha yang dimiliki oleh orang tuanya.
Sebagai orang tua, Sintia dan Bramantyo tentu menginginkan kedua anaknya tubuh menjadi anak yang baik, berbakti, serta sukses menjadi penerus usaha keluarga.
Namun kekecewaan datang saat Darren mengambil keputusan yang sangat memalukan. Bahkan laki-laki itu melangsungkan pesta pernikahan tanpa restu kedua orang tuanya. Hal itu tentu memicu isu dan berbagai komentar negatif dari rekan pebisnis Bramantyo.
"Papa bahkan tidak tahu, apa yang salah dari kami sebagai orang tua sampai Darren menjadi seperti itu," ucap Bramantyo mengungkapkan kekecewaannya.
"Tidak, Pa. Kalian tidak bersalah, kalian sudah melakukan yang terbaik sebagai orang tua. Dan saat dewasa, anak akan memilih jalannya masing-masing. Sayangnya, Darren memilih jalan yang salah," ujar Bianca.
"Apa kau baik-baik saja selama ini, Nak? Maafkan kami, kami gagal mendidiknya," lirih Bramantyo.
Melihat Papa mertuanya tampak sangat lemah dan penuh rasa bersalah, Bianca datang memeluknya.
"Aku baik-baik saja, Pa. Daniel menjagaku dengan sangat baik. Kalian tidak pernah gagal menjadi orang tua, Daniel adalah bukti bahwa kalian berhasil," ucap Bianca.
Bramantyo menangis. Laki-laki paruh baya itu sudah memendam kesedihan dan rasa sakitnya selama ini agar tidak membuat anak dan menantunya khawatir. Namun semua kekuatan itu kian melemah setelah istrinya mulai tidak baik-baik saja, Bramantyo pun merasa tidak bisa menahannya lagi.
"Mulai saat ini, katakan semua dengan jujur pada kami. Aku mohon, Pa," sela Daniel. Bramantyo mengangguk.
"Ini semua karena Kakak. Ini salah Kakak!" batin Daniel kesal. Kebencian dan sakit hatinya semakin menjadi-jadi.
Selang tiga puluh menit, Sintia telah sadar. Bianca dan Daniel menanyakan keadaannya, mereka terlihat sangat khawatir.
Setelah mereka puas melihat Sintia, Daniel dan Bianca memutuskan untuk berpindah ke ruangan lain agar Bramantyo memiliki waktu bersama istrinya.
"Maaf, karena Mama, kita tidak bisa pergi berlibur hari ini," ucap Daniel. Mereka duduk di ruangan sebelah yang dikhususkan untuk keluarga pasien.
"Tidak apa-apa. Kita bisa pergi lain kali. Mama adalah yang terpenting."
Daniel menghela napas panjang. Beruntung Bianca sangat memahaminya. Padahal, rencana ke pantai adalah liburan pertama bagi mereka setelah sekian lama bersama.
***
Sintia menjalani perawatan selama hampir satu minggu di rumah sakit. Karena ia mengalami struk ringan, maka dokter memintanya memakai kursi roda selama beberapa waktu sampai kondisi tubuhnya benar-benar pulih. Semua itu dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Daniel pun tetap masuk kuliah seperti biasa, sementara Bianca hanya berada di kantornya selama satu jam lalu kembali ke rumah sakit. Selama itu pula, tidak satupun dari mereka berniat menghubungi Darren atau memberitahu laki-laki itu mengenai kondisi orang tuanya.
Hari ini, Saat Sintia kembali ke rumah, tiba-tiba Darren dan Vania sudah menunggu mereka di ruang tamu. Melihat kedatangan tamu tak diundang, Daniel naik darah karena kesal.
Ia memukul wajah Darren dengan keras sebelum Bianca sempat menghentikannya.
***