"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.
Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.
Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.
Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Pada Suatu Malam yang Hujan Jilid 2
Hai! Ada yang nungguin cerita ini gak? kalo ada, komen dong di bawah
_______
Besok adalah hari olimpiade Jonas, dan Chilla ingin berbicara padanya untuk memberikan semangat. Karena ia tahu Jonas sangat tertekan beberapa hari belakang walau laki-laki itu tak pernah bercerita. Dan ia ingin meyakinkan Jonas bahwa dia akan baik-baik saja. Namun sayangnya, ia belum juga bisa menemukan Jonas. Ia pergi melewati kelas Jonas dan melihat bangkunya kosong. Di perpustakaan Jonas juga tak ada. Di kantin, halaman belakang, tribun lapangan sepak bola, tribun lapangan basket, bahkan di aula—nihil, Jonas tak kunjung ditemukan matanya. Akhirnya, ia bertanya pada Arnas yang langsung menjawab 'ruang olimpiade'. Bodoh sekali ia tak terpikir tempat itu.
Ia senang mengetahui di mana keberadaan Jonas. Tapi ia juga sedih karena tak bisa bicara dari hati ke hati dengannya. Sebab Jonas tak akan sendirian di ruang olimpiade, pasti dia bersama tim dan pembimbingnya.
Bersama langkah gontai karena kehabisan harapan, Chilla berbalik menuju kelas. Ia akan memikirkan suatu cara agar bisa bicara dengan Jonas nanti. Entah di rumah atau di sekolah.
∆∆∆
Sumi: Ar, ajakin Jonas keluar dong. Gue pengen ketemu dia sebentar.
Arnas mendesah. Kapankah ia akan selesai jadi kacung Chilla?
Arnas: Jonas lagi belajar.
Sumi: Sebentar doang. Penting banget ini.
Arnas: Bapak gue ada di rumah. Gue nanti diomelin kalo ngajak keluar Jonas yang lagi belajar.
Alasan itu sebenarnya tak terlalu tepat. Ayahnya kan sedang dalam mode silent, jadi ia tak mungkin diomeli. Ya... mentok-mentok ayahnya mengerutu dan mengintrogasi Jonas mau ke mana. Hanya itu. Alasan sebenarnya ia malas mengajak Jonas keluar untuk menemui Chilla adalah karena ia tak mau jadi obat nyamuk. Tak seperti di rumah, ia tak bisa merecoki mereka berdua dengan berpura-pura mencari ini dan itu di luar. Ia juga tak bisa mengajak Jonas pulang cepat dengan alasan nanti takut diomeli Ayah, karena 1. Ayah sedang dalam mode diam padanya, dan 2. Jonas tahu bila ia senang bila Jonas membuat Ayah marah. Jadi ia tak bisa menggunakan Ayah sebagai alasan, karena itu akan sangat mencurigakan untuk Jonas.
Sumi: Tolonglah, Ar. Sebentar doang. Gue mau ngasih dia semangat buat olimpiade dia besok.
Arnas: Chat aja, sih. Ini kan bukan jaman batu.
Sumi: Beda rasanya kalo bilang langsung.
Arnas: Rasa apa? Rasa stroberi?
Sumi: Please... Gue mau memberkati Arnas.
Arnas: Lo dukun?
Sumi: Please, Ar...
Arnas: Chat aja. Chat. Simple.
Sumi: Chat gak bisa denger suara manisnya Jonas.
Manis? Arnas melirik saudara kembarnya yang sedang duduk di belakang meja belajarnya. Jijik banget.
Arnas: Telepon.
Sumi: Telepon gak bisa lihat muka gantengnya Jonas.
Masih gantengan juga gue, pikir Arnas
Arnas: Video call.
Sumi: Video call belum ada fitur pegang tangan.
Arnas: Bukan muhrim.
Sumi: Lihat siapa yang ngomong bukan muhrim.
Arnas tahu bila Chilla menyindirnya soal kecupan di korodor tempo hari.
Arnas: Gue gak ngomong. Gue ngetik.
Sumi: Tolonglah, Ar. Mumpung gue masih minta baik-baik, nih.
Arnas: Tolonglah, Chill, ngertiin gue. Gue nanti diomelin kalo ketahuan sebagai oknum yang ngajak Jonas keluar dari area suci meja belajarnya. Belum lagi, belum tentu Jonas mau gue ajak keluar. Coba lo tanya Jonas dulu, baru nanti kalo dia setuju buat keluar, gue pertimbangin buat nemenin dia.
Sumi: Eh Sapri, kalo gue bisa ngelakuin semua sendiri, gue gak akan pernah bikin perjanjian buat memaafkan kelakuan gak ada akhlak lo jaman MPLS.
Sumi: Gue ngerekrut lo jadi agen cinta gue sama Jonas itu biar memuluskan perjalanan PDKT gue sama Jonas dan membuat semuanya seolah kebetulan yang manis kayak cerita romantis di drama Korea.
Sumi: Jadi cepetan bawa Arnas ke café depan Indomaret. Gue gak mau tahu gimana cara lo bujukin dia, karena itu tugas lo.
Arnas: Emang lo dibolehin kakak lo?
Arnas mencoba cara terakhir. Ia punya dugaan kuat bila Largha tak akan membiarkan adik tercintanya keluar malam seorang diri.
Sumi: Dia pulang satu jam lagi. Jadi cepet.
Di sudut layar ponselnya, Arnas menampak kombinasi angka '19.55'. Hal itu membuatnya mengerang. Andai Largha bisa kompak dengannya saat ini saja. Ia ingin laki-laki itu mendadak pulang dan mengambyarkan rencana Chilla.
Sumi: Gue tunggu di sana.
Dan label online di bawah nama 'Sumi' menghilang. Menandakan Chilla sudah keluar dari aplikasi.
Sekali lagi Arnas mendesah. Kali ini lebih panjang dari desahan pertama saat mendapat pesan dari Chilla. Ia lumayah lelah jadi mak comblang. Apalagi ini mak comlang dari pasangan yang paling tak direstuinya sepanjang masa. Tapi ya... mau bagaimana lagi, kesepakan tetaplah kesepakan, ia harus memenuhinya dan segera melepaskan diri dari belit perasaan bersalah karena ketidaksengajaan yang pernah dilakukannya.
"Jo, temenin gue keluar sebentar," pinta Arnas yang tengah duduk di atas karpet, bersandar pada ujung ranjangnya. Ada beberapa pasang sepatu dan tali di hadapannya. Tadi sebelum Chilla mengirim pesan ia sedang memasangkan tali-tali sepatunya.
"Ke mana?" tanya Jonas tanpa berpaling dari bukunya.
"Ke café depan kompleks. Gue lagi pengen makan pizza di sana."
"Gofood aja."
"Gue pengen makan di tempat."
"Jangan sekaranglah, Ar. Gue lagi gak ada napsu buat makan."
"Ngapain sih lo sampe segitu gugupnya cuma mau olimpiade. Baru tingkat sekolah doang. Lo pasti menang kali."
"When The Unsupported Brother jadi The Supported Brother gue malah jadi tambah gugup."
"Ck," Arnas berdecak. "Ya udah, lo besok gak akan menang."
"Ya... gak gitu juga sih."
"Terserah lo ajalah, Jo," ucap Jonas. Malas memperpanjang urusan. "Yoklah temenin gue. Gak enak sendirian."
Jonas menoleh, menyunggingkan senyum minta maaf. "Sorry, Ar."
Arnas tahu itu final. Sebab ia tahu Jonas bukanlah tipe kakak yang suka menolak permintaan adiknya. Bahkan biasanya, bila ia minta tolong Jonas keluar rumah saat hujan untuk membeli sesuatu, Jonas akan pergi seketika tanpa mempertimbangkan penolakan sedikit pun. Sehingga, bila kakak kembarnya itu menolak ajakannya, artinya Jonas memang tak bisa.
"Ya udahlah, kalo lo gak mau, gue gak jadi pergi."
"Kenapa gak pergi sendiri? Biasanya lo juga pergi ke mana-mana sendiri."
"Lagi gak pengen sendiri."
"Lagi galau lo?"
"Kagak!" tolak Arnas cepat.
Jonas tergelak dan kembali disibukkan oleh angka dalam setumpuk tebal buku latihan olimpiadenya.
Sementara itu, Arnas meraih ponselnya, mengetik pesan singkat untuk Chilla.
Arnas: Jonas gak mau pergi. Dia lagi sibuk banget. Kasihanilah dia.
Satu centang abu.
Nanti juga dibaca, pikirnya.
Setelah melemparkan ponselnya ke atas kasur dengan sembarangan, sekali lagi ia sibuk memasang tali sepatu.
Lama ia berkutat bersama tali dan sepatu. Mengusaikan sekitar tujuh pasang sepatu. Mulai dari sneakers sampai sport shoes. Mulai dari warna putih hingga warna hitam.
Itu sungguh sebuah pekerjaan yang melelahkan. Matanya sampai juling. Bayangkan saja, ia yang hobinya berlari ke sana kemari kini malah duduk bersila memasang tali sepatu. Benar-benar bukan dirinya.
Begitu sepatu sudah tertata cukup presisi di rak, ia pun melompat ke kasur penuh kelegaan. Menimbulkan derit menghawatirkan dari ranjang single bed-nya.
Saat terdengar suara rintik hujan menumbuk genting, Arnas sudah sibuk dengan game di ponselnya. Dunia nyata pun seketika kiamat dalam kepalanya. Yang ada hanya arena pertarungan dengan bunyi pertempuran memekakan telinga, meningkahi deru hujan berangin di luar sana.
"Ar, kecilin dong volimenya," protes Jonas. "Gak bisa konsen gue."
"Mmm," gumam Arnas, menurunkan sedikit volume ponselnya.
Saat sedang asik-asiknya, sebuah notifikasi muncul di tepi layar, menarik perhatiannya karena struktur huruf yang unik. Seolah sederet huruf itu berteriak padanya.
Lion's Clarine: LO BELOM BAYAR UANG KAS MINGGU KEMARIN, YA?!!!
Arnas mengetuk pesan itu dengan rasa tak terima yang kuat. Enak saja! Ia sudah membayar uang kas pekan lalu. Uang kas adalah topik sensif baginya. Mengingat ia punya pengalaman-pengalaman tak menyenangkan berulang kali dikejar singa betina—bahkan pernah sampai bilik toilet laki-laki. Kurang sangar apa coba si Clarine?
Arnas: Udah, *****. Jangan ngadi-ngadi lo. Udah gua bayar bareng Yaksa pakek uang gocap.
Lion's Clarine: Emang iya?
Arnas: IYA!!
Lion's Clarine: Santai dong, jangan ngegas. Jebol capslock lo?
Lihat siapa yang mengetik? Dasar tak tahu diri!
Lion's Clarine: Oh iya lo udah bayar, gue baru inget.
Arnas: Makanya jangan pakek memori dua giga.
Lion's Clarine: Mf.
Arnas: What the hell 'mf' is?
Lion's Clarine: Maaf.
Arnas: Anjr.
Menguras emosi jiwa sekali bertukar pesan dengan Clarine. Maka terburu ia keluar dari ruang obrolan. Dan netranya langsung terusik dengan sebuah centang abu di bawah nama bilah chat nomor dua. Sumi.
Chilla belum membaca pesannya. Ke mana sih gadis itu? Kenapa pesannya masih bercentang satu-abu?
Jangan-jangan Chilla sudah pergi ke café? Tapi kan ia belum membalas pesan gadis itu. Bodoh sekali jika dia sudah pergi.
Memang kapan Chilla pinter, sih?
Bisikan benaknya itu menyadarkan Arnas bila Chilla memang jarang-jarang menggunakan otaknya, apalagi perihal Jonas. Bucin akut perempuan satu itu.
Demi ketenangan hati, diteleponnya nomor Chilla secara konvesional, dan seperti potongan adegan sinetron alay Indonesia serta hyeong dan noona bucin di drama Korea, nomor yang ia tuju tidak aktif.
Klise sekali.
Gelisah, Arnas pun pergi menengok jendela kamar yang tertutup. Fokusnya tertuju ke rumah depan, pada pintu balkon kamar—yang diduganya—milik Chilla. Tapi percuma saja, ia tak dapat melihat apa-apa karena pintu balkon itu tertutup.
Ia jadi agak cemas. Dibayangkannya Chilla duduk di salah satu kursi café, menunggu Jonas yang tak akan pernah datang. Sungguh menyedihkan. Apalagi dengan hujan lebat disertai angin kencang yang tampaknya akan abadi. Dan lebih-lebih lagi, sekarang sudah jam setengah sembilan malam yang artinya café akan tutup dalam setengah jam. Dan yang paling lebih-lebih-lebih lagi, Largha si kakak otoriter akan pulang tak lama lagi. Mampuslah Chilla.
Walau bukan salahnya, ia jadi merasa bertanggung jawab untuk menyelamat Chilla dari situasi sial ini. Sebagai satu-satunya orang yang tahu keberadaan Chilla dan tak punya buku di bawah hidungnya, ia merasa seharusnya pergi menyusul Chilla dan membawakannya payung agar tak kehujanan.
Tapi itu kan... iyuhh, dramatis sekali. Ia tak siap mental menjadi ksatria payung atau semacam itu, sebab ia bukan Jonas yang baik hati. Ia adalah Anas yang cool dan cuek. Lagipula, bagaimana bisa ia menerobos hujan bahkan saat ia tak yakin seratus persen Chilla benar-benar ada di café? Itu merupakan sebuah kecerobohan.
Tapi bila Chilla tidak pergi dan masih di rumah, kenapa dia tidak mengabari? Tak mungkin kan Chilla yang menuntut kedatangan Jonas akan membatalkan janji tanpa menghubunginya? Tidak mungkin. Chilla tak akan membiarkan Jonas terjebak hujan.
Sehingga... apa yang harus ia lakukan sekarang?
Susul Chilla, bisik hatinya.
Tapi Chilla kan bisa pulang sendiri kalo udah bosen nunggu, Arnas beralasan.
Sekarang hujan deres, benaknya memberi argumen.
Di depan café kan ada indomaret. Dia bisa beli payung di sana.
Tapi dia tetep bakal basah kuyup kehujanan dengan hujan selebat ini.
Iya sih... Arnas mengakui.
Susul dia. Cepet. Sebelum jam sembilan.
Arnas menguatkan tekat dan bangkit berdiri. Seperti meriam ia meluncur ke bawah. Mengambar dua payung dan langsung ia bentangkan satu untuknya.
Baru sedetik di luar, pundaknya mulai lembab karena hujan yang turun menyerong dan angin yang membias kencang. Ia setengah berlari menyusuri jalan yang digenangi air. Menimbulkan bunyi kecipak disertai percikan air yang membasahi ujung celananya.
Tak lama ia sampai di depan café, terengah dan lumayan basah—payung tak terlalu berguna. Segera ia menerobos masuk setelah meninggalkan payung di luar.
Café itu kecil, bergaya industrialis. Pengunjung di dalamnya tak banyak. Hanya ada dua orang yang duduk dekat jendela. Selain itu, berdiri seorang pelayan di belakang konter pesanan. Dan... tak ada Chilla!
Emosi mulai menggelegak di dalam tubuh Arnas, menyadari betapa bodohnya ia. Namun ia segera menenangkan diri dan mencoba berpikir positif.
Ia pun melangkah mendekati konter dan berkata, "Pemisi."
"Iya," jawab sang pelayan yang tampak masih muda, penuh senyuman—terpaksa. "Mau pesan apa, Kak?"
"Enggak. Saya mau tanya." Seiring kalimat itu meluncur dari bibir Arnas, senyum perempuan di seberang meja konter itu memudar. "Tadi di sini ada cewek setinggi ini," ia mengira-ngira tinggi Chilla di bawah telinganya menggunakan tangan, "rambutnya keriting coklat, mukanya agak bule, matanya bulat... cantik?"
"Enggak ada."
"Oke, makasih."
Ia pun berputar, melenggang keluar dari pintu kaca untuk menjumpai dua payungnya yang tergeletak mengenaskan.
Ia marah pada Chilla yang tak mengabari apa pun dan membuatnya khawatir. Namun ia lebih marah pada dirinya yang sepeduli itu pada Chilla. Ia begitu takut mengira Chilla menanti Jonas dengan sia-sia. Padahal menanti tak akan membunuh seseorang. Ia khawatir café tutup dan Chilla terpaksa pulang hujan-hujanan karena tak membawa payung. Padahal selama ini ia belum pernah mendengar ada orang yang mati pure hanya karena kehujanan. Dan ia juga cemas Largha sampai di rumah duluan. Padahal gadis itu sudah biasa dimarahi.
Ia merasa sangat bodoh karena khawatir. Ia juga kesal karena merasa bahwa ia mulai tak menjadi dirinya yang biasa jika itu berhubungan dengan Chilla. Samar-samar, ia punya hasrat untuk terlihat baik di depan gadis itu, melindungi gadis itu. Sedangkan biasanya ia tak peduli dengan hal semacam itu.
Apa sih yang terjadi padanya?!
Ponsel Arnas berdering di dalam saku. Segera ia mengambilnya. Menemukan nama Chilla di sana.
Shit!
Ia mengangkatnya, namun tak bicara. Hanya menempelannya di depan telinga. Dan suara Chilla segera memenuhi indera rungunya, membuat perasaannya berkecamuk.
"Gue baru baca chat lo. Syukur deh kalo Jonas gak mau. Gue tadi khawatir banget kalo dia bakal kejebak di café karena hujan deres gila, dan gue tadi gak bisa ngehubungin lo buat batalin rencana. Soalnya waktu mau keluar rumah tadi, gue ketahuan Kak Largha yang mendadak pulang dan handphone gue disita. Ini aja gue diem-diem masuk ke kamarnya buat nelepon lo pas dia lagi mandi. Berasa ninja gue. Ya udah gue pergi dulu, takut dia udahan mandinya. Bye."
Tut... tut...
Chilla mematikan sambungan secara sepihak.
Dalam benaknya, Arnas sedang berkutat mencari kata umpatan paling keras yang sanggup diucapkannya.
∆∆∆
Arnas as sadboy... hehe
btw, kalian lebih dukung
1. Tim Arnas & Chilla, atau
2. Tim Jonas & Chilla ?
Kalo aku sih, Tim Arnas & Lusi
wkwkwk
dan aku mau ingetin selalu, jangan lupa vote, komen, like, share, favorit, dan kasih bintang lima ya. yang baik, aku doa'in banyak rezeki euy...
S2 yuk kak....
kenapa baru sekarang nemunya....
sungguh