NovelToon NovelToon
Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Mafia Jatuh Cinta Pada Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Identitas Tersembunyi / Mafia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.

Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.

Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.

Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lari di Malam Gelap

Pak Raka terengah, keringat dingin di dahinya bercampur debu jalanan.

Mika menarik lengannya, langkah mereka tergesa, tapi mereka tak bisa berhenti, suara tembakan dan teriakan anak buah Levis masih menempel di belakang seperti bayangan yang tak mau hilang.

Malam di luar benar-benar gelap. Jalan yang biasanya biasa saja kini terasa seperti jebakan.

“Ayo… sini, ayah!” Mika berbisik, suaranya gemetar tapi penuh tekad.

Pak Raka menunduk, langkah pincangnya tertatih bukan karena takut, tetapi karena tubuhnya sudah lama tidak dipaksa sejauh ini.

Ia tahu setiap detik berarti nyawa mereka.

Di kejauhan, suara rem kendaraan… lalu sorot lampu yang salah arah.

Mika menarik ayahnya ke semak-semak tepi jalan. Tidak ada waktu untuk rencana.

Hanya pilihan, lari… atau tertangkap.

Mereka merunduk. Napas berat. Debu jalanan melekat di jaket mereka.

Mika merasakan denyut di lehernya bukan cuma lelah. Itu rasa takut yang nyata.

Diam.

Dan di belakang semak, ada suara kaki menghampiri.

Mika mendengar bisikan singkat, suara pria, lalu…sepatu hitam menyentuh tanah.

Satu.

Dua.

Tiga langkah.

Tanpa peringatan, Mika menarik tubuh ayahnya dan mereka melompat ke jalan tanah, berlari lagi.

Kaki mereka terpental di kerikil, napas semakin deras seperti denyut jantung yang diperas.

Pak Raka tak lagi semampai dulu. Tapi ia tetap berjalan.

Karena jika mereka berhenti…itu berarti Levis menang tanpa harus melihat darah lagi.

Teriakan dari arah semak semakin dekat.

Seseorang berteriak, “Hei! Di sana!”

Mika tidak menoleh. Ia hanya menarik ayahnya lebih cepat, seperti seseorang yang tahu, kita tidak boleh lengah sekali pun.

Angin malam menerpa wajah mereka, membawa suara jauh, motor mendekat lebih cepat.

Bukan satu kendaraan, Tapi dua.

Sorot lampu menyapu pepohonan.

Mika menunduk… lalu melihat satu pintu kecil di samping gudang pabrik tua.

Sebuah celah.

Ia menengok ke Pak Raka. “Kita lewat sini… sekarang,” bisiknya.

Pak Raka menatap. Tidak ada keraguan. Hanya satu jawaban pendek, “Lari.”

Mereka menerobos pintu sempit itu, masuk ke lorong gelap lebih dalam ke sisi pabrik bata yang sudah lama tak dipakai orang.

Di dalam, bau debu dan kelembapan menempel.

Langkah kaki lain terdengar dari belakang. Tidak jauh. Tapi tidak terlalu dekat.

Mika mendengar napas yang lebih cepat tertinggal. Ia berpaling pada ayahnya.

“Sebentar lagi,” katanya pelan, “kita aman.”

Tapi suara itu bukan ketakutan.

Itu suara seseorang yang tidak punya pilihan lain selain bertahan.

Langkah kaki semakin dekat.

Mika dan Pak Raka menyeret diri mereka lebih jauh ke lorong.

Dan untuk pertama kalinya malam itu…ada seberkas harapan terpancar, tipis seperti sinar lampu jauh di ujung.

Tapi juga mengancam.

Karena suara di belakang mereka bertambah cepat.

Dan mengejar mereka dengan nyaring.

.

Lorong itu tidak panjang.

Dan Mika sadar terlalu cepat ini bukan jalan keluar.

Dinding bata kanan kiri makin menyempit. Bau tanah basah berubah jadi bau oli lama. Di ujung lorong, cahaya kecil berkelip… tapi bukan cahaya luar.

Lampu darurat.

Pabrik bata ini tidak sepenuhnya mati.

Pak Raka tersandung. Lututnya menghantam lantai. Suara itu kecil, tapi cukup.

Mika langsung berlutut. Menahan tubuh ayahnya sebelum jatuh lebih keras.

“Ayah...”

“Diam,” bisik Pak Raka, napasnya terengah. “Dengar.”

Mika menahan napas. Langkah kaki. Tidak satu. Tiga.

Dan mereka berhenti tepat di mulut lorong.

Senter menyala.

Cahaya menyapu dinding bata, melewati karung-karung rusak, lalu berhenti kurang dari satu meter dari wajah Mika.

Ia menahan refleks menutup mata.

Seorang pria bersuara rendah. Santai. Terlalu santai untuk situasi seperti ini.

“Jejaknya ke sini.”

Pria lain menyeringai. “Yang pincang nggak bisa jauh.”

Pak Raka mengepalkan tangan. Mika merasakan getarannya.

Mereka bergerak pelan lalu berhenti di balik dinding bata yang runtuh.

Mika merogoh tas kain kecil di pinggang. Solar. Sedikit. Bukan untuk membakar tempat ini. Hanya cukup untuk mengalihkan mata.

Mika menyiramkannya tipis pada tumpukan kayu bekas dan kain karung di sudut bangunan samping jauh dari ruang yang pernah ia lihat dijaga lebih ketat. Tangannya tidak gemetar. Yang bergetar justru napasnya. Pendek. Terkendali.

Ia menunggu.

Saat langkah itu menjauh, Mika mengeluarkan korek api. Ia tidak menyalakan senter. Cahaya sekecil ini pun bisa membunuh.

Klik.

Api kecil menyala. Mika mendekatkannya tidak langsung. Satu sentuhan. Ia mundur setengah langkah. Api merayap pelan, memakan kain dulu, lalu kayu. Asap muncul lebih cepat dari nyala.

Itu yang ia inginkan.

Mika berbalik dan berjalan, bukan lari. Ia tahu suara langkah orang panik berbeda dengan orang bekerja. Ia ingin menjadi yang kedua.

Teriakan pertama terdengar beberapa detik kemudian. Bukan alarm. Kebingungan. Sepatu berlari. Seseorang berteriak mencari ember. Komunikasi pecah.

Mika menyelinap ke lorong yang ia ingat. Jalurnya sempit. Lampu berkedip. Asap mulai merayap ke atas, menutup pandangan, membuat bayangan lebih tebal dari orangnya.

Ia berhenti di satu pintu. Mendengarkan. Ada napas berat di dalam. Ayahnya.

Mika membuka perlahan. Pak Raka menoleh. Mata mereka bertemu tidak ada teriakan, tidak ada tanya. Hanya satu anggukan.

“Sekarang,” bisik Mika.

Mereka bergerak saat suara di luar semakin kacau. Api kecil itu tidak membakar pabrik. Ia membakar fokus.

Di sudut lain, seseorang berteriak, “Api dari mana?!”

Mika tidak menjawab. Ia sudah pergi membawa ayahnya, meninggalkan nyala yang cukup untuk membuat semua orang melihat ke arah yang salah.

Asap tipis memenuhi lorong.

“Api...!”

“Sial!”

Teriakan pecah. Langkah kaki kacau.

Mika tidak berpikir panjang. Ia menarik Pak Raka ke samping ke celah sempit yang tadi ia lihat sekilas. Pintu besi kecil, setengah tertutup, berkarat.

Ia mendorongnya.

Pintu itu terbuka dengan jerit pelan.

Mereka jatuh masuk ke ruang sempit di balik dinding bata ruang penyimpanan lama, penuh debu dan rangka besi.

Mika menutup pintu itu perlahan. Sangat perlahan.

Di luar, suara panik.

“Padamkan apinya!”

“Cari jalur lain!”

Api kecil itu tidak mematikan. Tapi cukup membuat mereka terpecah.

Mika menempelkan telapak tangan ke mulutnya sendiri. Menahan suara napas.

Pak Raka duduk di lantai, keringat dingin membasahi wajahnya. Tapi matanya tajam.

Di luar, langkah kaki menjauh. Teriakan makin samar.

Beberapa menit terasa seperti jam.

Lalu sunyi. Sunyi yang terlalu rapi.

Pak Raka memejamkan mata sebentar. “Kita belum aman.”

Mika mengangguk. “Tapi kita hidup.”

Itu sudah lebih dari yang Levis rencanakan.

1
Kam1la
“Aku sangat terbuka dengan masukan dari kalian. Kritik dan saran akan sangat membantu agar novel ini semakin baik. Jika suka, boleh juga beri like ya.”
Avocado Juice 🥑🥑: Semangat kak /Smile//Ok/
total 1 replies
Mulaini
Semoga aja Leon masih hidup dan mungkin yang terbakar supirnya.
Mulaini
Siapa laki² yang turun dari mobil hitam apakah salah satu musuh Jovan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!