NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20

Pagi itu datang dengan udara yang terlalu rapi.

Langit cerah, terlalu cerah untuk perasaan yang menggantung di dada Zivaniel. Cahaya matahari menembus tirai kamar, jatuh lurus ke lantai marmer yang dingin. Ia sudah bangun sejak lama, duduk di tepi ranjang tanpa melakukan apa pun, masih mengenakan kaus hitam dan celana rumah.

Acara keluarga.

Kata itu berputar pelan di kepalanya.

Bukan perayaan. Bukan makan malam hangat dengan tawa yang tulus. Di keluarga Zivaniel, “acara” berarti pertemuan. Evaluasi. Penilaian. Sesuatu yang harus dihadiri—bukan dinikmati.

Ia berdiri, berjalan ke kamar mandi, mencuci wajah lebih lama dari biasanya. Air dingin menyentuh kulitnya, tapi tidak cukup untuk menenangkan pikirannya.

Cherrin.

Nama itu muncul tanpa izin.

Ia menghela napas, mengeringkan wajah, lalu mengganti pakaiannya dengan kemeja putih dan jas hitam sederhana. Tidak ada aksesori berlebihan. Tidak perlu. Nama belakangnya sudah cukup menjadi pengenal.

Di lantai bawah, suasana mansion berbeda dari biasanya.

Dan hari itu Cherrin ada kegiatan di sekolah, dan pulang sampai malam hari. Ia sudah meminta ijin pada nenek Serra tidak ikut acara keluarga.

Pelayan berjalan lebih cepat. Suara langkah terkontrol. Aroma kopi dan masakan khas keluarga bercampur di udara. Meja makan besar sudah tertata rapi, lebih formal dari biasanya.

Zivaniel turun tangga tanpa tergesa.

Varla duduk di ujung meja. Wanita itu anggun, punggungnya tegak, rambutnya disanggul rapi. Tatapannya tajam, seperti selalu—bukan dingin, tapi penuh kendali.

“Kamu kelihatan kurang tidur,” katanya tanpa basa-basi.

“Ada tugas sekolah,” jawab Zivaniel datar.

Varla mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Di keluarga ini, alasan jarang digali—yang penting hasil.

Maxtin belum turun.

Zivaniel duduk di kursinya. Kursi yang sama sejak kecil. Kursi yang menandai posisinya—anak sulung. Pewaris. Bukan pilihan, tapi takdir.

“Om dan sepupu-sepupumu datang siang,” kata Varla lagi. “Ada beberapa hal yang ingin dibicarakan.”

Zivaniel tahu. Selalu ada.

Ia hanya mengangguk.

Beberapa menit kemudian, suara langkah berat terdengar dari tangga.

Ayahnya muncul.

Pria itu tinggi, bahunya lebar, wajahnya tenang tapi mengintimidasi. Usianya sudah melewati lima puluh, tapi auranya tidak pernah melemah.

“Zivaniel,” sapa ayahnya singkat.

“Ya, Pa”

Mereka duduk berhadapan. Tidak ada pelukan. Tidak ada sapaan hangat. Hubungan mereka dibangun dari kewajiban, bukan afeksi.

Sarapan berlangsung dalam diam yang teratur.

“Setelah makan, ikut aku ke ruang kerja,” kata ayahnya akhirnya.

“Iya.”

Ibunya melirik sekilas. Tidak bertanya kenapa. Ia sudah tahu.

Ruang kerja ayahnya selalu terasa lebih dingin dari ruangan lain.

Dinding kayu gelap. Rak buku penuh berkas, bukan novel. Meja besar di tengah ruangan dengan kursi berat di belakangnya—kursi yang suatu hari akan ditempati Zivaniel.

Ayahnya berdiri di depan jendela, membelakangi Zivaniel.

“Kamu tahu kenapa keluarga berkumpul hari ini?” tanyanya.

“Untuk membahas perluasan wilayah,” jawab Zivaniel.

Ayahnya berbalik. “Salah satunya.”

Ia berjalan mendekat, duduk di kursinya.

“Ada pembicaraan tentang masa depanmu.”

Zivaniel mengangkat pandangan.

“Kamu sudah hampir lulus. Sudah waktunya kamu mulai lebih terlibat.”

Nada ayahnya datar. Tidak mengancam. Tidak memaksa. Tapi justru itu yang membuatnya berat.

“Aku masih sekolah,” kata Zivaniel.

“Aku juga sekolah saat mulai terlibat,” jawab ayahnya. “Itu bukan alasan.”

Zivaniel diam.

“Kamu pintar. Terkontrol. Tidak impulsif,” lanjut ayahnya. “Itu bagus. Tapi aku dengar kamu mulai… terdistraksi.”

Zivaniel menegang.

“Distraksi apa?” tanyanya hati-hati.

Ayahnya menatapnya lama. “Kehidupan normal.”

Kalimat itu jatuh pelan. Tapi menghantam.

“Aku tidak melarang kamu punya teman,” lanjut ayahnya. “Tapi kamu harus tahu batas.”

Zivaniel mengepalkan tangannya di bawah meja.

“Dunia kita tidak ramah pada orang luar,” kata ayahnya lagi. “Dan aku tidak mau kamu mengulang kesalahan generasi sebelumnya.”

Zivaniel tahu apa maksudnya.

Ibunya.

Ia menarik napas dalam.

“Aku paham.”

Ayahnya mengangguk. “Bagus.”

Percakapan itu selesai. Tidak ada diskusi lanjutan. Tidak ada ruang tawar.

Zivaniel berdiri, memberi hormat singkat, lalu keluar dari ruangan dengan dada terasa lebih sempit.

Siang hari, keluarga mulai berdatangan.

Om, tante, sepupu—wajah-wajah yang ia kenal sejak kecil, tapi tidak pernah benar-benar dekat. Senyum mereka sopan, tawa mereka terukur.

Cherrin tidak akan cocok di sini, pikir Zivaniel tiba-tiba.

Pikiran itu datang begitu saja. Dan bersyukur Cherrin ke sekolah sampai malam hari. Ia tidak suka gadisnya di permalukan, walaupun di sana ada nenek Serra.

Ia melihat bagaimana sepupunya berbicara tentang bisnis sambil makan siang. Bagaimana candaan mereka selalu punya lapisan kedua. Bagaimana tidak ada yang benar-benar santai.

Cherrin dengan tawanya yang pelan. Dengan cara ia memegang permen kecil seolah itu hal penting. Dengan kebiasaan bicara jujur tanpa strategi.

Tidak.

Ia meneguk air putih, berusaha menepis pikiran itu.

Sore menjelang, acara berpindah ke ruang keluarga besar. Diskusi semakin serius. Nama-nama disebut. Wilayah dibahas. Keputusan ditimbang.

Zivaniel duduk, mendengarkan, mencatat.

Di luar, hujan mulai turun lagi.

Gerimis yang sama seperti kemarin.

Malam datang.

Acara keluarga masih berlangsung.

Zivaniel berdiri di sudut ruangan, memegang gelas tanpa benar-benar minum. Pembicaraan mulai melebar ke topik pribadi—rencana pernikahan sepupu, aliansi keluarga, hal-hal yang selalu berujung pada satu kata: kepentingan.

“Kamu belum punya calon?” tanya salah satu tantenya, setengah bercanda.

Zivaniel tersenyum sopan. “Belum.”

“Terlalu fokus sekolah,” timpal yang lain.

Ayahnya melirik sekilas, lalu berkata, “Nanti juga ada waktunya.”

Kalimat itu seperti palu kecil.

Zivaniel mengangguk.

Ia merasa seperti berdiri di antara dua dunia yang tidak bisa dipertemukan.

Satu dunia penuh struktur, kekuasaan, dan kewajiban.

Satu dunia yang sederhana, penuh perasaan kecil yang jujur—dunia tempat Cherrin berada.

Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus memilih.

Dan hari ini, pilihannya terasa semakin jelas—meski menyakitkan.

Malam hampir larut ketika acara akhirnya selesai.

Para tamu berpamitan satu per satu. Rumah kembali sepi, tapi sisa-sisa ketegangan masih tertinggal di udara.

Zivaniel naik ke kamarnya.

Ia melepas jas, melonggarkan dasi, lalu duduk di tepi ranjang—posisi yang sama seperti semalam.

Ia mengambil ponsel. Ia menatap layar ponselnya terlalu fokus.

Di layar sana, Cherrin baru saja masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu tampak menghela nafasnya kasar, dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.

Cherrin -nya sepertinya kelelahan sekali. Zivaniel tidak tau kegiatan apa di sekolah yang menguat gadis itu sampai kelelahan seperti itu. Mungkin besok ia akan mencari tahu diam-diam.

Satu sudut bibirnya terangkat ke atas. Saat melihat gadis-nya tertidur tanpa mau membersihkan diri terlebih dahulu.

Zivaniel terkekeh kecil. "Lucu." Gumam Zivaniel, matanya terus menatap ke arah layar, seolah enggan pergi dari sana...

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!