Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Masa damai dan mengenang
Siang di SMK Pamasta kini memiliki atmosfer yang benar-benar berbeda. Jika sebelumnya setiap sudut koridor sekolah terasa seperti lorong sempit yang penuh dengan kecurigaan, kini udara terasa lebih ringan, seolah-olah beban ribuan ton yang selama ini menghimpit atap gedung ini telah diangkat. Matahari Surabaya yang terik tidak lagi terasa membakar, melainkan memberikan kehangatan yang jujur pada setiap jengkal lantai tegel yang kami lalui.
Aku melangkah menaiki anak tangga menuju area atap sekolah. Langkah kakiku yang biasanya terburu-buru kini lebih santai, meskipun punggung bungkukku tetap menjadi pengingat permanen akan beban fisik yang pernah kupikul. Di tanganku, aku membawa kantong plastik berisi lima botol teh melati dingin. Sebuah kebiasaan yang ironis, mengingat jumlah kami kini tidak lagi lengkap, namun aku merasa perlu membawa satu botol tambahan sebagai bentuk penghormatan terakhir pada sebuah rivalitas yang berakhir terlalu cepat.
Saat aku mendorong pintu besi tua yang berkarat, suara tawa Bagas yang berat langsung memecah kesunyian siang. Di dekat pagar pembatas yang menghadap langsung ke arah lapangan basket, teman-temanku sudah berkumpul.
Vema duduk di barisan paling depan, membelakangi pintu. Ia mengenakan jaket sekolah yang sengaja disampirkan di bahunya, memperlihatkan rambut pendeknya yang kini tertata lebih rapi, meskipun angin kencang terus berusaha mengacak-acaknya.
Di sampingnya, Nadin sedang menekuni tabletnya dengan serius, sementara Netta duduk di bangku kayu panjang sambil memegang buku sketsanya, tampak sedang menggambar siluet gedung-gedung kota. Bagas sendiri berdiri bersandar pada pilar beton, menatap lapangan basket di bawah sana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sang Auditor akhirnya tiba," ucap Bagas tanpa menoleh, namun ada nada ramah dalam suaranya.
Aku mendekat dan membagikan botol teh itu satu per satu. "Maaf terlambat. Bu Ida menahanku di ruang guru untuk membantu merapikan laporan inventaris yang sempat kacau selama masa transisi ini."
"Laporan yang sekarang benar-benar mencerminkan kenyataan, bukan?" tanya Nadin sambil menerima botol tehnya. Jemarinya bergerak lincah di atas layar tablet, tidak lagi mencari celah keamanan, melainkan sedang menyusun kode untuk sistem administrasi baru yang lebih transparan.
"Sangat nyata, Nadin. Tidak ada lagi angka-angka siluman yang disembunyikan Pak Haryo," jawabku sambil mengambil posisi duduk di samping Vema.
Vema menoleh padaku. Matanya yang jernih memancarkan kedamaian yang belum pernah kulihat selama satu semester terakhir. "Kamu terlihat lebih tenang, Dra. Garis wajahmu tidak lagi setegang saat kita masih berada di dalam gudang arsip tempo hari."
"Mungkin karena aku sudah tidak perlu lagi menghitung risiko di setiap langkah yang kuambil," balasku pelan. Aku merasakan ketenangan menjalar saat tangan kami tidak sengaja bersentuhan.
Hening sejenak menyelimuti kami berlima. Angin bertiup lebih kencang, membawa aroma tanah kering dan suara sorak-sorai siswa yang sedang berolahraga di bawah. Tatapan kami semua perlahan jatuh ke arah lapangan basket, tempat di mana tragedi itu bermula
"Kalian tahu," Bagas memecah keheningan dengan suara yang lebih rendah, "setiap kali aku melihat ring basket di sana, aku selalu teringat pada Riko. Dia adalah musuh yang paling membuatku frustrasi selama classmeet. Dia licik, tangguh, dan sangat ingin menang."
Aku mengangguk, mengingat bagaimana atmosfer panas saat pertandingan itu berlangsung. Riko bukan teman kami; dia adalah rival sengit dari kelas sebelah yang tewas secara tragis di lapangan itu.
Kematiannya saat itu dianggap sebagai kecelakaan karena kelelahan, namun kami semua tahu bahwa benang hitam Pak Haryo-lah yang menjerat jantungnya demi sebuah kemenangan yang dipaksakan.
"Dia bukan orang baik bagi kita saat itu," lanjut Bagas, "tapi dia tidak pantas mati dengan cara seperti itu. Dia hanyalah remaja ambisius yang dijadikan bidak oleh Pak Haryo untuk menunjukkan kekuasaannya di sekolah ini."
Netta menghentikan goresan pensilnya di atas kertas. "Keberadaan Riko akan selalu menjadi pengingat bagi kita semua. Bahwa di sekolah ini, persaingan pernah menjadi sesuatu yang mematikan. Sekarang, setiap kali aku menggambar lapangan itu, aku tidak lagi merasakan aura hitam yang dulu menghantuiku. Lapangan itu kini hanya lapangan basket biasa."
Nadin meletakkan tabletnya di pangkuan. "Kejadian itu merubah kita semua. Jika Riko tidak tewas hari itu, mungkin kita berempat tidak akan pernah berkumpul di atap ini. Kita mungkin akan tetap menjadi siswa asing yang hanya peduli pada nilai dan kompetisi masing-masing."
Vema merangkul lututnya, menatap lurus ke arah cakrawala. "Kematian Riko adalah harga yang sangat mahal untuk kebebasan yang kita rasakan sekarang. Aku merasa berhutang padanya, meskipun aku takut ketika dekat dengannya. Kematiannya adalah pemicu yang meruntuhkan tembok rahasia ibuku dan Pak Haryo."
Aku mengeluarkan botol teh kelima yang masih tersegel dan meletakkannya di tengah-tengah lingkaran kami. Botol itu berkeringat karena udara panas, tampak kontras di atas lantai beton yang abu-abu. "Ini untuk Riko. Bukan sebagai teman, tapi sebagai rival yang terhormat. Dia adalah bagian dari sejarah yang membuat kita lebih dewasa."
Kami semua terdiam, memberikan penghormatan tanpa kata pada sosok yang telah tiada. Rivalitas itu kini telah menguap, menyisakan pemahaman bahwa di atas segala persaingan, ada kemanusiaan yang harus tetap dijaga.
"Jadi," Vema memecah suasana yang mulai melankolis, "apa yang akan kita lakukan setelah ini? Semester dua akan segera dimulai dengan beban pelajaran yang lebih berat."
Nadin tersenyum penuh percaya diri. "Aku sudah menyiapkan server cadangan untuk sekolah ini. Jika ada orang seperti Pak Haryo lagi yang mencoba memanipulasi data atau memantau privasi siswa, sistemku akan langsung memberikan peringatan. Kita adalah pengawas bayangan sekarang."
"Dan aku akan tetap memastikan tidak ada intimidasi di lapangan basket," Bagas menambahkan sambil meneguk tehnya. "Aku ingin olahraga di sini benar-benar tentang bakat, bukan tentang siapa yang punya koneksi atau... kekuatan lain."
Aku menatap mereka satu per satu. Kelompok ini lahir dari sebuah tragedi, dibentuk oleh rasa takut, namun kini dipersatukan oleh kejujuran. "Rencanaku sederhana. Kita tetap harus menjadi siswa yang berprestasi, namun dengan cara yang lurus. Aku akan tetap menjadi auditor, tapi kali ini aku akan mengaudit kebenaran di sekitar kita."
Sore itu kami habiskan dengan membicarakan hal-hal yang jauh lebih ringan. Vema menceritakan betapa canggungnya bapaknya saat mengajak ibunya jalan-jalan ke pantai, sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak dilakukan oleh keluarganya. Nadin bercerita tentang ambisinya untuk masuk ke universitas teknologi ternama, sementara Netta memamerkan sketsanya yang kini penuh dengan warna-warna cerah.
Saat matahari mulai condong ke barat, menciptakan bayangan panjang di atas atap sekolah, aku merasa hidupku akhirnya memiliki struktur yang benar. Tidak ada lagi catatan piutang yang macet, tidak ada lagi penggelapan kebenaran. Yang ada hanyalah realitas yang harus dijalani dengan berani.
Kami berdiri bersama saat bel pulang sekolah berbunyi dari kejauhan. Sebelum turun, aku menoleh sekali lagi ke arah botol teh yang kutinggalkan di sana. Cahaya senja menyinari botol itu, membuatnya tampak berkilau.
"Ayo," ajak Vema sambil menggandeng tanganku. "Ibu sudah menungguku di rumah. Beliau bilang ingin mencoba memasak makan malam tanpa harus merasa gelisah lagi."
Kami berjalan turun menuruni tangga kayu, suara tawa kami bergema di lorong sekolah yang kini terasa hangat. Rivalitas dengan Riko telah menjadi bagian dari masa lalu yang terkubur, namun pelajaran yang kami ambil dari sana akan tetap hidup dalam setiap langkah yang kami ambil menuju masa depan.
SMK Pamasta kini benar-benar telah memulai bab baru. Dan kami adalah penulis yang memegang pena dengan tangan yang jujur.
ada apa dgn vema
lanjuuut...