Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.
Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.
Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tama mengirimkan fotonya
Hari ini Guno datang menjemput Tama untuk berangkat ke sekolah bersama, dengan mantap dia memberhentikan mobilnya tepat didepan rumah Tama pun, dia mengambil tas yang berisikan baju semalam hasil pilihan Tama sendiri.
Seorang ibu yang tengah berdiri disamping bunga mawar sejenak terdiam, mematung menatap kedatang pria yang tempo hari pernah datang kesini untuk menjemput Tama, secara bersamaan Tama juga keluar dari rumah kemudian dia meminta izin pada ibunya untuk berangkat.
" Bu, Tama berangkat ya " ucap Tama sembari mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan ibunya.
Namun ibunya hanya diam saja lalu perlahan kepalanya menengok ke wajah Tama.
" Kamu ngajak pak guru itu berangkat bareng lagi? "
Tama mengerenyitkan keningnya kemudian Guno yang sudah keluar dari dalam mobil kini berjalan ke arah mereka dan tatapan Tama terlihat ketakutan. Takut ibunya marah, takut nanti disekolah dirinya akan dijauhi oleh teman - temannya dan masih banyak lagi ketakutan Tama yang tidak bisa diprediksi.
Tama menghembuskan nafasnya lalu dia berdiri sedikit mundur dari ibunya.
" Bu ... " Sapa Guno sembari mengulurkan tangan.
Ibu Tama kebingungan dirinya sempat menengok ke arah Tama beberapa kali pun Tama hanya menggelengkan kepalanya, lalu beliau hanya mengangguk saja tidak membalas uluran tangan Guno.
Guno yang melihat tangannya tidak dibalas hanya bisa tersenyum dan menjelaskan kedatangan dirinya ke rumah ibu dan Tama.
" Mohon maaf sebelumnya Bu kalau ibu terkejut dengan kedatangan saya. Saya di sini hanya ingin menjemput Tama seperti kemarin, untuk berangkat sekolah bersama Bu "
" Tapi saya sudah bilang kan sama bapak jangan sama Tama! Kalau memang Tama yang minta jangan didengerin, malu pak anak saya bareng bapak "
" Maksud ibu malu? Saya jelek ya Bu? "
" Bukan jelek pak, berapa kali saya harus jelaskan tidak pantas seorang murid bersama guru berduaan apalagi bapak bawa mobil. Pikiran orang itu beda-beda pak, tidak bisa dipukul rata! "
" Semua orang yang ada di sekolah sudah tahu kok Bu, saya dan Tama hanya murid dan guru, mereka juga mewajari. Toh positifnya kalau sama saya Insya Allah setiap langkahnya aman Bu akan saya pastikan itu! "
Nafas berat keluar dari mulut Ibu kemudian beliau memegang bahu Tama.
" Jangan macam - macam, harus ingat kita gak punya bapak. Jangan bikin malu keluarga "
" Tama gak tahu dijemput Bu "
" Apapun alasannya kamu harus selesaikan sendiri, jangan seperti ini Ibu gak mau tetangga tahu! "
setelah berkata begitu ibu Tama langsung pergi masuk kedalam rumahnya dan Tama yang dinasehati seperti itu hanya bisa diam kemudian dia bergegas masuk kedalam mobil Guno.
Brak!
Ditutupnya pintu mobil itu dengan keras oleh Tama, Tadinya Guno ingin marah namun dia berusaha untuk bersikap sedewasa mungkin didepan Tama meskipun aslinya dia jengkel karena Tama ternyata bisa se-nyebelin itu. Guno mengatur nafasnya kemudian dia beranjak masuk kedalam mobil.
Tama menyilangkan kakinya sembari memangku kedua tangannya. Bibirnya cemberut dan tatapan matanya fokus ke depan.
Guno menyandarkan kepalanya ke kursi mobil
" Aku minta maaf, aku gak tahu ibu mu masih bersikap seperti itu "
" Biasakan saya! Saya pak! "
" Iya saya! Maaf kalau... "
" Lain kali kalau mau jemput kasih tahu saya dulu pak, ibu saya keras orangnya gak segampang itu meluluhkan hati Ibu "
" Ya ok! Lain kali saya akan telpon kamu dulu sebelum jemput "
Tama diam cukup lama dan Guno menghidupkan mobilnya untuk berangkat menuju sekolah. Di tengah perjalanan Tama meminta turun " Saya turun disini pak! " Guno yang mendengar permintaan Tama yang itu langsung mengerenyitkan keningnya " Kok turun disini? Masih jauh loh! " ucap Guno sembari fokus menyetir " Pokoknya saya minta turun disini! " Entah apa yang ada dipikirannya sampai - sampai Guno jadi bingung sendiri melihat tingkahnya dan dengan terpaksa Guno berhenti kemudian membuka pintu untuk Tama.
" Kamu mau kemana? "
" Terserah saya, bapak gak perlu tahu! "
" Jangan kayak gitu dong! Saya sudah janji sama ibu kamu untuk menjaga kamu sampai tujuan "
" Saya gak pernah minta pak! "
Dalam hati Guno berbicara " Keras juga ya ini anak, sama kayak ibunya! " Pun Tama yang tadinya menatap mata Guno langsung beralih ke tas punggung yang sempat dibawa oleh Guno pada saat menghampiri ibunya.
" Itu baju yang semalam aku pilihkan? " Tanyanya sembari menunjuk ke tas itu.
Guno juga langsung melihat ke tas itu,
" Iya " ucapnya singkat.
" Sini mau aku bawa " kedua tangan Tama mengadah pada Guno.
" Mau dibawa kemana? Jangan bikin khawatir deh! "
" Gak akan kemana - mana, Sini! "
Terpaksa Guno memenuhi keinginannya lagi, dia mengambil tas itu lalu diserahkan kepada Tama.
" Jangan dibuang, itu baju masih bagus dan harganya lumayan! "
Tama hormat kepada Guno sembari bilang " Siap pak! ".
Lagi-lagi Guno mengatur nafasnya kemudian dia mulai melajukan mobilnya untuk menuju sekolah, sepanjang perjalanan Guno hanya bisa diam memikirkan tingkah Tama yang ternyata dia cukup berani kepadanya. Pikir Guno kemarin-kemarin mungkin Tama berani menolak karena risih diganggu olehnya namun ternyata, setelah mereka dekat untuk menjalin sebuah hubungan Tama malah lebih dominan memiliki kendali untuk mengatur semuanya.
" Ternyata dia bukan gadis biasa, tidak bisa dipermainkan seenaknya. malah jadi gue yang kebingungan karena sikapnya! " ucap Guno kepada dirinya sendiri sembari menyetir.
" Awas aja nanti di sekolah kalau dia gak bisa jaga sikap, bakalan gue hukum! " tambah Guno mengecamnya.
***************************
Tet!!!!! Tet!!!!!!!
Jam istirahat tiba dan Guno keluar dari kantor untuk menuju ke kantin mencari jajanan yang bisa diberikan kepada Tama. Sampainya dikantin Guno mendapatkan beberapa rekomendasi jajanan dari siswa-siswi yang berdiri di belakangnya.
" Tumben bapak beli yang pedas, biasanya bapak suka makan yang gurih atau kalau nggak yang manis? " ucap siswi kelas 10.
" Iya nih lagi pengen pedes aja! " Guno.
Kemudian siswa yang lain menyahuti omongan pak Guno.
" Alah, paling si bapak beli buat si Tama! "
Guno langsung mencari sumber suara itu setelah berhasil ditemukan dia menatapnya.
" Tahu aja! " ucapnya sembari tersenyum.
Pun siswa itu langsung menunjuk makanan terpedas di kantin yang biasa dimakan oleh anak perempuan sampai habis.
" Kasih aja ramyeon level 10 pasti dimakan pak! "
" Tama suka pedas? "
" setahu saya kak Tama suka pedas, orang dia suka seblak kok! "
Pun batin Guno berbicara " Iya juga ya, dulukan waktu aku pertama kali deketin dia, dia lagi beli seblak dipinggir jalan " Guno mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian menatap siswa yang tadi.
" Terimakasih ya! "
" Ya!!! "
Guno langsung memesan ramyeon itu, tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk bisa mendapatkannya.
" Ini pak! " ucap ibu kantin.
" Terimakasih ya Bu! " Guno.
Setelah Guno mendapatkan ramyeon-nya dia langsung bergegas ke kelas Tama dengan berjalan sedikit berlari, Guno berhasil sampai dikelas Tama dalam kurun waktu 5 menit.
Mata Guno menyisir ke setiap sudut kelas " Kemana dia? " tanyanya pada diri sendiri. Lalu Guno bertanya kepada teman sekelasnya yaitu Vira yang tengah mengobrol bersama teman - temannya.
" Vira, Tama kemana ya? "
" Hari ini Tama gak masuk pak, katanya sakit "
" Sakit? "
" Iya! "
Guno langsung terdiam dan lagi-lagi hatinya berbicara " Bukannya tadi anak itu bareng sama gue ya, kok bisa ngebolos sih? " di tengah lamunannya itu Vira memecah pikiran Guno dengan suaranya.
" Bapak nggak tahu ya? Harusnya bapak tahu sih, kan bapak pacarnya! "
" Apa sih Vira? Nih buat kamu, dimakan ya! "
Guno menyerahkan ramyeon yang tadinya untuk Tama kepada Vira, mau dimakan sama siapa lagi kalau bukan sama Vira, orang Guno tidak suka pedas!
" Wah terimakasih ya pak! " ucap Vira senang.
Dan Guno meninggalkan Vira kemudian dirinya memeriksa handphone sembari berjalan menuju kantor guru, ternyata sudah ada beberapa pesan yang datang dari Tama. dibukanya pesan tersebut dan betapa terkejutnya Guno kalau ternyata Tama sedang mencoba baju Hana yang berwarna ungu, Tama mengirimkan fotonya!
" Hufp!!! "