Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji
Sabtu pagi itu Sasa sudah berdiri di depan cermin hampir empat puluh menit.
“Ini kebanyakan nggak sih?” gumamnya sambil mematut gaun putih selutut yang sebenarnya lebih cocok buat acara semi formal daripada sekadar jalan santai.
Ia mengganti lagi. Rok. Ganti lagi. Jeans. Ganti lagi. Sampai ranjangnya penuh oleh tumpukan baju karena hampir semua isi lemari berpindah tempat kesana.
Di luar kamar, Dirga sudah mengetuk pintu dengan wajah curiga. Jika bukan karena semalam sebelum pulang Kara mengabari jika Sasa ada rencana pergi dengan Tama weekend ini maka sudah dipastikan jam segini ia sudah pergi ke rumah istrinya.
“Mau ke mana lo dandan kayak mau lamaran?”
Sasa membuka pintu sedikit, hanya menampakkan wajahnya. “Jalan.”
“Sama siapa?”
“Temen.”
Dirga menyipit. “Temen yang namanya Tama?”
Sasa tersenyum manis yang terlalu manis untuk terlihat tulus. “Kak Dirga kok kepo banget sih.”
“Gue anter.”
“NGGAK!”
Dirga makin yakin. “Berarti bener.”
Sasa langsung menutup pintu sebelum kakaknya makin cerewet. Lima menit kemudian, ia sudah turun dengan outfit final: blouse pastel lembut, high waist jeans, rambut setengah diikat, dan tas kecil yang sebenarnya nggak perlu tapi penting demi estetika.
"Mom, Sasa mau main yah sama temen. Anak temen mami Jesi, yang waktu itu ada di ulang tahun sama nikahan Kaleng. Temen sekolah kak Dirga juga." jelasnya panjang lebar sambil berpamitan.
"Ini masih pagi banget, sarapan dulu aja."
"Nanti aja mom." balas Sasa seraya menyalami kedua orang tuanya. Dirga pun tak terlewat, untuk pertama kalinya Sasa salaman dengan benar pada kakaknya, "boleh yah kak, Sasa main sama Bang Tama."
"Kalo nggak gue kasih izin juga lo bakal tetap berangkat kan?" tebak Dirga, si adik hanya nyengir polos.
Sasa langsung meninggalkan ruang makan. Begitu keluar gerbang, mobil Tama sudah terparkir di depan rumah.
"Abang..." Teriak Sasa dengan riang.
Tama turun dari mobil dengan kemeja hitam lengan digulung dan jeans sederhana. Biasa saja. Tapi entah kenapa justru itu yang bikin Sasa jantungnya lompat.
“Pagi,” ucap Tama datar.
Sasa langsung berjalan mendekat dengan senyum lebar. “Pagi juga.” balas Sasa yang langsung menggandeng tangannya seperti biasa.
Tama melirik Sasa sekilas, memberi isyarat supaya melepaskan tangannya. "Mata kakak lo ntar keluar tuh ngeliatin kita." ucapnya lirih kala melihat Dirga yang semula berdiri di teras kini berjalan ke arahnya.
Dirga bersandar pada tiang gerbang sambil melipat tangan. “Jam berapa balik?”
Tama menoleh, tetap tenang. “Nggak lama, Ga.”
Sasa langsung menoleh kesal. “Kak, ini bukan interview kerja.”
Dirga mengabaikan adiknya. “Jagain! Jangan macem-macem.”
Tama mengangguk singkat. “Iya. Lagian adek lo nggak bisa dimacem-macemin juga."
Sasa mendengus kecil, tapi diam-diam hatinya hangat.
Begitu mobil melaju menjauh, Sasa langsung memutar badan menghadap Tama.
“Kita ke mana bang?”
“Kan lo yang ngajak.”
“Iya, tapi kan cowok harus punya inisiatif.”
Tama melirik sekilas, sudut bibirnya hampir terangkat. “Mall.”
“Bosen.”
“Pantai.”
Sasa langsung diam dua detik. “Serius?”
“Lo mau nggak?”
“MAU!”
Tama terkekeh pelan melihat ekspresi Sasa yang berubah secepat itu. Perjalanan ke pantai dipenuhi ocehan Sasa yang nggak ada jedanya. Dari cerita Mayra, gosip sekolah, sampai random bilang kalau ia mimpi dikejar bebek semalam.
Tama cuma sesekali menanggapi. Tapi diam-diam ia menikmati suara itu. Mobil yang biasanya terasa sunyi, hari itu jadi hidup. Sebelum terlalu jauh Tama menghentikan mobilnya di sebuah taman yang cukup ramai untuk sarapan lebih dulu karena gadis di sampingnya sudah mulai ngoceh belum makan. Salah sendiri dia mengajak berangkat pagi-pagi sekali. Jika bukan karena Sasa yang menelponnya sejak subuh, sudah dipastikan jam segini Tama masih bermalas-malasan di rumah.
Tama berjalan mendekat sambil mengeluarkan uang lagi. “Udah, gue tambahin. Kasih aja sausnya, Pak.”
Sasa langsung tersenyum puas, lalu berjalan kembali di samping Tama sambil makan cilok dengan ekspresi menang sendiri. Padahal baru menghabiskan bubur ayam, tapi ada tukang cilok yang masih persiapan untuk buka saja sudah Sasa larisin.
“Abang paling bisa diandelin.”
“Gue cuma nggak mau lo debat lima belas menit cuma gara-gara saus dua ribu.”
Sasa cekikikan.
Mereka sempat berdiri sebentar menghadap laut—eh, maksudnya… menghadap papan penunjuk arah tol.
Sasa menyipitkan mata.
“Bang…”
“Kenapa.”
“Ini kita kok makin jauh dari laut ya?”
Tama hanya diam dan terus melajukan mobilnya. Beberapa menit kemudian Sasa menoleh pelan. “Abang bohong?”
Tama batuk kecil. “Gue nggak bohong.”
“Katanya pantai.” protes Sasa.
“Iya. Tapi… kita di Bandung.”
Sasa berhenti jalan. “Terus?”
“Lo pikir Bandung punya pantai?”
Sasa terdiam. Otaknya seperti loading. “Oh.”
Tama menatapnya datar. “Oh?”
“Berarti kita nggak jadi ke pantai?”
“Lo baru sadar sekarang?”
Sasa langsung manyun. Bukan manyun manja—tapi manyun dramatis tingkat dewa. “Abang jahat.”
Tama hampir tertawa. “Gue yang jahat?”
“Iya. Udah bikin Sasa semangat dari tadi.”
“Lo sendiri yang teriak ‘MAU!’ tanpa mikir.”
Sasa melipat tangan. “Harusnya abang bilang dari awal.”
“Kalau gue bilang dari awal, lo tetep mau ikut nggak?”
Sasa mikir sebentar. Lalu mengangguk. “Mau sih.”
Tama tersenyum tipis. “Nah.”
Mobil akhirnya berhenti di parkiran salah satu mall besar di Bandung.
Sasa turun dengan wajah setengah bete setengah penasaran.
“Mall doang.”
“Lo tadi bilang bosen.”
“Iya sih…”
Belum lima langkah masuk.
“Bang.”
Tama sudah refleks. “Apa lagi.”
“Boba.”
Tama memejamkan mata. “Kita baru masuk.”
“Kan haus.”
Tama menatapnya tajam. “Lo tuh kayak punya radar jajanan.”
Sasa nyengir tanpa dosa.
Dan seperti pola yang mulai berulang, lima menit kemudian Tama sudah berdiri di depan kasir minuman, membayar dua cup. Padahal dia sendiri nggak terlalu suka manis.
Belum habis setengah minum.
“Bang.”
Tama menoleh pelan, tatapannya sudah pasrah. “Sekarang apa.”
“Croissant itu kayaknya enak.”
“Sasa.”
“Hm?”
“Lo tuh laper apa kesurupan?”
Sasa tertawa kecil. “Kan jalan-jalan harus jajan.”
Tama menggeleng pelan. “Lo nolak sarapan tadi.”
“Kan beda. Sarapan kewajiban. Jajan hobi.”
Tama benar-benar menghela napas panjang kali ini. Tapi tetap saja, ia belok, ia antre, ia bayar.
Sasa berjalan di sampingnya sambil menggenggam lengan Tama, minuman di satu tangan, croissant di tangan lain.
“Abang kesel ya?”
“Banget.”
“Kok tetep nurut?”
Tama berhenti sebentar, karena ia sendiri nggak punya jawaban yang masuk akal.
Harusnya ia tegas. Harusnya ia bilang cukup. Harusnya ia nggak usah nurutin setiap rengekan nada lembut yang selalu diakhiri, “Abang…”
Tapi setiap Sasa tersenyum lebar begitu dapat apa yang ia mau, entah kenapa rasanya kayak… worth it.
“Lain kali kita ke pantai beneran ya?” tanya Sasa tiba-tiba.
Tama menoleh. “Lo masih kepikiran?”
“Iya.”
Tama diam sebentar. Lalu suaranya lebih lembut dari biasanya.
“Nanti. Gue janji.”
Sasa langsung menatapnya berbinar. “Serius?”
“Iya. Kita keluar kota. Yang beneran ada lautnya. Biar lo bisa teriak-teriak nggak jelas.”
Sasa tertawa senang tanpa sadar makin mendekat, lengannya otomatis memeluk lengan Tama lebih erat.
Dan anehnya Tama tak melepas tangannya kali ini.
Ia cuma berjalan pelan, membawa beberapa kantong belanja yang entah kapan dibeli, sambil melirik gadis di sampingnya yang lagi heboh cerita soal outfit foto kalau nanti ke pantai.
Rewel.
Manja.
Kayak anak TK yang baru pertama kali diajak piknik.
Tapi justru itu yang bikin beda.
Dan tanpa sadar, Tama mulai berpikir—
Kalau suatu hari nanti benar-benar ke pantai…
Mungkin yang paling ia tunggu bukan lautnya.
Tapi suara Sasa yang ribut minta jajan lagi.
beat aja dah bagus micin
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍