NovelToon NovelToon
Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Contest / Nikahmuda / Badboy
Popularitas:1.3M
Nilai: 5
Nama Author: La Lu Na

Pencarian jati diri sebagai seorang yang dilahirkan dari orang tua heterogen. Ia mengalami dilema saat bertemu dengan saudara seibu beda ayah yang punya kehidupan lebih damai walau dalam kesederhanaan. Hatinya terketuk ingin mengenal islam setelah menemukan makam almarhum mama yang belum pernah ia kunjungi seumur hidup. Dalam perjalanan panjang menjelajah harapan, peristiwa demi peristiwa pun ia alami. Hadirnya seorang gadis yang semakin membuat jiwanya cenderung ingin mengenal islam lebih dalam. Menjemput hidayah ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perjalanan mencari jalan pulang akan banyak halangan dan rintangan yang datang silih berganti serta ujian bertubi yang menyayat hati. Karena istiqomah butuh perjuangan disertai kesabaran dan keikhlasan.

"Bagaimana aku bisa mendo'akanmu, sedangkan Tuhan yang kita sembah berbeda."
(Hara)

"Aku hanya seorang perempuan akhir jaman yang mendamba laki-laki soleh sebagai suami."
(Jenar)

Akankah keduanya menyatu dalam satu iman?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Jodoh Pasti Bertemu.

...🌹Alloh lah maha pengatur rencana, Dia memberikan yang terbaik menurutNya.🌹...

Jenar.

Hari-hari selanjutnya kami jarang bertemu di kampus, tapi mas Ghufron tidak pernah absen berkirim kabar padaku. Tiap malam kami melakukan panggilan video, chat darinya pun tiap pagi hadir memberiku semangat. Dengan kata lain, mas Ghufron berusaha selalu menemani, meski raga kami belum bisa bersua.

Aku melewati hari-hariku seperti biasa, datang ke kampus untuk belajar, bertemu teman dan hal sepele seperti menikmati istirahat dengan makan di kantin atau berlama-lama di masjid kampus. Tidak ada yang berubah meski tidak kutemui wajah mas Ghufron di kampus karena intensitasnya datang ke kampus memang sudah jarang setelah selesai sidang sripsi.

siang ini aku mengakhiri kelas kelas dengan lebih semangat sebab mas Ghufron bilang akan datang menemuiku di kampus. Beberapa menit yang lalu dia sudah mengirim chat kalau sedang berada di ruang administrasi untuk mengurus berkas co-asst nya. Setelah urusannya selesai dia akan datang menghampiriku.

Senyumku tersungging ketika menemukan tubuh berbalut kemeja lengan pendek warna biru tosca, menyandarkan punggung pada pilar depan kelasku. Rambut mandarin yang tertutup topi lengkap dengan tas ransel yang digantung pada satu sisi bahunya, menarik perhatian setiap gadis yang melintas. Tapi dia cuek, tenggelam dalam halaman buku yang sedang di bacanya.

Aku mengendap-endap, berusaha melangkah tanpa suara. Begitu sampai di dekatnya, aku mendekatkan kepala tepat di samping lengannya, “Assalamu’alaikum mas ganteng?”

Mas Ghufron terkejut, sampai hampir menjatuhkan buku yang sedang dipegangnya. Dia membuang napas kasar, tapi tetap memberiku senyum, “wa’alaikum salam nduk manis yang hampir bikin jantung mas copot!”

Aku menutup mulut dengan satu tangan agar tawaku tidak sampai meledak. Berdiri tegak di hadapan mas Ghufron, ketika ia memasukkan buku ke dalam tas ranselnya.

“Sudah selesai?”

Aku mengangguk, “Mas sudah selesai urus berkasnya?”

Gantian mas Ghufron yang mengangguk, “udah! Tinggal diserahkan ke rumah sakit, terus mulai co-asst, deh.”

“Alhamdulillah … mas DM semangat banget, nih." (DM\= dokter muda.)

“Harus, dong. Yuk!”

Kami berjalan beriringan, menyusuri selasar yang sedikit ramai. Sesekali kami harus menepi, saat berpapasan dengan mahasiswa lain. Sempat kudengar suara berteriak dari belakang punggung yang kubalas hanya dengan lambaian tangan.

“Gandengan, dong, biar mesra!”

“Jen! Jangan lupa diiket pake tali yang kenceng!”

“Pegangin tangan akang, mumpung masih bisa ketemu!”

Aina, Ratri dan Addis, mereka selalu heboh kalau mas Ghufron menjemputku selesai kelas. Maklum, fakultas kami berada di gedung yang berbeda dan agak jauh. Jadi wajar kalau mereka berlebihan menilai perhatian yang diberikan mas Ghufron padaku. Dia sering datang menghampiriku, tapi tidak memperbolehkanku datang ke kelasnya.

“Teman-teman kamu ramai, ya?”

“Berisik, ya, Mas?”

“Iya, berisik. Memang perempuan identik dengan berisik, kan?”

“Tapi saya tidak, lho, Mas!”

“Tidak salah, kan?”

“Ih! Mas suka bener kalau ngomong,” kucubit lengan atas mas Ghufron karena merasa gemas. Sampai ia mengaduh disela tawa sambil mengusap bekas cubitanku.

“Sudah bilang om Dito hari ini mas yang anter kamu ke Magelang?”

“Sudah, Mas.”

“Alhamdulillah ….”

“Kita ke toko buku dulu, ya, Mas. Biasa jatah bulanan dari Kak Neesha.”

“Baik, kemana aja mas anter. Hari ini khusus buat kamu pokoknya.”

“Memang hari yang lain bukan buat saya, ya?”

“Belum, Nduk. Nanti kalau sudah halal, setiap hari buat kamu.”

“Insyaalloh, ya, Mas.”

“Aamiin.”

Siang itu kami menikmati waktu berdua. Membelanjakan uang bulanan yang kak Aneesha kirimkan khusus untuk membeli buku. Buku apa saja yang bisa kugunakan untuk belajar, juga buku yang diperlukan untuk perpustakaan umum di rumah Magelang.

Menyenangkan berbelanja buku dengan mas Ghufron, mungkin karena hobi dan kecintaan kami terhadap buku sama. Kami bisa berlama-lama di toko buku, memilih buku mana yang akan di beli sambil berbincang ringan.

“Seneng, ya, jadi kamu. Jatah bulanannya dari mana-mana.”

“Cuma dari ayah sama kak Nessha, Mas.”

“Alhamdulillah, dong, ada yang ngasih. Mas sama Nalini harus cari tambahan uang sendiri buat beli buku-buku penunjang belajar.”

Aku tersenyum mendengarkan mas Ghufron bercerita. Dia tidak sedang mengeluh, hanya ingin menunjukkan padaku bahwa nikmat yang kuterima begitu besar. Supaya aku bisa lebih bersyukur, bukan malah banyak mengeluh.

“Coba kalau kamu tidak dijatah sama kakakmu, kamu pasti bingung tiap kali mau beli buku, kan? Kamu harusnya bersyukur, Nduk.”

“Iya, Mas. Alhamdulillah….”

Keranjang yang dibawa oleh mas Ghufron sudah penuh terisi buku dan alat tulis, tapi hasratku untuk membeli buku belum juga tuntas. Aku mengajak mas Ghufron ke tempat display buku anak-anak, barang kali ada buku yang bisa dijadikan bacaan untuk anak-anak di Magelang.

“Ini bagus, ya, Mas? Sedang diskon lagi.” Aku menunjukkan buku berjudul 'apel emas' karya penulis terkenal favoritku.

“Ini juga bagus, Nduk!” di waktu yang bersamaan mas Ghufron menunjukkan sebuah buku bersampul warna hijau, “anak-anak bisa mudah menghafal hadist dengan buku ini.”

Aku mengambil buku yang dipegang mas Ghufron, ternyata buku bergambar dengan judul 'komik hadist'. Aku membalikkan buku, membaca sinopsis di bagian belakang, “sepertinya menarik, Mas. Aku ambil yang ini.”

“Yang itu nggak jadi?” Mas Ghufron menunjuk buku di tangan kiriku.

“Jadi, dong.”

Kuletakkan dua buku pada keranjang. Melirik sungkan pada mas Ghufron karena keranjang yang dibawanya pasti berat. Wajah mas Ghufron terlihat lelah, pasti karena sejak tadi dengan sabar menemaniku belanja.

Aku baru mau melihat-lihat buku yang lain, ketika mas Ghufron tiba-tiba berjalan ke ujung lorong. Aku mengikutinya, ternyata mas Ghufron menghampiri seorang anak kecil yang sedang meloncat-loncat dengan tangan diangkat ke atas. Seperti hendak mengambil buku, tapi tangannya tidak bisa menjangkau, karena terletak di rak yang lebih tinggi dari pada tubuhnya.

“Om! Pengin buku kuwi, Om!” (Mau buku itu, Om!)

Aku menengok ke kiri-kanan, sepertinya tidak ada yang menggubris gumaman anak laki-laki kecil itu. Semua orang tenggelam dalam kesibukannya masing-masing memilih buku.

“Ajeng mendet buku sing pundi, Dik?” Mas Ghufron bertanya kepada anak kecil berwajah tampan itu. ( Mau ambil buku yang mana, Dik?)

“Niku, Mas! Sing abang.” (Itu, Mas! Yang merah.)

Mas Ghufron menunjuk buku bersampul warna merah bergambar wayang, “niki?” (ini?)

Anak itu mengangguk. Lalu mas Ghufron mengambilkan buku tersebut. Begitu buku diberikan oleh mas Ghufron, anak kecil itu melonjak kegirangan. Membuat aku dan mas Ghufron saling pandang sekaligus melempar senyum. Anak kecil yang lucu.

“Memangnya kamu tahu itu buku tentang apa, Dik?” Tanyaku iseng. Sebab menurutku jarang ada anak kecil memilih buku bergambar wayang. Setahuku, anak kecil pasti lebih memilih buku komik bergambar kartun, atau buku dongeng dengan gambar hewan-hewan.

“Janoko, Puntodewo, Werkudoro, Nakulo, Sadewo,” aku dan mas Ghufron saling pandang lagi ketika anak kecil itu menunjuk satu per satu gambar wayang dan menyebutkan namanya dengan benar. Lalu aku menekuk lutut, berjongkok untuk menyejajarkan diri dengan tinggi anak kecil itu.

“Pendowo limo,” (Pandawa lima) anak kecil itu menatap buku dengan mata berbinar yang membuatku tertarik. Baru kali ini aku bertemu dengan anak kecil yang bisa menyebutkan nama tokoh wayang dengan benar. Padahal usianya baru sekitar empat tahun.

“Wah! Sepertinya kalian sealiran, nih.” Ujar mas Ghufron.”

“Kamu suka wayang, ya, Dik?” Tanyaku kepada anak kecil yang masih antusias menatap gambar wayang pada sampul buku.

Ia mengangguk, “mbah kakung seneng nggambar wayang.” (Mbah kakung suka menggambar wayang.)

Aku jadi tertarik ngobrol dengan anak kecil ini, seraya menunjukkan beberapa buku bertema wayang. Mas ghufron sampai menggelengkan kepala sembari bergumam, “bisa diajak pulang, nih, anak.”

Tidak kupedulikan gumaman mas Ghufron, karena obrolanku dengan anak kecil yang belum kuketahui namanya ini makin menarik. Aku terkesima karena ia bisa bercerita tentang sifat-sifat tokoh pandawa dan kurawa.

“Kurowo ki nakal, Mbak. Jare mbah kakung, sifate elek, ora oleh ditiru.” (Kurawa itu jahat, Mbak. Kata mbah kakung, sifatnya jelek, tidak boleh ditiru.)

“Nek Pendowo? Sopo sing paling disenengi?” (kalau pandawa? Siapa yang paling disukai?)

“Jare mbah kakung puntodewo iku sabar, adil, bijaksana, tapi aku ora seneng,” (Kata mbah kakung puntadewa itu sabar, adil, bijak sana, tapi aku tidak suka).

“Terus, seneng ro sopo?” (Terus suka sama siapa?)

“Bagong.”

“Lha, kok, Bagong?” (kenapa Bagong?)

“Soale suarane lucu, Mbak. Nek nonton wayang ro mbah kakung, sok guyu pas Bagong metu.” (Karena suaranya lucu, Mbak. Kalau nonton wayang sama mbah kakung, suka ketawa waktu Bagong muncul.)

Sontan aku dan mas Ghufron tertawa. Anak kecil ini sungguh lugu dan polos, tapi lain dari pada yang lain. Anak lain seusianya mungkin hanya mengenal tokoh kartun yang ditayangkan di televisi, tapi dia sudah kenal tokoh wayang.

Kami sedang asyik berbincang ketika mendengar suara memanggil dari belakang punggungku, “Naufal!”

“Om!” Anak kecil di depanku melongok, melempar pandangan melewati bahuku.

“Om cari kamu kemana-mana rupanya di sini.”

Aku berdiri ketika anak kecil itu berlari menghampiri seorang pria yang sangat kukenal. Aku menatap mas Ghufron yang otomatis mengangkat bahu.

“Pak Hara?”

Pria itu mengalihkan pandangan dari anak kecil yang sedang menunjukkan sebuah buku padanya, “aku oleh buku iki, Om!” (Saya dapat buku ini, Om!)

“Kalian?” Dahinya berkerut dalam begitu menyadari keberadaanku dan mas Ghufron.

“Kebetulan sekali, sepertinya kita ditakdirkan berjodoh.” Seloroh mas Ghufron melihatku dan pak Hara bergantian. Lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan pak Hara, “apa kabar pak Hara?”

“Baik.” Pak Hara menyambut uluran tangan mas Ghufron, “kalian sudah dari tadi?”

“Lumayan, Pak Hara. Lumayan lama maksud saya, perempuan kalau sudah belanja suka lupa waktu. Pak Hara pasti tahu, kan?”

Aku mencubit gemas lengan mas Ghufron, bisa-bisanya ia meledekku seperti itu. Kubiarkan tunanganku itu mengusap lengan sambil mengaduh, sebab aku ingin tahu siapa anak kecil lucu yang bersama pak Hara itu.

“Pak Hara kok bisa di sini bareng dia?” Aku menunjuk anak kecil yang tangannya digandeng oleh pak Hara.

“Cari buku,” jawab pak Hara seraya menunjukkan setumpuk buku di tangannya, lalu menunjukkan jalinan tangan dengan anak kecil itu, “dia keponakanku.”

“Oh …,” aku hanya menjawab dengan satu kata singkat, sebab pak Hara menjelaskan juga tanpa ekspresi. Meskipun aku tahu wajah pak Hara memang selalu datar.

“Ya, sudah. Kalian silakan lanjut belanja, kami harus pulang.” pamit pak Hara.

“Buru-buru, Pak?” Tanya mas Ghufron.

“Sudah sore, nanti Naufal terlambat berangkat ngajinya.”

“Oh! Oke kalau begitu. Hati-hati pak Hara.”

Aku tidak sempat berkenalan dengan anak kecil lucu itu, sebab pak Hara tergesa mengajaknya pergi. Namun, aku menangkap nama yang disebutkan oleh asisten pribadi kakak iparku itu, Naufal itu pasti nama anak kecil lucu menggemaskan yang hafal nama tokoh wayang tadi.

“Pak Hara sedang belajar agama, ya?” Aku mengernyit, mendengar pertanyaan mas Ghufron. Kemudian ia menjelaskan tentang maksud kalimatnya, “tadi aku nggak sengaja lihat judul buku yang dibeli pak Hara.”

“Memangnya apa judul buku yang dibeli Pak Hara?”

Bukannya menjawab, mas Ghufron malah berjalan menuju ke lorong lain. Ternyata ia membawaku ke lorong yang memajang buku-buku tentang agama islam. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh rak pajang sambil mengerutkan dagu. Tak berselang lama, mas Ghufron mengambil dua buku berbeda judul.

“Kalau aku nggak salah lihat, tadi pak Hara ambil buku ini.”

Aku memanjangkan leher, membaca judul buku yang ditunjukkan oleh tunanganku itu. Kubaca pelan-pelan, “mereka bertanya, Islam menjawab.” Aku ganti melihat wajah mas Ghufron lalu kembali membaca satu judul buku yang lain, “The miracles of Al-qur’an and sunah.”

“Mas salah lihat, kali. Mana mungkin pak Hara beli buku seperti itu. Dia, kan, nasrani.”

“Ya, mungkin saja dia sedang belajar islam, kan?”

Aku hanya mengangkat bahu, tak peduli. Kemudian mas Ghufron membuatku sadar kalau aku harus segera mengakhiri sesi belanja buku ini.

“Sudah sore, Sayang. Kita mau sampai kapan di sini?”

“He he. Dua buku lagi, ya, Mas? Sebentar ....”

Walau membuang napas kesal, tapi mas Ghufron membiarkanku memilih buku lagi. Sungguh ia selalu sabar menghadapiku yang kadang semauku sendiri. Ia tidak pernah protes, selama kami pergi tanpa meninggalkan kewajiban sebagai muslim.

Sebenarnya aku ingin mengulur waktu agar bisa berlama-lama dengan mas Ghufron. Tapi melihat wajah lelah dan lemasnya, aku jadi tidak tega. Apalagi kami belum makan sejak pulang dari kampus tadi.

Setelah memilih dua buku terakhir yang hendak kubeli, aku segera mengakhiri kegiatan berbelanja. Tak lupa kuajak mas Ghufron makan siang yang kesorean, setelah kami menunaikan sholat ashar.

Ini pertama kalinya kami menempuh perjalanan dari Jogja ke Magelang hanya berdua. Beruntung ada teman mas Ghufron yang dengan suka rela meminjamkan mobil, sehingga perjalanan kami nyaman.

Perjalanan kurang lebih satu jam, kami tempuh sembari mengobrolkan tentang apa saja. Mas Ghufron sengaja tidak menghidupkan audio mobil, sebab katanya suaraku sudah seperti penyiar radio, ceritaku juga lebih menarik dari pada lagu yang diputar stasiun radio.

Aku bisa puas memandang wajah serius mas Ghufron yang sedang menyetir. Untuk pertama kalinya aku berani menatap wajah tampan yang meneduhkan itu lebih dari tiga detik. Yang kurasakan saat menatapnya adalah detak jantung yang berkejaran, wajahku memanas, mata pun hampir berair. Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta dengan sosok di sampingku ini, ya Alloh?

“Bisa udahan nggak liatinnya? Jadi grogi, nih.”

Segera kualihkan pandangan ke jalan raya, terkejut karena ternyata mas Ghufron tahu aku sedang mengagumi wajahnya.

“Lain kali jangan menatapku seperti itu, ya?”

“Memangnya kenapa, Mas?”

“Walau kamu diam, tapi mata kamu itu mengisyaratkan segalanya.”

“Maksudnya?”

“Aku hampir tidak bisa menahan godaan kalau kamu menatapku seperti itu, jadi pengin berhenti, tahu nggak, sih?”

“Kok berhenti? Kan, kita belum sampai, Mas?”

“Iya, pengin berhenti terus buka petunjuk arah. Kira-kira kantor urusan agama terdekat lewat mana.”

"Ya Alloh ...."

Aku mencubit lengan mas Ghufron sampai ia benar-benar mengaduh kesakitan.

"Memar ini, pasti."

"Nggak mungkin, Mas. Cubitnya pelan, kok."

"Pelan tapi berkali-kali, memar pasti ini."

"Nggak, Mas." Aku membuka sedikit lengan baju mas Ghufron untuk melihat cubitanku. ingin membuktikan kalau tidak mungkin bekas cubitanku yang pelan menimbulkan memar.

"Memar, kan?"

Aku mengusap lengan mas Ghufron, karena ia benar. Ada memar di bekas cubitanku.

"Kok bisa memar, ya, Mas? Padahal nggak keras lho aku cubitnya."

"Udah dibilang pelan tapi berkali-kali, pasti memar, Nduk."

"Sakit?" Kuusap lagi memar akibat cubitanku.

"Nggak lah, masa gitu aja sakit."

Aku jadi merasa bersalah, "maaf, ya, Mas."

"Nggak apa, malah bisa buat kenang-kenangan."

Kami tergelak bersama. Mas Ghufron memang selalu bisa mengganti ungkapan isi hati dengan lelucon. Membuatku selalu nyaman berterus terang padanya. Dalam hati aku berdo’a semoga sifat manisnya ini tidak berubah hari ini, besok dan seterusnya sampai kami halal untuk bersama kelak.

.

.

.

Bersambung....

1
buk epi
mak otorrr,,, pean ten pundi ??
Naftali Hanania
udah masuk THN 2026..tp kayak nya cerita ini gak akan ada kelanjutan..sayang sekali...padahal dr awal cerita baguusss bgt
Kak Author sehat dan bahagia selalu ya🙏
Adel Akil Atmaja
bukan karna adik Aneesha tapi kamu memang nggak bisa marah sama Jenar, pak Hara
eMakPetiR
2026
kak dhesmaaaaaaa
Adel Akil Atmaja
ini Jenar juga mau menyangkal perasaan nya pak Hara kan dia juga ada rasa sama kamu. tapi pikiran nya berkata itu tidak boleh karna nggak mungkin.
eMakPetiR
Mbak Desma sayang...
Nur Ainy
Mbak Desi ditunggu kelanjutannya mbak...cerita yg sangat2 bangus
Popo Hanipo
kak author kapan nih updet lagi ini novel favorit yg setiap hari ku tunggu ,,semoga kakak sehat selalu amiiii
Popo Hanipo: amiiiinnn
total 1 replies
Nur Ainy
mbak dilanjut dong mbak pak hara ma jenar😍😍
Tuti Rusnadi
apa kabar kak Desi.... kangen banget nih sama keuwuan Jen-Ha.... ditunggu up-nya ya kak 😍
Intan Amalia
mba des loh... msh pd nungguin UP nya Hara jenar loh
aquawomen
lanjut ka
semangat 💪
lLvy
ya allah thorrr setelah setahun pak hara belum lanjut juga 😭😭😭😭
jangan di gantung pak hara nyaaa
ian
apakabarny nih mba?gak disuruh nunggu tapi aku masih penasarN loh
Nur Ainy
Mbak Desi..pak hara kemana niih belum sembuh y
eMakPetiR
Assalamu'alaikum kak Desma sekalian...
gimana kabarnya?
aq rindu pak Hara, eh salah dink.. Jenar wiss jenar.. tapi prosentasenya tetep banyakan pak Hara 🤣
Euis Mardiani
mbak desi ditunggu kelanjutannya jenar sama hara
Maria Kibtiyah
jgn2 si tiara tar suka lagi sama hara
Maria Kibtiyah
tiara ini pasti yg pernah tidur ma hara gimana tuh klw ketemu sama hars
Maria Kibtiyah
wah apa tiara ini tiara yg pernah one night stand ma hara dulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!