Mengandung kata kata kasar.
Salah paham yang berujung di cap sebagai pelakor. Davina Brigita gadis yang menyukai tantangan itu memilih bermain main dan mengikutinya dibanding dengan menyangkal semuanya.
Siapa sangka semuanya menjadi kenyataan ketika satu minggu menjelang pernikahan, tiba tiba sang tunangan yang begitu ia cintai lebih memilih menikahi sahabatnya.
Davin memilih pergi menjauh, rasa sakit yang ia terima membuatnya benar benar menjadikan dirinya pelakor hanya karena sebuah dendam.
Empat tahun kemudian dia datang membawa kejutan untuk membalas dendam. Bagaimana cinta Davina akan berakhir? akankah dia bahagia setelah menghancurkan pernikahan mantan tunangannya?
Ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AfkaRista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iam Back Home
Cris dan Panji sudah berada di bandara, mereka mengantar kepergian Davin dan Marvin.
"boy jangan nakal disana ya, ingat jangan membuat mommy sedih" pinta Cris
"tentu aunty, Malvin dengal apa kata aunty"
"boy, jaga mommy dengan baik jadilah anak penurut"
"pasti uncle, aku janji"
"hati hati Vin, telepon kami jika sudah sampai"
"tentu, terima kasih atas semuanya, aku akan mengunjungi kalian jika ada waktu" Davin memeluk Cris dan Panji bergantian, kemudian dia masuk ke dalam bandara.
**********
Setelah melalui perjalanan yang panjang, Davin dan putranya sampai di bandara Soekarno Hatta, dia sengaja tidak memberi kabar kepulangannya kepada orang tuanya, Davin sudah mempersiapkan apartemen untuk tempat tinggalnya dengan Marvin. Dan dia juga sudah siap dengan berbagai kejutan yang akan dia hadiahkan kepada orang orang yang pernah menyakitinya.
"nona Davin?" tanya driver online yang sudah menunggu Davin
"benar pak, tolong bawakan koper kami"
Sopir segera memasukkan koper Davin ke dalam mobil kemudian melajukan mobilnya.
Iam back home, selamat datang Davin, kau harus segera memberikan mereka kejutan
"mom, kita mau pelgi ke yumah opa cama oma?" tanya Marvin dengan gaya cadelnya
"no, kita akan ke apartemen mommy"
Sgala yang kau ucap bohong
kau lakukan omong kosong
tak perlu lagi percaya kau hanya pura pura
cinta di ujung perpisahan
namun selaluku rindukan
kau luka yang ku rindu
"pak, bisa matikan saja radionya?" pinta Davin
"ah, maaf non akan saya matikan"
"terima kasih"
Bisa bisanya lagu itu menyindirku, bathin Davin
****
Davin turun disebuah apartemen mewah, dia dan Marvin segera masuk
"mommy, kita akan tinggai dicini?"
"tentu boy, kau suka?"
"cuka apayagi kalau cama mommy"
Davin terus berjalan, mereka memasuki lift, Davin dan Marvin masuk bertepatan Marchel keluar lift sebelah, Marchel terdiam sejenak
Tidak mungkin itu Davin, aku pasti terlalu merindukannya hingga halu seperti ini, bathin Marchel.
Kehidupan rumah tangga Marchel dan Syeila terlihat biasa saja dimata orang, nyatanya tidak demikian. Hubungan mereka merenggang sejak hari dimana Panji meminta bertemu, Syeila masih tinggal di rumah Marchel dengan mamanya. Bahkan beberapa kali Syeila membujuknya, merayunya dengan segala cara, yang ada bukan semakin dekat justru Marchel semakin menjauh dan memilih tinggal di apartemen jika tidak ingin pulang.
Syeila sedikit bersyukur karena Marchel menolak keinginan Ria untuk menikah lagi. Setidaknya dia masih menjadi satu satunya istri Marchel, usahanya juga semakin berkembang, dia memiliki butik yang besar dan terkenal.
*********
Setelah istirahat sejenah di apartemen, Davin mengajak Marvin mengunjungi rumah orang tuanya
"boy, are you ready meet your grandpa and grandma?"
"iam ready mom"
Mereka berjalam bergandengan tangan, Davin begitu bersyukur memiliki Marvin dalam hidupnya, saat kondisinya begitu buruk, Marvin hadir sebagai pengobat luka laranya, meskipun wajah putranya itu persis Marchel, tapi Marvin memiliki sifat seperti Davin, dia anak yang tegar, bahkan ketika Davin berkata jika daddynya sudah meninggal Marvin hanya berkata
Cemoga daddy bahagia di culga mom, mescipun tidak ada daddy, momny tidak boyeh cedih, ada maivin yang akan menjaga dan meyindungi mommy
Tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi Davin selain keberuntungannya memiliki Marvin
Kita tidak butuh dia nak, selama ini kita hidup berdua, kita sedih dan bahagia berdua, cukup sudah kebahagiaan yang kita punya, tidak akan pernah ada tempat baginya dihati kita