"DAVINNNN!" Suara lantang Leora memenuhi seisi kamar.
Ia terbangun dengan kepala berat dan tubuh yang terasa aneh.
Selimut tebal melilit rapat di tubuhnya, dan ketika ia sadar… sesuatu sudah berubah. Bajunya tak lagi terpasang. Davin menoleh dari kursi dekat jendela,
"Kenapa. Kaget?"
"Semalem, lo apain gue. Hah?!!"
"Nggak, ngapa-ngapain sih. Cuma, 'masuk sedikit'. Gak papa, 'kan?"
"Dasaaar Cowok Gila!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rey Belum Puas
Suasana kamar kembali tenang setelah Bi Marni sibuk membuka bungkusan makanan dan menaruh pakaian ganti di kursi.
“Neng, cepat ganti baju dulu. Masa jagain orang sakit masih pakai seragam sekolah. Nanti dipikir orang kabur dari kelas.”
Davin tertawa pelan.
“Bibi… pelanin dikit suaranya. Ini rumah sakit.” kata Leora, sedikit malu.
“Ya maaf, Neng. Bibi kebiasaan ngomong di rumah,” jawab Bi Marni tak sengaja menyenggol bahu Davin terlalu keras.
“Aduh—! Bi!”
Davin meringis. Leora spontan maju.
“Tuh kan! Jangan disentuh dulu!”
Bi Marni malah ikut panik.
“Maaf Den. Bibi nggak sengaja senggol pasien kelas satu. Ngobatinnya pasti mahal.”
Davin nyaris tertawa lagi.
Leora perlahan duduk di kursi di samping ranjang, utuk beberapa menit, tak ada yang bicara. Hanya suara AC dan detak alat monitor.
Davin meliriknya.
“…makasih ya.”
“Buat apa?”
“Ya, buat segalanya.”
Leora menahan diri untuk tidak menoleh.
“Jangan ge-er. Gue cuma belum nemu alasan tepat buat pergi.”
Davin tersenyum samar.
Tak lama kemudian, ponsel di meja bergetar. Notifikasi masuk. Dan Davin menolehnya pelan.
Nama pengirim muncul di layar:
Raga
Leora refleks ikut melirik sekilas, namun ia memilih kembali menunduk. Sementara Davin mengambil napas, lalu membuka pesannya.
Beberapa detik ia terdiam. Tatapannya berubah.
Leora langsung curiga.
“…kenapa?”
Davin cepat-cepat memadamkan layar.
“Bukan apa-apa.”
“Kedengaran banget itu ‘apa-apa’.”
“Cuma chat anak tim.”
“Baca aja sih. Gue nggak bakal protes.”
“Lo bakal kepikiran.”
“Yang bikin gue kepikiran itu… kalau lo bohong.”
Suasana langsung terasa berbeda.
Tapi… jujur, Davin akhirnya menyerah. Ia pun mengaktifkan layar kembali.
> Vin, coach bilang jatuh lo bukan kecelakaan murni. Ada yang sengaja rencanakan ini. Kayaknya orang dari tim lawan.
Pesan berikutnya masuk hampir bersamaan.
> Dan mereka kayaknya belum selesai.
Davin mengepal perlahan di bawah selimut. Namun ia menyembunyikannya.
Tapi Leora dengan cepat menyadari perubahan napasnya.
“Davin,” ucapnya pelan.
“Gue bilang bukan apa-apa.”
“Jangan proteksi gue.”
Nada Leora terdengar rendah.
“Gue bukan anak kecil,” lanjutnya.
“Kalau ada yang bahaya, gue harus tau.”
Davin menutup mata sejenak.
Lalu membuka — dengan senyum tenang.
“Justru karena ini terlalu bahaya,” katanya lirih. "Makanya lo nggak boleh tau.”
Tapi… tak sampai situ.
“Lo mau terus kaya gini?” tanyanya lagi.
“Gimana?”
“Semua hal lo simpan… diem-diem."
Davin menatapnya. Lama sekali.
“Kalau gue nggak diem,” jawabnya pelan,
“gue takut lo bakal ikutan luka.”
Leora tidak menemukan kata. Karena kalimat itu, sayangnya benar.
Namun justru di situlah sakitnya berada.
“Lo jangan takut.”
Leora menggenggam rok seragamnya erat-erat.
“…gue gak takut. Gue cuma gak suka lo kayak begini.”
Kalimat itu mendarat. Davin tersenyum hangat ke arahnya. Tangannya mendarat tepat di atas kepala perempuan itu.
"Gue slalu punya alasan. Dan lo gak perlu khawatir" ucapnya.
Leora pun menyerah. Ia langsung membawa baju ganti yang tadi disediakan Bi Marni ke kamar mandi.
Tepat setelah ia masuk ke dalam toilet, ia merasa bersalah dengan keadaan yang sekarang. Namun, memilih Davin daripada Rey bukan keputusan bagus untuknya.
Lima menit berlalu, Leora kembali. Davin tertidur di ranjangnya. Keringat tipis membasahi keningnya.
"Sorry ya Vin. Gue belum bisa jaga lo sepenuhnya buat sekarang" bisik Leora.
Leora menatapnya sedikit lebih lama, lalu memalingkan wajah dan mengambil ponselnya.
Jari-jarinya gemetar. Sebab nama yang ia pilih adalah...
Rey.
Butuh tiga detik sebelum ia berani menekan tombol panggil. Sambungan terhubung hanya dalam satu dering.
“Kenapa sayang?” suara Rey terdengar santai.
“Rey…” tanya Leora singkat.
Ia melirik Davin sekali lagi, memastikan pria itu masih tertidur — sebelum melangkah keluar kamar.
Koridor rumah sakit terasa lebih sunyi.
Baru di sana ia berhenti.
Dan akhirnya berani bicara lagi.
“Apa semua rencana kamu sudah selesai…?” tanyanya pelan.
Ada jeda singkat di seberang.
“Rencana yang mana?” jawabnya enteng.
“Jangan pura-pura nggak tau. Yang kamu bilang kemarin. Yang kamu—”
“Soal kapten basket itu?” potong Rey ringan. "Kenapa kamu pengen tau?"
"Nggak. Aku cuma khawatir kamu malah kenapa-kenapa"
"Tenang,” jawab Rey datar. “Aku pastikan dia nggak bakal berani nyentuh aku lagi, termasuk kamu juga.”
“Tapi, kayaknya semua ini udah cukup, Rey. Dia udah kesakitan."bisik Leora.
“…tapi sayangnya, ini baru permulaan.”
Leora langsung tersentak.
“Apa?” suaranya meninggi.
“Kamu— Rey, jangan kejauhan. Cukup sampai sini. Davin udah luka. Timnya juga—”
“Justru karena itu,” Rey memotong lagi.
“Kalau aku berhenti sekarang… dia bakal usil lagi”
Leora terdiam. Memikirkan seribu alasan supaya pria itu berhenti. Tapi, sayangnya Rey bukan orang yang mudah dibujuk sekalipun oleh kekasihnya sendiri.
"Ya udah kalo gitu. Kamu jaga diri. Aku harus istirahat dulu, ngantuk"
"Nice. Kamu harus banyak istirahat. Gak usah pikirin apapun soalku"
Leora mengangguk, meski Rey tak dapat melihatnya. Lalu, ia mengakhiri panggilan tanpa basa basi.
Setelahnya, Leora terdiam sebentar.
"Kenapa gue jadi merasa enggak enak sama Davin, ya? Dia kan bukan siapa buat gue" gumamnya.
Lalu...
"Non. Ngapain diluar?" tanya Bi Marni, mengangetkan.
"Cari angin aja Bi. Di dalam sumpek" kata Leora santai.
"Oalah. Ya udah. Tapi jangan kejauhan ya. Bibi nggak bisa nyarinya"
Leora hanya tersenyum tipis pada Bi Marni.
“Iya, Bi. Paling lima menit lagi.”
Bi Marni mengangguk lalu masuk kembali ke dalam kamar, membawa sekantong plastik obat tambahan dari perawat.
Koridor kembali sepi.
Leora menatap ponselnya yang kini gelap. Jemarinya refleks mengepal. Kalimat Rey barusan terus berputar di kepalanya.
Leora menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah masuk kembali ke kamar.
Bi Marni sedang sibuk menyusun makanan di meja kecil dekat jendela. Aroma lauk hangat samar tercium.
Davin masih di ranjang — tapi kali ini matanya tidak sepenuhnya tertutup. Ia tampak setengah sadar, keningnya berkerut seperti menahan nyeri.
Leora mendekat pelan.
“Vin?” panggilnya.
Davin tidak langsung menjawab. Napasnya terdengar berat, lalu perlahan ia membuka mata.
“…lo dari mana?” suaranya rendah.
Leora terdiam sepersekian detik.
“Ke luar bentar,” jawabnya singkat.
Davin mengangguk kecil.
“Maaf kalau gue ketiduran,” ucapnya.
“Emang harusnya tidur. Kata dokter juga gitu.”
Hening sebentar. Monitor detak jantung berdetik pelan.
Davin kembali mengamati wajahnya.
“…lo habis telepon seseorang ya?”
Jantung Leora langsung berdegup kencang.
“Ya… cuma sebentar.”
“Siapa?” tanyanya tenang.
Leora menunduk.
“…Papa.”
Kebohongan kecil. Lidahnya terasa pahit.
Davin tidak langsung menyanggah. Ia hanya menatapnya beberapa detik lebih lama.
Senyumnya pelan… tapi menyimpan sesuatu.
“Kalau Papa marah, kasih tau gue ya.”
Leora mengerutkan alis.
“Ngapain?”
“Ya… siapa tau gue harus minta maaf lagi karena udah libatkan anaknya dalam keadaan begini.”
Nada bercandanya ringan, tapi Leora bisa menangkap makna di baliknya.
“Udah tidur lagi aja, Vin. Jangan mikir yang aneh-aneh,” ucapnya lirih.
Davin menutup mata kembali.
Namun sebelum benar-benar terlelap, ia sempat berucap pelan — nyaris tak terdengar.
“Jangan jauh-jauh lagi… kalau lo pergi gue bakal kebangun.”
Leora terpaku. Kata-kata itu membuat dadanya sesak.
Lalu ia membatin pelan.
“Maaf, Vin. Gue emang di sini… tapi bukan di pihak lo.”
banyak" in update kak
*kenapa di novel2 pernikahan paksa dan sang suami masih punya pacar, maka kalian tegas anggap itu selingkuh, dan pacar suami kalian anggap wanita murahana, dan suami kalian anggap melakukan kesalahan paling fatal karena tidak menghargai pernikahan dan tidak menghargai istrinya, kalian akan buat suami dapat karma, menyesal, dan mengemis maaf, istri kalian buat tegas pergi dan tidak mudah memaafkan, dan satu lagi kalian pasti hadirkan lelaki lain yang jadi pahlawan bagi sang istri
*tapi sangat berbanding terbalik dengan novel2 pernikahan paksa tapi sang istri yang masih punya pacar, kalian bukan anggap itu selingkuh, pacar istri kalian anggap korban yang harus diperlakukan sangat2 lembut, kalian membenarkan kelakuan istri dan anggap itu bukan kesalahan serius, nanti semudah itu dimaafkan dan sang suami kalian buat kayak budak cinta dan kayak boneka yang Terima saja diperlakukan kayak gitu oleh istrinya, dan dia akan nerima begitu saja dan mudah sekali memaafkan, dan kalian tidak akan berani hadirkan wanita lain yang baik dan bak pahlawan bagi suami kalau pun kalian hadirkan tetap saja kalian perlakuan kayak pelakor dan wanita murahan, dan yang paling parah di novel2 kayak gini ada yang malah memutar balik fakta jadi suami yang salah karena tidak sabar dan tidak bisa mengerti perasaan istri yang masih mencintai pria lain
tolong Thor tanggapan dan jawaban?