Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bodoh Dan Naif
Aira berdiri diri di halte bus dengan tas ransel menggantung di bahunya.
Di sampingnya, Damar berdiri dengan jarak aman. Tidak terlalu jauh, tapi jelas tidak berniat mengajak bicara.
Pagi itu masih sejuk. Langit sedikit mendung.
Aira melirik ke arah Damar untuk kesekian kalinya.
“Busnya lama ya,” katanya pelan,
berusaha membuka percakapan.
“Iya.”
Hanya satu kata.
Aira mengangguk, pura-pura sibuk melihat jalan.
Aira baru sadar, berangkat sekolah bersama ternyata tidak otomatis membuat mereka berteman
Bus akhirnya datang, mereka naik berurutan.
Damar langsung melangkah ke bagian tengah bus dan duduk di kursi kosong dekat jendela, sendiri.
Aira berhenti sejenak.
“Oh…Jadi begitu"
Aira memilih duduk di bagian depan, dekat pintu.
Bus mulai berjalan, berguncang pelan.
Aira memegang pegangan besi sambil memperhatikan sekitar.
Di sebelahnya, berdiri seorang ibu. Perutnya agak menonjol ke depan. Tidak terlalu besar, tapi cukup mencolok.
Aira menatapnya beberapa detik, Aira mengira Ibu itu hamil, tanpa pikir panjang, Aira langsung berdiri.
“Bu, duduk di sini saja,” kata Aira sopan sambil menunjuk kursinya.
Wanita itu mengernyit
“Waah, terimakasih dek,”
“Sama-sama Bu, wanita hamil dan Lansia harus diprioritaskan.”
Kata Aira Polos, dengan wajah tanpa dosa.
Bus mendadak sunyi.
Beberapa penumpang menoleh.
Wanita itu menatap Aira dari atas ke bawah.
“Saya TIDAK hamil!” suara wanita itu meninggi.
“Saya cuma… Agak gemuk!”
Beberapa penumpang menahan tawa. Ada yang berdehem. Ada yang pura-pura sibuk dengan ponsel.
Aira panik.
“Kamu bilang perut saya buncit?!”
“Bukan begitu maksud saya,”
Wanita itu melipat tangan di dada.
“Anak sekarang kurang ajar! Asal ngomong!”
Aira berdiri kaku, wajahnya memanas, matanya berkaca-kaca.
Damar memberikan isyarat menyuruh Aira duduk di sampingnya dengan wajah jengkel.
Aira menatap ke arah Damar dengan wajah syok.
“Hah?!”
"Oh Iya," Aira kemudian duduk di Samping Damar.
“Kamu nggak pernah memastikan sebelum bertindak." Kata Damar ketus.
"Aku tidak bermaksud..."
Damar melirik wanita itu sekilas.
“Dan hasilnya seperti itu,”
Wanita itu masih mendengus kesal.
“Huh!”
“Kamu, tidak patas bicara seperti itu di depan umum,” kata Damar menoleh sedikit ke arah Aira.
“Kepolosan juga ada batasnya,” Kata Damar lagi pelan.
"Maaf, Aku nggak akan mengulanginya lagi," Aira tampak sangat menyesal.
“Bodoh dan naif," kata Damar datar.
Damar sudah berhenti ngomel,suasana kembali normal. Aira menatap jendela, masih malu.
“Terima kasih,” katanya tiba-tiba.
Damar melirik.
“Untuk apa?”
“Setidaknya… kamu perduli,”
Damar diam sejenak.
“Aku bukan perduli,” katanya akhirnya.
“Aku cuma nggak suka ada orang sok baik.”
"Oh.”
Aira tersenyum kecil.
Damar memalingkan wajah.
“Lain kali, lihat dulu. Jangan pakai asumsi.”
“Iya, Tuan Jenius,” balas Aira spontan.
Damar menoleh tajam.
“Apa?”
Aira refleks menutup mulut.
“E-enggak. Maksudku… iya.”
Bus berhenti di halte sekolah.
Pintu terbuka dengan suara mendesis.
Satu per satu murid turun.
Aira dan Damar ikut melangkah keluar.
Matahari pagi sudah mulai naik, halaman sekolah terlihat ramai oleh siswa yang datang berkelompok.
Aira berjalan di samping Damar, masih sedikit menunduk.
Baru beberapa langkah,
“Berhenti.”
Suara Damar pelan, tapi tegas.
Aira refleks berhenti.
“Hah?”
Damar berdiri menghadap gerbang sekolah. Tangannya masuk ke saku celana. Tatapannya lurus ke depan, bukan ke Aira.
“Di sekolah,” katanya datar,
“jangan sok akrab sama aku.”
Aira terdiam.
“Oh.”
Damar melirik sekilas.
“Jaga Jarak.”
Nada suaranya bukan marah.
Lebih seperti… aturan.
Aira mengepalkan tali tasnya.
"Inget jaga jarak,"
“Iya, jaga Jarak,"
Aira mulai mundur beberapa langkah,
Damar melangkah duluan masuk gerbang.
Langkahnya tenang. Punggungnya tegak.
Aira berdiri beberapa detik di tempat.
Dadanya terasa aneh.
Bukan marah.
Bukan juga sedih.
Lebih seperti…
diingatkan.
Aira menghela napas, lalu berjalan masuk kedalam sekolah.
Di halaman sekolah, beberapa murid perempuan kelas atas melirik ke arah Damar.
Ada yang tersenyum.
Ada yang melambai.
Damar tidak membalas.
Aira memperhatikan dari jauh.
“Dingin,” gumamnya.
Aira menunduk, tersenyum kecil.
“Tenang aja,” bisiknya pada diri sendiri.
“Aku tahu diri.”
Namun entah kenapa, di balik kata-kata dingin itu, Aira justru teringat satu hal:
Damar tidak bilang, “aku nggak mau kenal kamu.”
Ia hanya bilang disekolah. dan itu,entah kenapa,membuat dadanya terasa sedikit…
lebih ringan.