Rendra menatap mata Luna, "Lo tadi liat?"
Luna mengangguk kecil, "Iya aku tadi liat, lagi pula kan tempat itu lumayan deket sama toko roti tempatku kerja."
"Terus kenapa tadi lo tiba-tiba samperin gue, dan obati luka gue? Lo suka sama gue?"
"Iya," balas singkat Luna membuat Rendra terdiam sebentar, hingga akhirnya ia tertawa.
"Hahaha, lo konyol banget," ucap Rendra masih tertawa, mungkin baru kali ini ia bisa tertawa lepas, setelah kurang lebih 5 tahun ia hidup seperti vampire yang jarang tertawa.
"Lo itu masih bocil, bau kencur lagi. Udah jangan mikir aneh-aneh. Sana lo pulang, abis tuh cuci kaki terus tidur," ucap Rendra.
"Emang kalau suka sama orang harus memandang umur ya?" tanya Luna.
"Sekarang gue tanya sama lo. Apa alasan lo suka sama gue?" tanya balik Rendra.
Luna menggelengkan kepalanya, "Entah aku cuma pengen deket sama Om landak aja."
"Lo aja manggil gue Om, ntar orang lain ngira gue ini Om lo, bukan pacar lo," balas Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bocil Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Derita Anak Broken Home
Hampir 3 jam Rendra duduk di depan layar laptop. Dirinya fokus memeriksa laporan progres pembangunan proyek Golden Hour.
Sebuah pusat perbelanjaan terbesar, yang akan dibangun tepat di pusat kota. Tempat itu sebelumnya adalah kawasan perumahan, yang semula menjadi incaran para pebisnis, dan Rendra menjadi satu-satunya pemenang, yang berhasil membeli semua properti di kawasan tersebut.
Proyek ini sebenarnya milik Perusahaan Wilson. Namun Rendra mengalihkan proyek tersebut, ke Perusahaan Athena. Alasannya karena ia lebih memilih mengurus perusahaan milik ibunya, yang sekarang sedang terancam isu inflasi.
Dengan cara ini Rendra yakin, jika Perusahaan Athena bisa terlepas dari bayangan inflasi, yang sebenarnya hanya sebuah rumor belakang. Terlebih keputusannya meninggalkan posisi CEO Perusahaan Wilson, adalah untuk mengetahui siapa pengkhianat, yang diam-diam ingin membuat Perusahaan Athena menjadi hancur.
Rendra sendiri juga sangat menyesal, kenapa tidak dari dulu ia fokus menjadi CEO di satu perusahaan saja. Dengan merangkap 2 posisi di tempat berbeda, jelas saja ia sangat kesusahan mengatur jalannya perusahaan, agar tidak sampai pailit.
Terlebih Rendra juga menyadari jika beberapa tahun belakangan ini, ia sama sekali tidak memantau keadaan Perusahaan Athena secara langsung. Hanya dengan mendengar laporan dari Om Arya saja, ia bisa mengetahui seluruh perkembangan perusahaan. Terutama tentang isu inflasi, atau seseorang yang sudah ditandai telah berkhianat kepadanya.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu membuat Rendra yang tengah fokus menatap layar, menghentikan pekerjaannya sebentar, lalu menyuruh orang tersebut untuk masuk kedalam.
Pintu dibuka dengan pelan, terlihat seseorang memakai setelan jas abu-abu masuk kedalam. Membuat Rendra merasa malas menatap orang tersebut, dan lebih memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Apa ini caramu menyambut tamu, Rendra?" tanya orang tersebut merasa heran, melihat Rendra seakan tidak memperdulikan kehadirannya.
"Ada urusan apa anda kesini?" tanya balik Rendra tanpa ingin basa basi.
Orang tersebut tersenyum, berjalan sambil mengamati ruang kerja Rendra, "Ayah hanya ingin mengunjungi Perusahaan ini. Sudah lama sekali Ayah tidak datang kesini."
Rendra terdiam tanpa memperdulikan perkataan Danu. Namun semakin lama, ia merasa muak melihat bedebah itu menginjakkan kaki di perusahaan milik ibunya.
"Jika tidak ada urusan. Lebih baik anda keluar dari sini!" Rendra mengusir Danu, dengan tatapan dingin.
Sementara Danu hanya tersenyum kecil, mendengar Rendra berani mengusirnya. "Kamu tidak bisa mengusir Ayah, Rendra!"
"Lagi pula, kamu masih belum memberikan Ayah alasan jelas, tentang surat pengunduran mu dari posisi CEO Perusahaan Wilson. Sekarang Ayah minta penjelasan darimu!"
Rendra memilih diam tanpa ingin merespon permintaan Danu. Baginya tidak perlu memberi alasan apapun, kalau ia ingin keluar dari Perusahaan Wilson. Karena Rendra bebas menentukan pilihannya sendiri.
Danu merasa geram, melihat Rendra mengacuhkan pertanyaannya. "Baiklah, Rendra. Jika kamu ingin meninggalkan Perusahaan Wilson. Tapi..." ia mengeluarkan sesuatu dari setelan jasnya, dan melemparnya ke atas meja Rendra.
"Itu adalah formulir surat rencana pernikahanmu dengan Selvi. Cepat isi semua, dan ajak Selvi ke butik langganan keluarga kita, untuk memilih baju pernikahan kalian."
Sorot mata Rendra terlihat memerah, menatap tajam formulir yang berada di hadapannya. Ia mengeraskan rahang, dan membuang kertas sial itu ke lantai. "Sudah saya katakan sebelumnya. Rencana pernikahan konyol ini batal. Dan jangan paksa saya menikah dengannya!"
"Kamu tetap harus menikah dengan Selvi, Rendra. Atau kamu ingin selamanya tidak bisa bertemu dengan Mama mu?" ancam Danu.
Alis Rendra terangkat satu merasa bosan mendengar ancaman, yang sama setiap kali ia menentang perintah Danu. "Apa anda ingin mengancam saya untuk kesekian kalinya?"
"Jika iya, lakukanlah. Dan saya pastikan anda tidak akan bisa memiliki, atau bahkan menginjakkan kaki lagi di Perusahaan Athena."
Danu tertawa mendengar Rendra membalikan ancamannya. "Hahaha, kamu mengira Ayah akan takut mendengar ancamanmu, yang sangat kekanak-kanakan itu?"
"Kamu jujur saja sama Ayah. Kalau di hati kecilmu itu sangat ketakutan, jika terjadi apa-apa pada Mama mu itu."
Rendra sudah merasa sangat muak, melihat Danu terus saja berbicara hal yang sama sekali tidak berguna. "Lebih baik anda cepat keluar dari sini! Atau saya akan memanggil keamanan, untuk menyeret anda keluar dari perusahaan!"
"Baik, Ayah akan pergi," ucap Danu tersenyum, dan berjalan menuju ke arah pintu. Namun sebelum itu ...
"Rendra anak Mama. Mama suapin kamu makanan ya? Pasti anak Mama lagi laper."
Deg
Jantung Rendra seakan ingin berhenti berdetak, saat mendengar suara yang tidak asing di telinga-nya. Kedua matanya terbelalak lebar, menatap ke sumber suara yang berasal dari handphone Danu.
Sementara Danu tersenyum merasa menang, melihat kail umpannya dimakan oleh anaknya yang sok kuat itu. Ia berjalan dengan santai mendekati Rendra, dan memperlihatkan sebuah video yang sedang diputar di layar handphonenya.
"Rendra sayangg... kok kamu diem aja sih? Anak Mama lagi sakit ya? Coba sini Mama cek suhu tubuh kamu."
Air mata Rendra tak kuasa jatuh membasahi pipi. Tubuhnya gemetar, napasnya terasa tercekik, dan sorot matanya terlihat tidak percaya melihat ibunya sedang ...
Mengendong boneka bayi, dan menimangnya seperti seolah-olah boneka tersebut, adalah dirinya sendiri sewaktu kecil.
Rendra mengeraskan rahang, menatap tajam ke arah Danu untuk meminta penjelasan. "Apa maksudnya ini?" tanyanya dengan suara gemetar menahan emosi.
"Ya ini Mama kamu, masa kamu udah lupa sih sama wajah Mama sendiri?" tanya balik Danu seolah tidak merasa bersalah.
Bugh
Satu pukulan mendarat di wajah Danu, dan membuatnya sedikit terhuyung ke belakang. Rendra yang sudah tidak bisa menahan emosi, mendekati Danu, dan mencengkram kuat kerah bajunya. "Apa yang sudah anda lakukan terhadap Mama saya. Hah?!"
Sorot mata Rendra memerah, seolah ingin mencekik leher orang yang tidak pantas dipanggil 'Ayah', ataupun disebut sebagai manusia.
"Ayah cuma memberinya suntikan psikedelik sehari 2 kali," balas Danu yang terlihat santai, seperti tidak peduli jika Rendra bisa saja menghajarnya, atau bahkan membunuhnya karena sudah membuat Bianca menjadi gila.
Rendra yang mendengar jawaban Danu, merasa tidak percaya. Ayahnya tega menyuntik ibunya menggunakan cairan psikedelik dengan dosis tinggi.
Cairan yang bisa membuat seseorang berhalusinasi melihat sebuah objek mati menjadi hidup, hingga bisa melumpuhkan jaringan-jaringan otak, dan membuat seseorang tersebut menjadi hilang akal. Lebih parah lagi bisa menyebabkan kematian, jika dosis yang diberikan terlalu tinggi.
"CK! DASAR BAJINGAN!!!" umpat Rendra memukul keras wajah Danu. Hingga membuat Danu jatuh tersungkur ke lantai.
Namun Danu hanya tertawa, sambil menyeka sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah segar. "Apa sekarang kamu mau menuruti perintah Ayah, Rendra?" ia berdiri dengan santai, dan sedikit merapikan bajunya.
"Jika tidak, Ayah bisa saja membuat keadaan Mama mu semakin buruk daripada ini," ancamnya tersenyum merasa menang.
Kedua tangan Rendra meremas kuat, "Jangan coba-coba anda berbuat lebih dari ini! Atau saya pastikan nyawa anda berakhir di tangan saya!" gertaknya menunjuk kasar wajah Danu.
"Hahaha," suara tawa Danu menggema di seluruh ruangan. Seperti ada yang sedang menggelitik perutnya, saat ia mendengar gertakan dari seorang anak ayam, yang putus asa saat tau bagaimana keadaan induknya yang sekarang.
"Jika kamu berani, bunuh Ayah sekarang juga, Rendra!" Danu menantang ucapan anaknya yang ingin membunuhnya.
Rendra hanya diam berdiri di tempat. Sementara raut wajahnya terlihat memerah, dan air mata yang masih jatuh membasahi pipinya. Kedua tangannya mengepal kuat, seperti ingin menghajar tubuh ayahnya, namun tidak ada tenaga lagi untuk menggerakkannya.
Hingga membuat Danu sukses tertawa puas, melihat nyali Rendra yang tiba-tiba menciut. "Hahaha, seperti yang sudah Ayah duga. Nyalimu cuma sebutir debu, yang kemudian hilang saat Ayah meniupnya,"
"Jadi, turuti semua perintah Ayah, jika kamu tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk pada Mamamu,"
"Menikahlah dengan Selvi, dan berikan Perusahaan Athena pada Ayahmu ini. Lalu setelah itu, Ayah pastikan akan membawamu bertemu kembali dengan Mamamu," ucapnya sambil menepuk pelan pipi Rendra.
Rendra menepis kasar tangan Danu, "Sudah saya katakan sebelumnya. Jangan paksa saya menikah! Dan saya tidak akan pernah, memberikan Perusahaan Athena kepada Bajingan seperti anda!" ucapnya menolak keras permintaan Danu.
"Jadi, kamu lebih memilih sesuatu yang lebih buruk terjadi pada Mamamu?" tanya Danu merasa heran, melihat Rendra sama sekali tidak tunduk di hadapannya.
"Hmm, lakukanlah sebisa anda. Jika perlu..." Rendra memejamkan kedua matanya sebentar. "Bunuh Mama sekarang juga kalau anda mau," lidahnya terasa kaku, dan air matanya kembali jatuh, saat kata-kata tersebut terpaksa ia lontarkan.
Bagi Rendra, lebih baik ibunya mati terbunuh, dan tidak merasakan penderitaan lagi. Daripada ia harus menuruti semua permintaan ayahnya. Itu sama seperti ia membiarkan ayahnya hidup di atas angin, sementara ia dan ibunya tersiksa, atau bahkan terbunuh. Karena tidak ada yang bisa menjamin, jika Rendra dan ibunya masih hidup di dunia, saat ayahnya berhasil mendapatkan segalanya.
Danu tersenyum miring, "Sepertinya kamu cukup cerdas, dan bijak menanggapi masalah ini Rendra,"
"Tapi jangan berpikir kalau Ayah tidak punya cara lain untuk membuatmu tunduk di hadapan Ayah," ia mengeluarkan selembar foto dari balik setelan jasnya.
Membuat Rendra terkejut saat Danu menunjukan foto tersebut kepadanya, "Dari mana anda mendapatkan foto itu?"