Alitza Zeefanya Bella, atau sering disapa Zee adalah seorang gadis cantik yang ceria. Seperti nama yang diberikan oleh orang tuanya yang berarti gadis cantik yang ceria yang selalu ada dalam lindungan Tuhan.
Hidupnya baik-baik saja, terlahir cantik serta besar di lingkungan keluarga kaya yang harmonis membuat dirinya tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh kepedulian.
Semua baik-baik saja sampai dirinya harus kehilangan seluruh alasan kebahagiaan nya. Membuat dirinya harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang wanita tua yang menjadi pengasuhnya sejak bayi.
Bekerja didunia malam membuat dirinya dipandang miring oleh semua orang. Namun dirinya tak peduli, hanya dirinya yang tahu seperti apa sesungguhnya yang ia jalani.
Akankah nasib baik kembali berpihak padanya? atau justru kehidupannya semakin sulit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novia_dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kabar buruk
Sudah beberapa minggu berlalu sejak acara Family gathering. Hubungan Zee dan Ben sedikit ada kemajuan. Ben sudah tidak lagi dingin seperti saat awal-awal bertemu. Lelaki itu sudah lebih banyak bicara jika mereka sedang bertemu.
Dirinya yang biasanya datang ke club milik Leon 2minggu sekali atau bahkan kadang 1bulan sekali, kini jadi 1minggu sekali sama seperti David dan Bara yang memang selalu datang setiap minggu.
Dan seperti biasa, Zee yang bertugas untuk melayani tamu VIP bos nya itu.
Zee masuk setelah mengetuk pintu ruangan. Ia berikan senyum terbaiknya untuk teman-teman dari bos nya itu.
Dan seperti biasa, Bara akan melancarkan aksi bujuk rayu nya agar Zee mau menjadi kekasihnya. Bahkan lelaki itu tak segan melontarkan kalimat ataupun ajakan menikah.
"Ayolah Zee.. kamu tau kan aku orang nya setia". Rayu Bara membuat yang lain mual.
" Ya.. pak Bara memang paling setia diantara yang lain ". Sahut Zee membuat yang mendengar nya tak percaya.
" Aaah.. akhirnya kamu mengerti juga tentang aku Zee". Senyum Bara mengembang sempurna. Namun hanya sesaat, karena setelah ia di lambungkan tinggi, Zee menghempaskan nya sampai kedasar jurang.
"Pak Bara kan memang setia. Setiap tikungan ada tapi maksudnya.. hehehe". Tawa kembali pecah mendengar balasan telak Zee untuk semua gombalan Bara.
" Jahat banget kamu Zee.. " Bara memasang wajah memelas membuat Zee tertawa.
"Tuh kan.. kata aku juga". Sungut Zee saat dua orang wanita berpakaian seksi masuk kedalam ruangan dan langsung duduk disebelah Ben dan David.
" Ini karena kamu nolak aku Zee.. " Bara berikan alasan tak masuk akal. Padahal kan Zee memang sudah tahu kelakuan Bara.
"Alasan yang nggak masuk akal" Zee menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Bara.
Zee memilih pamit keluar ruangan saat Bara dan David mulai mencumbu wanita-wanita di pangkuan mereka. Rasanya risih saja meskipun bukan kali pertama Zee melihat.
Zee berdiri disamping pintu sambil bermain ponsel. Leon selalu melarang dirinya melayani tamu lain jika sedang ada teman-teman nya.
Bahkan kadang tak ada teman-teman nya pun Leon selalu memberikan pekerjaan paling sedikit pada Zee. Zee sadari itu semua namun siapa dirinya hendak melawan kehendak Leon.
meskipun sering menjadi bahan gosip teman-teman nya, Zee hanya bisa pasrah saja dan menerima semua tatapan iri teman-teman kerjanya.
"Kenapa tidak duduk didalam saja? ". Ponsel di tangan Zee hampir terjatuh saking kagetnya.
" Ah, pak Ben kagetin saya aja.. " Zee mengelus dadanya yang masih berdebar kencang. Ia benar-benar kaget dengan keberadaan Ben.
"Pak Ben kenapa keluar? Butuh sesuatu? Bilang aja sama saya, nanti saya bantu.. " Ben hanya menggeleng.
"Mereka menodai mataku dengan kelakuan nya" Ucap Ben sambil menggeleng. Malam ini ia hanya sendiri, Zacky izin tidak menemani karena istrinya sedang kurang sehat.
"Bang Leon kok belum balik ya.. " Gumam Zee namun masih terdengar oleh Ben.
Tadi sebelum para wanita seksi itu datang, Leon pamit pada teman-teman nya hendak menemui klien nya di ruangan yang lain. Namun hingga kini belum juga kembali.
Keduanya kembali dilanda kesunyian. Bingung mau mengobrol tentang apa juga.
Ponsel Zee yang berdering memecah keheningan diantara keduanya. Zee menatap ponselnya, nama bu Haji ida tertera jelas di layar ponsel Zee.
Jantung gadis itu berdetak cepat. Tiba-tiba hatinya semakin tak menentu. Perasaan nya sudah tak tenang sejak tadi, dan kini bertambah setelah melihat nama bu Haji ida di layar hpnya.
"Assalamualaikum bu.. " Zee membuka percakapan dengan salam hangat.
"Wa'alaikum salam nak.. masih ditempat kerja ya? " Suara bu haji terdengar tenang, namun tak bisa membuat perasaan Zee membaik.
"Iya bu haji, saya masih kerja. Ada apa ya bu? ". Tanya Zee langsung, tidak mungkin tetangganya itu menghubungi dirinya hanya untuk menanyakan apakah dirinya masih bekerja atau tidak.
" Zee.. dengarkan ibu ya.. " Terdengar helaan nafas berat di seberang telepon sana, membuat perasaan Zee semakin tidak karuan.
"Ada apa bu? ". Tanya Zee menuntut.
" Zee tolong kesini ya. Ibu ada dirumah sakit mitra kasih.. "
deg..
Jantung Zee semakin cepat berdetak, tangannya mulai gemetar, dan Ben menyadari setiap perubahan Zee.
"Jangan panik.. hati-hati juga dijalan".
" Emak.. " Lirih Zee dengan nafas yang mulai tak beraturan.
"Sekarang berangkat kesini ya.. ibu tunggu disini". Zee tahu tetangga nya itu bersikap seolah semua baik-baik saja agar dirinya tenang.
" Saya kesana sekarang bu. Terimakasih.. Assalamualaikum.. " Zee mematikan telepon dan menyimpan ponsel nya kedalam saku.
Zee mengusap wajahnya kasar. Mencoba membangun kesadaran dan ketenangan.
"Kamu mau kemana? ". Zee bahkan sampai lupa jika ada Ben di sampingnya.
" Saya harus pergi dulu pak. Tolong sampaikan pada pak Leon kalau saya izin pulang cepat". Pinta Zee menatap Ben. Mata gadis itu sudah berembun, suara nya pun serak. Ben tahu Zee tengah menahan tangis.
"Katakan kamu mau kemana? ". Ben menahan lengan Zee.
" Rumah sakit.. " Sahut Zee cepat dan hendak berlalu, namun Ben justru mencekal pergelangan tangannya dan menarik Zee.
"Pak, kita mau kemana. Saya harus cepat kerumah sakit". Zee coba melepaskan cekalan tangan Ben.
" Aku antar". Sahut Ben singkat dan kembali menarik Zee.
"Ambil tas mu. Kamu pastinya membutuhkan itu nanti". Zee tertegun sesaat, ia bahkan mungkin lupa membawa tas jika Ben tak mengingatkan dirinya.
" Keluar lewat pintu samping, aku tunggu disana". Kembali Ben memberi perintah dan Zee hanya bisa mematuhi nya.
Dan benar saja, saat Zee keluar dari bangunan Club. Ben Sudah menunggu dirinya disana. Pria tampan itu sudah duduk dengan gagah diatas motor sport berwarna hitam. Terlihat sangat cocok dengan Ben yang menawan. Untuk sesaat Zee terpesona, namun cepat ia enyahkan semua rasa itu.
Hari ini Ben memang membawa motor nya karena Zacky tidak bisa ikut berkumpul. Ia memilih motor untuk memudahkan dirinya dan terhindar dari kemacetan.
"Ayo cepat naik". Sebenarnya Zee sungkan, hubungannya dan Ben tidak sedekat itu untuk Ben menolong dirinya sampai seperti saat ini.
" Ayo cepat. Katanya kamu buru-buru ". Zee terkesiap, ia segera naik ke atas motor yang ditumpangi Ben.
" Rumah sakit mana?". Tanya Ben menolehkan wajahnya ke belakang. Ia hampir lupa menanyakan dimana rumah sakit tujuan Zee.
"Rumah sakit mitra kasih pak. Rumah sakit yang ada di ujung persimpangan jalan sana". Zee menunjuk arah rumah sakit yang ia tuju.
Ben mengangguk dan menyalakan mesin motornya hingga terdengar deru motor yang cukup keras.
" Pegangan yang kuat. Kamu tidak memakai helm". Peringat Ben pada Zee yang mengangguk dan meraih baju yang Ben pakai untuk berpegangan.
Ben menolehkan kepalanya ke tangan Zee. Ia menghela nafas panjang sebelum meraih tangan Zee dan melingkar kannya diperut rata miliknya. Sementara Zee tampak terkejut dengan apa yang Ben Lakukan barusan. Bukan Ben mencari kesempatan dalam kesulitan yang tengah Zee hadapi, namun ia juga harus menjaga keselamatan Zee. Pasalnya ia hanya membawa satu helm saja.
"Pegangan yang benar kalau kamu mau cepet sampai disana Zee". Tidak ada waktu untuk merasa gugup. Zee menepis rasa malunya dan memeluk erat perut rata Ben. Ia harus segera sampai di rumah sakit.
Ada gelenyar aneh yang merambat hingga hati saat tubuh keduanya merapat seperti ini. Perasaan aneh yang coba keduanya tepis.
Zee semakin mengeratkan pelukannya saat Ben menambah kecepatan motornya. Zee memejamkan matanya, mempercayakan dirinya pada Ben yang tengah mengendarai motor.
" Apa ini? ". Gumam Ben yang merasa jantung nya berdebar saat Zee merebahkan kepala dipunggung nya.
Sepanjang perjalanan, Zee terus merapalkan doa nya untuk kebaikan emak. Dirinya belum siap, bahkan mungkin tidak akan siap jika sesuatu yang buruk terjadi pada emak.
" Tolong baik-baik aja mak.. jangan tinggalin aku sendiri. Aku cuma punya emak.. " Lirih Zee dibalik punggung Ben. Air matanya tak dapat ia bendung hingga menetes mengenai kemeja yang dipakai Ben.
Ben dapat merasakan cairan hangat itu mengenai kulit punggungnya. Ia yakin gadis yang tengah bersandar padanya itu kini menangis.
...¥¥¥°°°¥¥¥...
...Kasih langsung double up deh buat readers kesayangan 🫰🫰...
...Like komennya boleh dong yaaa buat penyemangat yg nulis🤭😅...
...Happy reading semua 🫰 saranghae readers kuuu 💋💋💋🌹🌹🌹❤❤💋😘🌹🤩🥰😍😍...