Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.
Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.
Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Rahasia Long Siu dan Tubuh Kaisar Naga
Dari ketinggian itu, seluruh pemandangan Alam Kuno terbentang jernih di bawah mereka — lembah yang berkelok, hutan purba yang tak bertepi, dan sungai yang berkilauan bagaikan pita perak. Setiap lekuk tanah, setiap aliran energi, kini tampak jauh lebih jelas. Riu Han menarik napas panjang, lalu berseru lantang.
"Long Siu, keluarlah."
Cahaya keemasan berkilauan di sampingnya, dan sosok pemuda tampan itu berdiri tegap di sana, menatap ke arah kejauhan dengan pandangan yang mendalam.
"Ceritakan padaku, tempat mana saja yang menyimpan hal berharga di sini," pinta Riu Han.
Long Siu menghela napas pelan, lalu memandang sekeliling. "Sejujurnya, hanya sedikit tempat yang benar-benar layak kau kunjungi. Sebagian besar tak memiliki arti khusus. Namun bagi orang lain, tentu setiap sudut di sini tetap bagaikan gunung harta karun."
Riu Han tersenyum tipis — kata-kata itu menggambarkan betapa jauhnya perjalanan yang telah ia tempuh, sehingga apa yang dicari orang lain dengan susah payah kini terasa biasa saja baginya. Namun senyum itu perlahan memudar saat melihat raut wajah sahabatnya.
"Riu Han," ucap Long Siu pelan namun tegas, "ada sesuatu yang ingin kumohon padamu. Aku tahu kau pasti bisa melakukannya."
"Katakanlah," jawab Riu Han tenang.
"Dari arah sana..." Long Siu menunjuk ke arah lembah yang tersembunyi di balik kabut keemasan. "Aku merasakan keberadaan tubuh naga yang terbaring di sana. Dulu aku pernah ke tempat itu, namun saat itu aku belum membutuhkannya. Lagipula tempat itu dijaga formasi yang sangat kuat — sama persis dengan yang melindungi empat kolam darah itu." Ia menatap Riu Han dengan pandangan yang penuh harap. "Kau tentu paham mengapa aku membutuhkannya, bukan?"
Riu Han terdiam sejenak, lalu menatap lurus ke mata sahabatnya. "Aku paham. Namun sebelum itu, ceritakanlah siapa dirimu sebenarnya, Long Siu."
Long Siu menatap langit yang dipenuhi cahaya bintang purba, lalu mengangguk pelan. "Mungkin memang sudah waktunya. Riu Han, aku berasal dari Klan Long — klan penguasa Wilayah Timur. Penguasa klan sekaligus penguasa wilayah saat ini adalah ayahku, dan aku adalah putranya. Aku adalah putra dari Penguasa Langit Wilayah Timur."
Riu Han tersenyum lebar, seakan menduga sejak awal. "Sudah kuduga, namun aku tak menyangka kedudukanmu sedemikian tinggi. Kini semuanya masuk akal. Tubuh yang terbuat dari daging dan darah Naga Sejati — apalagi ini sisa tubuh Kaisar Naga, salah satu dari Empat Binatang Roh Suci — kekuatannya tak akan kalah dengan naga yang hidup. Kau memiliki percikan jiwa naga yang murni sebagai keturunan langsung, dan di dalam Cincin Ruang ini tersimpan kolam darah serta energi murni dari leluhurmu sendiri... Hahahaha, Long Siu, kau sungguh beruntung sekaligus hebat."
"Beruntung?" Long Siu ikut tertawa, suaranya bergema di angkasa. "Semua itu tak lebih dari tumpukan benda mati andai bukan karenamu. Aku sungguh beruntung memiliki saudara sepertimu."
Genbu dan Bai Wing tersenyum melihat mereka. Bagi mereka, dua sosok itu bagaikan kakak-kakak yang dicintai. Dan jika tubuh suci itu dapat dijadikan wadah bagi jiwa yang terpisah dari dagingnya, betapa agungnya sosok yang akan lahir kembali. Segala sesuatu kini kembali berpusat pada Riu Han — ia harus menyempurnakan kemampuan penempaannya, serta menguasai ketiga seni agung secara menyeluruh: Master Formasi, Master Penempaan, dan Master Alkemis. Hanya perpaduan ketiganya yang mampu mewujudkan keinginan Long Siu.
"Baiklah, jangan bersenang-senang dulu," ucap Riu Han akhirnya. "Mari kita temukan tubuh itu."
Long Siu menunjuk arah yang tepat, lalu kembali masuk ke dalam Cincin Ruang. Riu Han, Genbu, dan Bai Wing melesat menuju tempat itu, menembus kabut tipis hingga tiba di atas sebuah lembah yang sunyi dan penuh kehormatan. Di sana, di bawah permukaan tanah yang tampak tenang, terasa denyut energi kuno yang kuat dan teratur.
Mereka turun perlahan. Riu Han melangkah ke depan, menatap dinding cahaya yang melingkari bagian terdalam lembah — formasi pelindung tingkat sembilan, yang tertinggi, persis sama dengan yang telah ia pecahkan sebelumnya. Ia berdiri diam, mengamati setiap simbol, setiap aliran energi, lalu mulai menyusun ornamen yang sesuai dengan bahan yang ia miliki. Batu Roh diletakkan di tempatnya, energi dialirkan perlahan namun mantap, dan pintu seukuran pintu rumah terbuka di hadapan mereka.
Mereka melangkah masuk. Di dalam sana, di sebuah gua yang luas dan megah, terbaring sosok yang sungguh menakjubkan. Tubuh naga berwarna keemasan murni, sebesar dan sepanjang kereta api raksasa, terbaring tenang di atas alas batu yang halus. Cahaya lembut memancar dari sisiknya, menyinari seluruh ruangan. Begitu besar kekuatan yang tertinggal di dalamnya sehingga saat pertama kali melangkah masuk, tekanan dahsyat menghantam mereka, membuat napas terasa berat dan tubuh hampir tak dapat digerakkan. Namun tak lama kemudian, darah di dalam tubuh ketiganya bergejolak, merespons kekuatan leluhur itu, dan memancarkan daya tolak yang seimbang. Tekanan itu perlahan hilang, dan suasana kembali tenang.
Riu Han melangkah mendekat, berdiri di hadapan kepala naga yang besar dan agung. Ia menangkupkan kedua tangannya, memberi hormat yang tulus.
"Yang terhormat Tetua Naga... kami datang bukan untuk mengganggu ketenangan-Mu. Seorang keturunan-Mu membutuhkan tubuh ini, agar ia dapat hidup kembali dan meneruskan jalan yang telah Kau buka. Mungkin di sisinya, tubuh-Mu akan lebih berguna daripada terbaring diam di sini."
Setelah mengucapkan permohonan itu, Riu Han menghubungi Qin Siue melalui batin. Dengan panduan Roh Cincin Ruang, ia mengarahkan energi penyerapan yang lembut namun tak terelakkan. Tubuh keemasan itu perlahan terangkat, bersinar terang, lalu perlahan masuk ke dalam Cincin Ruang — ditempatkan di sebuah area yang luas dan suci, terpisah dari benda-benda lainnya, berdiri sejajar dengan keempat kolam darah dan energi Binatang Roh Suci.
Riu Han menepuk-nepuk kedua tangannya seakan membersihkan debu yang tak terlihat. "Hahaha, urusan di sini selesai. Long Siu, apa lagi yang harus kami lakukan?"
"Keluarlah dulu dari tempat itu," jawab suara Long Siu dari dalam Cincin Ruang.
Riu Han mengangguk, mengajak Genbu dan Bai Wing keluar. Ia menutup kembali pintu formasi, memastikan tempat itu kembali tenang dan terlindungi seperti sedia kala. Ketiganya berdiri di tepi lembah, di bawah langit yang cerah kembali.
"Long Siu, keluarlah," panggil Riu Han.
Cahaya keemasan muncul kembali, dan sosok sahabatnya berdiri di samping mereka, memandang sekeliling dengan pandangan yang lebih tenang, lebih penuh harapan.
Riu Han menatapnya, lalu mengucapkan dengan nada yang tulus namun penuh tekad. "Bagaimana? Apakah ada yang lain? Atau... sebaiknya kita mengambil sisa tubuh ketiga Binatang Roh Suci lainnya juga?"
Long Siu terperanjat, matanya membelalak tak percaya. Genbu dan Bai Wing pun menatap Riu Han dengan mulut sedikit ternganga. Gagasan itu sungguh berani — mengambil peninggalan paling suci dan paling dijaga di seluruh Alam Kuno, bukan satu, melainkan semuanya.