Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA PULUH SATU
Setelah berkonsultasi dengan Pak Bram, Anyara akhirnya memutuskan untuk menghadiri pertemuan keluarga besar yang diminta, dengan syarat pertemuan itu tidak mengubah keputusannya soal perceraian, melainkan sekadar forum untuk menjelaskan situasi secara terbuka.
"Bu Anyara boleh saja hadir, tapi ingat, apa pun yang dibahas di sana tidak akan mengubah proses hukum yang sudah berjalan, kecuali Ibu sendiri yang memutuskan untuk mencabut gugatan," pesan Pak Bram sebelum pertemuan itu berlangsung.
Pertemuan diadakan di rumah paman tertua Juned, dihadiri oleh berbagai anggota keluarga besar—paman, bibi, sepupu, termasuk Bude Tuti yang sebelumnya sempat berkunjung ke rumah Ratih. Anyara datang didampingi Ratih, sementara Juned duduk di sisi lain ruangan dengan wajah tegang.
Paman tertua, yang dituakan dalam keluarga besar itu, membuka pembicaraan dengan nada yang berusaha terdengar bijaksana. "Anyara, Nak, kami kumpul di sini bukan untuk menghakimi siapa pun, tapi untuk mencari solusi terbaik bagi semua pihak, termasuk untuk anak yang akan lahir nanti."
Anyara mengangguk sopan, meski dalam hati ia sudah menyiapkan diri untuk berbagai kemungkinan tekanan yang akan datang. "Saya menghargai niat baik Paman mengumpulkan semua orang di sini. Tapi saya ingin tegaskan dari awal, keputusan saya untuk bercerai sudah bulat, dan itu tidak akan berubah."
Salah satu bibi Juned, yang selama ini belum pernah Anyara temui secara langsung, ikut bersuara dengan nada yang lebih tajam. "Tapi Anyara, kamu harus pikirkan juga nama baik keluarga besar. Kalau kalian cerai, gimana nasib anak itu nanti, lahir tanpa keluarga yang utuh?"
Anyara menatap wanita itu dengan tenang, meski hatinya mulai merasakan gejolak emosi. "Maaf, Bu, tapi anak yang dimaksud itu bukan anak saya. Itu anak Mas Juned dengan wanita lain, hasil dari perselingkuhan yang sudah berlangsung berbulan-bulan. Saya rasa yang harus memikirkan nasib anak itu adalah Mas Juned dan ibu dari anak tersebut, bukan saya."
Ruangan itu hening sesaat, beberapa anggota keluarga saling berpandangan, tampak tidak menyangka Anyara akan menjawab dengan setegas dan sejelas itu.
Paman tertua mencoba menengahi lagi. "Anyara, kami paham kesalahan Juned memang besar. Tapi apa nggak ada kemungkinan untuk memberi kesempatan kedua? Toh, dia sudah menyesal."
"Paman," Anyara menjawab dengan suara yang tetap tenang tapi tegas, "Mas Juned sudah berkali-kali minta kesempatan kedua, bahkan setelah saya tahu soal perselingkuhan pertamanya. Tapi dia tetap melanjutkan hubungan dengan wanita lain, bahkan sampai ada tiga orang berbeda. Saya rasa, kesempatan kedua, ketiga, atau keempat tidak akan mengubah apa pun kalau memang tidak ada niat tulus untuk berubah dari awal."
Juned yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara, suaranya penuh penyesalan. "Ra, aku ngerti kamu udah capek sama semua janji aku. Aku juga sadar, aku yang salah sepenuhnya di sini. Aku cuma... aku cuma pengen keluarga besar tau, aku nggak nyalahin kamu sama sekali atas keputusan ini."
Kalimat itu mengejutkan semua orang di ruangan, termasuk Anyara sendiri. Untuk pertama kalinya, Juned benar-benar mengambil tanggung jawab penuh tanpa mencoba mencari pembenaran atau menyalahkan pihak lain.
Ratih yang duduk di samping Anyara, ikut angkat bicara dengan suara yang penuh ketegasan. "Keluarga besar, saya sebagai ibu Juned, ingin menyampaikan bahwa saya sepenuhnya mendukung keputusan Anyara. Selama ini saya yang salah, terlalu membela anak saya tanpa melihat kesalahan yang sebenarnya. Sekarang saatnya kita semua berhenti menyalahkan Anyara dan mulai menerima kenyataan bahwa Juned lah yang harus bertanggung jawab atas semua ini."
Pertemuan itu berakhir tanpa mengubah keputusan Anyara, meski suasana menjadi sedikit lebih lunak setelah pengakuan tulus dari Juned dan dukungan tegas dari Ratih. Beberapa anggota keluarga besar yang tadinya bersikap menghakimi, perlahan mulai menunjukkan pengertian, meski masih ada beberapa yang tetap menyimpan pandangan skeptis.
Dalam perjalanan pulang, Ratih menggenggam tangan Anyara dengan lembut. "Kamu hebat banget tadi, Nak. Ibu bangga sama caramu ngadepin semua tekanan itu dengan kepala tegak."
"Makasih, Bu. Saya juga nggak nyangka bisa setegas itu," jawab Anyara, tersenyum lega meski masih merasakan sisa ketegangan dari pertemuan yang baru saja berlalu.
Malam itu, Anyara menceritakan hasil pertemuan itu kepada Hans, yang mendengarkan dengan penuh perhatian seperti biasa.
"Pak, pertemuan keluarga besarnya udah selesai. Saya tetep pada keputusan saya, dan mertua saya bela saya habis-habisan di depan semua orang."
"Itu luar biasa, Mbak. Saya bangga banget denger perkembangan ini. Gimana reaksi suami Mbak sendiri?"
"Dia akhirnya ngaku sepenuhnya salah, nggak nyari alasan lagi kayak biasanya. Entah kenapa, itu malah bikin saya ngerasa lebih lega, karena akhirnya ada penutupan yang jelas dari pihak dia."
"Kadang orang emang butuh dihadapkan sama konsekuensi nyata baru bisa benar-benar sadar, Mbak. Tapi kesadaran itu udah kelewat terlambat buat mengubah keputusan Mbak, dan itu wajar banget."
"Iya, Pak. Terlambat emang nggak selalu bisa diperbaiki."
Anyara menutup ponselnya, menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang-bintang kecil, merasakan sebuah ketenangan baru yang perlahan tumbuh dalam dirinya—ketenangan yang datang dari kepastian bahwa ia telah berdiri teguh untuk dirinya sendiri, di tengah semua tekanan yang mencoba menggoyahkan keputusannya.