NovelToon NovelToon
Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Dokter
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.

​Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.

​Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelap di Luar Batas dan Ketegangan di Ujung Malam

​Rangkaian Ujian Nasional yang menguras energi dan pikiran selama seminggu akhirnya resmi berakhir. Bagi Aira dan teman-temannya, rasanya seolah baru saja melepaskan beban amat berat yang menghimpit dada selama berhari-hari. Hari-hari penuh ketegangan, lembaran rumus yang menghantu, serta kantuk yang ditahan kini menguap, digantikan helaan napas lega dan senyum penuh kebebasan.

​Sebelum diperbolehkan pulang, para siswa diminta berkumpul di kelas masing-masing untuk mendengarkan pengumuman dari wali kelas.

​"Gimana ujian terakhirmu tadi?" tanya Zara sembari merangkul bahu Aira di koridor sekolah.

​"Akhirnya bebas juga! Seminggu penuh menahan sakit kepala karena terus-terusan berpikir, sekarang rasanya semua beban menguap begitu saja," sahut Aira lega.

​Zara tersenyum dan mengangguk setuju.

​Sejak hari Senin lalu, Bayu memang mendadak berjarak dan jarang berkumpul bersama mereka. Antara ia masih memendam kekesalan karena Aira pulang bersama Arkan saat itu, atau masih guncang mendengar pengakuan terang-terangan bahwa Aira berniat mengajak dokter muda itu berpacaran.

​Begitu Aira dan Zara melangkah masuk ke kelas, mereka mendapati Bayu dan Panji sudah menduduki bangku persis di depan mereka menggeser posisi teman kelas yang biasa duduk di sana. Namun, baik Aira maupun Zara memilih diam dan tidak menegur, membiarkan kedua laki-laki itu duduk di sana.

​Tak lama, wali kelas mereka melangkah masuk. "Baik, Anak-anak. Karena semua sudah berkumpul, Ibu langsung umumkan saja. Mulai besok sampai hari Minggu kalian diperbolehkan beristirahat total di rumah. Lalu hari Senin depan, kalian wajib kembali ke sekolah untuk membahas persiapan penambahan nilai jika ada yang kurang."

​Sorak-sorai kegirangan seketika membahana di ruang kelas. Aira bahkan spontan memeluk Zara dari samping, merayakan berakhirnya masa-masa penyiksaan akademis.

​Usai wali kelas menyampaikan beberapa pengarahan dan meninggalkan ruangan, para siswa mulai berkemas. Sebagian di antaranya berkumpul di sudut kelas, mendiskusikan rencana perayaan.

​"Aira, ayo pulang," ajak Zara yang sudah menyampirkan tasnya.

​Aira yang tengah merapikan alat tulis dari dalam kolong meja mengangguk cepat dan menyerapkan barang-barangnya ke dalam tas.

​"Aira, kau ikut acara nanti malam, kan?" tanya Bayu mendadak memutar tubuhnya ke belakang.

​"Acara apa?" dahi Aira berkerut.

​Heni, teman sekelas mereka, menengok bersemangat. "Kita mau merayakan kebebasan karena ujian sudah selesai! Kalau mau ikut, bilang sekarang supaya didaftarkan, soalnya tempatnya mau di-booking."

​"Lho, Zara tidak diajak?" tanya Aira melirik sahabatnya yang sedang mengunyah permen gagang.

​"Ya mana mau Bu Ustazah ikut acara bebas begini? Iya kan, Zara?" cetus Heni setengah menyindir.

​Zara mengangguk pelan tanpa tersinggung. Ia memang tak pernah tertarik menghadiri acara semacam itu, kecuali agenda peringatan hari besar keagamaan atau kegiatan resmi yang diselenggarakan oleh sekolah.

​"Kalau Zara tidak ikut, aku juga tidak ikut," pangkas Aira cepat sembari membetulkan posisi resleting tasnya.

​"Ya ampun, Aira! Ini kan cuma acara kumpul-kumpul santai, masa tidak ikut? Banyak anak kelas IPA dan IPS lain yang ikut, lho," rayu Tito, kekasih Heni.

​Aira melirik Zara. Sahabatnya itu memberikan gelengan halus sebuah sinyal tidak setuju. Sejak pertama kali pindah ke sekolah ini, Aira hanya memercayakan batas amannya pada Zara. Jika Zara tidak ada, ia enggan melangkah.

​Bayu berdiri dari kursinya, menatap Aira intens. "Sudahlah, tenang saja. Nanti aku yang jemput dan antar kau pulang. Kapan lagi kita bisa bersenang-senang dan kumpul penuh begini sebelum kelulusan?"

​"Iya, Ra. Sebentar lagi kita lulus sekolah dan kuliah. Kau sama Zara juga tidak mungkin menempel terus, kan? Sekali-kali pergi bersama teman-teman yang lain, dong," tambah Panji membujuk.

​Diposisikan di tengah kerumunan teman-temannya yang menunggu jawaban, Aira merasa agak sudut. "Nanti... nanti kupikirkan lagi! Aku mau pulang sekarang," putusnya bergegas berdiri dan menarik tangan Zara keluar kelas.

​Teman-temannya hanya menggidikkan bahu melihat kepergian Aira. Sejak awal, gadis itu memang terbukti sulit berbaur dengan lingkar pertemanan mereka.

​"Gimana, Bay?" tanya Heni yang memegang pulpen dan buku catatan pendaftaran.

​"Tulis saja namanya. Tenang, aku pastikan nanti malam dia datang," tegas Bayu mantap sebelum menyusul keluar.

𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍

​Di dekat gerbang sekolah, Zara dan Aira menyempatkan diri membeli minuman dingin dari kantin untuk membasahi kerongkongan. Zara memasukkan botol minumannya ke dalam tas sembari memperhatikan Aira yang mendadak banyak melamun sejak keluar dari kelas tadi.

​"Kenapa? Jangan bilang kamu kepikiran mau datang ke acara nanti malam?" tebak Zara cermat.

​Aira menoleh polos. "Memangnya setiap selesai ujian selalu ada acara pesta begitu, ya?"

​"Biasanya anak-anak yang suka pergaulan bebas memang suka mengadakan pesta. Mereka biasa nongkrong di kafe atau bar. Dan kamu harus tahu, di tempat seperti itu mereka bebas melakukan apa saja bahkan minum alkohol sampai mabuk. Pokoknya aku melarangmu datang!" pangkas Zara tegas.

​"Serius? Tapi tadi kelihatannya banyak yang mau ikut..."

​"Aira, aku tahu kamu itu sangat setia kawan. Tapi kamu juga harus buka mata lebar-lebar. Pergaulan mereka itu berbeda dengan kita. Kemarin saja aku tidak sengaja melihat Heni dan Tito berciuman di toilet perempuan saat jam pulang. Kalau aku jahat, sudah kupotret dan kulaporkan ke BK. Tapi karena mau ujian, aku diamkan saja."

​Belum sempat Aira menanggapi, ponsel di dalam tas Zara berdering nyaring. Zara merogohnya, lalu melangkah sedikit menjauh untuk menerima panggilan tersebut.

​Saat Zara kembali melangkah mendekatinya, Aira mendapati wajah sahabatnya itu mendadak pucat pasi. Gestur tubuhnya diliputi kepanikan luar biasa.

​"Aira, aku harus pulang sekarang! Penyakit kakakku kambuh lagi, aku harus ke rumah sakit!" ujar Zara dengan suara bergetar.

​"Oke, oke! Kamu langsung pulang saja, jangan panik dulu. Kakakmu pasti tidak apa-apa," tutur Aira berusaha menenangkan.

​Zara mengangguk cepat dan berbalik lari. Namun, baru beberapa langkah, gadis itu berbalik kembali dan memeluk Aira erat-erat.

​"Aku mohon sama kamu... Jangan pernah datang ke acara nanti malam. Di sana berbahaya dan aku tidak mau kamu kena masalah," bisik Zara dengan nada teramat serius di telinga Aira.

​"Tenang saja, Zara. Kalau kamu tidak ikut, aku juga tidak bakal pergi," janji Aira tulus.

​Usai mengurai pelukan, Zara bergegas berlari meninggalkan area sekolah. Aira menatap punggung sahabatnya dengan perasaan cemas, mendoakan keselamatan kakak Zara dari dalam hati.

𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍

​Kini Aira berdiri sendirian di depan gerbang, merogoh ponselnya untuk memesan ojek online. Namun, sebuah sepeda motor mendadak berhenti tepat di hadapannya. Pengemudinya melepaskan kaca helm itu Bayu. Ia menyodorkan helm cadangan pada Aira.

​"Ayo, aku antar pulang."

​"Tidak usah, Bayu. Aku naik ojek saja."

​"Mau menolak lagi? Kapan sih kau mau menerima niat baikku?" potong Bayu dengan nada memutus.

​Melihat raut Bayu yang tampak bersikeras dan enggan diperdebatkan, Aira menghela napas dan akhirnya menerima helm itu. Mood-nya sedang berada di titik terendah ditambah fakta bahwa ponsel Arkan tidak aktif sejak semalam dan rasa cemasnya pada keluarga Zara.

​Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan di antara mereka. Aira menatap kosong ke selasar jalanan. Pikirannya melayang pada Arkan. Ia sebenarnya sudah merancang rencana untuk mengajak pria itu jalan-jalan pada hari Sabtu besok, jika sang dokter sedang luang dan bersedia.

​"Sudah sampai," ucap Bayu sembari menepi di depan rumah Aira.

​Aira turun, melepas helm, dan menyerahkannya kembali. "Terima kasih, Bayu."

​"Tunggu dulu, ada yang mau kubicarakan," panggil Bayu.

​Aira membalikkan badan. "Kalau kau mau membujukku datang ke acara pesta nanti malam, maaf sekali, Bayu. Aku tidak tertarik dan tidak akan datang."

​"Kenapa? Pasti Zara yang menjejalimu cerita macam-macam, kan?"

​"Ini bukan karena Zara. Ini murni keinginanku sendiri."

​Bayu mendengus, lalu menginjakan kakinya ke tanah dan menatap Aira tajam. "Kau ini kapan sih bisa pergi tanpa membawa nama Zara? Mau sampai kapan kamu membatasi diri dari teman-temanmu? Kita ini sebentar lagi lulus, Aira! Sejak kau pindah ke sekolah kita, kau tidak pernah mau akrab dengan yang lain. Apa salahnya kumpul-kumpul sekali saja?"

​"Aku sudah cukup senang bersama Zara. Aku tidak butuh banyak teman. Satu teman yang tulus dan baik itu sudah lebih dari cukup buat aku!" tegas Aira tak mau kalah.

​Bayu memiringkan kepala, menyunggingkan senyum aneh. "Jangan-jangan kecurigaanku benar... Kau sama Zara ada hubungan spesial, ya?"

​"Sembarangan! Aku masih normal, Bayu!" semprot Aira berapi-api.

​"Ya habisnya kalian berdua menempel terus seperti perangko," cibir Bayu sembari menggaruk kepalanya.

​"Sudahlah! Pokoknya aku tidak ikut, titik! Kecuali kalau kau mengajakku menonton konser band, baru aku mau," pangkas Aira berbalik melangkah ke pintu pagar.

​"Kita mengundang band favoritmu! Bukankah kau suka lagu-lagu mereka?" teriak Bayu dari atas motor.

​Langkah Aira terhenti seketika. Ia menoleh ragu. "Mereka diundang?"

​"Salah satu personelnya masih kerabat Heni. Nanti malam mereka tampil di kafe itu. Aku jemput jam tujuh malam!" seru Bayu, lalu langsung memutar gas dan memacu motornya pergi tanpa memberi ruang bagi Aira untuk membalas.

​Aira terpaku di tempatnya. Band favoritnya tampil? Rasa bimbang mulai menggerogoti pertahanannya.

'Kalau hanya datang untuk melihat mereka bernyanyi sebentar, sepertinya tidak ada salahnya' batinnya mencoba membenarkan.

Sembari melangkah masuk ke dalam rumah, jemarinya kembali mencoba mendial nomor telepon Arkan.

𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍

​Malam merambat makin larut. Di lorong rumah sakit yang dingin, Zara terduduk sendirian di bangku tunggu. Kedua orang tuanya masih mendampingi proses penanganan di dalam ruang rawat. Wajahnya diselimuti rasa cemas yang teramat sangat.

​"Zara? Sedang apa kamu di sini?"

​Zara mendongak dan terkejut mendapati Arkan yang berdiri tak jauh darinya, masih mengenakan kemeja kerja dan jas putih yang tersampir di lengan.

​"Dokter Arkan..."

​"Siapa yang sakit?" tanya Arkan mendekat.

​"Kakak saya... Tadi siang penyakitnya kambuh dan harus dirawat," tutur Zara pelan.

​Arkan melirik ke arah selasar ruang perawatan, lalu menarik kursi di sebelah Zara dan mendudukinya. "Sakit apa?"

​"Kelainan jantung bawaan lahir, Dokter," sahut Zara menunduk, meremas ujung hijabnya.

​"Sudah ditangani dokter spesialisnya?"

​Zara mengangguk.

​"Kamu sudah makan?" tanya Arkan lagi.

​"Sudah, Dokter. Terima kasih... Ternyata Dokter tidak sependiam yang saya bayangkan," tutur Zara mengukir senyum tipis.

​Arkan terkekeh pelan, teringat sesuatu. "Kamu tahu sendiri bagaimana Aira, kan? Belum sempat saya bicara, dia sudah memberondong belasan pertanyaan. Jadi saya memilih diam kalau sedang di dekatnya."

​"Kalau begitu... Dokter sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan Aira kemarin? Ujian Nasional kami kan sudah selesai," goda Zara pelan.

​Arkan terdiam seketika. Ingatannya berputar pada cetusan nekad Aira yang memintanya berpacaran usai ujian berakhir. Sejak kemarin malam, ponsel pribadinya memang sengaja ia matikan dan simpan di dalam loker karena harus memimpin serangkaian operasi darurat.

​Tepat sebelum Arkan sempat membalas, ponsel di dalam tas Zara berdering nyaring. Zara bergegas mengangkatnya.

​"Halo, Panji?"

​"Zara! Gawat, Zara!" suara Panji terdengar panik dan bising oleh dentuman musik di seberang telepon.

​"Ada apa?"

​"Aira sama Bayu mabuk berat di sini! Tidak ada yang bisa mengantar mereka pulang. Kau cepat ke sini! Aku tidak bisa membawa Aira pulang karena harus memegangi Bayu!"

​"Apa?! Aira pergi ke sana?!" pekik Zara terperanjat.

​"Iya! Cepat ke sini!" Panji langsung memutus sambungan.

​Melihat raut panik Zara dan mendengar nama Aira tersebut, Arkan seketika berdiri tegak. "Ada apa dengan Aira?"

​"Dokter Arkan... gawat! Aira mabuk di kafe!" seru Zara panik luar biasa.

𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍

​Dengan dipandu alamat yang dikirimkan Panji, Arkan mengendarai mobilnya membelah malam menuju kafe tersebut bersama Zara.

​Zara masih dilanda rasa tak percaya sekaligus bersalah. Sahabatnya itu benar-benar nekat melanggar peringatannya. Namun yang lebih mengintimidasi adalah sosok pria di sebelah kemudi rahang Arkan mengetat keras, dan garis wajahnya memancarkan aura kemarahan dingin yang amat pekat. Sejak mendengar Aira berada di kafe bersama Bayu, sang dokter tak mengeluarkannya sepatah kata pun. Zara bahkan tak berani bernapas terlalu keras.

​Kedai yang berfungsi sebagai kafe remang-remang itu penuh sesak oleh dentuman musik keras dan kepulan asap. Zara melangkah takut-takut di belakang Arkan sembari terus mematuhi petunjuk Panji.

​"Di sebelah mana?" tanya Arkan singkat tanpa menoleh.

​"Di sudut kanan... dekat lorong toilet," cicit Zara.

​Di lorong tersebut, pemandangan makin tak terkendali. Beberapa remaja tampak limbung di bawah pengaruh alkohol. Dan di sebuah sofa sudut, pandangan Arkan menyipit tajam.

​Aira terkulai lemas di sofa dengan mata terpejam rapat, sementara di sebelahnya, Bayu terkoyak kesadaran sembari dipukuli pelan oleh Panji yang berusaha memikulkan badannya.

​Arkan mendekat cepat, meraih kasar lengan Aira. "Aira, bangun! Pulang sekarang!"

​Aira mencoba membuka kelopak matanya yang berat, tetapi tubuhnya sama sekali tak bertenaga dan terkulai lunglai.

​"Ngapain... Pak Dokter ke sini, hah?!" igau Bayu mendadak berdiri oleng, menatap Arkan dengan pandangan kabur.

​Tanpa memedulikan Bayu, Arkan langsung menyusupkan tangannya dan menggendong Aira secara bridal style. Dibantu Zara yang membawakan tas Aira, mereka bergegas menerobos kerumunan menuju pintu keluar.

​Namun, Bayu yang menyadari Aira dibawa pergi melangkah tumpah-tindih mengejar mereka ke pelataran parkir, ditahan setengah mati oleh Panji.

​"Lepaskan Aira! Aku yang membawa dia ke sini, biar aku yang mengantarnya pulang!" teriak Bayu meracau.

​Arkan menaikkan Aira ke kursi belakang mobilnya, dibantu oleh Zara. Namun saat Arkan hendak melangkah ke pintu kemudi, Bayu berhasil menyambar bahunya.

​"Kamu tidak perlu ikut campur! Aku yang bertanggung jawab atas Aira malam ini!"

​Kesabaran Arkan runtuh. Rasa dingin yang membungkus dirinya berubah menjadi letupan amarah yang membakar. Arkan berbalik cepat, mencengkeram erat kerah baju Bayu hingga remaja itu terdesak ke samping kendaraan.

​"Kamu sadar tidak apa yang sudah kamu perbuat, Hah?!" bentak Arkan dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Kenapa kamu membawa Aira ke tempat busuk ini dan membuatnya kehilangan kesadaran seperti ini?!"

​Bayu terkekeh miring dalam kondisi mabuknya, balas mencengkeram kemeja Arkan. "Aku membawa dia ke sini untuk bersenang-senang! Kau sadar tidak? Dia itu suka sama kamu, tapi kau tidak pernah membuat dia bahagia! Aku mau membuat dia bahagia! Lebih baik kau pergi!"

​Arkan tidak membalas dengan fisik, meski cengkeramannya pada kerah Bayu makin mengikat. Panji buru-buru memeluk tubuh Bayu dari belakang untuk menahannya.

​"Lepaskan aku, Panji! Aku harus buat perhitungan dengan dokter ini! Kau tahu tidak, Aira sampai nekat begini karena siapa? Karena kau! Karena cintanya tidak kau balasan!" racau Bayu lagi sembari mendorong bahu Arkan.

​Saat itu, Zara yang baru saja menutup pintu mobil melangkah mendekati mereka dengan mata memerah tahan amarah.

​"Bayu! Aku pikir kamu benar-benar tulus bersahabat dengan Aira!" pekik Zara dengan suara bergetar menahan tangis. "Tapi malam ini kamu merusak hidup sahabatku! Kamu mau membuat Aira mati cepat, ya?!"

​Panji dan Arkan tertegun menatap kejebolan emosi dari sosok Zara yang biasanya lembut dan tenang.

​"Kamu tahu tidak? Kalau sampai abangnya tahu Aira berada dalam kondisi mabuk seperti ini, dia tidak akan selamat! Dan kamu... kamu berhasil menghancurkan hidup sahabatku hanya demi ego konyolmu, Bayu!" cecar Zara terisak marah.

​Arkan merentangkan tangan, menahan bahu Zara agar tak mendekati Bayu yang masih hilang kendali. "Zara, masuk ke mobil dan temani Aira. Kita pulang sekarang."

​Zara menyapu air matanya, menatap Bayu dan Panji dengan pandangan kecewa mendalam sebelum menuruti perintah Arkan dan masuk ke dalam kendaraan.

​Arkan berbalik, memangkas jarak hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Bayu. Meski remaja itu dalam pengaruh alkohol, Arkan memastikan tatapannya cukup tajam untuk meresap ke dalam ingatan Bayu.

​"Dengarkan saya baik-baik, Adrian," bisik Arkan dengan nada dingin yang teramat berbahaya. "Mulai detik ini, saya peringatkan kamu untuk tidak pernah mendekati Aira lagi. Jika kamu berani menyentuhnya atau membawanya ke situasi seperti ini lagi, saya pastikan kamu berurusan dengan hukum. Dan jika orang tuamu tahu apa yang kamu lakukan malam ini, kamu tahu sendiri konsekuensinya."

​"Ngapain kau mengancamku, hah?! Memangnya kau siapa bagi Aira?! Kau tidak berhak mengatur-atur!" teriak Bayu menantang.

​Arkan menatap Bayu tanpa kedipan.

​"Saya pacarnya. Dan mulai detik ini, saya yang akan melindungi dia. Jadi jangan harap kamu bisa menyentuhnya lagi. Di luar jam kerja saya sebagai dokter, saya bisa bertindak jauh lebih tegas untuk membuat perhitungan denganmu."

​Pernyataan dingin itu menghantam kesadaran Bayu. Bersamaan dengan Arkan yang melepas cengkeramannya dan berbalik menuju mobil, pertahanan fisik Bayu ambruk ia terkulai tak sadarkan diri di pelukan Panji yang kewalahan membopongnya.

𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍𖤍

​Mobil sedan hitam milik Arkan membelah jalanan malam yang lengang. Di kursi belakang, Zara terus menepuk-nepuk pipi Aira, tetapi gadis itu hanya bergumam tak jelas dalam lelapnya.

​"Dokter... bagaimana dengan Aira? Dia tidak mungkin pulang ke rumah dalam keadaan begini. Kalau Mamanya tahu, atau Abangnya melihat... Aira bisa dihukum berat," tutur Zara panik luar biasa.

​Arkan menatap spion tengah, menghela napas berat. "Bawa dia menginap di rumahmu."

​"Tidak bisa, Dokter! Zara harus kembali menjaga Kakak di rumah sakit malam ini. Papa dan Mama menunggu di sana."

​Arkan memejamkan mata sejenak, mengurut pangkal hidungnya. Amarah dan rasa pusing menumpuk jadi satu.

​"Dokter Arkan mau pulang ke rumah, kan? Bagaimana kalau Aira menginap di rumah Dokter saja malam ini? Besok pagi-pagi sekali Zara yang akan menjemputnya," mohon Zara memetakan jalan keluar.

​"Menginap di rumah saya?" Arkan menolak seketika. "Tidak bisa, Zara. Itu sangat tidak etis."

​"Lalu bagaimana lagi, Dokter? Cuma Dokter Arkan yang bisa menyelamatkan Aira saat ini. Tolong... ini demi Aira," iba Zara memohon.

​Arkan terdiam, mempertimbangkan segala risiko. Jika ada yang melihatnya membawa seorang gadis SMA ke rumahnya saat ia tinggal sendiri karena ayahnya sedang menghadiri seminar luar kota reputasinya bisa hancur.

​"Gunakan ponsel Aira. Telepon Mamanya dan katakan kalau Aira menginap di rumahmu," instruksi Arkan akhirnya mengalah.

​Zara dengan sigap merogoh tas Aira, melakukan panggilan ke nomor Bu Windy. Dengan kebohongan demi kebaikan yang dirancang sedemikian rupa, Bu Windy akhirnya memberi izin.

​"Kamu... pandai berbohong juga ternyata," gumam Arkan lirih.

​"Berbohong demi kebaikan untuk sekali ini saja, Dokter. Dosanya biarlah ditanggung Aira kalau sudah sadar besok," cetus Zara polos.

​Arkan melajukan mobilnya menuju rumah sakit terlebih dahulu untuk menurunkan Zara.

​"Terima kasih banyak, Dokter Arkan... Sudah menolong Aira malam ini. Zara titip sahabat Zara, ya. Tolong jaga dia, dan... jangan sampai Dokter cari kesempatan untuk macam-macam dengannya," pesan Zara sebelum menutup pintu mobil.

​Arkan menatap Zara datar. "Saya ini dokter, Zara. Bukan penjahat."

​"Zara tahu. Tapi godaan setan kan tidak ada yang tahu! Makanya begitu sampai rumah nanti, Dokter langsung ambil wudhu dan sholat supaya setannya pergi," seru Zara polos, lalu berlari masuk ke lobi rumah sakit.

​Arkan menghela napas panjang, menatap bayangan Aira yang terbaring tak berdaya di jok belakang lewat spion. Hidupnya yang semula tenang kini benar-benar telah terikat pada pusaran masalah gadis remaja ini.

​Bersambung__

_____

1
Best
jangan lupa mampir balik😁
id IG: sabia.sky: ditunggu✨
total 1 replies
Best
semangat up kak..
Best
lanjut Thor.. ✨
Best
maksa ya aira🤣
Best
kalau aku sih jadi Aira udah aku gampar mulutnya
Best
negosiasi kaya jualan aja ya aira
Best
parah nih Aira. kasian mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!