NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Perceraian

Cinta Dibalik Perceraian

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: fania Mikaila AzZahrah

Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.

Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.

Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.

Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.

Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.

Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Terluka

Namun, langkah Kinanti terhenti ketika pintu besar itu dibuka oleh dua orang pelayan.

Pemandangan di dalam rumah membuatnya kembali terpaku.

Ruang utama begitu luas dengan langit-langit yang tinggi.

Lampu kristal besar menggantung tepat di tengah ruangan dan memancarkan cahaya yang membuat seluruh interior terlihat semakin mewah.

Lantai marmer yang mengkilap memantulkan cahaya lampu, sementara sofa-sofa besar dengan desain elegan tertata rapi.

Di dinding terpajang lukisan-lukisan indah dan berbagai dekorasi mewah yang membuat rumah tersebut terasa seperti perpaduan antara hotel berbintang dan kediaman pribadi seorang bangsawan.

“Wow...” Naufal hanya mampu mengucapkan satu kata.

Naura berdiri di sampingnya dengan mata berbinar-binar.

“Ma, kita benar-benar tinggal di sini?”

“Iya, Sayang.”

Naura langsung tersenyum lebar.

Kanaya pun masih belum selesai dengan rasa takjubnya. Ia berjalan perlahan sambil memperhatikan setiap sudut rumah.

“Ini ruang tamunya saja sudah sebesar rumahku, Mbak.”

Kinanti tertawa kecil.

“Berlebihan.”

“Ini bukan berlebihan!” bantah Kanaya cepat. “Aku benar-benar nggak pernah membayangkan Mbak punya rumah seperti ini.”

Kinanti kemudian meminta beberapa pelayan untuk mengantar kedua anaknya ke kamar masing-masing. Ia juga meminta seorang pelayan mengantar Kanaya ke kamar yang memang sudah dipersiapkan khusus untuk adiknya.

“Lina,” panggil Kinanti kepada kepala pelayan.

“Ya, Nyonya?”

“Bagaimana? Kamar kedua anakku sudah selesai direnovasi sesuai dengan perintahku?”

Lina tersenyum sopan.

“Semuanya sudah selesai, Nyonya. Kami sudah menyiapkan kamar Tuan Muda Naufal dan Nona Muda Naura sesuai dengan keinginan mereka. Kamar Nona Kanaya juga sudah dipersiapkan seperti yang Nyonya minta.”

“Kalau begitu, silahkan antar mereka.” pinta Kanaya dengan ramah.

“Baik, Nyonya.”

Naufal dan Naura pun mengikuti pelayan menuju lantai atas.

Begitu pintu kamar masing-masing dibuka, keduanya kembali terdiam.

Kamar mereka ternyata tidak kalah megah dengan bagian rumah lainnya.

Kamar Naufal didesain sesuai dengan kesukaannya, lengkap dengan tempat tidur yang nyaman, meja belajar, rak buku, lemari pakaian, serta berbagai perlengkapan yang selama ini hanya pernah ia lihat melalui gambar.

Sementara itu, kamar Naura dibuat begitu cantik dan sesuai dengan keinginannya. Warna, dekorasi, furnitur, hingga pernak-pernik kecil di dalamnya benar-benar mencerminkan kepribadian seorang anak perempuan seusianya.

“Ini kamar aku?” tanya Naura dengan mata berkaca-kaca karena terlalu bahagia.

Pelayan mengangguk.

“Iya, Nona Muda.”

Naura langsung memeluk boneka yang berada di atas tempat tidurnya.

“Terima kasih, Mama!”

Tetapi, tiba-tiba dia teringat papanya hingga raut wajah sedih terpancar di wajah cantik anak itu.

“Andaikan papa juga ada di sini ya Allah… aku pasti sangat bahagia,” harap Naura.

Di kamar sebelah, Naufal juga tidak kalah bahagia. Ia memperhatikan meja belajar, rak buku, serta sudut khusus yang bisa digunakannya untuk bermain.

“Mama benar-benar tahu apa yang aku suka,” gumamnya kagum.

Sementara itu, Kanaya yang melihat kamar yang disiapkan untuknya justru semakin tidak bisa berkata-kata.

Ia berdiri di ambang pintu sambil memandangi seluruh isi kamar.

“Mbak...” panggilnya.

Kinanti menoleh.

“Kenapa?”

Kanaya tersenyum tidak percaya.

“Kalau setiap hari tinggal di tempat seperti ini, aku takut lama-lama lupa caranya hidup sederhana.”

Kinanti tertawa kecil.

“Yang penting jangan lupa jadi adik yang baik.”

Kanaya terkekeh.

Namun, di balik semua kemewahan yang membuat mereka bertiga kagum, ada satu hal yang mulai mereka sadari.

“Masyaallah... Mbak Kinanti, kayaknya sudah jadi CEO, deh. Rumahnya saja sudah seperti istana. Nggak mungkin Mbak nggak punya usaha sendiri kalau bisa membangun rumah secantik ini,” sahut Kanaya dengan penuh kekaguman.

Kinanti hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya.

“Kenapa baru sekarang kamu sadar kalau kakakmu ini ternyata orang kaya?” goda Kinanti.

Kanaya langsung memasang wajah serius, lalu menatap kakaknya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Bukan baru sadar, Mbak. Aku sedang menghitung-hitung berapa banyak uang yang selama ini Mbak sembunyikan dari keluarga.”

Kinanti langsung tertawa.

“Memangnya Mbak ini koruptor?”

“Bukan,” jawab Kanaya santai. “Tapi kalau lihat rumah, mobil, dan semua fasilitas di sini, aku curiga Mbak punya mesin pencetak uang di ruang bawah tanah.”

“Kalau memang punya, kamu mau apa?”

Kanaya berpikir sejenak, lalu tersenyum lebar.

“Pertama, aku minta satu mesin.”

“Buat apa?”

“Buat mencetak uang sendiri. Masa setiap kali butuh uang harus minta sama Mbak?”

Kinanti tertawa semakin lepas.

“Dasar! Baru tahu kakaknya kaya, sudah mulai menyusun rencana untuk menguras harta kakaknya.”

“Bukan menguras, Mbak. Aku cuma sedang memanfaatkan kesempatan sebelum Mbak berubah pikiran.”

“Tenang saja. Harta Mbak nggak akan habis hanya karena kamu.”

Kanaya langsung menunjuk dirinya sendiri dengan wajah penuh percaya diri.

“Kalau begitu, mulai sekarang aku resmi jadi adik kesayangan CEO.”

“Siapa bilang kamu adik kesayangan?”

“Kalau bukan aku, siapa lagi?”

Kinanti terdiam sesaat, lalu terkekeh.

“Ya sudah, kamu memang adik kesayangan. Tapi ada syaratnya.”

“Apa?”

“Jangan pernah meminta mobil yang lebih mahal dari mobil Mbak.”

Kanaya langsung tertawa.

“Wah, kalau begitu aku harus cepat-cepat sukses sendiri. Biar nanti bisa membeli mobil yang lebih mahal dari punya Mbak.”

“Silakan. Tapi jangan lupa, nanti yang pertama kali kamu traktir makan harus Mbak.”

“Deal!”

Keduanya pun tertawa bersama. Untuk beberapa saat, candaan sederhana itu membuat Kinanti dan Kanaya benar-benar melupakan kesedihan yang baru saja mereka lalui. Seolah-olah perpisahan Kinanti dengan Yudha untuk sementara tersisih oleh kehangatan keluarga yang mulai mereka rasakan kembali.

Kinanti ternyata menyimpan begitu banyak hal yang selama ini tidak pernah mereka ketahui.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Naufal, Naura, dan Kanaya menyadari bahwa kehidupan Kinanti mungkin jauh lebih besar dan lebih misterius daripada yang selama ini mereka bayangkan.

Kinanti berharap kehidupan barunya akan menjadi lebih baik. Setelah memastikan kedua anak kembarnya sudah tidur, ia kemudian berganti pakaian dan masuk ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kinanti sudah memeriksa segala kebutuhan sekolah kedua anaknya sebelum berangkat ke kantor.

“Kalian sudah siap ke sekolah?” tanya Kinanti ketika melihat kedua anaknya menuruni tangga dengan seragam yang sudah rapi.

Naufal dan Naura mempercepat langkah menuju Kinanti yang sudah berada di meja makan.

“Alhamdulillah, sudah siap. Tapi Mama yang antar kami, kan?” tanya Naufal.

“Oh, tentu saja. Mama antar kalian ke sekolah terlebih dahulu, baru setelah itu Mama ke kantor,” jawab Kinanti.

Kedua anaknya saling berpandangan ketika mendengar Kinanti menyebut tentang kantor.

“Mama kerja?”

“Kapan Mama mulai kerja di kantor? Kok kami nggak tahu?” tanya mereka bergantian.

Kinanti hendak menjawab pertanyaan kedua anaknya, tetapi pertanyaan Kanaya yang tiba-tiba menyela membuatnya hanya bisa menghela napas kecil.

“Kalian duduk dulu dan makan. Nanti ada waktu Mama jelaskan. Kalau dijelaskan sekarang, ceritanya malah akan kepanjangan, sementara kalian harus cepat berangkat,” ujar Kinanti.

Ia kemudian tersenyum kepada kedua anaknya.

“Intinya, Mama sudah bekerja dan punya usaha sendiri. Jadi, kalian nggak perlu khawatir lagi kalau ingin membeli sesuatu. Insyaallah, Mama bisa memenuhi kebutuhan kalian.”

“Masyaallah... Mbak Kinanti, kayaknya sudah jadi CEO, deh. Rumahnya saja sudah seperti istana. Nggak mungkin Mbak nggak punya usaha sendiri kalau bisa membangun rumah secantik ini,” sahut Kanaya dengan penuh kekaguman.

Kinanti hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya.

“Jangan banyak bicara. Kalian lanjutkan makan.”

Kinanti kemudian menoleh kepada Kanaya.

“Kanaya, kamu pakai mobil yang sudah Mbak siapkan khusus untukmu. Mulai hari ini, kamu pakai mobil itu. Nggak perlu capek-capek naik motor lagi.”

Kanaya semakin takjub sekaligus bersyukur karena kakaknya begitu memperhatikannya.

“Alhamdulillah. Makasih banyak, Mbak. Se

moga usaha Mbak semakin lancar, semakin sukses, panjang umur, dan selalu diberikan kesehatan.”

“Aamiin,” jawab Kinanti sambil tersenyum. “Sudah, sekarang makan. Jangan sampai terlambat.”

1
Eva Karmita
Kinanti aku tau sakitmu sudah terlalu dalam ..tapi tidak seperti itu juga Kinanti lihatlah kedua anakmu yg begitu ingin melihat kedua orang tua nya bersatu kembali.... teruntuk Yudha tetap semangat benar kata anakmu jgn mudah menyerah tunjukkan bahwa kamu bisa berubah jgn buat anak"mu kecewa , perlahan namun pasti rebut kembali hari Kinanti selalu berusaha dan tidak lupa dengan doa" di sepertiga malam mu rayulah tuhanmu untuk membuka kan pintu hati Kinanti
Eva Karmita: betul sih pemikiran orang beda beda ..ada yg ingin bertahan karena anak"nya dan ada juga yg memilih pergi demi ketenangan dan mencari kebahagiaan ...
total 2 replies
araaself
lanjutt kakk
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: insha Allah besok lagi kak
total 1 replies
Eva Karmita
semoga masih bisa rujuk lagi ...
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: kayaknya hehehe
total 1 replies
Eva Karmita
semangat Yudha semoga Mak otor merestuimu
Eva Karmita
Kinan kasih kesempatan untuk Yudha untuk membuktikan Yudha sudah berubah dan ingin memulai dgn lembaran baru
Eva Karmita
ayo jujur Yudha katakan kalau kamu sudah ingat semuanya dan kamu ingin berubah
Eva Karmita
si pelakor sudah datang....
Eva Karmita
semoga masih bisa di perbaiki.... semangat Yudha perjuangkan rumah tangga mu
Eva Karmita
membaca kisah mereka membuat perasaan mengharu biru sedih dan bahagia nano" 🔥😭💔❤️
Eva Karmita
semoga saja Kinan masih bisa mempercayai mu
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: semoga yah karena kayaknya....😄🤭
total 1 replies
Eva Karmita
❤️❤️❤️
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak 😍
total 1 replies
Eva Karmita
peluk Kinan 🤗😭
GeGe @!🦩⃝ᶠ͢ᵌ™: Alhamdulillah makasih banyak sudah mampir kakak 😍🙏
total 1 replies
Inha Khaerunnisa
wajarlah
Inha Khaerunnisa
terlambat pak wkwk
Inha Khaerunnisa
apa Yudha hilang ingatan??
Inha Khaerunnisa
knp anaknya jadi ditukar dengan hutang??
Inha Khaerunnisa
tega mulutnya ember
Naila
knp harus minta cerai klo masih cinta
Naila
kayaknya
F3 Tehnik
apa yang terjadi???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!