NovelToon NovelToon
TERJERAT TAKDIR

TERJERAT TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan kuli bangunan?

Jujur, Pak Bambang berat sekali melepaskan putri keduanya. Tapi di sisi lain, beliau kasihan melihat Aira yang terus-menerus disisihkan oleh Bu Ismi serta Siska dan Karin.

"Kamu yakin sama keputusan ini, Nak? Bapak masih berat kalau kamu harus pergi." ucap Pak Bambang dengan tatapan lesu.

"Halah, biarkan saja dia pergi, Pak! Paling nanti juga merangkak balik ke sini lagi." celetuk Bu Ismi tanpa simpati sedikit pun.

"Iya, mana tahan dia hidup di luar sana? Paling ujung-ujungnya jadi gembel." timpal Siska penuh nada meremehkan.

"Udah deh, nggak usah sok gaya mau angkat kaki beneran. Nanti pas kelaparan terus balik lagi, kan malu-maluin" sambung Karin menyeletuk pedas.

Mendengar cercaan bertubi-tubi dari ibu, kakak, dan adiknya sendiri, bulat sudah tekad Aira.

"Maaf, Pak. Aira tetap harus pergi." jawab Aira singkat. Tanpa membuang waktu, dia berbalik menuju kamar untuk berkemas.

Sebenarnya dada Aira terasa sesak harus meninggalkan bapaknya. Dia tahu betul, begitu dia pergi, tidak bakal ada lagi yang telaten mengurus Pak Bambang. Ibu dan kedua saudaranya mana pernah peduli?

"Kalian ini benar-benar keterlaluan!" tembak Pak Bambang begitu Aira menghilang di balik pintu kamar. "Aira itu anak kandungmu juga, Bu! Bisa-bisanya kamu mengusir dia begitu saja?"

Pak Bambang menatap Karin dan Siska tajam. "Kamu juga, Karin, Siska! Aira itu saudara kandung kalian. Kenapa kalian malah ikut-ikutan menyisihkan dia? Bapak heran, nggak usah ikut-ikutan ibumu. Kasihan Aira!"

"Ya ampun, Pak, nggak usah lebay deh!" potong Bu Ismi sengit. "Ibu yakin Aira nggak bakal bisa bertahan hidup di luar. Cepat atau lambat, dia pasti bakal nyerah dan balik lagi ke rumah ini."

"Iya, Bapak khawatir berlebihan banget." kekeh Karin menggebu. "Gaji pas-pasan begitu mana cukup buat bayar kontrakan dan makan sehari-hari!"

"Dia bisa berlagak begitu cuma karena belum pernah ngerasain kerasnya hidup di luar sana. Dikira gampang apa bertahan hidup sendirian?" tambah Siska meremehkan.

"Susah memang ngomong sama kalian." desis Pak Bambang menahan napas. "Awas saja ya, jangan pernah menyesal nanti."

Pak Bambang langsung berbalik menuju kamarnya. Beliau berniat mengambil amplop pemberian Devan kemarin. Beliau takut Aira tidak punya pegangan uang sama sekali. Lagipula, kemarin Pak Bambang sempat dibuat syok saat membuka amplop dari menantunya itu isinya ternyata uang tunai senilai 5 juta rupiah!

Sementara itu di dalam kamar, Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi kaget setengah mati melihat istrinya bercucuran air mata.

"Loh, Sayang? Kamu kenapa menangis?" tanya Devan panik. Matanya mendadak tertuju pada bekas tamparan kemerahan yang tercetak di pipi Aira.

"Maaf ya, Mas... Aku udah nggak tahan lagi tinggal di rumah ini. Aku nggak kuat." bisik Aira terisak.

Devan menghela napas panjang dan berat. Tanpa bertanya pun, dia sudah bisa menebak kalau Aira habis diintimidasi lagi oleh ibu dan kedua saudaranya. Sebenarnya Devan sendiri sudah lama tidak betah numpang di rumah mertuanya. Tapi selama ini dia menahan diri karena Aira selalu ragu-ragu tiap kali diajak pindah.

"Nggak apa-apa kan, Mas, kalau kita tinggal sendiri?" tanya Aira takut-takut. Dia cemas keputusannya ini bakal memberatkan Devan, mengingat biaya hidup mandiri jelas tidak murah.

Devan melangkah mendekat, lalu mendekap kedua bahu istrinya. "Kamu nggak perlu minta maaf. Kamu nggak salah sama sekali, jadi berhenti merasa bersalah."

"Tapi kalau kita sewa tempat tinggal sendiri, pengeluaran kita pasti membengkak, Mas..." tutur Aira masih cemas.

"Sudah, percayakan semuanya sama suamimu ini. Sekarang kamu adalah tanggung jawabku sepenuhnya. Kamu ikut aku, ya?"

"Tapi... nanti kita mau tinggal di mana, Mas?"

Devan tersenyum menenangkan. "Ikut saja dulu, nanti kamu juga tahu. Sekarang bereskan barang-barangmu. Bawa yang penting-penting saja, jangan dibawa semua biar nggak repot."

Aira mengangguk pasrah lalu bergegas merapikan pakaian. Sesuai arahan Devan, dia hanya membawa barang seperlunya: beberapa baju mahal yang sempat dibelikan Devan kemarin, uang simpanan, dan ponselnya. Pakaian Devan yang tertinggal di sana pun hanya sedikit.

Tak butuh waktu lama, mereka berdua keluar kamar hanya dengan membawa satu tas berukuran sedang.

Melihat itu, Pak Bambang langsung sigap menghampiri.

"Aira, tunggu. Ini bawa saja. Kamu pasti lebih membutuhkannya daripada Bapak." ujar Pak Bambang menyodorkan sebuah amplop cokelat.

Aira mengenali amplop itu, amplop yang diberikan Devan kepada bapaknya kemarin.

"Jangan, Pak. Itu buat Bapak saja. Aira masih ada simpanan kok." tolak Aira cepat, apalagi setelah melihat gelengan pelan dari Devan.

Di sudut ruangan, mata Bu Ismi langsung melotot lebar. Kemarin saat dia minta uang untuk biaya persiapan pernikahan Karin, Pak Bambang ngakunya tidak punya uang. Tapi sekarang? Pria itu justru hendak menyerahkan amplop tebal ke Aira!

"Oh, bagus ya, Pak!" semprot Bu Ismi dengan mata mendelik. "Kemarin Ibu minta uang buat acara nikahannya Karin dibilang nggak ada, sekarang malah mau ngasih uang itu ke Aira!"

"Kok Bapak tega banget sih? Padahal aku yang lebih butuh uang itu!" protes Karin tidak terima.

"Eh, lagian Bapak dapat uang dari mana? Bukannya Bapak nggak kerja?" sergah Siska menaruh curiga.

Aira menatap mereka satu per satu dengan dingin. "Sudah, Pak. Aira masih ada simpanan kok. Uang itu buat Bapak saja. Kalau Aira sudah nggak tinggal di sini, nggak bakal ada lagi yang beliin obat kalau Bapak sakit." sindir Aira menohok.

Seketika wajah Bu Ismi, Karin, dan Siska memerah menahan malu sekaligus murka karena tersindir tajam.

"Ya sudah, Aira pamit dulu ya, Pak." ucap Aira menatap bapaknya lembut.

"Devan juga pamit ya, Pak. Walaupun kami tinggal sendiri, nanti kami bakal sering main ke sini buat nengok Bapak." Devan menyalami tangan bapak mertuanya dengan hormat.

Mata Pak Bambang berkaca-kaca. "Iya, kalian hati-hati ya. Bapak nitip Aira ya, Devan. Tolong jagain dan bahagiakan putri Bapak. Sejak lahir hidupnya kasihan, nggak pernah merasakan kasih sayang dari keluarganya sendiri." ujar Pak Bambang melayangkan sindiran terbuka ke arah istri dan kedua anak lainnya.

Aira dan Devan bergantian memeluk Pak Bambang erat. Setelah itu, Aira mencoba menurunkan gengsi dan mengulurkan tangan untuk menyalami ibunya. Bagaimanapun juga, Bu Ismi adalah ibu yang melahirkannya.

Namun, Bu Ismi malah menyentak tangan Aira dengan kasar.

"Nggak usah lebay! Kalau mau pergi ya pergi aja sana! Paling nggak lama juga kamu balik lagi merengek ke sini!" dengkus Bu Ismi sinis, membuat Pak Bambang hanya bisa mengelus dada menyaksikan kelakuan istrinya.

"Udah deh, kalau mau pergi ya langsung pergi aja. Jangan harap kita bakal cegah kamu kayak di drama-drama sinetron ya!" seloroh Karin menyindir tajam.

Siska tertawa mengejek menyaksikan kepergian adik kandungnya.

Tanpa peduli, Aira dan Devan langsung ngacir meninggalkan rumah itu menaiki motor tua yang dibawa Devan.

"Semoga Devan benar-benar bisa membalikkan keadaan dan bikin Aira bahagia." bisik Pak Bambang penuh harap dalam hati.

"Cih! Mau ngebahagiain gimana coba? Wong naik motornya aja butut begitu! Cepat atau lambat mereka juga bakal ngemis-ngemis balik ke sini lagi." cetus Karin pede setengah mati.

"Bener banget! Dikira gampang apa hidup mandiri cuma mengandalkan ekonomi yang pas-pasan?" timpal Siska penuh rasa superior.

Belum sempat Pak Bambang merespons, Bu Ismi malah maju dan merampas amplop cokelat di tangan suaminya.

"Mana uangnya! Karin itu masih tanggung jawab orang tua, jadi sudah seharusnya Bapak yang nanggung biaya pesta pernikahan dia!" tuntut Bu Ismi tanpa malu-malu.

Pak Bambang langsung menarik napas dalam-dalam, menahan emosi yang makin membakar dadanya. "Kalau cuma nikah sederhana seadanya, Bapak masih sanggup nanggung, Bu! Masalahnya, anakmu ini nuntut pesta mewah, padahal calon suaminya sendiri aja belum ada ngasih uang seserahan sama sekali!"

"Bukannya Mas Bagas nggak mau ngasih, Pak!" potong Karin cepat membela calon suaminya. "Mas Bagas itu cuma lagi kelewat sibuk, jadi belum sempat aja!"

Pak Bambang tersenyum sinis. "Alasan! Kalau niat mah sesibuk apa pun pasti bakal diusahain. Zaman sekarang udah canggih, tinggal transfer pakai m-banking juga beres, nggak bakal ganggu kesibukan dia!"

"Udah, gak usah banyak alasan! Uang ini Ibu ambil buat tambahan biaya nikahan Karin!" potong Bu Ismi asal ceplos sambil menyambar amplop itu secara kasar dari genggaman Pak Bambang.

Tanpa sabar, jari-jari Bu Ismi langsung merobek amplop tersebut. Seketika matanya membelalak lebar begitu melihat segepok uang lembaran seratus ribuan di dalamnya.

"Banyak banget uangnya!" pekik Bu Ismi kegirangan.

Siska yang melihat itu ikut melotot curiga. "Siska penasaran deh, Bapak dapet uang sebanyak ini dari mana? Bukannya selama ini Bapak nggak kerja dan cuma tiduran mulu di kamar?"

"Jangan-jangan... selama ini Bapak diam-diam kerja tapi sengaja nggak cerita ke kita biar uangnya bisa dinikmati sendiri?" tuduh Karin frontal tanpa beban.

Pak Bambang cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala heran melihat tingkah anak bungsunya. "Memangnya Bapak kerja apa di dalam kamar, ngepet? Asal kalian tahu ya, itu uang dari Devan! Dia ngasih ke Bapak buat pegangan." terang Pak Bambang melempar kenyataan.

Seketika atmosfer di ruangan itu membeku.

"Apa? Devan yang ngasih?" celetuk Siska tak percaya. "Nggak mungkin! Dia kan cuma kuli bangunan, mana mungkin bisa pegang uang cash sebanyak ini!"

Sementara itu, Bu Ismi sama sekali tidak peduli dari mana uang itu berasal. Tangannya sibuk mengihitung lembar demi lembar rupiah tersebut lalu buru-buru menjejalkannya ke dalam saku bajunya.

"Jangan-jangan... itu uang hasil nyolong lagi?" celetuk Karin tiba-tiba dengan prasangka buruknya.

"Hush! Jaga mulutmu, Karin! Jangan asal nuduh kalau nggak ada bukti, jatuhnya fitnah!" tegur Pak Bambang tegas.

"Tapi ini mencurigakan banget, Pak!" seloroh Karin tidak mau kalah. "Coba Bapak pikir deh, Devan cuma kuli bangunan, sedangkan Mbak Aira cuma jualan kue yang hasilnya nggak seberapa. Nggak masuk akal mereka bisa ngasih Bapak uang sebanyak ini! Belum lagi kemarin Mbak Aira bisa-bisanya ngasih sumbangan 5 juta yang diminta Ibu, terus aku juga sempat mergokin dia lagi borong baju-baju mahal di mall! Kalau bukan hasil nyolong, dapet uang dari mana coba?"

"Nah, bener banget kata Karin!" Siska mengangguk setuju.

Pak Bambang menatap kedua putrinya dengan pandangan heran. "Kalian ini kok gampang banget ngeklaim kalau Devan itu kuli bangunan? Memangnya dia pernah ngomong langsung ke kalian kalau kerjanya kuli bangunan?"

Seketika Karin dan Siska saling pandang, bungkam mendadak. Memang benar, Devan tidak pernah sekali pun membeberkan apa pekerjaannya yang sebenarnya.

"Halah, nggak usah dikasih tahu juga kita udah paham, Pak!" kibas Siska mengelak gengsi. "Lihat aja pakaiannya kucel mirip kuli, belum lagi ke mana-mana cuma naik motor butut!"

Karin pun mengangguk-angguk setuju dengan cengiran puas.

Pak Bambang hanya bisa mengurut dada menahan kekesalan yang makin membuncah. Dinasehati seperti apa pun, otak kedua anak dan istrinya ini sudah bener-bener tertutup oleh kesombongan dan asumsi liar mereka sendiri.

**Bersambung.**

1
Sri Supriatin
Wah senengnya Devan mau bikin pesta pernikahan... Rezeki Aira🙏🙏🙏
Sri Supriatin
Bener kt bp mu Karin, pasti bakal nyesel kan🤭🤭🤣🤣
Nenk Shila
knp nggk keluar aja sih, devan ajak istrimu tinggal d luar hadeuuh lemah
Sri Supriatin
Sorry Aira salah typo... Tks double upnya thor🙏🙏
Sri Supriatin
Biasa yg kaya setengah2 ngk ngehargai status, kel oma Devan mah luar biasa... Selamat Aria diterima tulus sm oma 🙏🙏💪💪
Sri Supriatin
Kereeen si Devan 👍👍💪💪
Sri Supriatin
Tambah seru thor, double up dong🙏🙏
🌺WASI'AH_MISKA🍁😘
semangat thor🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Supriatin
Bagus Aria keluar aja kan Devan sudah ngajak biar tau rasa kalau Devan mapan 👍😍😍😍
Tuty Yatun
sering2 up dong kak bagus ceritanya asal jgn terlalu bertele2 seperti sinetron ikan terbang🤭🤣
Noona Rara: Hehehe iyaa kak
total 1 replies
Cha Libra
thour ..novel mu masih bnyak yg On going npa udh nongol yg baru terus setiap cerita hampir Sma smua
Noona Rara: Iya kak. Untul novel sebelumnya itu udah stuck. Nggak bisa aku kembangin lagi.
Dan untuk kenapa ceritanya hampir sama karena memang aku fokusnya ke drama keluarga yah.
Jadi saat ini fokus aku kedua novel aja. Terjerat Takdir dan suksesnya istri yang tersakitii.
Makasih kak udah mau baca🙏🏽
total 1 replies
Sri Supriatin
Saya hadiir thor baru aja bc marathon n seryuuu👍🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih ya udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!